
Raza juga memerintah kedua orangnya yang lain untuk menahan Aisyah mendekati Feng dan Leo. Bug, bug, bug, begitu bunyi orang-orang jahat itu memukuli dan menendang tubuh Leo dan juga Feng yang semakin melemah.
"Hentikan, jangan lagi pukuli mereka. Koko, Kak Leo …," air mata Aisyah tak lagi bisa dibendung.
Melihat air mata mengalir membasahi pipi wanita yang dicintainya, Raza meminta orangnya berhenti memukuli Feng dan Leo.
"Hentikan!" teriaknya.
"Lihat Aisyah. Jika kau tidak keras kepala dan mau menikah denganku, mereka juga tidak akan tersakiti seperti itu," tunjuknya dengan angkuhnya.
"Tenang Aisyah, Koko dan juga Kak Leo akan baik-baik saja. Ini belum waktunya, jangan sekarang~" batin Aisyah.
Raza melanjutkan keangkuhannya. "Baiklah, aku tidak akan memaksamu sekarang. Aku yakin, jika nanti kamu akan menikah juga denganku," ucapnya.
"Pilihlah, siapa yang ingin kamu selamatkan diantara mereka berdua. Salah satu diantara berdua harus ada yang mati! Karena apa? Bukti akan lenyap jika dihilangkan dari hukum. Ayo, kau pilih kakakmu, atau Leo yang jodoh ini!"
Aisyah, Feng dan Leo tidak menyangka jika Rasa bisa sekejam itu. Aisyah memandangi kakak sepupunya, Feng menggeleng kepala, dan memberi kode untuk menyelamatkan Leo terlebih dulu.
Saat dirinya menatap Leo, Leo juga menggelengkan kepala. Ia tak ingin di selamatkan jika harus mengorbankan satu orang untuknya tetap hidup.
"Ayo, pilihlah … Atau kamu ingin keduanya saja yang terjun bebas ke sana?" tunjuk Raza, menunjuk jurang yang sudah jelas ada di depan mata. "Atau, biarkan mereka hidup, tapi hari ini juga kita harus menikah?" lanjutnya.
Feng dan Leo langsung menolak pernyataan terakhir dari Raza. Mereka lebih baik mati daripada menyerahkan Aisyah kepada Raza.
"Biarkan aku saja yang terjun ke jurang itu. Aisyah, kau bisa bawa Leo pulang dan segera antar ke rumah sakit. Lukanya infeksi, jika tidak segara di atasi, maka pilihannya dia harus diamputasi," tutur Feng dengan lirih.
"Tidak! Aku tidak bisa hidup dengan berhutang nyawa seseorang. Aisyah, pilih kakakmu saja. Aku rela melakukan ini demi dirimu, ini bukti bahwa aku sangat menyukaimu, aku rela kau menikah dengan Asisten kakakmu daripada dengan pria pengecut ini," sahut Leo masih ketakutan.
Aisyah masih diam. Ia menundukkan kepalanya. Kemudian, memiliki ide untuk mengorbankan dirinya sendiri. Aisyah merasa jika kekacauan itu diakibatkan oleh dirinya.
"Aku memilih …,"
"Ko Feng, adalah seorang kakak yang sangat baik untukku. Koko selalu ada untukku, aku menyayangimu melebihi sayangku kepada Kak Chen yang belum lama aku temui. Aku selalu berharap, Koko bisa mendapatkan pendamping hidup yang bisa mengerti dirinya dan masalahnya dengan kedua orang tuanya," ungkap Aisyah.
"Kak Leo. Kak Leo adalah pria yang sangat baik dan lembut meski selalu saja terlihat kekanak-kanakan. Tapi, terima kasih kamu terlah berjuang sejauh ini hanya untuk menyelamatkan Dishi, pria yang aku sukai. Aku berharap, Kak Leo juga mendapatkan pendamping yang jauh lebih baik dariku," lanjutnya dengan suaranya yang lirih.
"Kak Raza. Aku kecewa padamu. Aku berpikir, bahwa dulu aku juga pernah menyukaimu meski hanya sebatas mengagumi. Tapi, cinta itu tidak bisa dipaksakan, Kak. Aku lebih suka melihat Kak Raza yang dulu, aku lebih suka Kak Raza berbohong dengan menyembunyikan identitas sebagai anak dari Pamanku,"
"Tolong, kembalilah ke jalan yang baik, Kak. Daripada aku harus memilih diantara dua pria yang sangat aku sayangi ini, lebih baik …," Aisyah berjalan mundur mendekati bibir jurang.
"Lebih baik aku yang pergi saja--"
"Aisyah!" teriak Feng, Leo dan Raza secara bersamaan.
Mereka bertiga kalah cepat oleh tangan Asisten Dishi yang sudah lebih dulu meraih tangan Aisyah. Kaki Aisyah sudah menggantung satu ke jurang. Sejak ia bicara mengungkapkan isi hatinya, Aisyah sudah melihat bahwa Asisten Dishi datang bersama dengan orang-orangnya.
"Tangkap mereka!" perintah Asisten Dishi.
"Apa-apaan, ini? Aisyah, kau menipuku? Beraninya dirimu!" sentak Raza meronta saat hendak di bawa oleh orang-orang yang di utus oleh Tuan Wang.
"Sisanya, bawa Tuan Hao dan Tuan Leo. Obati mereka dengan baik," perintah Asisten Dishi.
Feng dan Leo patuh, mereka memang perlu berobat lebih dulu. Sementara Asisten Dishi melepas genggamannya secara perlahan. Kemudian, membuka sarung tangannya.
Ingin rasanya memeluk gadis yang dicintainya. Namun, niatnya tak tersampaikan karena memang keduanya belum boleh bersentuhan. Bahkan, Asisten Dishi sampai memakai sarung tangan kala hendak menarik tangan Aisyah.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Asisten Dishi.
Aisyah menangis haru, ia juga takut jika dirinya benar terjatuh dari jurang securam itu. Aisyah terus beristighfar, bersyukur Asisten Dishi datang disaat yang tepat.
"Kenapa kamu senekat itu sampai mau terjun ke jurang? Apa kamu ingin membuatku menjadi duda?" Asisten Dishi menggoda Aisyah.
"Kita bahkan belum menikah, bagaimana kamu bisa menjadi duda, huaa … Aku takut sekali tadi," tangis Aisyah benar-benar pecah saat Asisten Dishi dan orangnya datang.
"Alhamdulillah kamu selamat. Ayo, sebaiknya kita segera turun gunung. Takutnya, nanti akan semakin dingin. Pakai lah jaketku, kenapa juga cardinganmu robek?" ucap Asisten Dishi dengan melepas jaketnya dan memakaikannya kepada Aisyah.
Asisten Dishi terus mengomel karena Aisyah tidak merawat dirinya dengan baik. Tapi, semua itu membuatnya tenang karena Asisten Dishi mampu datang diwaktu yang tepat. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi di sana.
Tuan Wang sangat menyayangi Aisyah. Ia rela melepas bawahannya yang khusus untuk membantu Asisten Dishi mencarinya. Di sepanjang jalan, Aisyah terus mengatakan apa yang terjadi kepadanya saat Raza memantaunya sampai di daratan China.
"Apa? Kamu mabuk laut dan dia tidak tau? Benar-benar, ya. Lihat saja, aku akan membuatnya merasakan apa yang kamu rasakan saat mabuk laut!" ketus Asisten Dishi.
"Apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Aisyah.
"Aku akan membuatnya kenyang, lalu memasukkannya di mobil dengan aroma jeruk yang menyengat, AC yang dingin dan juga di buat ngebut di area balap. Penyiksaan yang halal, bukan?" ungkap Asisten Dishi.
Aisyah tertawa mendengarnya. Bahkan, Aisyah juga ingin menambahkan siksaan untuk Raza dengan memintanya meminum jus pare. Saat ini, suasana hati Aisyah sudah tenang. Tak perlu ia memakai kekerasan untuk melawan Raza.
"Lalu, bagaimana dengan putra kita? Rizky, apa dia juga sudah kembali?" tanya Aisyah dengan serius.
"Tuan belum memberiku kabar. Semoga saja Ilkay dan Rifky segara bisa di bawa pulang. Lalu, Tuan Yusuf dan Nyonya … Juga belum ada kabar, Mail," jelas Asisten Dishi.
"Yah …." sesal Aisyah dengan raut wajahnya sedih.
Setelah beberapa mil langkah, akhirnya mereka sampai di kaki gunung. Dari kaki gunung, mereka sudah bisa naik kendaraan dan kembali ke kota. Tidak lupa, Asisten Dishi membawakan tas milik Aisyah yang berisikan dokumen penting miliknya seperti, dompet, paspor dan juga bisa pelancong. Begitu juga dengan milik Leo.
Kembali ke Mas Agam dan Gwen, next bab.