Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Perlawanan Gwen



Di rumah kediaman lama, Gwen masuk begitu saja. Rumah itu juga masih hak-nya. "Rumah ini sama sekali tidak berubah. Dulu, ketika aku masih kecil, aku selalu datang ke sini bersama dengan Ayah Willy untuk melakukan upacara," gumam Gwen mengamati sekian sudut rumah tua tersebut. 


Malam hampir berganti pagi, Chen dan lainnya akan melakukan penyelamatan esok hari. Sementara Gwen masuk ke rumah itu terlebih dahulu. 


"Nona, Anda …?"


"Benar, aku adalah Nona Kalian. Gwen Kalina Lim, putri dari Rebecca Anastasya Lim. Apa ada seseorang yang datang ke mari?" tegas Gwen. 


"Nona, Anda di larang masuk," ucap pelayan rumah. 


"Kenapa? Ini rumahku juga, namaku ada dalam daftar penerima warisan akan rumah ini dan isinya. Lagipula, aku ingin mengirim doa kepada Kakek Lim dan juga Nenek Ling, kenapa kau mempersulitku?" 


Gwen sering kali susah diajak serius. Namun, jika dia sudah mulai serius, maka sifat dan sikapnya akan berubah total seperti orang lain. 


"Tuan Jackson dan tamunya ada di dalam. Beliau yang meminta saya untuk melarang siapapun masuk ke rumah ini," jawab pelayan itu dengan menundukkan kepalanya. 


"Hadeh, kenapa pula Pamanku ini ada di sini. Eh, ha di sinilah! Kan dia sedang menyandera keponakan dan adikku!" batin Gwen.


Dua pelayan itu saling memandang. Kemudian, salah satu dari pelayan itu kembali ke dalam. Mungkin akan memberitahukan kepada Jackson Lim jika Gwen sudah datang. 


"Ck, lama! Aku tuh lelah perjalan jauh, bisa tidak kalau kau mempersilahkan aku masuk? Ini juga kan rumahku!" seru Gwen berusaha menerobos masuk.


Namun, ada penjaga lain yang sedang membantu pelayan itu menahannya. "Ck, beraninya keroyokan sih, kalian. Nggak asik tau!" desis Gwen dengan mengetukkan kakinya ke tanah.


Pelayan lain yang masuk itu, telah sampai di kamar Jackson Lim dan Cindy yang sedang kumpul kebo. 


"Tuan, maaf mengganggu," ucap pelayan itu sembari mengetuk pintu kamar. 


"Tuan, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda,"


Tak tahu apa yang Jackson Lim dan Cindy lakukan, pelayan itu kembali mengetuk pintu agar Jackson Lim segera membukanya. 


"Sial! Siapa yang datang selarut ini?" sulut Jackson Lim. 


"Aku akan membuka pintunya," gumamnya sembari berjalan menuju pintu.


Setelah membuka pintu, pelayan itu langsung ditendang perutnya oleh Jackson Lim sampai terpental dan akhirnya terjatuh. "Aduh!" keluhnya. 


"Katakan! Kenapa selarut ini harus mengganggu istirahatku!" bentak Jackson Lim. 


Cindy yang penasaran pun akhirnya keluar. Ia yang saat itu hanya mengenakan baju dinas membuat pelayan yang barusan tersungkur merasa terkejut. Pelayan itu langsung menunjukkan kepalanya dsn mengucapkan maaf. 


Bentakan Jackson rupanya di dengar oleh Gwen. Membuat Gwen harus memaksakan diri untuk masuk. Beruntung Gwen masuk di waktu yang tepat, jika tidak, entah nasib buruk apa yang pelayan itu miliki malam itu.


"Heh, Paman, ada apa denganmu? Kau memukul pelayanmu sendiri karena kedatanganku?" Gwen menahan pukulan Jackson Lim menggunakan tangannya sendiri. 


"Kau?" desis Jackson Lim sedikit terkejut. 


"Gwen?" gumam Cindy dalam hati. 


Gwen menoleh ke arah Cindy. Kemudian melirik ke arah Jackson dengan tatapan mencurigai. Bagaimana tidak mencurigai jika pakaian keduanya sudah tidak tahu aturan seperti itu. 


"Gwen, mau apa kamu kemari?" tanya Jackson Lim. 


"Paman, aku hanya ingin berkunjung. Kenapa Paman tegang seperti ini?" jawab Gwen membantu pelayan yang sebelumnya du tendang oleh Jackson Lim berdiri. "Pergilah, siapkan kamar untukku. Tapi sebelum itu, aku lapar. Siapkan makan malam juga untukku," perintahnya. 


"Ba-baik, Nona,"


"Hey, siapa Tuanmu!" teriak Jackson Lim. 


"Stt, jangan berisik, Paman. Kenapa Paman suka sekali berteriak, itu sangat mengganggu telingaku yang cantik ini," papar Gwen dengan santai. 


"Kamu, lakukan apa yang saya minta tadi. Aku Nona juga di sini, jadi aku berhak untuk memerintah kalian. Ayo, tunggu apa lagi?" lanjut Gwen dengan nada yang lembut. 


Jackson marah besar. Ia sampai ingin mengusir Gwen dari rumah itu. Namun, Gwen menunjukkan jika dirinya juga berhak atas rumah itu karena pada dasarnya, rumah itu adalah milik Ibunya. 


"Ada apa, Paman? Kenapa menjadi diam? Bukankah tadi, Paman hendak mengusirku?" Gwen menyatukan tangannya dan mulai mengelilingi tubuh Pamannya. 


"Paman Jackson Lim! Um, seorang penguasa … Ups, maksud aku seorang pecundang yang telah menculik adikku dan juga keponakanku dengan cara yang licik. Bukan begitu, Paman Jackson?" kritik Gwen. 


"Bagaimana kalau aku membuat penawaran? Paman dapatkan rumah ini, aku dapatkan keponakan dan adikku kembali," usul Gwen. 


Jackson Lim tiba-tiba tertawa, ia bahkan menarik kerah baju Gwen dengan kasar. Kemudian mengancamnya dengan penuh kebencian. "Aku hanya ingin mayat Ibumu. Aku tidak menginginkan harta keluarga Lim," dengus Jackson Lim. 


"Baik, jika Paman ingin mayat Mamiku, maka Paman harus membuatku menjadi mayat terlebih dahulu!" tantang Gwen dengan tatapan sengit. 


Jackson bertepuk tangan. Tak lama kemudian, datanglah segerombol orangnya mengelilingi Gwen. "Kau ingin menjadi mayat, bukan? Maka aku tunggu kematianmu itu, anak tengik!" pekik Jackson meninggalkan Gwen bersama dengan segerombolan anak buah Jackson yang berbadan tegap. 


"Sial, orang ini sangat sulit di hadapi. Bahkan dengan santai saja, di tidak bisa aku luluhkan. Jadi, apakah harus dengan cara kekerasan? Aku sudah berjanji untuk tidak membunuh orang," gumam Gwen dalam hati. 


"Tunggu, untuk apa aku membunuh mereka? Mas Agam memang melarangku membunuh orang. Tapi tidak dengan membuat mereka lumpuh, patah tulang dan juga babak belur, 'kan?" 


"Eh, bener, 'kan? Ini namanya membela diri. Jadi, aku tidak akan bersalah. Jika begitu, maka ayo bereskan orang-orang ini, Gwen!" Gwen menyemangati diri sendiri. Belum selesai menyemangati diri, Orang-orang itu mulai menyerangnya. 


Beruntung, Gwen berhasil menghindari serangan itu. Masing-masing dari orang kepercayaan Jackson membawa senjata sendiri. Gwen hanya perlu mengeluarkan belatinya yang telah istirahat. 


"Dasar bocah tengik! Matilah malam ini!" 


Orang ya g berkata itu hampir saja mampu menusuk bahu Gwen. Lagi-lagi, Gwen mampu menghindari. Secepatnya Gwen membuka racun yang ada pada belatinya.


"Katakan, kalian ingin sakit dengan cara seperti apa?" ujar Gwen dengan aura dingin.


"Cih, anak kecil sepertimu. Mana bisa melawan kami!" celetuk salah satu dari orang-orang itu dengan meludah. 


"Meludah itu najis, sini, biarkan aku membuatmu berpikir lagi sebelum meludah sembarangan," Gwen memakai sarung tangannya. 


Mulai melawan, menusukkan belatinya ke lengan lawan, lalu ketika lawan meringis kesakitan, ia menarik lidahnya, kemudian memotongnya. 


"Ah, bajingaan kecil! Kurang ajar!" 


Lawan selanjutnya, ia menusukkan belatinya pada lengannya juga. Kemudian, menendang kakinya, dan menusukkan jarum akupuntur ke kaki orang tersebut. Membuat kaki orang itu lemas seketika, dan akan membuatnya lumpuh dalam waktu yang cukup lama, meski tidak permanen.