
Sakit memang menjadi Mas Ijal. Dia menikahi wanita yang belum selesai dengan masa lalunya. Namun, memang sudah menjadi takdirnya. Jika tidak, mana mungkin dia mampu bertahan selama itu menikah dengan wanita yang tidak pernah mencintainya.
"Apa semuanya baik-baik saja?" tanyanya dengan lembut.
Puspa menggeleng. Kemudian tersenyum dan mengajak Mas Ijal ke kamar yang sudah di sediakan. Nyonya Wang lihat itu dan sedikit sedih. Meski Nyonya Wang senang dengan gadisnya Lin Aurora, tetap Puspa yang selalu membekas dalam hatinya.
"Lin Aurora memang tidak buruk. Tapi tetap kamu yang paling terbaik, bagiku," gumam Nyonya Wang dalam hati.
Setelah sampai dikamar, Mas Ijal meminta Puspa untuk menyiapkan baju gantinya. Cuacanya menang dingin, tapi sudah jadi kebiasaan Mas Ijal, jika selepas bepergian, pasti ganti baju terlebih dahulu sebelum istirahat.
"Mas sepertinya mau mandi, deh," ucap Mas Ijal.
"Mas Ijal yakin? Cuaca di sini dingin, loh! Kalau tubuh Mas Ijal kaget bagaimana? Kalau masuk angin, hayoo gimana?" ujar Puspa.
"Kamu ini, ya … tapi Mas bener-bener nggak nyaman ini. Mas mandi dulu saja, ya. Tolong siapin baju gantinya, oke?" pinta Mas Ijal dengan lembut.
"Siap, komandan. Hehehe--"
Setelah beberapa menit, ada suara ketukan pintu di kamar yang ditempati oleh Puspa dan Mas Ijal. Puspa pun membuka pintunya dan mendapati Chen yang datang.
Ketika pintu terbuka, ada sesuatu yang terjadi diantara mereka. Bukan gugup lagi karena cinta namun canggung karena pernah mencintai, tapi tak bisa bersama. Tatapan mata Chen begitu dalam kepada Puspa, begitu juga dengan Puspa dengan rasa bersalahnya.
Dari samping, Lin Aurora melihat itu dan hatinya terasa sakit. Cemburu itu wajar, jadi Lin Aurora hanya butuh kesadaran diri jika saat ini, Chen sudah menjadi suaminya dan tidak mungkin kembali bersama dengan Puspa.
Lin Aurora tahu jika Puspa bukan wanita yang seperti itu. Jika Puspa menginginkan Chen kembali, pasti sudah ia lakukan sejak dulu. Tapi pada kenyataannya, Puspa tetap bertahan dengan pernikahannya untuk menghormati suaminya.
"Chen/Puspa"
"Apa kabar?"
"Dek, baju Mas mana? Sudah kamu ambilkan belum?"
"Chen, ayo temui dulu Aisyah dan suaminya,"
Pertanyaan dan pernyataan Mas Ijal dan Lin Aurora bersamaan. Keduanya muncul di belakang masing-masing pasangannya. Puspa melihat Lin Aurora, dan Chen melihat Mas Ijal.
"Chen/Puspa, apa kau bahagia dengan pernikahan ini?"
Setelah mereka tersadar sesuatu, Chen menyapa Mas Ijal dan memperkenalkan istrinya kepada Puspa dan Mas Ijal. Dengan senyuman, Chen juga menyapa Puspa, berterima kasih karena sudah hadir ke acaranya nanti.
"Hai," sapa Lin Aurora.
"Halo," sahut Puspa.
"Aku dan Chen--" belum juga Lin Aurora bicara, Chen sudah pergi begitu saja. Sama halnya, Mas Ijal yang mengambil baju ganti di tangan Puspa dan pergi ke kamar mandi lagi untuk memakai baju.
"Um, bagaimana jika kita jalan-jalan sebentar? Bukankah, kita seharusnya memang dekat? Aku, Aisyah, Gwen dan juga Chen berteman. Em, mungkin kita bisa menjalin pertemanan juga?" Puspa menawarkan pertemanan.
Setelah menunggu Puspa meminta izin kepada suaminya untuk jalan-jalan sebentar bersama dengan Lin Aurora, mereka pun jalan berdua mengitari kediaman keluarga Wang tersebut.
"Kamu masih hafal ya setiap sudut rumah ini?" tanya Lin Aurora.
Puspa mengangguk pelan dengan senyuman. Dia tidak ingin banyak bicara karena takut akan menyinggung atau menyakiti perasaan Lin Aurora jika dirinya pernah tinggal juga di rumah kediaman tersebut. Puspa hanya bercerita tentang pendidikannya, pekerjaannya, dan juga kehidupan di masa kecil bersama dengan Aisyah dan juga Gwen.
"Sejak tadi, sepertinya kamu menceritakan tentang kehidupan kamu sendiri dengan Aisyah dan Gwen. Lalu, bagaimana dengan kisah cinta kamu dengan Chen?" tanya Lin Aurora lagi.
Puspa tersenyum tipis.
"Kamu jangan cari penyakit. Aku tidak ingin menyakiti perasaan kamu dengan menceritakan tentang aku bersama Chen waktu itu. Ya, meskipun hanya sebentar, tapi kita pernah sedekat itu. Tenang saja, pawangnya Chen sekarang adalah kamu, aku datang kesini, untuk memenuhi janjiku saja dengan Chen," sahut Puspa.
"Jika kamu masih mencintai Chen, kenapa kamu tidak mengejarnya kembali? Kenapa kamu masih bertahan dengan pernikahanmu ini Puspa? Bukankah itu sama saja, tetap tidak membuatmu bahagia?" Lin Aurora benar-benar mencari penyakit.
Langkah Puspa terhenti. Air matanya tiba-tiba menetes di pipinya. Puspa mengungkapkan isi hatinya kepada Lin Aurora tanpa merahasiakan apapun lagi padanya.
"Saat pernikahan itu terjadi, aku menyakiti hati banyak orang, Lin Aurora. Terutama Chen dan hatiku sendiri," ungkap Puspa.
"Aku melukai perasaannya suamiku sendiri karena sampai saat ini aku belum bisa mencintainya. Lalu aku juga melukai diriku sendiri karena aku masih bertahan dengan pernikahan tanpa cinta ini," lanjut Puspa.
"Dan kamu bertanya, kenapa aku tidak mengejar kembali cintaku? Karena jika aku kembali mengejar Chen, bukankah kejadian pengkhianatan yang aku lakukan itu, hanya akan membuatnya terus tersakiti?"
"Lin Aurora, sakit yang dirasakan Chen akan hilang seiring berjalannya waktu. Jika kamu terus menghujaninya dengan rasa kasih sayang, maka dia akan melupakan masa lalunya,"
"Chen hanya butuh kasih sayang dan cinta. Dengan seperti itu, dia akan membalas cintamu, bahkan cintanya bisa jauh lebih banyak dari cinta yang kau berikan kepadanya,"
"Tolong, jangan ragukan lagi hatinya. Aku yakin, dia sudah melupakan perasaannya kepadaku." tukas Puspa dengan menggenggam tangan Lin Aurora.
Lin Aurora menangis. Cinta sudah semakin besra kepada Chen. Dia hanya takut kehilangan orang yang ia cintai. Tapi, Puspa berhasil meyakinkan Lin Aurora, jika diantara Puspa dan Chen tidak akan pernah mungkin bisa kembali bersama seperti dulu.
Rupanya, Chen mendengar percakapan mereka dan merasakan sakit oada hatinya. Rasanya memang bimbang kala bertemu lagi dengan cinta pertamanya dan cinta masa kininya.
"Jadi, dia masih selalu ingat akan pernikahan itu? Meski aku sudah tahu tentang cerita di balik pernikahan itu, tetap saja rasanya masih sakit," gumam Chen dalam hati.
"Puspa, semoga kamu segera melupakan rasa bersalahku. Aku jadi tidak tega kepadamu. Kita sama-sama harus melupakan masa lalu dan berusaha hidup tenang bersama orang yang ada di sisi kita masing-masing seorang,"
Lin Aurora mengajak Puspa masuk dan melihat-lihat barang yang ia miliki. Dimana ia bawa dari perbatasan sebagai kenangan-kenangan. Akan tetapi, Chen menghalangi mereka, dan ingin Lin Aurora ikut bersamanya.
Melihat Chen bisa akrab dengan istrinya, Puspa tersenyum tenang dan mulai yakin jika Chen benar-benar sudah memaafkannya. Pada dasarnya, memang Chen tidak menaruh dendam padanya. Hanya saja, Puspa yang selalu mwrasa bersalah.