
Setelah beberapa take dan penyiksaan syuting yang dilakukan oleh Chen dan Jovan, akhirnya mereka selesai juga. Hasil yang sangat memuaskan membuat sutradara memberikan penginapan yang baik kepada keduanya.
"Ternyata syuting membuatku sangat lelah. Aku lebih baik membunuh orang atau merampok bank, daripada harus berakting," keluh Jovan.
"Aku sampai tidak bisa berpikir sekarang. Beruntunglah aku tidak lahir di jaman Kekaisaran. Kaisar yang bodoh, dia mencintai kekasihnya, tapi malah membuat kekasihnya mati karena keangkuhannya," lanjut Chen dengan napas tersengal-sengal.
Datanglah makanan untuk keduanya. Semua aktor, aktris dan para kru sedang istirahat dan makan bersama. Jovan sangat senang saat menerima makanan dari krunya.
"Astaga, ada kaki baabi di sini. Wah, Chen! Ayo, makanlah! Setelah ini kita ada tenaga dan bisa melanjutkan syuting ini," Jovan nampak bahagia mendapatkan makanan yang sudah lama tidak ia makan.
Chen menoleh ke arah Jovan dengan tatapan yang menusuk. "Apa kau lupa? Aku tidak makan makanan seperti, bodoh!" ketus Chen dengan memberikan kotak nasi itu kembali kepada Jovan.
"Lalu, kau makan saja nasinya dengan sayur ini. Bukankah biasanya kau makan sayur?" Jovan merasa tidak tega dengan sepupunya.
"Sayur itu sudah kena minyaknya. Aku tidak mau makan. Kau habiskan saja sendiri," sahut Chen.
Jovan terdiam. Kemudian ia meminta Chen untuk menunggunya sebentar. Saat syuting tadi, Jovan melihat banyak buah-buahan di bagian properti.
"Sudah kuduga, ini adalah buah asli. Aku akan membelinya dari kru," gumam Jovan mengambil beberapa buah.
"Heh, kau mau apa?"
Seseorang datang, dan terjadilah negosiasi di sana. Jovan kembali dengan membawakan beberapa buah dan nasi yang belum tercampur apapun. Di situ juga, Jovan membawakan sambal dengan minyak zaitun untuk sepupunya makan.
Chen sedang mengecek ponselnya. Berharap jika istrinya menghubunginya. Namun, tidak! Lin Aurora memang tidak pernah menghubungi Chen, sama seperti Chen yang tidak pernah menghubungi istrinya.
Datanglah Jovan. "Chen, ayo makanlah!" dia membawa banyak sekali makanan yang boleh dimakan oleh Chen.
"Kau dapat darimana semua makanan ini?" tanya Chen.
"Hahaha kekuatan orang kaya. Sudahlah, ayo makan. Semua tidak ada yang mengandung pig, tenang saja!" seru Jovan memberikan kotak makan tersebut. "Bahkan, sambal ini menggunakan minya zaitun, bukan minyak pig," jelas Jovan.
"Aku akan menambahkan bonus ke dalam rekeningmu nanti. Ayo, kita makan semuanya," Chen senang akhirnya dia bisa makan.
Melihat Jovan begitu lahap saat makan dua kotak nasi, membuat Chen tersenyum. Sudah sangat lama, tidak melihat Jovan yang seperti itu. Sebelumnya Jovan selalu terlihat serius dan sudah di ajak bercanda, sama dengan dirinya. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka mampu tersenyum tanpa harus memiliki beban hidup yang dimana mereka, di usia muda harus selalu bekerja, bekerja dan bekerja.
Chen begitu iri dengan kehidupan Ayah kandungnya dan para sepupunya di waktu muda. Mereka benar-benar menghabiskan waktu untuk bermain dan mencari ilmu. Sedangkan dirinya, di usianya yang ke 17 tahun, harus memikul beratnya tanggung jawab sebagai seorang pewaris tunggal di keluarga yang tidak mudah di senangi.
Itu sebabnya, Chen selalu terdiam dan serius karena sejak kecil, sudah terlatih seperti itu. Berbeda dengan dua saudari kembarnya yang selalu ceria, karena mereka benar-benar menikmati masa mudanya.
"Apa kau sangat suka daging itu?" tanya Chen kepada Jovan.
"Iya, jika makan makanan seperti ini, di tambah dengan arak … baru cocok! Andai saja ada yang memberikan aku banyak kaki pig seperti ini," jawab Jovan.
"Aku bisa membelikan apa yang kau mau itu. Sangat mudah bagiku," ucap Chen.
"Masalahnya kau tidak pernah lakukan itu untukku," sahut Jovan.
"Karena aku tidak makan semua itu, bodoh!"
PLAK!!
"Astaga, kenapa kau memukulku? Sakit tau!" keluh Jovan mengusap kepalanya.
Hari itu turun hujan. Tidak tahu mengapa, bukan musimnya, tapi malah turun hujan. Sutradara mengatakan jika syuting akan dilanjutkan esok hari. Para kru sibuk menyelematkan properti mereka. Sementara manager aktor yang asli datang menghampiri Chen dan Jovan.
"Tuan-tuan, bisa ikut bersama saya?"
Masih dengan membawa kaki pig, Jovan mengantar Chen mengikuti orang tersebut. Mereka masuk ke mobil Van yang tidak jauh dari sana. Manager itu mengatakan jika dia sangat berterima kasih karena Chen dan Jovan sudah mau berakting menggantikan aktor mereka.
"Saya benar-benar tidak tahu aktor kami ada dimana. Akting kalian luar bisa hari ini. Apakah kalian juga seorang aktor?" tanya sang manager.
"Oh, bukan. Kami bukan aktor. Kebetulan saja kami sedang jalan-jalan di sini," jawab Jovan dengan senyuman.
"Um, apa kalian sudah memiliki agensi?" lanjut manager.
Chen dan Jovan saling menatap. Mereka tidak mau melanjutkan syuting lagi karena syuting selanjutnya akan diadakan di luar Kota. Chen meminta manager tersebut untuk bekerja sama dengannya. Agensi mereka akan dibeli oleh Chen dan mereka masih bebas melakukan apapun, asalkan mereka mau membantu Chen juga.
"Karena ini syuting series juga, maka kami tidak bisa melanjutkannya. Jadi, itu harus menjadi masalah anda untuk mencari aktor lain," ungkap Chen.
"Dimana aktor kalian yang seharusnya syuting?" tanya Jovan.
Manager itu mengatakan jika dua aktor dari agensinya sedang mengalami cedera ketika syuting di awal series. Setelah menjalani negosiasi, Chen melihat istrinya bersama Tuan Zi berlari ke mobilnya. Chen meminta Jovan untuk negosiasi dengan baik bersama manager tersebut. Sementara dirinya akan memantau istrinya.
"Chen, diluar masih hujan. Jika kau sakit bagaimana?" tanya Jovan khawatir.
"Aku tidak peduli. Sebaiknya kau lakukan yang terbaik saja. Aku akan mengabarimu lagi nanti," Chen pergi dengan terburu-buru. Segara ia mengganti pakaiannya dan mengikuti istrinya.
Di sisi Lin Aurora, karena hujan semakin deras, mereka memutuskan untuk mencari penginapan. Awalnya Lin Aurora menolak, karena dia hanya izin sehari saja.
"Sialan, mereka ke penginapan?" gumam Chen masih sibuk mengikuti istrinya.
Tuan Zi memesan dua kamar. Saat Tuan Zi memesan kamar, Lin Aurora selalu saja menoleh ke kanan-kiri merasa tidak nyaman berdua masuk ke penginapan.
"Nona Lin, ini kunci kamarmu. Tenang saja, kita tetap tidur di kamar yang berbeda. Besok pagi-pagi sekali, kita baru akan pulang," ujar Tuan Zi.
"Terima kasih, Kak Zi," ucap Lin Aurora gugup.
"Kak Zi? Lin Aurora, Lin Aurora, lihat apa yang akan aku perbuat padamu nanti!" kesal Chen dalam hati.
Sudah mendapatkan kunci kamar, Lin Aurora bergegas mencari kamarnya. Masih saja berjalan dengan mengobrol, Lin Aurora nampak tersenyum manis ketika bersama dengan Tuan Zi membuat Chen semakin kesal.
"Nona Lin, selamat istirahat. Aku akan pesankan satu set pakaian untukmu nanti. Lihatlah, bajumu sudah basah, kuyup seperti itu," ucap Tuan Zi dengan lembut.
"Tidak perlu baju baru. Ini hanya basah sedikit, tidak perlu ganti baju," tolak Lin Aurora.
"Baiklah kalau begitu, masuk dan istirahatlah," Tuan Zi meninggalkan Lin Aurora, masuk ke kamarnya sendiri.
"Haduh, bagaimana cara aku menjelaskan kepada Chen? Semoga saja nanti ada cara untuk izin padanya," gumam Lin Aurora dalam hati.
Lin Aurora membuka pintunya, ia masuk perlahan. Ketika hendak menutup pintu, Chen menerobos begitu saja dan membuat Lin Aurora terkejut.