
Makan malam telah Rafa siapkan. Chen memang tak ingin membuang waktu luangnya. Ia akan makan malam sembari membahas kerja sama dengan Willy dan Rafa sebelumnya.
"Em, anda … Tuan Rafa yang borong bangunan, em, yang …," merasa canggung, Chen bahkan bicara tak seperti biasa.
"MasyaAllah, Tuan Wang. Hem, Tuan Wang … aku akan memanggilmu dengan sebutan itu ketika kita menjadi partner kerja. Tetapi, aku akan memanggilmu dengan sebutan adikku ketika kita sedang bersama menikmati makan malam seperti ini." tutur kata Rafa yang lembut, rupanya juga mampu membuat hati Chen bergetar.
"Kata-katanya persis sekali dengan Paman Adam. Bahasa dan tutur katanya sangat penuh dengan makna. Aku menyesal karena dulu tidak sempat berkenalan dengan seluruh keluarga kandungku. Seperti inikah rasanya memiliki keluarga?"
Chen tersenyum. Merasakan sensasi baru kehangatan keluarga bersama dengan saudari kandungnya sendiri. Selama ia hidup, ketika telah mengetahui bahwa dirinya memiliki dua saudari kembar, hanya Aisyah dan Gwen saja yang ada dalam ingatannya.
"Dulu, saat kecil, kalian terlihat sangat mirip. Sekarang, kalian kelihatan sekali perbedaanya," ucap Chen memecah keheningan makan malam itu.
"Wah, serius? Kan yang seiras hanya kita brother. kak Aisyah mah--" belum juga Gwen menyelesaikan ucapannya, ia langsung terdiam ketika Aisyah menatapnya. Seolah, Aisyah memancarkan laser dari mata indahnya itu.
Chen dan Pak Raza kebingungan. Mereka tah tahu jika Aisyah ini sama dengan neneknya dahulu. Tidak pernah menyukai orang yang ketika makan sambil bicara, atau bahkan bercanda.
"Ke--"
"Makan!" tunjuk Aisyah kepada Pak Raza yang saat itu hendak bertanya.
"Duduk! Biar aku ambilkan!" tegas Aisyah kepada Chen, yang saat itu hendak mengambil sayur labu di depannya.
Usai makan malam, sambil menemani Gwen belajar bersama Pak Raza, Aisyah menelpon orang tuanya untuk menanyakan kabar mereka. Sementara Chen, saat itu sedang berdiskusi dengan Rafa tentang pekerjaannya.
"Ayah dengar dari Feng, kalau kamu sedang terluka. Kamu terluka di bagian mana dan karena apa, Nduk?" tanya Yusuf.
"Dasar si Koko. Dia suka banget kalau buat orang tuaku khawatir. Awas aja, aku bisa menyunatnya untuk yang kedua kalinya!" sulut Aisyah dalam hati.
"Mboten, kok, Yah. Kulo mboten nopo-nopo. Namun astane sakit, kecapekan. Ayah sampun dahar? Kalian Ibu saweg nopo?" tanya Aisyah dengan tutur kata yang lembut.
"Ibumu lagi di Australia, ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Ini ayah lagi di pesantren lagi ada acara. Kamu baik-baik saja ya, Nduk, di sana. Jaga adikmu baik-baik juga, jangan sampai dia bikin ulah lagi, atau nanti dia akan kena masalah oleh ibu kalian." tutur Yusuf.
Aisyah tertawa karena Yusuf selalu mengatakan bahwa Gwen adalah adik paling bandelnya. Sebab, usia mereka hanya selisih 2 menit saja, namun Gwen memang memiliki sifat kekanak-kanakan. Sedangkan dirinya jauh lebih dewasa sejak kecil.
"Ih, itu pasti Ayah yang telpon. Keluar tuh bahasa kalbunya!" sulut Gwen tidak terima.
"Hey, Nona jago! Fokus belajar! Untuk apa kamu menggerutu seperti itu?" Pak Raza mengetuk kening Gwen.
"Sakit, tau! Ini pelajaran apa, sih? Untung, rugi, untung, rugi mulu. Nggak mudeng aku tuh!" teriak Gwen karena kesal.
Dari kejauhan, Aisyah melemparinya menggunakan bantal yang ada di sebelahnya. Gwen langsung diam dan melanjutkan belajarnya lagi. Selain Aisyah, Gwen juga sangat hormat dengan Yusuf dan juga Raihan. Jika dengan yang lainnya, dia masih bisa melawannya dengan bahasa yang ia miliki. Berbeda kepada Aisyah yang apapun Aisyah katakan, selalu ia turuti.