Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
MISI SELESAI



Setelah melakukan pemeriksaan lengkap, akhirnya operasi akan segera dilakukan. Aisyah tetap akan profesional dalam menjalani magangnya. Ia hanya perlu berdoa agar suaminya selamat dari marabahaya lagi.


Selama menjalankan tugas, tak henti-hentinya Aisyah berdoa demi suaminya. Bora dan rekannya yang satunya lagi dibuat takjub dengan kesetiaan Aisyah. Sudah berpisah selama dua bulan, tapi tetap saja Aisyah tidak pernah berpaling dari suaminya.


"Hei, terbuat dari apa hari Ai itu? Suaminya tidak ada kabar selama itu, tapi dia masih saja tetap teguh," bisik salah satu rekannya.


"Sttt, jangan bicara lagi. Lebih baik kita doakan saja suaminya, supaya sahabat kita berkumpul dengan orang yang dicintainya,"


Setelah beberapa jam magang, waktu istirahat tiba. Aisyah segera datang ke ruangan senior Kang untuk menanyakan bagaimana kabar suaminya. Sebelum Aisyah bertanya, Senior Kang yang baru saja keluar dari ruangannya sudah mengatakan dulu jika Dishi sudah siuman dan berada di ruangan inapnya. Tanpa berkata-kata lagi, Aisyah langsung berlari ke ruangan suaminya itu.


Perasaan yang berkecamuk membuat Aisyah seperti tak bisa memikirkan hal lain lagi kecuali suaminya yang terluka demi dirinya. Ingatan Dishi yang dikira sudah kembali juga tak lagi dipikirkan olehnya. Hanya yang ada, Dishi sembuh dan bisa kembali bersamanya menjalani sisa hidup yang ada.


"Dishi!"


BLAM!


Suara pintu terbanting karena Aisyah terlalu semangat menemui suaminya. Dishi yang saat itu baru saja menelpon seseorang, menjadi terkejut karena kedatangan istri tercintanya.


"Ai? Kamu--" belum juga Dishi bertanya, Aisyah sudah langsung memeluknya. Pelukannya begitu erat sampai Dishi mampu merasakan betapa khawatirnya Aisyah kepadanya.


Dishi pun meletakkan ponselnya dan membalas pelukan sang istri. Kini, mereka berdua saling berpelukan satu sama lain, disaksikan oleh senior Kang yang saat itu berada di balik pintu. Rasa suka senior Kang memang besar, tapi melihat orang yang dicintainya bisa bersama dengan yang dicintai, maka senior Kang tidak akan pernah bertindak lebih jauh lagi.


Aisyah memang begitu beruntung selalu mendapatkan rasa cinta dari banyak orang. Di masa kecilnya memang Aisyah tidak pernah sama sekali merasakan kasih sayang seorang ibu. Di usianya yang masih dini, Aisyah juga mengetahui kenyataan bahwa kedua saudari kembarnya dipisahkan karena masa lalu kedua orang tuanya.


Setiap hari, Aisyah selalu menjalankan perjuangan yang hebat. Menjadi anak yang berbakti kepada ayahnya, selalu berusaha menjadi anak yang terbaik, sehingga menjadi panutan bagi beberapa orang yang berada di sekelilingnya. Sampai dia lupa caranya bahagia dengan caranya sendiri.


Sampai dimana Aisyah bertemu dengan Dishi. Pria yang mampu membuat sikap asli Aisyah keluar, membuat Aisyah jatuh cinta padanya. Cobaan demi cobaan juga Aisyah lalui dengan sabar, ikhlas, serta tidak mudah putus asa membuat Aisyah menemukan kebahagiaannya.


"Apa masih sakit? Katakan dimana sakitnya, aku akan membuatnya tidak sakit," ucap Aisyah panik melihat kaki suaminya diperban.


"Dishi, katakan kepadaku. Bagaimana dengan ingatanmu? Apakah sudah jauh lebih baik? Apa kamu merasa pusing?"


"Kenapa kamu diam saja? Apakah itu sakit? Katakan dimana sa--"


"Ssst, Sayang. Bisakah kita berpelukan lagi? Aku masih merindukan kamu," sela Dishi, membungkam mulut Aisyah.


Tanpa menjawab, Aisyah mengangguk. Mereka kembali berpelukan dan melepaskan rindu yang seharusnya 18 hari lalu mereka sudah bertemu. Namun, pertemuan itu tertunda karena sebuah hal yang memang harus Dishi selesaikan.


"Jadi, kamu sudah ingat siapa aku?" Tanya Aisyah.


"Ai, sebelumnya aku minta maaf. Aku telah membohongimu dengan kata amnesia itu. Aku selalu mengingatmu, mencintaimu, aku juga selalu memikirkan kamu. Aku terpaksa aku lakukan sandiwara ini karena … Kenapa sendiri juga bingung harus bersikap bagaimana," ungkap Dishi.


"Hanya saja apa?" tanya Aisyah dengan suaranya yang mulai berat. Tangisnya pecah kala Dishi kembali meminta maaf kepadanya seraya membelai wajahnya. "Kau tau betapa hancurnya hatiku ketika kehilangan dirimu?" kesal Aisyah.


"Aku marah pada diriku sendiri. Harusnya aku tidak meninggalkan waktu itu. Kamu hilang selama 2 bulan, buat aku tersiksa, Dishi!" Tangis Aisyah pecah di sana. "Kenapa kamu sempat berbohong tentang ingatanmu, aku benci dengan kebohonganmu itu," lanjut Aisyah, memukul dada suaminya.


"Aku hampir mati karena kau hilang, aku bahagia ketika kau ditemukan. Tapi aku juga sakit ketika mendengarmu hilang ingatan. Kenapa kamu menyiksaku seperti ini, Dishi …."


Dishi kembali memeluk istrinya. Begitu tulus cinta Aisyah kepada Dishi. Hal itu yang menguatkan Dishi bertahan hidup selama dua bulan di desa terpencil dan sangat berbahaya.


"Maafkan aku, Ai. Aku benar-benar terpaksa melakukan sandiwara ini. Tapi jujur, hatiku juga tersiksa ketika aku harus bohong orang yang aku cintai," sahut Dishi. "Aku mencintaimu, Ai. Aku mencintaimu--" sambungnya.


Waktu mempertemukan mereka dan membuat keduanya saling melepas rindu. Dishi juga telah mengetahui siapa yang telah melukainya. Target utama adalah Aisyah karena musuh itu dari anak angkat Chaterine. Namun, hal itu tidak perlu ditakutkan lagi oleh Dishi karena anak angkat dari Chaterine ini sudah dikondisikan oleh orang-orangnya.


Kini, Aisyah dan Dishi bisa menikmati hidup dengan baik di Korea tanpa ada kendala apapun lagi. Aisyah tidak berencana menunda momongan lagi. Dirinya juga sudah siap jika sewaktu-waktu diberi kepercayaan paling berharga itu. Sementara Dishi, tetap menghormati apa yang diputuskan oleh istrinya.


Menjadi dokter adalah cita-cita Aisyah sejak kecil. Dari kehilangan beberapa keluarganya, membuat Aisyah semakin semangat belajar di bidang kedokteran. Sedikit demi sedikit, Aisyah dan Dishi juga akan mengembangkan usaha yang ditinggalkan oleh ibu dan kedua saudara kembarnya. Lalu menjalankan amanah dengan menjaga Ayah, adik dan keponakannya.


Demi kebaikan semuanya, akhirnya Agam mengalah membawa Ailee ke Jogja dan tinggal menetap bersama dengan Yusuf. Pesantren kembali dipimpin oleh Khalid yang baru kembali dari Malaysia. Itu juga karena Agam ingin menghindari Syifa. Untuk mencegah adanya penyakit hati, Agam mengalah pindah ke rumah Yusuf membawa Ailee.


Hubungan antara Ayyana dan Tuan Jin juga semakin hari semakin dekat. Namun keduanya masih belum kepikiran untuk melanjutkan bagaimana kedepannya hubungan mereka. Keduanya hanya fokus kepada Haidar dan usaha yang baru mereka rintis berdua.


Feng, Ayden dan juga Faaz lebih fokus menjalani karirnya terlebih dahulu. Apalagi, mereka bertiga juga adalah anak tunggal. Tak heran bagi mereka jika fokus dengan pekerjaan dibandingkan dengan hubungan asmaranya.


Kabar baiknya lagi, Feng sudah bisa menerima Hamdan dan Yue bersama masa lalu mereka. Feng tidak ingin lagi berseteru dengan kedua orang tuanya karena sadar, jika suatu saat Feng kehilangan salah satu dari orang tuanya seperti Aisyah, maka dirinya akan menyesali dirinya karena tidak mau memaafkan kedua orang tuanya dan menikmati masa kebersamaannya.


Bagaimana hubungan antara Tama dan Xia? Keduanya memang masih memiliki ikatan. Tapi belum ada kelanjutan serius diantara keduanya karena Xia masih dibawah umur dan Tama kembali ke Jogja.


Misi Chen dan Gwen telah lama usai setelah keduanya sama-sama berkumpul bersama keluarga kandungnya, memiliki cinta dari orang yang mencintai dan dicintainya, lalu juga berhasil mengakhiri semua aliran gelap.


Rebecca, Chen dan Gwen menyelesaikan misi dengan cepat, sehingga mereka juga harus kembali dengan cepat. Meski misi Aisyah membuat Rifky dan Ailee bahagia masih belum tuntas, tapi Aisyah telah mampu ikhlas dengan kepergian ibu dan dua saudara kembarnya.


Kisah ini berakhir sampai di sini. Jika ada yang mau kisah serupa antara Xia dan Tama, insyaallah akan menyusul. Ide dari sudut pandangan Xia dan Tama memang sedikit menarik bagi saya sendiri. Maaf jika ending tidak sesuai dan membekas. Tapi author udah pusing mau bagaimana jalannya cerita ini. Terima kasih untuk kakak-kakak yang sudah setia dengan keluarga pesantren sampai ngawur di keluarga mafia seperti ini.


Next kisah, mampir di judul "Jilbab Ungu Dari Mas Duda"


Btw, "Hubbak Ghali Ya Habibu Qolbi" otw end juga ya kakak-kakak.


Tetap akan berkarya di sini lagi, kok. Jika ada saran genre dan tema, bisa kakak-kakak komen. InsyaAllah, aku akan buatkan kisahnya. Terimakasih.