Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Gwen Berulah



Saat semuanya berkumpul kembali, banyak juga keluarga yang hadir menjenguk Rebecca dan Yusuf. Baby Rifky juga sudah kembali di pangkuan sang Ibu. Keluarga pesantren juga hadir di rumah itu. 


Sebagai sahabat juga, Pak Darwin, Puspa dan Mas Ijal juga datang ke rumah. Mereka mementingkan tali silaturahmi dan melupakan masa lalu yang sudah terjadi. 


Meski memang sebelum sakit hati, Chen masih bisa bersikap tenang di hadapan semua orang. Walaupun hatinya masih terluka, melihat Puspa duduk di sebelah Ijal  dan menyandang status sebagai suami istri. 


"Chen, apa kabar? Kau terlihat sehat sekali, siapa gadis yang di sampingnya itu? Astaghfirullah hal'adzim, ada apa denganku? Aku tidak boleh bertanya akan hal itu, apa urusanku?" gumam Puspa dalam hati. 


"Eh, iya. Apa kabarnya kamu, Ulat ijo? Lama tidak mendengar kabarmu?" sapa Chen kepada Puspa. 


"Alhamdulillah, ba-baik. Kamu sendiri?" 


"Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja," jawab Chen dengan senyuman. 


"Syukurlah--"


Lin Aurora hanya diam saja, menengok ke kanan-kiri karena tidak tahu apa yang mereka katakan. Namun, meski begitu dia tidak merasa diasingkan karena Gwen terus menjadi penerjemah untuknya. 


Mulailah timbul otak nakal Gwen. Ia ingin mempertemukan Lin Aurora dengan sahabatnya, Puspa secara langsung. Dengan alasan bermain dengan Rifky, Gwen pun mengajak dua wanita yang berkaitan dengan Chen di masa depan dan masa lalu itu ke kamarnya.


"Ah, ayo ikut aku," bisik Gwen kepada Lin Aurora. "Puspa, ayo!" lanjutnya mengajak Puspa. 


"Anak nakal ini mau bawa mereka ke mana? Aku akan … Ah, aku tidak boleh gegabah. Nanti aku buat perhitungan jika Gwen membuat masalah," desis Chen dalam hati. 


Gwen mengajak keduanya ke kamar. "Yah, Rifky tidur. Niatnya mau ajak dia main gitu. Hehehe, ya sudahlah, kita mengobrol saja, bagaimana?" ujarnya menggunakan bahasa yang keduanya ketahui. 


"Aku akan pakai bahas ini. Soalnya kalian juga tidak mengerti jika aku menggunakan bahasa yang masing-masing tau, tapi juga tidak di pahami oleh yang lain, paham?" Gwen mulai pusing. 


"Bahasa Inggris kamu bagus sekali," puji Lin Aurora kepada Gwen. 


"Oh, jelas! Aku besar di Australia sejak bayi sampai usia sembilan tahun. Ditambah lagi, aku anak cerdas, jadi ya beginilah hahaha_" celetuk Gwen, memuji diri sendiri. 


Puspa hanya tersenyum saja. Ia tidak lagi terkejut dengan sikap Gwen yang selalu begitu. Kemudian, Gwen mengajak keduanya duduk di sofa kamar tidur Rifky. 


"Ah, kalian harus saling mengenal. Biar aku kenalkan, oke?" kata Gwen dengan merangkul Lin Aurora dan Puspa. 


"Lin Aurora, perkenalkan sabahatku. Namanya Puspa, dia lebih muda satu tahun dariku. Tapi karena kita memang selalu bersama sejak kecil, jadi usia tidak menghalangi kami untuk bersahabat," ungkap Gwen. "Dia mantan kekasih, kakakku! Pernah mau menikah!" bisik Gwen nakal. 


"Oh, begitu. Halo Puspa," sapa Lin Aurora dengan raut wajah yang berubah drastis. 


"Halo juga," balas Puspa. "Apa yang kamu katakan padanya, kenapa raut wajahnya jadi berubah?" bisik Puspa pada Gwen. 


Puspa telah lama bersama Gwen, jadi ia tahu jika Gwen sering iseng orangnya. Sebab, saat itu, Gwen memperkenalkan dirinya menggunakan bahasa Mandarin. 


"Ck, curigaan deh! Aku hanya bilang kau itu sahabat terbaikku. Gini, aku perkenalkan juga dia padamu. Namannya Lin Aurora, tunangan kakakku!" jawab Gwen dengan wajah tanpa dosa. 


"Tunangan? Sejak kapan?" tanya Puspa dengan raut wajah yang sama seperti Lin Aurora sebelumnya. 


Dua jam yang lalu, karena Gwen begitu penasaran dengan hubungan Lin Aurora dengan kakaknya, ia mencari tahu sendiri dengan bertanya kepada Tuan Wang secara langsung melalui telepon. 


"Ayah Wang, tolong jujurlah kepada putrimu ini. Aku, masih jadi putri kesayanganmu, 'kan? Jadi jawab pertanyaanku dengan jujur, ya?" ucap Gwen kala menelpon Tuan Wang. 


"Benar, kau adalah putriku. Salah satu putri kesayanganku, ada apa? Tanyakan saja, Nak!" balas Tuan Wang. 


"Nona Lin yang Kak Chen bawa pulang, apakah benar tunangannya? Jika benar, kenapa Ayah Wang dan Kak Chen tidak memberiku kabar? Aku marah ini! Aku merasa di rugikan!" ketus Gwen. 


"Aiya, Nak. Jangan marah, Ayah waktu itu sudah memberitahumu, 'kan? Kalau ada acara di rumah Ayah dan sekalian mengumumkan kamu dan Ai sebagai anak angkat Ayah? Itu malam pertunangan kakakmu juga," jelas Tuan Wang. 


"Tapi aku merasa di rugikan karena tidak tahu, Ayah! Huaaa, aku merajuk!" Gwen mulai bersandiwara. 


"Baiklah, baiklah. Jangan merajuk pada Ayahmu ini. Sebagai gantinya, bagaimana kalau Ayah kirim hadiah untukmu. Karena Ayah tidak tahu apa yang paling kau sukai, maka Ayah akan kirim mentahannya saja, nanti kau beli sendiri, bagaimana?" Tuan Wang begitu murah hati. 


Saat itu, Gwen merasa diuntungkan. Senyum nakal itu selalu terpancar di bibir Gwen sembari memuji diri sendiri cerdas. 


Sementara itu, Lin Aurora dan Puspa sama-sama sedang berperang dengan hatinya. Puspa menjadi lebih tenang saat tahu Chen sudah memiliki tunangan dan mau menikah. Menjadikan Puspa tidak merasa bersalah berkepanjangan lagi. 


Lalu, Lin Aurora juga mengingat-ingat terus masalah Puspa itu. Ia baru ingat, pernah melihat potret Puspa di meja bawah, di dalam kotak kecil yang mungkin di simpan oleh Chen. 


"Hatiku merasa tidak tenang, apakah ini yang dinamakan cemburu?" gumam Lin Aurora dalam hati. 


Gwen bercerita banyak tentang kakaknya kepada Lin Aurora, begitu juga ia melepas rindu dengan Puspa yang sudah lama tidak ia jumpai karena sibuk dengan urusannya masing-masing. 


Sampai Agam memanggilnya keluar, untuk mendengarkan sesuatu yang hendak Chen katakan kepada seluruh keluarga dan keluarga Pak Darwin juga. 


"Apa yang ingin kak Chen katakan? Apa … pertunangannya dengan, Nina Lin?" batin Gwen. 


Benar saja. Chen mengumumkan pertunangan dengan Lin Aurora kepada semua orang. Ia juga dengan tegas akan menikah secepatnya jika waktunya nanti sudah tepat. 


Semua orang terkejut saat mendengar pernyataan tersebut. Tak menduga jika keduanya sudah bertunangan, dan Lin Aurora adalah seorang muslimah. 


"Hm, pantas saja Chen mau menikahinya. Dia seorang muslimah, aku senang jika pernikahan itu benar-benar terjadi," kata Puspa dalam hati. 


"Apa? Kenapa semua orang menatapku? Apa yang Chen katakan ini? Ahh, kenapa juga aku tidak cari tahu masalah keluarga kandung Chen ini?" Lin Aurora masih bingung, terhalang oleh bahasa. 


Ia pun berbisik, bertanya kepada Chen, "Apa yang kau katakan? Kenapa semua orang ekspresinya seperti itu? Lalu, kenapa mereka juga menatapku?" 


"Aku bilang, kau adalah tunanganku dan tak lama lagi kita akan menikah," jawab Chen dengan santai. 


"Apa? Pantas saja mereka menatapku begitu," gumam Lin Aurora dalam hati. 


Saat itu, Lin Aurora hanya bisa pasrah saja. Tak mengerti apa yang sebenarnya ingin Chen lakukan padanya. "Kenapa pria ini sulit sekali ditebak?" keluhnya dalam hati.