
"Hai," sapa Gwen.
"Halo," jawab Lin Aurora dengan senyuman.
"Buset, cantik bener nih cewek. Temen siapa dia? Kakak siapa?" gumam Gwen dalam hati.
Lin Aurora berinisiatif mengukur kan tangannya lebih dulu, mengajar Gwen berkenalan. "Um, perkenalkan nama saya, Lin Aurora. Saya datang kemari bersama dengan Tuan Muda Wang,"
"Oh, teman Kak Chen. Hahaha, aksen Inggrismu lucu, kau bisa menggunakan bahasa yang setiap hari kau pakai jika masih belum terbiasa. Aku bisa paham, kok," sahut Gwen menyambut tangan Lin Aurora.
Lin Aurora menjadi malu, meski dirinya bisa berbahasa Inggris, tapi memang aksen yang ia gunakan tidaklah memang kurang sempurna. Itu karena, Lin Aurora tidak pernah menggunakan bahasa asing dalam hidupnya.
"Kau teman Kak Chen, hanya teman atau--" Gwen mulai menggoda.
"Um, itu biar Tuan Muda Wang sendiri yang mengizinkannya menjelaskannya," jawab Lin Aurora menundukkan kepala.
"Haih, santai saja. Aku hanya menggodamu, jangan tegang. Kuberi tahu, kakakku yang dungu itu, susah untuk diajak romantis. Jadi, kau jangan sakit hati jika dia dingin terhadapmu, memang begitu otaknya, rada-rada," Gwen malah menjadi provokator.
Lin Aurora menjadi tersenyum. Gwen terus saja membicarakan kejelekan Kakaknya sendiri. Tak banyak dari seorang adik yang menceritakan kejelakan kakaknya sendiri. Hanya Gwen yang melakukan itu.
"Kau tau, saat pertama kali kita bertemu, dia itu dingin banget, sombong, angkuh, dan juga kasar. Bahkan, aku sempat tahu jika dia adalah kakakku," lanjut Gwen.
"Oh, ya? Lalu, bagaimana cara kamu bisa tak ragu lagi, jika Tuan Muda Wang adalah kakakmu?" tanya Lin Aurora semakin penasaran.
"Aih, jangan panggil dengan sebutan itu. Panggil saja dia Chen, ingat, Chen! Dia akan semakin besar kepala kalau disebut dengan sebutan itu," bisik Gwen.
"Kamu lucu sekali. Wajah kalian juga sangat mirip. Katakan, bagaimana cara kamu yakin kalau Chen adalah kakak kandungmu?" Lin Aurora rupanya masih penasaran.
Setelah itu, Gwen menceritakan jika Aisyah lah orang yang paling berjasa bagi hidupnya. Dia juga menceritakan, bahwa dirinya memiliki saudari kembar yang sangat istimewa. Berani mengambil resiko apapun, demi keluarga tetap utuh dan mempertahankan kebahagiaan keluarga.
"Apakah, saudarimu juga akan pulang?" tanya Lin Aurora.
"Hm, sepertinya tidak. Dia ada di Korea sana. Aku harap, dia tidak pulang karena pasti akan memakan waktu belajarnya," jawab Gwen.
"Oh, dia masih belajar, ya. Oh, iya, belati itu … apakah--" Lin Aurora ternyata masih tidak yakin dengan belati yang ia lihat.
Gwen menunjukkan belatinya. "Kau mengetahui tentang belati ini?" tanya Gwen. "Jika dia tau, maka dia bukanlah orang biasa. Pasti memiliki latar belakang keluarga yang tidak sederhana," batin Gwen.
"Itu, milik keluarga Lim yang telah lama hilang itu, 'kan? Atau keluarga Lim yang telah bersembunyi sejak 25 tahun yang lalu?" tanya Lin Aurora.
"Haih, sudah kudugong! Dia tahu mengenai belati ini. Dari keluarga mana dia, hubungannya apa dengan Kak Chen?" gumam Gwen dalam hati.
"Jika kamu tidak mau bercerita, aku tidak akan memaksa, kok. Ayo, segera selesaikan memasaknya," ujar Lin Aurora.
Sesaat itu, Rebecca masuk dan menanyakan mengapa suasana menjadi tenang dan tegang. Tanpa menjawab pertanyaan dari Ibunya, Gwen malah bertanya kepada Lin Aurora dengan wajah yang serius.
"Kau, dari keluarga mana? Tidak banyak orang mengetahui akan asal usul belatiku ini, Nona Lin?" desis Gwen.
"Gwen, kamu menakutinya. Bisakah kamu menanyai dia dengan santai?" tegur Rebecca menarik telinga Gwen.
"Aw, Allahu Akbar, sakit! Hilang dong estentiknya, Mami! Ini kan aku lagi nanya ala-ala Mafia!" seru Gwen berusaha melepaskan diri.
"Ala Mafia apa? Kau berulah lagi, Gwen?" di sisi kiri, telinga Gwen juga ditarik oleh Chen yang baru saja pilang dari masjid bersama sang Ayah.
"Ayah, help me please," dan seperti biasa, Gwen akan manja terhadap Ayahnya.
Chen mendapat jeweran juga dari Yusuf. Membuatmu Lin Aurora merasakan kehangatan keluarga kala melihat keluarga Chen begitu sangat menyayangi dan sering bercanda.
***
Sarapan bersama untuk pertama kalinya bagi Lin Aurora dengan keluarga kandung Chen. Suasananya sangat berbeda baginya. Jika di kediaman Wang dan Natt, mereka makan selalu tenang dan hanya fokus makan saja. Ketika berkumpul, yang dibahas juga hanya bisnis belaka.
"Aku belum ada 24 jam di rumah ini. Tapi, kenapa aku merasa betah tinggal di sini? Seperti ini keluarga yang aku mau," gumam Lin Aurora dalam hati.
"Anak perempuan yang lengket dengan Ayahnya, anak lelaki yang dikasih Ibunya. Bahkan, ipar yang tak memiliki jarak diantara keluarga,"
"Inilah keluarga, meski makan sederhana, tapi mereka tetap selalu tersenyum satu sama lain. Aku tidak menyangkal dengan Chen, dia paling sulit makan ketika diperjamuan, tapi di sini … dia makan sangat lahap dari tangan Ibunya,"
Lin Aurora terus menatap Chen dan keluarga yang lainnya. Betapa senangnya dia, jika benar akan menjadi bagian dari keluarga yang sederhana dan hangat itu.
"Nona Lin, kenapa kamu diam saja? Kau, tak menyukai menu makanan kami, kah?" tanya Gwen.
"Hm, tidak begitu. Hanya saja, saya masih merasa sungkan dengan kalian semua," jawab Lin Aurora.
"Tidak usah sungkan! Santai saja! Jika kau mau nambah, atau makan sampai siisi penanak nasi itu habis, nggak papa, aku teman! Hahahaha," tawa Gwen membuat semuanya ikut tertawa.
Chen pun menambahkan lauk ke piring Lin Aurora. "Makanlah, di sini kau tidak perlu khawatir tentang makanan yang boleh atau tidak boleh orang muslim makan," bisiknya.
"Terima kasih," ucap Lin Aurora.
Deg, deg, deg.
Jantung Lin Aurora kembali berdebar. Pikirannya mulai tak fokus dan terus berpusat kepada Chen.
"Kau lihat apa? Makan!"
"Ah, iya."
Usai sarapan, Lin Aurora membantu Rebecca dan Gwen mencuci piring dan alat dapur lainnya yang mereka gunakan. Gwen sesekali melirik ke arah Lin Aurora. Ia masih penasaran, hubungan apa yang dimiliki dengan kakaknya, serta latar belakang keluarganya.
"Nona Lin, usiamu berapa tahun?" tanya Rebecca.
"22 tahun bibi, hanya selisih satu tahun dengan Chen. Tapi, kami belum pernah bertemu sebelumnya, karena saya tumbuh besar di perbatasan," jawab Lin Aurora.
"Ha? Perbatasan? Kenapa gitu? Apakah kau kembali ke Kota karena perjodohan?" sahut Gwen penasaran.
Lin Aurora mengangguk. Membenarkan jika dirinya kembali ke Ibu Kota karena pertunangan itu, yang telah lama di atur oleh dua keluarga sebelum ia lahir.
"Nona Lin, berapa bersaudara?" lanjut Rebecca.
"Saya hanya memiliki satu kakak perempuan. Itu saja beda Ibu, tapi kami saling menyayangi satu sama lain, Bi. Namanya Lin Jiang, marga kami, mengikuti Ibu tua (Nenek)," jawab Lin Aurora.
Sementara Rebecca menanyakan keluarga, Gwen malah menanyakan bagaimana cara mendapatkan uang banyak ketika diperbatasan dengan Lin Aurora. Meski sudah lama Gwen tidak mencari uang, tetap saja, uang adalah pokok utama dalam pikiran Gwen saat itu.