Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Konflik Dua Saudari



Ketika meletakkan belanjaannya, Aisyah kembali melihat Raza bersama dengan wanita itu masuk ke mobil berwarna merah. Mungkin, memang mereka tak terlihat akrab, tapi hal itu membuat Aisyah penasaran. Siapa wanita itu?


"Sudah? Kamu sudah puas jalan-jalannya? Kalau sudah, ayo kita pulang!" ketus Raza menutup pintu mobilnya. 


"Kok, kamu ketus gini sama aku, sih? Ingat ya Raza, kita ini sebentar lagi akan tunangan. Kamu lupa dengan janjimu ketika Ibumu hendak mati?" ucap wanita itu lebih ketus dari Raza. 


"Mati? Itu Ibuku, setidaknya kamu sebut beliau telah meninggal! Mizty, aku lakukan ini karena aku dibawah tekanan dari Ayahku. Jika waktunya nanti tiba--"


"Apa? Kamu mau membuangku?" sulut wanita yang bernama Mizty tersebut. "Raza ingat, ya. Ayahmu dan Ayahku adalah mitra bisnis, kita sebagai anaknya harus mendukung mereka lah!" imbuhnya. 


"Apa aku peduli?" Kata-kata Raza membuat Mizty kesal. Ia keluar dari mobil dengan membanting pintunya.


Aisyah dam Asisten Dishi melihat hal itu. Mereka hanya saling bertatap dan melanjutkan pekerjaannya. Tak lama kemudian, Raza keluar dari mobil itu dan melangkah mendekati mereka. 


"Assalamu'alaikum," salamnya. 


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh,"


"Em, dokter Aisyah. Saya boleh numpang nggak? Saya nggak bawa kendaraan soalnya," ucap Raza. 


"Hey, biji ketumbar. Jika bukan kendaraan, itu apa? Lalat?" sagut Asisten Dishi. 


Raza hanya menunduk. Aisyah membolehkannya untuk ikut pulang bersamanya, dengan syarat Raza lah yang harus menyetir. 


"Kalau boleh tau--"


"Dia adalah calon tunangan saya. Kami terikat perjodohan di atas kertas dan diatur oleh kedua keluarga." jelas Raza sebelum Aisyah menyelesaikan pertanyaannya. 


Suasana menjadi tegang, mereka bertiga tak ada yang saling bicara. Sepanjang perjalanan, ketiga nya hanya diam melihat jalanan yang masih rame kala itu. 


Bahkan, ketika Raza sudah sampai di dekat rumahnya, Aisyah dan Asisten Dishi hanya tersenyum dan mengucap kata hati-hati saja untuk pengantar Raza sampai ke rumah. 


***


Di rumah, semua keluarga sedang bersantai di depan TV ruang keluarga. Aisyah mengucapkan salam, mencium kedua tangan orang tuanya dan langsung masuk ke kamarnya tanpa melihat Gwen. Hal itu membuat Gwen merasa kesal, padahal dirinya ada niat ingin minta maaf kepada saudarinya itu. 


"Dih, lihatlah! Sekarang malah dia yang merasa tersakiti!" sulut Gwen. 


"Gwen, jangan seperti ini. Mungkin saja memang Aisyah terluka hatinya. Nanti minta maaf, ya." tutur Chen dengan lembut. 


Gwen mengangguk. Mereka melanjutkan lagi menonton televisinya. Sementara itu, Aisyah lewat lagi untuk mandi. Asisten Dishi malah melanjutkan tidurnya di kamar tamu yang disiapkan oleh Rebecca. 


"Aisyah, apa kau sedang mandi?" Chen mengetuk pintu kamar mandi, memastikan Aisyah sudah selesai mandi atau belum. 


"Iya, ada apa, kak?" teriak Aisyah. 


"Cepatlah! Aku ingin mengajakmu keluar malam ini, bisa?" 


"Aku lelah, kak. Besok saja, ya!" 


"Kau yakin?"


"Iya!"


"Kalau begitu kami tinggal, ya. Hanya Gwen yang tidak ikut!"


Chen sengaja melakukan itu, mengajak kedua orang tuanya dan Asisten Dishi keluar supaya bisa menghabiskan waktu bersama Gwen dan menyelesaikan masalah mereka. Diantara Gwen dan Aisyah memang susah sekali untuk akur. 


Disisi lain, sifat iri hati Gwen terbentuk karena memang Rebecca lebih menyayangi Aisyah ketimbang dirinya. Sebabnya masih tidak diketahui kenapa Rebecca melakukan itu. 


Malam itu saat di meja makan ….


"Kak, tolong ambilin sayur itu dong," pinta Gwen memulai basa- basi dengan saudarinya. 


Aisyah memang tidak menolak dimintai tolong. Namun, sikapnya dingin kepada Gwen, sehingga membuat Gwen sedih. "Kak, maafkan aku. Tidak seharusnya aku mengatakan itu kepadamu pagi tadi." ucap Gwen benar-benar menyesal. 


"Em," jawab Aisyah. 


Gwen mencoba mengajak Aisyah bicara dan bercanda seperti biasanya. Akan tetapi, Aisyah menanggapinya dengan ucapan singkat saja. Hal itu malah membuat Gwen semakin sakit hati, akhirnya ia kesal dan kembali meluapkan emosinya sembari mendorong kursi di sampingnya hingga menabrak ujung dapur. 


"Aku berusaha meminta maaf dengan baik-baik, Kak. Tapi kenapa balasanmu seperti ini, hah? Jika memang tak bisa memaafkan aku, setidaknya tidak usah muncul di hadapanku lagi!" gertak Gwen. 


"Jangan menggertak diriku, Gwen!" Aisyah yang tadinya tenang, saat itu berdiri dan menunjuk ke arah wajah Gwen. "Cukup, cukup sudah! Aku mulai lelah dengan sifat kekanak-kanakanmu ini," imbuhnya. 


"Tak bisakah kamu memahami aku sedikit saja, Gwen? Aku dipaksa dewasa oleh keadaan sejak kecil, dituntut menjadi seorang kakak yang baik untukmu,"


"Aku iri denganmu yang bisa bebas kemanapun kau mau. Kau berlari kesana-kemari tanpa beban. Aku, aku yang selalu harus lebih besar hati memberikan semua orang yang terbaik,"


"Aku harus memberikan kasih sayang Ibu kepadamu, menutupi semua kesalahanku dan aku yang harus menanggungnya,"


"Katakan! Apakah aku tidak boleh sakit hati jika adikku sendiri, adik yang paling aku sayangi meragukan kasih sayangku dan malah menggertakku?"


"Kapan kau akan dewasa, Gwen!" ujar Aisyah dengan emosinya. "Aku juga lelah menjadi orang yang sok sempurna, Gwen. Aku anak Ibu juga, aku juga bisa memiliki sifat emosinya yang menjadi-jadi. Tolong, jangan menguji kesabaranku lagi," Aisyah mulai menangis. 


Tangis Aisyah membuat hati Gwen terluka. Setiap air mata Aisyah mengiris hati dan perasaannya. "Maaf …." lirih Gwen. 


"Jika kamu ingin menikah, menikahlah. Semoga Allah selalu melancarkan niat baikmu. Tolong, jangan ganggu aku lagi, mulai saat ini … aku yang akan pergi darimu, agar semua kasih sayang yang seharusnya kau dapat, tidak salah lagi kepadaku, Assalamu'alaikum!"


Terdengar seperti piring yang terjatuh menimpa batu. Seketika, hati Gwen patah saat itu. Kakak yang sudah ia anggap seperti Ibunya itu kini telah melepas tangannya. Gwen begitu hancur mendengar ucapan Aisyah yang seolah sudah tak ingin menjaganya lagi. 


"Aku memang salah, tak seharusnya aku terbawa emosi karena ibu-ibu lagi tadi. Baru kali ini, aku melihat Kak Aisyah semarah ini denganku," gumam Gwen. 


"Cintanya, kasihnya sangat tulus kepadaku. Tak heran jika dia akan marah, karena memang aku telah meragukan ketulusannya!" 


"Aku  akan minta maaf lagi nanti ketika hatinya sudah membaik. Kak Aisyah tidak salah, dia dituntut sempurna karena keadaan." tukasnya. 


Gambaran anak kembar, pasti semua orang mengira mereka akan selalu kompak dan sweet. Namun, di dunia nyata, banyak sekali kembar tak selalunya kompak dalam segala hal. 


Apalagi, seperti Gwen dan Aisyah kembar tak identik. Mereka selalu memiliki perbedaan yang sudah untuk di damaikan, kecuali salah satu dari mereka ada yang mengalah. 


Aisyah pergi membawa beberapa batangnya, menyalakan mobilnya meninggalkan Gwen sendiri di rumah. Sementara itu, Gwen duduk termenung di kamarnya mengintropeksi diri atas kesalahannya. 


"Gwen selalu saja begitu. Dia tau dia salah, lagipula siapa yang ingin mengacaukan pernikahannya. Aku adalah orang pertama yang bahagia mendengar dirinya mau menikah!" kesal Aisyah. 


"Aku akan pergi ke puskesmas dan mulai mencari tempat kost. Lebih baik aku kabari Ayah saja, biar Ayah yang mengatakan hal ini kepada orang rumah," 


"Gwen, maafkan aku. Tapi ini saatnya kamu terjun ke dunia dewasa. Aku harus tega kepadamu." gumam Aisyah. Aisyah menuruti egonya, supaya sang adik mampu bersikap dewasa. 


Kak, aku mau publish novel baru. Up 1 bab sehari aja ya. Mohon dukungannya. Novel lebih fresh, dan InsyaAllah novel Amanda akan publish di akun ini juga. Sebab, akun IPDewi kena hack. Bismillah semangat kembali penuh setelah satu tahun ini slow update. Ingat novel Suami Akhiratku dan juga Suara Hati? Dulu up 7-10 bab sehari wahh. Semoga saja sekarang bisa lagi.