Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Misi Pra Nikah



Chen dan Puspa saling memandang.  Masing-masing memastikan tiap jahitan yang ada pada hoodie yang dipakainya. 


"Itu punya Ai!" tunjuk Chen. 


"Saya sudah izin, dan Aisyah bilang saya pakai ini karena belum pernah dipakai," jelas Puspa membela diri. 


"Dusta!" sentak Chen tidak terima.


"Tuan, saya serius tidak berbohong. Saya mengatakan apa yang sebenarnya--"


"Sekali pendusta, tetap pendusta!"


"Tuan Chen …,"


"Apa? Pendusta!" 


"Tuan, tolong pahamilah …,"


"No!"


Keduanya bertengkar tepat di depan Tuan Wang yang saat itu hendak sarapan. Membuat beliau murka dan menghukum keduanya. "Kalian ini sudah dewasa, masih saja seperti anak kecil! Renungkan kesalahan kalian, baru kalian boleh makan!" tegas Tuan Wang.


"Ayah, kenapa kami dihukum seperti ini? Duduk sila dan memegang telinga seperti anak kecil? Kami ini sudah besar, Ayah," protes Chen. 


"Jika kalian sudah besar, kalian tidak akan ribut di meja makan dan di depan orang tua hanya karena masalah baju, paham!" Tuan Wang meminta Pelayan Mo untuk mengawasi keduanya. 


Sesekali Chen melirik ke arah Puspa, kemudian menyalahkan jika Puspa-lah yang menyebabkan dirinya dihukum. "Kenapa salah saya? Saya tidak tahu jika hoodie ini memiliki pasangannya, Tuan Chen," Puspa tidak terima di salahkan. 


"Kenapa juga kamu pakai yang itu. Baju milik Ai bukan hanya itu saja, tau!" ketus Chen. 


"Maaf," Puspa mengalah. "Saya salah," sambungnya. 


"Bagus! Kau memang bersalah, jadi nikmati saja hukuman ini. Menjengkelkan!" sulut Chen membuang wajahnya. 


10 menit berlalu, Chen dan Puspa masih menjalani masa hukuman duduk sila di pojok dinding. Tak lama kemudian, suara gemuruh dari perut Puspa kembali terdengar. "Kenapa? Lapar?" tanya Chen sinis. 


"Heleh, wes ngerti nek weteng keroncongan ki luwe, sih wae takon!" gerutu Puspa dengan nada lirih. (Heleh, sudah tau jika perut keroncongan itu lapar, masih saja tanya!)


"Etika berkomunikasi dengan seseorang itu … hindari bahasa daerah! Apa kau di sekolah dahulu hanya tidur?" sulut Chen. 


"Tuan, sedari tadi Anda terus saja mengomel, apakah masih belum kenyang? Belum puas kah?" Puspa mulai kesal. "Dan lagi, kenapa Anda ini tidak bisa bicara dengan manis kepada saya, bicara dengan lembut sedikit, tak bisa kah?" 


Mendengar suara Puspa yang sedikit meninggi membuat Chen terdiam sepi. Langsung mengkerut seperti saat dibentak oleh Aisyah. Beberapa saat kemudian, datanglah Pelayan Mo untuk meminta mereka datang ke meja makan. 


"Tuan Muda, Tuan Besar meminta Anda dan Nona untuk datang ke meja makan," ucap Pelayan Mo. 


Chen beranjak dari tempat hukumannya, namun saat Puspa juga hendak berdiri, kakinya merasa kesemutan hingga keseimbangannya goyah. Beruntung ia jatuh tepat di samping Chen, sehingga Chen mampu menompangnya. 


"Trik lama!" desis Chen. 


"Jika tidak niat membantu, janganlah membantu," kesal Puspa. 


Chen langsung melepaskan tangannya yang sebelumnya menompang pinggang ramping Puspa. "Aduh," rintih Puspa karena dirinya terjatuh. 


"Tuan Chen, kamu ini kasar sekali. Saya sangat berharap … tidak pernah mendapatkan suami seperti Anda!" Puspa berusaha berdiri lagi dengan langkah terbata-bata. 


"Siapa juga yang mau memperistri dirimu? Hanya pria bodoh yang akan menikahimu, Ulat ijo!" Chen merasa tertolak pun juga ikut menolak kehadiran Puspa. 


"Tuan Wang sudah berangkat. Kalian sarapan dulu, ini ada catatan untuk kalian berdua, dengan menyelesaikan misi yaang ada di catatan ini, kalian baru bisa dimaafkan oleh, Tuan Wang," ungkap Nyonya kedua memberikan secarik kertas yang berisikan misi dari Tuan Wang.


Antara Chen dan Puspa terus muncul aura dingin. Mereka juga tak saling bicara saat sarapan. Ditemani oleh Pelayan Mo, Puspa menanyakan daging apa yang terkandung dalam makanannya. 


"Pelayanan Mo, bolehkah saya bertanya?" ucap Puspa. 


"Tentu saja, Nona. Nona mau bertanya apa? Apakah ada yang kurang dari makanan yang pelayan kami buat?" 


"Oh, tidak! Makanan ini lezat sekali," ujar Puspa dengan senyum sumringah. 


"Lihatlah dia. Dia tersenyum konyol demi, Pelayan? Sedangkan ketika bicara denganku, seperti bicara dengan kaisar saja tidak ada senyum-senyumnya!" keluh Chen dalam hati. 


"Daging apa yang kalian gunakan ini?" lanjut pertanyaan Puspa. 


"Bodoh! Di rumah ini semua makanan bisa dimakan. Kau masih bertanya seperti itu? Berhentilah tersenyum dengan, Pelayan Mo!" sentak Chen sampai membuang garpu di tangannya. 


"Tapi saya ha--" belum juga Puspa menjelaskan apa yang ingin ia katakan, Chen sudah menyelanya. "Diam! Cepat habiskan dan segera keluar! Aku jadi tidak selera makan!" 


Chen meninggalkan rotinya begitu saja. Padahal baru saja ia memakan dalam satu suapan. "Pelayan Mo, apakah Tuan Chen selalu marah-marah seperti ini?" tanya Puspa dengan lemah lembut. 


"Itu--"


"Tuan Muda kami, akan seperti hanya dengan orang yang mulai dia sukai saja. Posesif, sering marah tidak jelas dan juga akan membuat orang yang ia sukai ini bingung," sahut Nyonya kedua membawakan bubur kubis untuk Puspa. 


Dengan polosnya Puspa bertanya, "Orang yang di sukai? Siapa itu, Nyonya?" 


Sementara itu, Chen yang sedang menunggu Puspa di taman depan mansion masih jengkel dengan Puspa yang tersenyum tulus kepada Pelayan Mo. Bayangan senyumnya sangat jelas terukir di bibirnya. 


"Bedebah! Dia bahkan tersenyum manis sepeti itu kepada seorang pelayan? Apa dia sudah gila? Semurah itu kah senyumannya?" sulutnya. 


"Lihat saja, aku akan menyiksamu di misi ini. Ayah memberi kita misi untuk mencari bintang emas di setiap kota, menggunakan hoodie couple ini?" lanjutnya dengan membaca secarik kertas yang Tuan Wang tinggalkan. 


"Aku rasa memang semua orang yang ada di dekatku sudah mulai menggila!" umpatnya. 


"Ayahku yang selalu garang saja, dia bahkan mendukung yang seperti ini? Apa ini lope-lope? Menjijikkan!" 


Tak lama kemudian, Puspa keluar dan menghampirinya. Chen yang masih dengan kekesalannya itu, memalingkan wajah seperti gadis yang marah kepada kekasihnya. 


"Tuan, berhentilah seperti anak kecil dan ayo kita segera memulai misi, atau Abi nanti akan marah karena saya lama keluar rumah," ajak Puspa waspada kepada Ayahnya yang selalu tegas kepadanya. 


"Apa maksudmu dengan mengatakan aku anak kecil? Apa bagimu, aku ini masih seusia Ilkay?" ketus Chen. 


"Anda Ayahnya, jika Ilkay mirip dengan Anda ... itu tidak heran, Tuan! Ayo, segera kita menyelesaikan misi dari Ayah Tuan itu," Puspa berusaha sabar dan bicara dengan lembut kepada Chen. 


"Tujuan pertama kita ke pasar. Membeli beberapa sayuran dan buah-buahan. Nanti, seorang pelayan toko akan memberikan kita bintang emas," ucap Chen. 


Chen menjelaskan misi itu kepada Puspa dan Puspa langsung bisa memahaminya. Tuan Wang memberikan misi itu layaknya pasangan yang baru saja menikah. 


"Apakah kita hanya akan pergi berdua saja? Tuan, dalam agama saya, wanita dan pria seperti kita tidak boleh jalan hanya berdua saja," jelas Puspa. 


"Baik, jika kau ingin tinggal selamanya di mansion ini, maka kau jangan ikuti misi ini. Jadi, dengan senang hati, aku sendiri yang akan pulang ke Jogja dan bertemu Aisyah!" desis Chen meninggalkan Puspa. 


Setelah di pikir lagi, akhirnya Puspa mengikuti misi dari Tuan Wang itu. Bersama dengan Chen, mereka berdua menjalankan misi dengan wajah di tekuk dan seperti tidak ikhlas menjalaninya. Kalian bayangkan saja wajah mereka kesal kek mana?