Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
SAH



Selama hidup, Gwen belum pernah memakai pakaian syar'i seperti itu. Baru sekali yang Gwen lakukan hanya demi seorang yang akan menjadi separuh penyempurna imannya. 


Air mata Aisyah tak dapat terbendung lagi. Melihat adik kecilnya hendak menikah duluan. Aisyah membelai pipi lembutnya itu seraya berkata, "Kamu cantik sekali princess-nya aku."


"Kak, aku nglangkahin kakak. Kakak nggak ada gitu, minta apa dariku?" tanya Gwen. 


"Nggak ada yang bisa diminta darimu secara finansial. Kau kan beban keluarga!" goda Aisyah mencubit hidung adiknya. 


"Woy, shadingku! Ih, main comot aja nih hidung," sulut Gwen melihat dirinya di cermin.


Semua orang yang ada di ruangan itu menjadi tertawa. Gwen memang jarang sekali menggunakan riasan, mungkin karena itu dirinya selalu menatap cermin, memastikan jika riasannya tidak bermasalah. 


Disisi lain, Aisyah masih gelisah karena Feng belum juga datang membawa Ilkay, begitu juga dengan Asisten Dishi yang belum bisa dihubungi. 


"Itu Paman Kabir sama Bibi Yue. Aku akan tanyakan Ko Feng kepada mereka saja!" seru Aisyah dalam hati. 


"Eits, tunggu! Mereka datang dari Korea kemarin. Sedangkan Ko Feng dari Tiongkok. Aku harus nanya ke siapa?" gumam Aisyah dengan terus memainkan jarinya karena kegelisahan. 


Datanglah Shinta, kakak dari Ibunya menemuinya. "Assalamu'alaikum, Kakak. Kamu ada di sini? Dimana Gwen?" tanyanya. 


"Wa'alaikumsallam, kapan tante datang?" tanya Aisyah kembali. 


"Semalam, hanya saja … kakakmu yang sedikit terlambat. Katanya dia barengan sama Feng, dimana Gwen?" ungkap Shinta dengan lembut. 


"Jadi Bang Faaz juga belum datang?" tanya Aisyah. 


"Ai, kemarilah!" teriak Chen memanggil Aisyah. 


"Kak Chen. Em, Gwen ada di dalam sana, tante. Aisyah tinggal dulu, ya. Assalamu'alaikum," pamit Aisyah segera


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh," 


Aisyah segera berlari menuju kakaknya yang saat itu tengah memanggil dirinya. Chen mengatakan jika Asisten Dishi akan telat datang, begitu juga dengan Feng dan Faaz (anak dari Shinta dan Falih). Jika salah nama, maaf. Author lupa. Jika belum ku kasih nama, ya namanya Faaz.


"Apa? Ko Feng terlambat? Kok, bisa?" tanya Aisyah. 


"Lah, memang dia bilang mau terlambat kan sudah sejak kemarin. Kenapa kamu tanya dengan nada begitu? Ada apa?" Chen balik bertanya. 


"T-tidak. Aku hanya menunggunya saja, tidak seru kan kalau keluarga belum kumpul semuanya," alsan Aisyah. 


"Ya, bagaimana lagi? Memang dia terlambat, lagipula dia dokter. Jadi sulit untuk langsung cuti, bukan?" Chen mengusap kepala Aisyah, kemudian pergi begitu saja. 


Aisyah semakin gelisah. Asisten Dishi masih belum. Bisa dihubungi, jangankan dihubungi, kabar aja tidak ada darinya. Aisyah hanya takut, jika Cindy akan melakukan hal yang nekat jika dirinya tidak mendampingi Ilkay di sana. 


Akad akan segera berlangsung. Aisyah segera datang ke ruang yang ada Gwen di sana. Pernikahan dipisah antara laki-laki dan perempuan. Sebelum sah, Agam juga belum bisa melihat Gwen kala itu. 


Gwen sendiri hanya akan mendengar saja, tanpa melihat Agam dan orang lain yang berjenis kelamin laki-laki di ruangan tertutup tersebut. 


"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Selamat Siang, Salam sejahtera untuk kita semua. Bapak-bapak, ibu-ibu, serta saudara saudari yang kami hormati," MC memulai sambutan. 


"Pertama-tama saya mengucapkan syukur kepada Allah SWT, dengan nikmat dan rahmat yang dilimpahkan-Nya kepada kita semua, sehingga pada siang hari yang berbahagia ini kita bisa berkumpul bersama dalam acara resepsi pernikahan putri kami yang bernama, Gwen Kalian Lim dengan Agam Fauzan,"


"Atas nama keluarga kami dari pihak perempuan, kami mengucapkan selamat datang kepada rombongan pengantin pria, dan kepada semua tamu undangan yang berkenan hadir, terimakasih karena turut menjadi bagian dari momen yang terindah untuk putra-putri kami."


Tiba dimana akad akan dilaksanakan. Yusuf sendiri yang akan menikahkan putri bungsunya yang nakal itu. 


"Ankahtuka wazawwajtuka makhtubataka binti Gwen Kalina Lim alal mahri seperangkat alat salat dan uang tunai seperti tersebut, hallan!" tegas Yusuf. 


"Bagaimana para saksi?"


SAH!


Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih. 


Suasana menjadi haru kala Rebecca menangis. Bagaimana tidak, putri kesayangannya menikah dan akan jauh darinya. Ya! Tanpa Gwen ketahui, dirinya adalah kesayangan sesungguhnya dalam hati Rebecca. Hanya saja, Rebecca sulit untuk mengungkapkannya. 


"Anak Mami, anak Mami sudah dewasa. Anak Mami ini sudah jadi seorang istri, Mami bahagia sekali, Nak," ucap Rebecca menyentuh kedua pipi putrinya. 


"MasyaAllah, Bu. Jangan di bejek-bejek pipinya, make up-nya ilang itu," sahut Aisyah yang kemudian memeluk adiknya. 


Iringan shalawat di lantunkan oleh semua santri dan para undangan. Kini, Agam menemui Gwen yang telah menjadi istrinya ke ruang pertemuan. 


"Assalamu'alaikum, zaujati," salam Agam dengan menebar senyuman. 


"Gwen, i'm Gwen, Mas. Siapa zaujati?" bisik Gwen. 


"Astaghfirullah hal'adzim. Adek siapa itu, masa iya zaujati kagak ngarti," gumam Aisyah menepuk jidatnya. 


"Zaujati itu, artinya istri atau istriku. Bukankah... saya sudah memiliki hak atas sebutan itu?" suara Agam memang selalu bisa meneduhkan hati Gwen. 


Gwen tersipu, membuat semua orang yang menyaksikannya menjadi ikut meleleh. Rafa meminta Gwen mencium tangan Agam dan meminta berkah darinya. Begitu juga dengan Agam yang harus mengecup kening Gwen. 


Mereka masih malu-malu melakukan itu. Hingga membuat beberapa orang di sana tertawa. Namun, sisi dari kebahagiaan mereka, ada Aisyah yang masih gelisah menanti kedatangan Feng, Asisten Dishi dan juga Ilkay. 


"Kenapa Ko Feng belum datang, ya? Apa mereka mengalami masalah?" gumam Aisyah. 


Aisyah kembali di panggil untuk foto keluarga. Meski bahagia ikut dalam foto keluarga, Aisyah masih belum puas karena bintang pertama dalam keluarga belum datang. Yakni, Ilkay. Cicit pertama yang dilahirkan dari keluarga Yusuf dan Rebecca dari keturunan Chen. 


"Kak Aisyah, aku perhatikan dari tadi. Kok, kakak seperti orang bingung? Ada apa?" bisik Gwen. 


"Aku belum utang, takut aja rentenir datang," jawab Aisyah dengan spontan. 


"Dih!" 


Saat semuanya sudah berfoto, tinggal menunggu Gwen dan Agam ganti busana pengantin dengan warna lainnya. Kemudian, resepsi akan diadakan setelah itu. 


Sementara menunggu Gwen dan Agam selesai ganti busana, Aisyah kembali mencoba menghubungi Feng dan juga Asisten Dishi. Namun, tetap saja tidak ada jawaban dari keduanya. 


"Bang Faaz juga kenapa ikut nggak bisa dihubungi. Lihat saja, jika mereka bertiga tiba, aku akan sunat lagi mereka!" kesal Aisyah. 


Tiba-tiba, sebuah tangan menyentuh bahu Aisyah. Aisyah menoleh, melihat kebelakang siapa orang yang menyentuh bahunya. Rupanya, Chen yang saat itu membawakan makanan untuknya. 


l


"Kenapa? Masih menunggu Feng? Dia akan datang nanti. Sekarang, makanlah. Aku tidak ingin kamu sakit, Ai. Kamu harus makan," Chen begitu perhatian kepada Aisyah. 


"Aku tidak lapar, Kak," jawab Aisyah. 


"Maka makanlah demi aku, Ai!" seru Chen, memaksa Aisyah makan siang. 


Mau tidak mau, Aisyah harus makan. Usai makan, ia ingin mencoba menghubungi Feng atau Asisten Dishi kembali.