Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Bulan Purnama



Sesampainya di depan kamar Cindy, Aisyah memperingatinya untuk tidak macam-macam dengannya atau dirinya akan membongkar kejahatan besar itu kepada Tuan Wang.


"Aku masih menyembunyikan perihal ini dari siapapun. Besok, aku akan membawa anak ini ke psikiater atau psikolog. Jika kau macam-macam, goresan di wajahmu itu akan melebar hingga ke mata, paham!" hardik Aisyah mengarahkan belatinya ke wajah Cindy.


Cindy hanya mengangguk saja. Ia sudah ketakutan dulu dengan Aisyah. Sebenarnya Aisyah tidak galak maupun tegas dengannya. Namun, tatapan Aisyah yang datar, dingin dan menghanyutkan membuat Cindy gelisah.


"Dan lagi, aku tanya dimana berkas anak ini kau tersimpan?" tanya Aisyah.


"Dia hanya memiliki surat kelahiran dari rumah sakit, tapi tidak dengan akta dan kartu keluarga. Sebab, aku tidak pernah mengurusnya," jawab Cindy dengan cepat.


"Berikan padaku!" tegas Aisyah.


Cindy segera lari ke dalam kamarnya, mengambil berkas tersebut dan memberikannya kepada Aisyah. Tak banyak yang Aisyah lakukan, ia hanya ingin keponakan dari kakaknya itu mendapatkan identitas dan akan meminta orang tuanya untuk mengadopsinya. 


"Nyonya Cindy, katakan siapa wanita itu. Kenapa dia mengaku sebagai adiknya Asisten Dishi?" sambung Aisyah.


"Soal wanita … itu sebaiknya kamu jangan bertanya kepadaku, soalnya dia seorang pengkhianat. Aku tidak bohong! Aku mengatakan kebenaran, dia dipenjara oleh Nyonya kedua," jawab Cindy.


Kala itu, Cindy terlihat sangat serius. Aisyah dapat melihat keseriusannya dari matanya. Kemudian, Aisyah meminta Cindy untuk istirahat dan akan memeriksanya kembali esok hari.


Setelah itu, Aisyah membawa keponakannya masuk ke kamarnya. Memandikannya, memberinya baju baru yang sempat ia beli untuk sepupu Feng, dan mulai menyisir rambut panjang keponakannya itu.


"Kamu ternyata anak laki-laki. Tapi kamu sangat manis seperti anak perempuan, ditambah dengan rambut panjang ini," Aisyah terlihat begitu tulus merawat keponakannya.


"Yah, maafkan aku, ya. Sepupu pamanmu, seorang perempuan, jadi kamu harus pakai dress deh," Aisyah kembali tersenyum untuk keponakannya.


"Siapa namamu?" Aisyah bertanya lagi. "Aih, kamu tidak bahasa Inggris, ya?" keluh Aisyah.


"Sebentar, aku akan belajar bahasa Mandarin dulu dari internet," gumam Aisyah membuka ponselnya. "Huh, sulit banget berbahasa Mandarin ini, besok aku ajari kamu pakai bahasa Jawa aja lah!" celetuk Aisyah.


Anak itu terus memperhatikan Aisyah yang masih sibuk dengan ponselnya. Terus menatap dan kemudian memanggilnya dengan sebutan, 'Mama'.


Tentu saja Aisyah bahagia mendengar keponakannya bisa bicara. "Kamu memanggilku, Mama?" tanya Aisya lagi.


"Mama,"


"Hah, lihatlah. Kamu membuat buluku berdiri semua. Kamu memanggilku, Mama?" Aisyah memeluk keponakannya itu.


"Lalu, siapa namamu?" tanya Aisyah lagi.


Anak itu menggeleng. Rembulan malam sangat bersinar malam itu. Membuat anak itu penasaran dengan sinar yang menyinari wajahnya. Ia berlari menuju jendela dan menunjuk bulan tersebut.


"Ada apa? Kau bertanya itu apa? Namanya adalah, Bulan," jawab Aisyah.


"Saat ini, bulan terbentuk sempurna. Nanti, ketika di tanggal awal dan akhir, kau akan melihat bulan yang hanya tinggal segaris lengkung saja," jelas Aisyah. "Mau tau bentuknya?" 


Aisyah banyak bercerita kepada anak itu dengan menggunakan bahasa Indonesia dan Jawa malam itu. Anak itu mulai terlelap dipangkuan Aisyah dan Aisyah mengecup kening anak itu dengan lembut.


"Lima tahun, harusnya dia sudah bisa bicara, sekolah dan bahkan bernyanyi. Tapi anak ini… Nyonya Cindy ini terlalu kejam, apa salah ini anak ini?" gumam Aisyah dalam hati.




Sebelum cahaya mentari pagi muncul, Aisyah tak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai seorang muslim. Ia tetap salat subuh meski dirinya berada di luar negri. 



Ketika hendak bangun, anak itu mencegahnya. Membuat Aisyah terkejut, karena ia sedikit lupa jika ada anak kecil yang tidur dengannya.



"Astaghfirullah, siapa kamu?" tanya Aisyah kaget. 



Anak itu hanya diam saja dan menunjuk ke arah luar jendela. Tak lama kemudian, Aisyah baru mengingatnya bahwa dirinyalah yang membawanya masuk ke kamarnya dan mengeluarkan anak itu dari penjara bawah tanah.



"Ada apa? Aku mau salat, dulu. Lebih baik, kamu tidur lagi saja, ya\_\_" ucap Aisyah ramah.



Anak itu menggeleng dan malah mempererat genggaman tangannya. "Kamu mau ikut salat?" tanya Aisyah ragu. Anak itu mengangguk secepat kilat dengan senyuman.




Dengan sabar, Aisyah mengajari anak itu wudhu. Pada dasarnya, keponakannya memiliki kecerdasan. Ia mampu belajar lebih cepat daripada dirinya sejak kecil dulu.



Usai wudhu, Aisyah juga mengajari doa setelah wudhu. Meski masih gagu, perlahan suara anak itu muncul dan membuat hati Aisyah berdesir. Keduanya saling jatuh cinta dan timbulnya kasih sayang yang kuat diantara mereka.



"Tidak ada peci di sini, jadi Mama akan menutup rambutmu menggunakan kain. Lalu menutup lututmu menggunakan, rok Mama. Tampan sekali anak Mama," puji Aisyah mencubit pipi keponakannya.



Anak itu mengikuti semua gerakan yang Aisyah lakukan. Sangat manis dan penurut kepada Aisyah. Bahkan ketika selesai salat, anak itu kembali memeluk Aisyah. Air mata Aisyah mengalir begitu saja. Sungguh anak itu menginginkan kasih sayang Ibunya. Sampai ia harus terus menempel kepada Aisyah.



"Kamu tau apa yang Mama katakan?" bisik Aisyah.



Anak itu mengangguk pelan. "Kalau begitu, Mama akan memberimu nama baru, bagaimana? Kamu setuju?" sambung Aisyah.



Anak itu kembali mengangguk.



"Mulai saat ini, kamu akan Mama panggil, Ilkay. Atau Kay, bagaimana? Ilkay itu, artinya bulan purnama. Kenapa Mama beri kamu nama itu, karena wajah kamu bersinar indah seperti bulan purnama," Aisyah memeluk keponakan barunya yang ia beri nama Ilkay itu.



"Ilkay sekarang duduk, tunggu Mama masuk lagi bawain Ilkay makanan. Duduk yang tenang, jangan pergi dari kamar, oke?" Aisyah tetap bicara dengan diiringi isyarat. 



Ilkay awalnya masih bingung, terlihat jelas dari wajahnya. Tapi ia mengangguk secepatnya ketika ia mengerti Aisyah akan kembali. 



"Anak pintar. Kalau kamu mau belajar, nanti Mama akan bawa kamu keluar membeli buku-buku pelajaran," tukas Aisyah menutup pintu kamarnya.



Bersamaan dengan Aisyah hendak ke dapur, Cindy juga berjalan menuju dapur saat itu. Awalnya Cindy masih bergaya seperti Nyonya besar di rumah itu. Namun, setelah bertemu dengan Aisyah, ia bersikap dan bertingkah seperti putri solo yang lemah gemulai.



"Pagi, Nyonya pertama," sapa Aisyah kepada Cindy.



"Pagi, Aisyah," balas Cindy dengan senyum terpaksa. "Ada apa ini? Kenapa dia sok baik dengan menyapaku?" batinnya.



"Pagi, Nyonya kedua," sapa Aisyah juga kepada istri kedua Tuan Wang.



"Pagi, Aisyah. Lihatlah, aku memasak makanan ala timur untukmu. Aku masih belajar, tapi kumohon kamu jangan kecewa dengan presentasiku," ujar Nyonya kedua menunjukkan hasil masakannya.



"Nyonya kedua ini, saya akan memakan apapun yang Nyonya berikan kepadaku. Jika itu diberikan dengan kasih sayang, maka saya akan menerimanya dengan baik," celetuk Aisyah mencicipi makanan tersebut.



Aisyah juga tak lupa membuatkan makanan untuk Ilkay. Makanan yang cocok untuk anak-anak dan membuat Aisyah teringat kembali ketika ia masih kecil selalu membantu Ayahnya memasak di restoran. Apakah Aisyah berhasil membawa Ilkay pulang? Ingatannya sudah kembali, dan ia harus kembali ke Jogja untuk melanjutkan kuliahnya setelah pernikahan Gwen dilaksanakan.