
"Assalamu'alaikum, ya zaujati. Kamu mau kemana? Wangi, rapi dan cantik seperti ini--"
"Urgent!" desis Gwen.
Agam tak mengerti apa yang dimaksud sang istri, "Maksudnya … Apa yang urgent?" tanya Agam.
"Aku belum jawab salam, ya? Ehem, wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh," segera Gwen mencium tangan suaminya.
Gwen kembali terdiam, wajahnya terlihat sedang dalam keadaan sibuk memikirkan undangan yang diberikan dari Syifa. Terus berputar mengitari suaminya, namun dengan bibir yang masih terkunci.
"Dek, kamu kenapa?" tanya Agam. "Apa yang sedang kamu pikirkan?" lanjutnya heran.
Tak mendengar apa yang suaminya tanyakan, Gwen masih sibuk mengetuk-ngetuk keningnya. "Haduh, kenapa, ya? Harus mikir keras ini!" serunya dalam hati.
"Dek!"
"Kamu kenapa? Kok, mengabaikan Mas gini, sih? Apa yang mengganggu pikiran kamu ini?" tanya Agam gemas.
"Oh, hehe … Mas Agam toh rupanya yang di sini. Aku malah nggak ngeh, kupikir sudah masuk bersih-bersih tadi," celetuk Gwen dengan senyum lebarnya.
"Nggak lucu!" kesal Agam meninggalkan istri nakalnya ke kamarnya.
"Lah, ngambek? Mas Agam!"
Sesibuk apapun seorang istri, memang tidak boleh sampai mengabaikan suaminya. Apalagi, suaminya baru saja pulang bekerja. Lelah dan kesahnya hanya akan sembuh kala istrinya menyambut dengan hangat penuh suka cita.
"Mas, jangan ngambek, dong--" bujuk Gwen dengan mengetuk-ngetuk pintu kamar yang sebenarnya tidak di kunci oleh Agam.
"Mas…,"
Masih tidak ada jawaban. Gwen masih berusaha untuk membujuk suaminya agar tidak merajuk lagi. Beberapa waktu kemudian, Agam keluar dengan wajah yang masih kesal. Tanpa mendengarkan penjelasan dari istrinya, ia langsung menuju ke kamar mandi untuk bersih-bersih.
"Mas, jangan marah dong. Tadi aku kepikiran sesuatu saja,"
"Mas,"
"Mas Agam!"
Langkah Agam terhenti saat tangan Gwen menahan lengannya. Agam menatap wajah istrinya dengan sekilas. Lalu, memalingkan wajahnya kembali dengan tanpa berkata apapun, langsung pergi meninggalkan Gwen.
"Siapa suruh kamu mengabaikan Mas, Dek. Anggap saja ini pelajaran untukmu. Nanti aku akan temui dia lagi kalau suasana hatiku sudah membaik," gumam Agam merasa tidak tega.
Selama di kamar mandi saja, Agam masih mendengat Gwen mengetuk pintu sembari memohon agar dirinya tidak marah lagi. Tetap saja, Agam masih akan diam sampai nanti ada waktu untuk memberikan pencerahan pentingnya komunikasi dalam semua rumah tangga.
"Mas Agam ini kenapa, sih? Haruskah dia marah hanya karena aku tidak memperhatikan dirinya sebentar saja?" gerutu Gwen mondar-mandir di depan pintu kamar mandi.
"Mas aku masih nunggu di sini, loh!" teriak Agam berharap suaminya mau menanggapinya.
Tak lama setelah Gwen berteriak ria, Agam keluar dari kamar mandi. Bergegas ke dapur, berharap sang istri memasak untuknya.
"Mas Agam lapar, ya? Sini duduk, aku akan ambilkan," ucap Gwen menyiapkan piring beserta isinya.
Agam masih saja berdiam diri. Saat makanan sudah dihidangkan, tak lupa Agam berdoa dulu sebelum menyantap. Akan tetapi, hasil masakan Gwen di luar ekspektasi Agam. Masakan Gwen masih saja asin.
"Mas, bicara ngapa! Jangan cuekin aku gini--" belum juga Gwen selesai bicara, Agam sudah menyelesaikan makannya.
Saat Agam hendak mencuci piring, Gwen langsung merebut piring itu dari tangan suaminya. Ketika Agam hendak membereskan meja, Gwen juga langsung merebutnya dengan cara yang sama.
Masih tanpa bicara, usai makan Agam pergi ke pesantren. Hanya mengucapkan salam dan mengulurkan tangannya supaya Gwen bisa mencium tangannya.
"Assalamu'alaikum," salam Agam.
"Wa'alaikumsallam, Mas. Jangan diamin aku gini dong. Nggak enak tau! Mas! Mas Agam!"
Percuma Gwen berteriak, sebab Agam masih ingin menggodanya. Sekiranya langkah Agam sudah jauh, Agam kembali menoleh dan tersenyum, bahkan mulai tertawa tak kuasa menahannya sejak Gwen sudah mulai merengek.
"Hah, Ya Allah. Maafkan aku, ini kulakukan untuk memberinya pelajaran. Siapa suruh dia mengabaikanku tadi," celetuknya masih dengan tawanya.
"Aku tidak menyangka jika Ustadz Agam bisa dendam juga," sahut Ustadz Khalid yang tiba-tiba datang dari sampingnya.
Seketika, Agam langsung terdiam sepi bagaimana burung yang baru saja berkicau di lahap oleh kucing. "Mas Khalid, um … Aku, aku hanya, Assalamu'alaikum," merasa malu, Agam langsung pamit pergi.
Ustadz Khalid tidak sebodoh itu dengan membiarkan Agam pergi, ia menahan kerah baju adiknya untuk menahannya supaya tetap di hadapannya. "Wa'alaikumsallam, kamu mau kemana?"
"Mas, saya ada mengajar anak-anak sore ini. Bisakah Mas Khalid lepaskan kerahku? Malu jika di lihat santri, Mas!" pinta Agam.
Ustadz Khalid melepas cengkramannya. Kemudian memberitahu kalau dirinya akan menikahi Syifa sebentar lagi. "Aku akan menikah dengan Syifa," ungkapnya.
Tak ada hujan, tak ada badai, Ustadz Khalid mengatakan hak itu dengan santai tentu saja membuat Agam terkejut. Pasalnya, selama mereka bersama tinggal di pesantren, Ustadz Khalid tidak pernah membahas tentang Syifa.
"Mas, bercanda Mas Khalid saat ini … tidak lucu! Maksud Mas apa? Menikahi Syifa?" tanya Agam heran.
Ustadz Khalid mengangguk. "Benar, dan itu akan terjadi seminggu lagi. Syifa sudah memberikan undangan ke rumahmu, mungkin Gwen juga sudah tau," terang Ustadz Khalid dengan tatapan wajah murung.
"Apa keuntungan Mas Khalid dengan menikahi Syifa? Apakah biaya pembangunan masjid? Atau sumbangan baru untuk pesantren kita?" Agak langsung bisa menebak.
Namun, saat itu Ustadz Khalid memilih untuk diam. Baginya, tak ada yang boleh mengganggu kebahagiaan Agam dan Gwen selama mereka masih bersama.
"Mas Khalid, kenapa tidak menjawab? Apakah dugaanku benar?" tanya Agam lagi, kali itu dengan kepanikan.
"Tidak, semua ini karena aku yang ingin. Kamu pergilah ke pesantren. Aku mau ke aula dulu, Assalamu'alaikum," pamit Ustadz Khalid dengan menepuk bahu adik sepupunya itu.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh,"
Agam tertunduk. Memikirkan mengapa Ustadz Khalid mau menikahi Syifa. Sebab, yang dirinya tahu, Ustadz Khalid ingin mengejar Aisyah lagi saat Aisyah kembali dari Korea nanti.
"Aku yakin, Mas. Dibalik pernikahan ini, ada konspirasi yang ada sangkut pautnya denganku dan istriku. Aku akan menemukan cara, agar kamu terhindar dari pernikahan itu,"
Di sisi lain, Ustadz Khalid sendiri juga mengatakan dalam hatinya, "Aku melihatmu begitu terpuruk ketika Ayahmu meninggal. Lalu, Ibumu sakit, adikmu di lecehkan oleh pria asing, perlahan senyummu hilang. Dan kini, senyummu telah kembali dibawa oleh istrimu, Agam. Aku tidak ingin senyummu hilang lagi,"
"Hanya ini, Satu-satunya cara agar kebahagiaanmu tetap bersamamu. Syifa ingin mencelakai istrimu, meski aku tau istrimu bukan wanita biasa … tapi, aku tidak ingin membuatmu sedih lagi, Agam. Maafkan aku karena tidak jujur padamu."
Apa yang dilakukan Ustadz Khalid ya hanya demi Agam, sisa keluarga yang masih ada saat ini hanyalah Agam dan Esti adiknya. Adiknya Agam, pernah mengalami pelecehan yang membuat Agam sendiri terpuruk. Tak ingin melihat senyum adik sepupunya sirna, maka Ustadz Khalid menjauhkan Syifa dari rumah tangga Agam. Entah itu cara yang efektif, atau malah akan semakin buruk ketika Syifa datang sebagai istri pemilik pesantren.