
Hari demi hari berganti, luka yang dialami Xia tidak begitu patah karena hanya mengalami patah tulang di bagian tangan dan darah terebut diakibatkan luka lengannya yang terkena benda tajam yang menempel di tiang.
Setelah menjalani dua hari perawatan, akhirnya Xia sudah mulai membaik. Namun, sejak malam dimana Xia di rawat, Tama belum juga datang membesuk Xia. "Aku malas makan," ucapnya.
"Ck, jangan banyak alasan. Lebih baik cepat makan karena aku masih memiliki janji dengan pasienku," ketus Feng kala menyiapkan makanan untuk Xia.
"Tidak mau!" jawab Xia keras kepala.
Feng kesal karena memang saat itu dirinya masih harus mengurusi pasiennya yang datang dari jauh. Ia pun meninggalkan makanan di meja, lalu pergi begitu saja. "Kau kelaparan saja! Aku tidak peduli!" seru Feng.
"Hiks, hiks, huaaa … Tidak ada yang menyayangiku. Kenapa aku tidak mati saja saat kecelakaan itu terjadi--" rengek Xia.
"Hash, berisik sekali! Kenapa kamu terus menguat yang lain merasa tidak nyaman merawatmu. Apa maumu, Xia?" Tama akhirnya pun datang.
Melihat Tama datang, Xia langsung bersikap manis. Memintanya untuk menyuapinya dengan kedipan mata yang menggoda. Hanya Tama yang dinanti kedatangannya.
"Hih, apa ini? Menggelikan sekali saat kau mengedipkan mata," kata Tama.
"Suapi aku, kumohon …." pinta Xia kembali mengedipkan matanya berkali-kali.
"Berhenti seperti orang penyakitan seperti itu. Mengerikan!" Tama mengambil nampan jatah makanan Xia. "Cepat duduk sebelum aku berubah pikiran," sambungnya dengan ketus.
Sekali dua kali suapan, Xia merasa bahagia. Bagi gadis berusia 15 tahun itu, sehari tak berjumpa dengan Tama saja, dirinya merasa hampa. Apa yang ditakutkan oleh Feng dan Dishi kejadian juga. Xia jatuh cinta dengan Tama.
"Lauknya kecil banget. Potongannya yang besar biar aku puas," ujar Xia.
"Hm--"
"Lagi, lagi, lagi, yang besar!" Xia tidak sabaran.
"Hei, bocah! Ini sudah besar, kau mau yang sebesar apa lagi, ha?" Tama mulai emosi.
"Sebesar rasa sayangku kepadamu__" jawab Xia dengan cengegesan.
Tama menghentikan tangannya, kemudian menatap Xia dengan tatapan datar. Lalu, meletakkan nampan makanan tersebut dan keluar begitu saja. Xia bingung mengapa Tama bersikap seperti itu.
"Kak!"
"Lah, kok pergi?"
"Kak!"
"Kak Tama!"
"Woiii, aku belum makan! Kak Tama!"
Tidak peduli Xia memanggilnya berkali-kali, tetap saja Tama tidak menghentikan langkahnya. Jangan kan berhenti, menoleh saja tidak. Ketika berada di luar, Tama pun bertemu dengan Dishi dan Feng. Helaan nafas panjang Tama, dua pria di depannya itu langsung paham.
"Dia jatuh cinta padamu, lalu kita harus apa sekarang?" tanya Feng.
"Tidak ada solusi lain kecuali aku harus kembali ke Amerika. Bagaimana dengan unsulku ini? Apa kalian berdua setuju?" Dishi meyakinkan diri untuk mengirim Xia kembali.
Tama hanya diam saja. Meski apa yang diusulkan oleh Dishi adalah keputusan yang benar. Namun atau perasaan yang tidak tega untuk melepaskan gadis berusia 15 tahun tersebut.
"Matamu!" jawab Tama, pergi begitu saja.
"Dasar bocah tengik!" kesal Feng mengangkat tangannya.
Dishi mengamati gerak-gerik Tama. Memang terlihat tidak ada perasaan cinta di mata Tama kepada Xia. Tapi, Dishi khawatir perasaan tidak tega itu menjadi rasa suka yang akan membuat taman sendiri merasa tidak nyaman.
"Dia tidak menyukai Xia. Hanya saja …." ucapan Dishi terhenti.
"Hanya saja apa? Kau juga kalau ngomong yang jelas, bereskan dulu!" Feng benar-benar gampang sekali emosi.
"Hanya saja, takutnya rasa ibanya itu akan membuatnya terjebak dalam perasaan suka terhadap Xia," jawab Dishi.
"Haih, aku tidak paham dan tidak mau tahu apa yang kamu maksud itu, Dishi. Sebaiknya kamu segera memikirkan bagaimana cara menyetabilkan perusahaan dan setelah kembali kepada adikku. Apakah kamu tega ngebohongin yang terus-menerus seperti ini?" Tegur Feng.
"Jangan sampai Aisyah tahu yang sebenarnya dan kamu belum menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepadanya. Jangan sampai juga kamu menyesal, Dishi." sambung Dishi, kemudian pergi.
Apa yang dikatakan oleh Feng memang ada benarnya. Aisyah memang sedikit curiga ketika foto dirinya bersama dengan Theresia saat berada di kantor polisi. Hal itu membuat Dishi semakin bingung hendak bertindak seperti apa. Keluarga besar pihak ibu Feng masih belum bisa melepaskan perusahan Wang begitu saja.
Sebagai penanam saham terbesar di perusahaan salah satu yang didirikan oleh keluarga Wang, pasti akan berpengaruh besar untuk masa depan perusahaan. Satu persatu masalah harus Dishi selesaikan dengan pelan. Dia masuk ke ruang rawat Xia dan melihat Xia sedang makan.
"Jika kau bisa makan sendiri, untuk apa kau merepotkan Feng dan juga Tama? Kapan kau akan mandiri, Xia?" kata Dishi mendekati Xia.
"Tidak ada hubungannya denganmu, jadi jangan ikut campur!" desis Xia. "Pergi sana!" usirnya.
Dishi duduk di sisi Xia. Menatap remaja manja itu dengan tatapan seperti tidak tega juga. Namun, keputusan itu sudah bulat untuk mengirim kembali Xia ke Amerika.
"Dokter mengatakan jika besok kalau sudah besar pulang. Dan setelah itu bersiaplah untuk kembali ke Amerika," ungkap Dishi.
"Apa?" Xia pun terkejut.
Sebelum mendengar Xia protes, Dishi mengatakan, "Aku tidak akan menerima bentuk protes apapun dari mulutmu itu. Segera berkemas besok dan mungkin paginya aku akan mengantarmu langsung ke Amerika, paham?"
"Cepat selesaikan makanmu, dan kembali lagi istirahat. Aku akan pulang lebih dulu, mungkin sebentar lagi nona Sachi akan datang menemanimu malam ini."
Setelah mengatakan hal yang membuat hati Xia terluka, Dishi langung pergi meninggalkan gadis kecil Tama itu sendiri. Air mata tiba-tiba menetes dari mata sipitnya yang cantik. Makanan yang belum habis, tidak jadi ia makan karena sudah tak berselera.
"Kenapa semua orang tidak menginginkan aku? Mereka membuangku, tak ada yang menyayangiku dengan tulus. Jika begini Kenapa mereka tidak membunuhku saja?" batin Xia mulai tertekan.
"Aku adalah anak yang baik, aku juga patuh dengan siapapun. Tapi mengapa ujung-ujungnya aku dibuang?"
"Apa salahku?"
Dadanya sesak kala mengatakan kata tersebut. Xia belum mengerti seperti apa masa depan itu. Yang ada dipikiran Xia, hanya bagaimana caranya mendapatkan kasih sayang dari orang-orang yang ada didekatnya saat itu juga.
"Kenapa aku tidak mati saja saat kecelakaan kemarin? Kenapa aku malah baik-baik saja. Kenapa Tuhan tidak adil padaku?"
Tangis Xia membuat Sachi yang baru saja datang menjadi khawatir. Sachi langsung memeluk tubuh mungil Xia dengan erat dan mengusap kepalanya secara perlahan.
"Xia, tenanglah--"
Tangis Xia pecah dan semakin keras kala mendengar suara Sachi yang saat itu memeluknya. Sachi membuatkan Xia menangis sekerasnya. Sebab, menangis dapat membuat hati menjadi lebih lega dan tenang. Yang hanya bisa dilakukan Sachi saat itu hanya bisa memeluk dan mengusap kepala gadis kecil Tama itu.