
Siang di mana Aisyah tengah sibuk memeriksa warga yang datang ke balai desa, Chen terus mengamatinya dari balik jendela kayu. Tatapannya tak pernah lepas sejak ia duduk di sana.
"Siapa wanita ini. Kenapa dia membuatku tertarik. Padahal, selama ini ... aku sama sekali tidak tertarik dengan wanita manapun," gumamnya dalam hati.
Ditemani Syamsir, Chen bertanya tentang Aisyah kepadanya. Syamsir hanya menjawab jika dirinya tidak mengenal terlalu dalam, sebab ia juga baru bertemu dengan Aisyah di Bangkok.
Di sana, Asisten Dishi membantu Aisyah melayani masyarakat dengan setulus hati. Bahkan, senyuman Asisten Dishi yang jarang terlihat pun saat itu nampak sekali terukir.
"Nona, sudah berapa lama kau menjadi seorang dokter?" tanya Asisten Dishi.
"Aku baru jadi dokter umum. Nantinya, aku akan mengambil spesialis setelah penyuluhan ini selesai," jawab Aisyah dengan senyum ramahnya.
"Oh, begitu, ya?" ujar Asisten Dishi. "Lalu, rencana mau kuliah di mana?" sambungnya.
Aisyah hanya tersenyum. Rupanya, Asisten Dishi tertarik dengan Aisyah. Di matanya, Aisyah adalah wanita yang berbeda dengan wanita manapun yang pernah ia jumpai.
"Kain penutup kepalamu ... sangat cantik. Jarang sekali aku melihat wanita dengan membalut semua tubuhnya seperti anda, dokter." puji Asisten Dishi.
Lagi-lagi, Aisyah hanya tersenyum. Ia terlalu fokus dengan pekerjaannya sampai ia tak paham apa yang dikatakan Asisten Dishi kepadanya.
Hari telah berlalu. Sudah empat hari Aisyah, Feng dan rekan lainnya di desa itu. Selama itu juga, Aisyah lah yang membantu merawat Chen dengan baik. Kini, Chen sendiri juga sudah sembuh dari sayatan itu.
Selama tiga hari bertemu, Feng telah menemukan hal yang membuat dirinya yakin bahwa Chen adalah pria yang sama dengan kakak kandung Aisyah.
"Aku tidak menyangka jika tugas kita berakhir hari ini. Ini jauh lebih cepat dari pemerintah tentukan!" seru Syamsir girang.
"Alhamdulillah, jadi ... kita bisa menggunakan sisa hari di negara ini liburan. Bagaimana, Aisyah, kau setuju?" Feng mencoba menghibur Aisyah yang sejak kemarin risau akan Gwen.
"Tidak, aku harus mencari Gwen. Kata Ayah, dia ke negara ini juga. Ah, kenapa juga dengan dia!" kesal Aisyah mencoba meraih sinyal dari ponselnya.
"Haih, nggak seru kalau kalian berpisah secepat ini. Kalian kakak adik, harusnya aku permainkan dulu." batin Feng memiliki rencana usil.
Feng memiliki rencana usil untuk menggoda kedua sepupunya, terutama Chen. Ia akan balas dendam kepadanya karena selama 13 tahun tidak memberinya kabar.
---
Selama 4 hari di Bangkok juga, Gwen dan Pak Raza juga tidak berbuat banyak hal. Gwen tak bisa berulah, sebab Pak Raza mulai mengancamnya akan membuat nilainya jelek jika dirinya tidak serius belajar.
Sampai pada akhirnya ....
"Ayolah, Pak. Ini sudah 4 hari, loh. Masa kita nggak jalan-jalan, sih? Misiku bagaimana Bapak pembimbing yang ganteng ...." protes Gwen.
Pak Raza memiliki dukungan kuat juga dari Willy dan istrinya. Jadi, ia merasa berkuasa di rumah itu. Pak Raza sering kali membuat Gwen emosi hanya karena misinya belum tuntas.
Lalu, selama 4 hari itu, apa yang dilakukan oleh Gwen dan Pak Raza? Juga, apa yang akan dilakukan Feng untuk membalas ke-galakan Aisyah dan Chen di masa lalu?