Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Bertemu



Malam itu, Lin Aurora nekat menyusul suaminya ke kantor. Hal itu membuat pelayan Mo pasrah tak bisa berbuat apapun lagi. Selama diperjalanan, Lin Aurora memandang foto Chen dan mengajaknya berbicara.


"Apa kau tau, aku sudah seperti orang gila. Malam-malam sedingin ini menemui ke kantor,"


"Jika aku tidak mencintaimu, mana mungkin aku mau melakukan hal itu. Bagaimanapun juga aku tidak ingin melihatmu sampai bersama dengan wanita lain,"


"Aku dengar dari Jovan, selama dia sakit … kau memilki sekertaris yang sangat cantik. Ck, cemburu ini sangat membunuhku!"


Sang sopir tahu jika Lin Aurora sedang dipermainkan oleh Jovan. Dia hanya bisa menahan tawanya agar tidak membuat Lin Aurora merasa malu.


Sesampainya di kantor, beberapa lampu sudah padam. Ada pihak kemanan di sana yang mencegah Lin Aurora masuk ke kantor.


"Nona Muda, anda … ada keperluan apa sampai anda datang kemari?" tanya security itu.


"Tuan Chen masih ada di dalam, kah?" tanya Lin aurora kembali.


"Benar, Nona. Itu mobilnya masih ada di sana. Apakah Tuan meminta Nona untuk datang?" lanjut security.


Lin Aurora sama sekali tidak menggubris pertanyaan dari security-nya. Dia langsung masuk begitu saja dan segera berlari ke ruangan suaminya. Awalnya, security-nya ingin menyusul, tapi sanga supir menahannya.


Supir pribadi Lin Aurora mengatakan jika merek tidak seharunya ikut campur masalah majikannya. Security pun mengangguk dan paham apa yang dimaksud eh sang supir.


Di ruangan Chen, Lin Aurora masuk begitu saja. Dia mendapati suaminya yang masih sibuk di depan layar laptopnya. Padahal sebentar lagi akan ada acara penting mereka.


"Chen, kamu masih bekerja? Apa kamu tidak ingin menghabiskan waktu bersamaku untuk melakukan perawatan?" tanya Lin Aurora, tiba-tiba masuk.


Chen terdiam. Melirik ke arah istrinya dan segera menutup laptopnya. "Ada apa? Kenapa seheboh itu? Hanya acara resepsi, kenapa harus ada perawatan yang begitu …,"


"Apa?" ucapan Chen tersela. "Hanya? Kamu bilang hanya?" ketus Lin Aurora. "Itu hari istimewa kita. Masa kita tidak berpenampilan yang bagus, sih?"


Saat Lin Aurora menundukkan kepalanya, Chen merasa iba. Dia pun akhirnya meminta maaf dan akan menemaninya melakukan perawatan esok hari. Dimana memang lusa adalah resepsi pernikahan mereka.


"Benarkah?" tanya Lin Aurora.


Melihat istrinya yang berpose seperti kucing yanng imut, membuat Chen ingin sekali menggigitnya. Tak kuat melihat istrinya yang imut, membuat Chen langsung menyergap sang istri dan menciumnya habis bibir mungil Lin Aurora.


"Eh, dia menciumku?" Lin Aurora sampai terkejut kala menerima peluan dan ciuman dari suaminya.


Ini sangat hangat, pelukan dan ciuman seperti ini yang aku inginkan. Terma kasih, Chen. Kamu sudah mau membuka hatimu untukku


Rasa cinta Lin Aurora semakin meningkat. Tak ada alasan lain untuk tidak mencintai seorang pengusaha muda yang berkuasa itu. Malam itu akan menjadi malam yang panjang. Keduanya menghabiskan waktu bersama dengan saling memiliki. (anu)


Seperti yang Lin Aurora rasakan. Chen sudah bisa menerima Lin Aurora dalam hatinya. Sangat jelas perlakuannya malam itu membuat Lin Aurora semakin terbang terbawa suasana indahnya cinta semalam.


*****


***


Fajar menjemput. Usai melakukan ibadah selayaknya orang muslim pada umumnya. Chen ternyata memenuhi janjinya semalam kepada Lin Aurora untuk menemaninya perawatan. Malam nanti, akan ada resepsi pernikahan yang terjadi di gedung pribadi milik Tuan Natt.


Sama seperti dulu, mereka tetap menyayangi Puspa layaknya putri mereka sendiri. Tak lama kemudian, ternyata pesawat yang di tumpangi Aisyah dan juga Dishi tiba. Mereka sama-sama bertemu dan melepas rindu.


Meski sudah menikah, Aisyah dan Puspa sama-sama belum memiliki keturunan. Aisyah tidak menunda. Tapi dia memang belum siap memiliki seorang anak, setelah kepergian Ilkay, putra angkatnya.


Sementara Puspa, dia juga belum hamil juga, karena sampai saat itu, dia dan suaminya belum melakukan hubungan badan.


"Assallamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh,"


"Ayah, Ibu, kalian juga baru sampai?" sapa Aisyah.


"Alhamdulillah, kami baru saja sampai," sahut Yusuf.


"Loh, Puspa dan suami juga bareng kalian? Apa kabar Puspa? Lama banget kita nggak ketemu--"


Setelah melepas rindu, mereka pun di jemput oleh phak keluarga Wang menggunakan mobil van. Dimana mobil tersebut mampu menampung mereka semua di dalamnya.


Mereka berbincang-bincang banyak. Mengenai Gwen yang tidak ikut hadir, membuat formasi menjadi kurang. Selain Agam, keluarga juga tidak mengizinkan Gwen untuk datang karena dia sedang hamil tua.


"Ibu, Ai dengar, Gwen sakit ya? Sakit apa dia?" tanya Aisyah.


"Sebenarnya tidak parah. Hanya kecapekan dan kata Agam banyak pikiran saja. Entah apa yang anak itu pikirkan, tapi sakitnya dia bersamaan dengan sakitnya Chen," jawab Rebecca.


"Oh, gitu. Mungkin karena mereka kembar satu plasenta, jadi apapun yang di rasakan salah satu diantara mereka, pasti yang satunya lagi akan ikut merasakannya," celetuk Aisyah.


Sesampainya di kediaman keluarga Wang, keluarga kandung Chen di sambut dengan baik. Meski sudah baik, tetap saja Tuan Wang dan juga Rebecca masih saja membuang muka kala bertemu.


"Haduh, kalian berdua ini sudah tua malah kelakuhanya seperti anak kecil," tegur Nyonya Wang.


"Maklum, Nyonya. Mereka ini sedang puber kembali. Jadi, kita yang sudah dewasa mengalah saja!" seru Yusuf menambah suasananya menjadi hangat.


Melihat Aisyah dan Puspa datang, Tuan Wang langsung menyambutnya jauh lebih baik dibandingkan dengan cara menyambut Rebecca.


"Putriku pun datang? Oh, Ai … kemarilah, Ayah sangat merindukanmu," sambut Tuan Wang.


"Heh, dia putriku!" ketus Rebecca.


"Bodoh, kau telah membuatku tidak bisa memiliki anak. Jadi, semua anakmu, akan menjadi milikku juga! Ketiga anakmu saja tidak keberatan, kenapa kau yang heboh?" sulut Tuan Wang.


"Tuan Yusuf, semuanya … mari silahkan masuk. Kita jangan dengarkan mereka yang sedang ribut ini," Nyonya Wang pun kesal dibuatnya.


Setelah duduk di ruang tamu, mereka berbincang-bincang cukup lama. Beberapa pelayan juga sedang membereskan kamar untuk mereka istirahat. Selain itu, mereka juga pasti menunggu Chen dan Lin Aurora pulang dari perawatan dan juga fitting baju pengantin yang akan dikenakan nanti malam.


Puspa sendiri mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Dimana dirinya pernah tinggal di rumah itu dan jatuh cinta dengan Chen. Setiap sudut rumah itu sama sekali tidak pernah berubah. Membuat Puspa mengingat hari-hari itu dan merasa bersalah karena meninggalkan Chen di saat dirinya sakit.


Mas Ijal tau apa yang terjadi kepada istrinya. Dia menyentuh bahunya dan lalu meminta istirnya untuk tidak berpikiran yang macam-macam.