
Akhirnya mereka berlima berkumpul dan memesan taksi bersama. Feng masih diam, sementara pandangan Chen dan Gwen kepada Feng masih dipenuhi dengan tanda tanya mengenai rencana Feng ingin merayakan ulang tahun mereka bersama.
"Feng, kenapa diam? Apa yang kamu rencanakan? Suami Gwen bilang, kamu yang mengajaknya kemari, bukan?" tanya Chen dengan ketus.
"Tuan muda Wang, simpan perganyaanmu itu. Aku tidak mau menjawab sekarang!" jawab Feng dengan ketus juga.
"Feng, kamu mau mati, hah? Jawab pertanyaanku dengan jelas!" bentak Chen sudah mulai emosi.
"Kak Chen!" Gwen menepis tangan Chen yang sebelumnya menarik kerah baju Koko-nya.
"Kenapa, sih? Kalian berdua kalau ketemu nggak pernah bisa akur? Keluarga besar kita semua sudah baik-baik saja. Tidak ada lagi permusuhan antara keluarga Lim, Wang dan juga keluarga Hao. Kenapa kalian masih saja seperti ini?" Gwen mulai kesal.
Keduanya menunduk seperti anak kecil yang sedang di nasihati oleh Ibunya di saat berbuat kesalahan. Gwen sudah mulai dewasa pemikirannya. Bahkan, sekelas Chen dan Feng saja, mampu ia tudukan dengan tuturannya.
"Jika kalian masih seperti ini di depan Kak Aisyah. Belatiku ini tak akan segan lagi untuk membuat ukiran di atas kulit kalian, paham!" tegas Gwen.
Baik Chen maupun Feng hanya diam saja sembari membuang muka. Tak ingin mencampuri urusan keluarga, Agam dan Jovan memilih untuk diam.
"Ingat Chen, keluarga Hao masih selalu mamantau keluarga Wang kalian. Dalam selangkah pergerakan saja kalian macam-macam~" desis Feng. "Jangan harap semuanya akan baik-baik saja!" ancamnya.
"Keluarga Wang selamanya akan berada di atas, Feng. Bahkan, di saat keluarga Lim hendak musnah, keluarga Wang-lah yang membuatnya hidup kembali dengan pengampunannya," Chen tidak mau kalah.
"Chen, tanpa kau sadari, kau ini keturunan keluarga Lim. Tak ingatkah jika Ibumu adalah putri Mafia yang terkenal tanpa ampun itu?" sulut Feng memancing emasi Chen.
"Keluarga Hao memang ahli racun. Tapi sayang, tak ada yang mampu mengusai racun sehebat peracik racun di keluarga Wang!" Chen masih saja tak mau kalah.
"Cukup!" teriak Gwen.
Sejarah ketiga keluarga itu memang tidak baik. Mereka saling berselisih sejak kepemimpinan yang terdahulu. Takdir telah mengikat tiga keluarga itu untuk berdamai, saling terikat dan saling berhadapan. Membuat Chen, Feng dan Gwen selalu berselisih jika sudah membahas keluarga besarnya yang membesarkan mereka masing-masing.
Taksi berhenti di tempat yang mereka tuju. Gwen menarik tangan kedua kakaknya menjauh dari Jovan dan Agam.
"Kalian berdua kenapa tak bisa berdamai, sih? Ada apa? Kenapa kalian seperti ini, hah?" tanya Gwen dengan suara gemetar.
Diketahui, perusahaan besar milik keluarga Hao telah diretas oleh seseorang dari kediaman keluarga Wang. Itu sebabnya, Feng berpura-pura menjadi orang yang jahat agar Chen tidak terkena masalah dari keluarganya sendiri.
"Koko-mu ini, beberapa hari yang lalu masih baik-baik saja. Entah kenapa ketika berangkat ke mari, dia sudah seperti ini, Gwen," jelas Chen merasa tak terima sedari tadi Feng terus memasang wajah ditekuk.
Konspirasi dia keluarga ini, dilakukan oleh Jackson Lim dan juga Cindy. Mereka memang ingin kedua keluarga itu beseteru kembali. Dengan seperti itu, dendam mereka akan berjalan dengan lancar.
"Lihatlah, sepertinya kedua Tuan Muda ini sedang berselisih. Rencana pertama berhasil, kita bisa lanjut ke tahap selanjutnya," ucap Cindy dari dalam mobil, memantau ketiga bersaudara itu.
Feng mengetahui keberadaan kedua orang jahat itu. Keinginan untuk mengungkap kebenaran kepada Chen, jadi tersendat. Feng sengaja berpura-pura berselisih paham dengan Chen dan Gwen karena ingin membuat lawannya merasa berhasil dulu.
"Jadi, mereka memantau kami sampai kemari? Dendam apa yang mereka miliki ini? Sebaiknya, aku masih harus melanjutkan sandiwara ini," gumam Feng dalam hati.
"Ada apa dengannya? Beberapa hari lalu, dia masih baik padaku. Bahkan membelikan tiket untukku dan Jovan. Lalu, kenapa sekarang menjadi orang yang berbeda?" gumam Chen.
"Ada yang tidak beres, padanya, Kak. Ayo kita tanyain lagi," cetus Gwen.
"Urus suamimu dulu. Masalah ini, kita bicarakan lagi nanti. Jangan sampai merusak kejutan kita bertemu dengan Ai," sahut Chen menyertikan alisnya.
Di saat yang bersamaan, mereka bertemu dengan Asisten Dishi dan Ilkay yang baru saja pulang membeli kue. Mereka sama-sama dikejutkan oleh pertemuan itu.
"Tuan Hao, Tuan Muda, Tuan Jovan, Nona Gwen~" Asisten Dishi begitu terkejut melihat mereka.
"Haih, Ayah. Apakah kau akan mengabsen mereka? Sudah jelas mereka ini ya mereka, masih saja di sebut," sahut Ilkay menarik tangan Ayahnya.
"Kau datang juga?" tanya Feng.
"Um, itu--" Asisten Dishi sampai bingung mau menjawab apa. Tak mungkin bagunya mengatakan jika dirinya sempat bermalam di rumah Aisyah.
"Ayahku datang semalam. Kami juga sarapan bersama, Paman Feng, Paman Chen dan Paman Agam datang kemari juga mau merayakan ulang tahun, kah?" comel sekali mulut Ilkay. Dirinya baru saja lancar bicara, jadi semua hal di bicarakan olehnya.
"Bukankah itu putranya Chen? Mengapa dia memanggilnya Paman? Apa untuk menyelematkannya dari ancaman warisan keluarga?" batin Jovan penuh dengan tanda tanya.
"Apa? Kau bermalam?" sulut Chen dan Feng bersamaan.
"Hum, pada dasarnya kalian memang saling peduli. Untuk apa bertikai?" desis Gwen pergi lebih dulu mengajak Agam bertemu dengan saudari perempuannya.
"Ilkay, bisakah kamu membawa Paman Jovan dan Paman Agam masuk lebih dulu? Biarkan Bibi dan dua Pamanmu itu bicara dengan Ayahmu," pinta Gwen dengan lembut.
"Um--Kay akan membawa Paman tampan dan Paman baik ini masuk dulu. Tapi, di dunia ini tidak ada yang geratis, Bibi …," celetuk Ilkay dengan senyuman manisnya.
"Pemalak kecil, lihatlah siapa yang mengajarimu begitu!" sulut Gwen.
"Bibi Kay yang cantik dan imut ini. Siapa lagi?" jawab Ilkay kembali dengan rayuan mautnya.
Mau tidak mau, Gwen harus memberi kompensasi untuk Ilkay. Agam tidak ingin mengganggu istrinya merampungkan masalah, maka dari itu, ia lebih memilih mengikuti Ilkay masuk terlebih dahulu, dengan di susul Jovan di belakang.
Lalu, Gwen menghampiri kedua kakaknya yang sedang menginterogasi Asisten Dishi di samping pintu masuk itu. Sementara itu, Jackson Lim dan Cindy juga sudah berlalu. Kini, Feng bisa berterus terang apa yang sebenarnya terjadi.
"Baiklah, ada apa ini? Kenapa Asisten Dishi sampai di sini juga? Bukankah kakakku telah mengirimmu ke Amerika?" Gwen mulai bergabung.
"Apakah saya juga tidak boleh mengambil cuti? Perusahaan stabil, penyelidikan juga dilanjutkan oleh tangan kanan saya. Saya merindukan putraku, apa saya tidak boleh menemuinya?" Asisten Dishi mulai berani membawa Ilkay dalam pembelaannya.
"Cih, dia memanfaatkan putraku!" sulut Chen tidak terima.
Feng melihat mobil Jackson Lim berlalu. Kemudian mulai memperingati Asisten Dishi untuk memperketat penjagaan di luar apartemen, apalagi ketika Ilkay tengah berada di sekolahnya.