
"Kamu yakin, tidak mau ikut denganku ke club?" Feng memastikan kembali.
"Feng, kau seorang dokter. Untuk apa kau datang ke sana. Kau pasti sangat tahu minuman beralkohol itu tidak baik bagi kesehatan. Untuk apa kau mencari penyakit?" tutur Tama dengan lembut.
"Tama! Yang mau mabuk itu siapa? Aku datang kesana hanya butuh cuci mata saja dan cuci otak. Pikiranmu … sudahlah, kau sebaiknya memang di rumah. Aku malas mendengar ceramahmu!"
Tama turun dari mobil tepat di depan kediaman mendiang Tuan Wang. Hari itu, ada beberapa barang yang harus di ambil karena akan dilelang malam nanti. Tama diminta Feng untuk memantaunya.
"Haih, Feng ada-ada saja. Aku tidak menyangka jika dia selalu pergi ke club' seperti itu. Hah, harus di ruqyah. Kasihan orang tuanya, lahir sebagai islam kok--" ucapan Tama terhenti saat melihat seorang gadis yang berdiri di depan gerbang kediaman mendiang Tuan Wang.
"Siapa dia? Kenapa dia berdiri di depan sana? Apakah dia petugas lelang juga?" gumam Tama.
Langkah kaki Tama dilanjut, tak tahu siapa gadis tersebut, tetap saja Tama akan menyapanya. Sebab, wajah gadis itu begitu meyakinkan dan terlihat sendu. Gadis itu tak lain adalah Sachi, teman Lin Aurora kala bekerja sebagai
"Maaf, anda siapa ya?" Sapa Tama.
Sachi menoleh terkejut. Takut akan kedatangan Tama, Sachi pun segera pergi. Namun, langkahnya terhenti kala Yara tiba-tiba sudah ada di depannya dengan tatapan heran.
"Anda siapa? Mengapa berdiri di depan gerbang rumah saudara saya?" tanya Tama lagi.
Sachi tidak bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Wanita jika sedang tidak baik-baik saja, malah nambah sedih jika di hanya 'kenapa' meski jawabannya 'tidak apa-apa'.
"Lah, kok, malah nangis? Anda kenapa? Ya Allah, kenapa sih dia, kenapa dia menangis?" Tama celingukan, bingung mau bertidak bagaimana.
"Huaaa …." akhirnya Sachi mengeluarkan suara.
"Hei, berhenti. Jangan menangis, saya hanya bertanya. Mengapa anda malah menjawabnya dengan menangis?" Tanya Tama.
"Huaaa, aku … aku … aku sedih …," jawab Sachi menggunakan bahasa Mandarin.
"Haduh, dia ngomong apa? Bahasa Mandarinku belum bisa lancar," gumam Tama panik.
"Um, hei. Maaf, maaf! Saya, ini saya … Saya tidak bi-sa, ber-ba-ha-sa, Mandarin!" terang Tama dengan ucapan kata yang jelas dan gerakan tangan memberikan isyarat.
Tangisan Sachi semakin kencang karena mereka tidak bisa komunikasi. Pada akhinya, Tama pun harus mencari tahu dari internet. Tak hanya bertanya mengapa Sachi menangis, Tama juga mengajaknya masuk untuk melihat-lihat suasana rumah itu sebagai kenangan terakhir sebelum di lelang barang-barangnya.
"Saya, akan, menyebut, anda, dengan, sebutan, kamu, oke?" ucap Tama dengan terbata-bata.
Sachi mengangguk.
"Um, mari, kita, masuk, jika, kamu, ingin, melihat, kondisi, rumah … untuk, mengenang, kembali, orang, yang, kamu, kenal, disini," lanjut Tama masih dengan mengucapkan satu persatu kata, bukan menjadi kalimat.
Sachi kembali mengangguk.
Mereka pun masuk, Tama membuka gerbang dan meminta Sachi untuk berjalan berdampingan. Perlakuan lembut Tama membuat Sachi menjadi sungkan. Dia pun mengucapkan maaf dalam bahasa yang Tama mengerti.
"Eh, untuk apa kamu meminta maaf? Kamu kan tidak melakukan kesalahan," ucap Tama dengan ramah.
"Saya sebenarnya, bisa bahasa Inggris sedikit demi sedikit. Tuan katakan saja dengan pelan, maka saya nanti bisa paham," jelas Sachi dengan lemah lembut, ya memang karena dia tidak terlalu bisa berbahasa yang Tama pahami.
"Oh, baiklah. Itu akan jauh lebih baik," sahut Tama.
Mereka sudah berdiri di depan pintu. Bersiap ingin masuk dan di dalamnya masih sama seperti sedia kala. Sama sekali belum berubah ataupun barang berkurang. Akan tetapi, kenangan dalam setiap ruangan itu akan segera hilang. Rumah akan di jual dan beberapa barang antik di dalamnya akan di lelang malam nanti. Hanya barang-barang yang dinilai sangat penting saja yang akan di kemas dan di bawa ke rumah baru.
"Kamu, bisa melihat-lihat saja dulu. Sebentar lagi, akan ada orang yang masuk juga membawa semua barang yang ada di sini. Saya tinggal ke sana dulu," ucap Tama meninggalkan Sachi di depan foto Lin Aurora dan Chen yang saat itu berpoto bersama di Jogja saat mereka usai melakukan ijab qobul. Meski tidak tersenyum lebar, tetap saja terlihat begitu manis.
"Lin, mengapa kau pergi secepat itu. Saat itu, sebelum kau pergi, kau sempat meminta doa restu karena kau ingin melangsungkan resepsi. Tapi, mengapa kau pergi, Lin?"
"Lin? Aku merasa sendirian. Tak bisakah kau bertahan sebentar lagi? Aku sangat merindukanmu, Lin,"
"Aku sangat merindukanmu--"
Tangisan Sachi di lihat oleh Tama. Meski tidak tahu pasti apa yang dibicarakannya, tapi Tama tahu jika pasti itu adalah ucapan kesedihannya dengan Lin Aurora, istri dari sepupunya. Tama mendekati Sachi dan memberinya air minum.
"Minumlah!" seru Tama tiba-tiba.
Melihat kedatangan Tama, membuat Sachi langsung merubah ekspresi. Air matanya ia lap dan tersenyum terpaksa. Sachi hanya malu jika menangis di depan tepat orang lain. Dengan perlahan, Sachi pun menerima air yang Tama berikan. "Terima kasih," ucapnya dengan lirih.
"Apa kamu teman dari Lin Aurora? Teman?" tanya Tama sembari menunjuk foto Lin Aurora.
Sachi mengangguk.
"Oh, pantas saja," sambung Tama.
"Tuan sendiri, siapa? Mengapa bisa masuk ke rumah ini?" tanya Sachi.
"Saya sepupu dari Chen. Suami temanmu," jawab Tama dengan senyuman.
Ketika mereka kembali memandang foto almarhum dan almarhum Chen dan Lin Aurora, tiba-tiba suara pintu terbanting dengan keras.
BRUAK!
Suara keras itu membuat Tama dan Sachi terkejut. Seseorang tiba-tiba masuk begitu saja dengan mata yang sembab dan koper di sisinya.
"Siapa dia?" tanya Sachi. "Apa Tuan mengenalnya?"
Tama menggeleng. Orang itu adalah Xia, putri dari Cindy yang baru saja bisa pulang dari asrama di luar negeri.
"Kamu, siapa?" tanya Tama.
"Kalian siapa?" Xia malah berbalik bertanya.
"Um, perkenalkan. Saya sepupu Chen, dan dia katanya temannya istrinya sepupu saya," ucap Tama memperkenalkan diri.
"Bukan kayanya, memang benar saya teman Lin," protes Sachi.
"Oh~
Xia tiba-tiba tertunduk lemas. Tama dan Sachi bingung dan langsung memintanya untuk berdiri. Kemudian memapahnya ke sofa. Air yang sebelumnya diberikan Sachi oleh Tama, Sachi berikan kepada Xia untuk meminumnya.
"Apa kamu sudah tenang?" tanya Sachi.
"Ragaku baik-baik saja, tapi tidak dengan hatiku. Aku sangat terluka," Xia kembali menangis.
"Sudah, sudah. Kamu bisa cerita kepada kami, apa masalahmu dan siapa kamu. Kami tidak bermaksud jahat. Jadi, ceritakan saja," ucap Sachi memeluk Xia.
Tama hanya bengong saja. Dia masih mencerna apa yang Sachi dan Xia katakan. Yang lakukan Feng untuk mendaftarkan Tama sekolah bahasa memang ada faedahnya. Selain bisa berbincang dengan kolega yang tidak bisa bahasa Inggris, dia juga bisa komunikasi dengan yang lainnya.