Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Kesungguhan Hati?



"Tuan, apa yang saya katakan ini … hanya kebohongan. Saya bukan wanita seperti itu," jelas Puspa.


"Aku percaya padamu. Meskipun memang itu yang kau mau, asal kau selalu bersamaku, bukan harta saja yang aku berikan. Aku akan berikan apapun yang kamu mau," ucap Chen dengan nada yang lembut. 


"Pergilah untuk istirahat. Aku akan ke ruang baca sebentar membicarakan hal penting dengan Jovan," lanjut Chen dengan perintahnya. 


"Baik, Tuan."


Puspa menurut, ia naik ke atas dan pergi ke kamarnya. Berkemas untuk kembali ke Jogja esok hari. "Dia mencintaiku?" gumamnya. 


"Apakah … yang dikatakannya itu benar? Ini seperti aku yang jahat, jika aku tidak memberikan kepastian padanya,"


"Dia ingin menjadi mualaf, tapi aku malah menghambatnya dengan menarik ulur menjadi gurunya,"


"Ya Allah, aku tidak tega juga jika harus mengabaikannya. Jantungku selalu berdebar kala bersamanya, apakah … Aku beneran mencintainya?"


Sekilas, Puspa melihat Chen dan Jovan melewati depan kamarnya. Saat itu, pintu kamar yang Puspa tempati memang tidak di kunci. Membuatnya tahu, siapa saja yang melewati depan kamarnya. 


Perlahan, ia mengikuti langkah cepat Chen dan Jovan ke kamar Chen. Saat itu, mereka sedang berdebat masalah perusahaan, sengaja Puspa menyiapkan ponselnya untuk mentranslate pembicaraan Chen dengan Jovan. 


"Chen, apakah kamu yakin bersama gadis itu?" tanya Jovan sekali lagi.  "Lalu, bagaimana dengan Nona mu--"


"Kau menyukainya, bukan? Ambillah! Aku tetap akan bersama dengan Puspa," jawab Chen. 


"Aku memang menyukainya. Tapi, Nona seperti itu … ditakdirkan hanya untukmu, Chen," ungkap Jovan. 


"Aku hanya ingin Puspa. Tidak mau yang lainnya, aku siap mengundurkan diri dari pewaris kelurga Wang demi dirinya dan hidup selayaknya warga yang baik, Jovan," 


Jovan tersentak. Ia tidak menduga jika Chen akan melakukan hal itu. Kemakmuran Klan atau Keluarga Wang meningkat setelah Chen masuk kedalamnya. "Kau gila!" seru Jovan.


"Apa kau pikir bisnis kita ini hanyalah main-main, Chen?" tanya Jovan kembali. 


"Aku sudah disini sejak lima tahun. Usiaku mungkin akan kemudaan jika menikah untuk saat ini. Tapi, aku sungguh ingin hidup normal seperti keluarga kandungku, Jovan. Apa aku salah?" terang Chen. 


Kau sungguh gila, Chen. Menikah itu bukan suatu mainan. Apa kau sudah yakin dengan gadis, wanita dan perempuan itu? Keluargamu memang hdup dalam lingkungan basa, tapi kau ini pewaris Klan Wang, Chen. Minimal, kau harus balas budi karena Tuan Wang telah membesarkan dirimu, Chen!" 


"Pikirkan itu baik-bak!" Jovan keluar dari kamar Chen. 


Saat itu, Puspa langsung sembunyi di balik guci besar yang ada di sebelah pintu kamar Chen. Kemudian segera kembali ke kamarnya dan segera mengartikan apa yang Chen dan Jovan katakan. 


Semuanya sudah terdengar jelas dari translate itu. Puspa tidak menyangka jika cinta Chen bukanlah hanya sebuah bualannya saja. "Apa? Jadi benar, dia memang mencintaiku? Bahkan rela melepas semua hartanya?" gumamnya. 


"Dan aku malah masih berharap dnegan seorang pria yang sama sekali tidak pernah memikirkan aku? Kenapa aku begitu jahat sekali?" 


Pintu hati Puspa mulai terbuka. Nama Chen telah masuk dalam perasaannya. Ia berjanji pada diri sendiri, untuk menerima Chen apa adanya, seperti Chen tidak pernah mempermasalahkan apapun tentang dirinya. 


______-------


semua orang berhak dalam jatuh cinta. Namun, terkadang cinta bisa membuat seseorang menjadi lemah tidak berdaya karena terpedaya oleh cinta. sama akan halnya kisah cinta Gwen dan Agam yang kian hari semakin berbunga. 


Sore setelah Gwen mengganti semua seprai kasur kamarnya, datanglah Syifa dengan membawa undangan pernikahannya dengan Ustadz Khalid yang membuatnya terkejut. 


"Wa'alaikumsallam, tunggu sebentar …,"


Raut wajah Gwen yang sebelumnya sumringah menjadi masam kala syifa datang dengan wajah tanpa dosanya itu. "Kamu kalau mau cari Mas Agam, dia tidak ada di rumah!" ketus Gwen. 


"Dih, siapa juga yang mau mencari suamimu itu. Aku kesini hanya mau memberikan undangan ini," ucap Syifa dengan memberikan selembar kertas yang dibalut dengan plastik bening 


"Undangan wedding? Dari siapa?" tanya Gwen. 


"Kamu bisa baca, 'kan? Tuh di baca, siapa dan siapa terukir jelas di situ!" sulut Syifa. 


"Wah, editanmu bagus juga, Syifa. Kapan-kapan, bisalah editin namaku dengan aktor China," ejek Gwen. 


Geram dengan tanggapan Gwen yang sangat santai, Syifa pun menarik kembali undangannya itu. Kemudian menjelaskan bahwa undangan itu benar-benar miliknya dengan Ustadz Khalid. 


"Aku dan Ustadz Khalid akan menikah. Sebentar lagi, aku akan menjadi kakak iparmu, Gwen. Siap-siap saja akan hidup seperti di kubangan neraka!" ketus Syifa dengan merendahkan pandangannya. 


"Memangnya neraka ada kubangan, ya? Kamu kalau bodoh … Ya jangan bodoh banget. Yang ada, jatuhnya jadi tolol, Syifa," ujar Gwen gemas. 


Syifa hampir saja mau menampar Gwen. Ia tidak terima diejek dengan kata tolol dan bodoh oleh Gwen. 


"Buset nih cewek enteng bener tangannya," batin Gwen menepis tangan Syifa dengan keras. 


"Aw, sakit--" rengek Syifa. 


"Eh, bocah! Kamu berani mau nampar kakak Gwen yang hebat ini?" tantang Gwen.


"Kamu lupa kalau aku pernah membunuh puluhan orang dengan belati kecil yang aku miliki ini? Bahkan aku juga pintar dalam membuat racun. Apa kamu mau jadi salah satu dari korban itu, hm?" sambung Gwen dengan mengeluarkan belati yang ada di pahanya. 


"Kamu gila, kamu wanita kejam, Gwen! Kamu lihat saja nanti, saat aku sudah menikah dengan Ustadz Khalid, aku akan membuatmu tidak nyaman tinggal di sini dan kembali ke pesantren milikmu itu!" Syifa kembali mengancam. 


"Assalamu'alaikum!" salam Syifa dengan meninggalkan undangan pernikahannya bersama dengan Ustadz Khalid di meja ruang tamu. 


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh,"


"Kupikir bidadari yang datang. Ternyata hanya sebatas serangga yang bau." gumam Gwen. 


Gwen meraih kembali undangan tersebut. Sempat terlintas dalam ingatannya jika Ustadz Khalid bukan tipe lelaki yang gampang menerima seorang perempuan lain, apalagi baru saja ditinggal istrinya meninggal. 


"Aku yakin ada konspirasi dibalik pernikahan mendadak ini," 


"Kak Aisyah sudah pergi ke Korea. Andai saja dia masih tetap di sini, pasti dia akan membantu diriku dalam semua hal. Nyatanya, saat ini, aku harus mengandalkan diriku sendiri,"


"Ustadz Khalid, ada apa denganmu?" tukas Gwen mengakhiri gumamannya. 


Gwen kembali membersihkan rumah sebelum Agam kembali bekerja. Ia juga sudah menyiapkan beberapa masakan istimewa yang ia masak untuk suami tercintanya itu. 


Usai bersih-bersih diri, Gwen berniat mencari Ustadz Khalid untuk menanyakan kebenarannya. Namun, langkahnya terhenti kala Agam sudah pulang dengan senyum manisnya. Tak lupa membawa buah tangan untuk sang istri yang telah membuatnya rindu akan perpisahan sementara di kala ia bekerja. 


Langkah terhenti Gwen itu sangat lucu, seperti anak kecil yang ketahuan memainkan lipstik ibunya. Sembari bertanya, "Mas Agam, sudah pulang?" sambutnya dengan merentangkan tangannya hendak memeluk sangat suami.