
Malam semakin larut. Setelah mengantar Bora pulang, Aisyah masih terjaga di sofa. Masih banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan. Aisyah juga mendapat amanah dari Anthea untuk mengurus beberapa pesanana mukena yang ada di pabrik di Bandung.
"Kak Anthea juga aneh-aneh saja. Masa beginian aku yang harus beresin,sih? Mana laptop lama aku rusak pula!" keluhnya.
Tengah malam, Aisyah mendengar pintu apartemennya ada yang buka. Tentu saja hal itu membuatnya terkejut. Selama tinggal di Korea, hanya orang-orang tertentu saja yang tahu password apartemennya. Segera Aisyah beranjak dan waspada, ia mematikan semua lampunya.
Di saat orang itu masuk, Aisyah mengeluarkan belati peribadinya yang pernah diberikan kepadanya oleh Ibunya sewaktu Aisyah kecil. Belati itu, hampir mirip dengan milik Gwen,karena belai tersebut adalah belati simbol keluarga besar Lim.
Aisyah mengarahkan belati itu tepat di leher seseorang yang masuk ke apartemennya. "Siapa kamu?" tanyanya dengan tegas.
Klek!
Lampu dinyalakan oleh seseorang itu. Nampak jelas jika seseorang itu adalah Asisten Dishi, suaminya sendiri. "Suamimu,"jawabnya.
Aisyah meletakkan belatinya perlahan di laci. Kemudian berdiri di depan suaminya lagi. Sepatang mata cantik Aisyah membendung air mata. Bagaimana tidak terharu, selama menikah, keduanya belum pernah beresentuhan dan harus berpisah karena urusannya masing-masing.
"Sayang, kamu nggak mau peluk aku?" tanya Asisten Dishi merentangkan tangannya.
"Nggak!" tolak Aisyah memutar tubuhnya.
Kini, Aisyah membelakangi Asisten Dishi dan melipat tangannya. Memang rindu, tapi Aisyah juga kesal karena perpisahan itu. Tujuan mereka menikah, selain menyempurnakan Imam juga untuk saling melindungi. Namun, Asisten Dishi malah menerima perintah dari Chen kembali ke Amerika.
"Assallamu'alaikum, cantik, istriku, cintaku, hidupku, Mama Ilkay. Jangan ngambek dong, aku lelah perjalanan jauh, masa iya di cuekin," ucap Asisten Dishi memeluk Aisyah dari belakang.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Aisyah.
"Kok, belum tidur?" lanjut Asisten Dishi, masih dengan mendekap sang istri yang baru bisa di peluk.
Aisyah mmeutar tubuhnya kembali. Kini, mereka saling menghadap satu sama lain. Aisyah membalas pelukan suaminya dan menuangkan rindu ke dalam pelukan hangat itu. Mereka saling memejamkan mata, sulit baginya untuk menjalani hubungan jarak jauh, padahal keduanya sudah sah menjadi suami istri.
"Aku merindukanmu, kenapa lama sekali baru kembali?" ujar Aisyah dalam pelukan Asisten Dishi.
"Aku juga sangat merindukanmu. Maafkan aku yang selalu sibuk, tapi aku lakukan ini juga demi masa depan kita. Sayang, apa benar kita boleh berpelukan seperti ini?" Asisten Dishi sampai belum percaya jika dirinya sudah boleh memeluk wanita yang ia cintai itu.
Aisyah melepas pelukkannya.Kemudian menatap sang suami dengan raut wajah heran. "Kenapa mesti ditanya lagi? Kita sudah menikah secara sah, berpelukan seperti ini ... tentu saja boleh," jelasnya dengan memeluk kembali suaminya.
Mendengar penjelasan Aisyah, Asisten Dishi langsung memeluknya dengan erat. Jantungnya berdebar hebat, Asisten Dishi jatuh cinta kembali dengan Aisyah. Saking gemasnya, Asisten Dishi sampai menggendong Aisyah dan mendudukkannya di sofa.
"Eh," lirih Aisyah.
"Apa aku boleh menggenggam tanganmu sekarang?" lanjut Asisten Dishi.
Aisyah tersenyum, kemudian memberikan tangannya kepada Asisten Dishi. Dengan sedikit gemetar, Asisten Dishi meraih tangan Aisyah, begitu tangan mereka saling bersentuhan, keduanya memajamkan matanya, seolah mereka baru pertama kalinya saling bersentuhan.
"Ai,"
"Hm?"
"Tanganku berkeringat, jantungku berdebar. Apakah aku sakit jantung atau aku jatuh cinta kembali padamu?" goda Asisten Dishi dengan senyuman.
Mereka saling memandang. Sesekali, Aisyah menyebunyikan pandangannya karena malu. Namun tidak dengan Asisten Dishi yang selalu terpesona dengan pesona seorang Aisyah yang bisa menyejukkan hatinya.
"Ai, bolehkan aku melihat wajahmu dari dekat ... lagi?" tanya Asisten Dishi lagi.
"Hm?" Aisyah tersipu.
Aisyah mengangguk. Tangan kiri Asisten Dishi masih menggenggam tangan Aisyah, lalu tangan kanannya menyentuh dagu Aisyah dan mendongakkan wajah Aisyah. Dengan di terangi caaya lampu, Asisten Dishi bisa melihat wajah istrinya yang cantik sangat jelas.
Khilaf, pandangan yang sebelumnya hanya di mata, kini pandangan mata Asisten Dishi turun kebawah. Bibir Aisyah yang tipis itu membuat Asisten Dishi tak mampu lagi menaham hasratnya. Terlena karena kecantikan sang istri, perlahan Asisten Dishi mendekatkan bibinya ke bibir Aisyah.
Sedikit lagi bibir mereka saling bertaut, tapi suara tangisan Ilkay membuat keduanya terkejut dan tiba-tiba saling berjauhan. "Um, Ilkay menangis. Se-sebaiknya kamu mandi dulu, nanti akan aku siapkan makan malam untukmu," ucap Aisyah gugup.
"Iya, aku akan mandi dulu,"
Aisyah segera ke kamar Ilkay. Jantungnya masih terus berdebar, ia melihat tanganya dan masih merasakan kala di genggam erat oleh suaminya. Aisyah juga mengigit kecil bibirnya, teringat di saat Asisten Dishi mau menciumnya.
"Astagfirullah hal'adzim, kok, aku jadi takut. Kalau nanti ... ih tapi kan memang udah kewajibannya gitu. Gimana,dong?" gumam Aisyah panik sendiri.
Kembali suara tangisan Ilkay membuatnya tersadar dalam kepanikannya. Segera Aisyah mendekati sang putra dan menanyakan mengapa ia menangis. Ilkay bermimpi buruk, ia mengatakan bahwa dimimpinya dirinya dipisahkan oleh Aisyah.
"Innalillah ... jangan sampai. Itu hanya mimpi, loh. Hanya Allah yang bisa memisahkan kita, kamu anak Ayah dan Mama. Jadi, selama di dunia ini, kamu tetap menjadi anak Ayah dan Mama, paham?" tutur Aisyah.
"Tapi, Ma__"
"Sudahlah, ayo berdoa lagi dan sambung tidur. Besok sekolah, 'kan? Jangan sampai bangun kesiangan. Mama juga ada kuliah pagi soalnya,"
"Baiklah ...." Ilkay akhirnya patuh.
Sekitar sepuluh menit, akhirnya Ilkay benar-benar baru bisa terlelap. Aisyah segera keluar dan menyiapkan makan malam untuk suaminya yang baru saja pulang. Ketika ia keluar, Aisyah menjadi penasaran dimana suaminya mandi malam itu. Sebab, sebelumnya Asisten Dishi akan mandi di kamar mandi yang ada di samping kamar mereka.
"Aku dan dia sudah menjadi suami istri.Kira-kira dia mandi di kamar mandi yang ada di kamarku, atau kamar mandi samping, ya?"
Jiwa bar-bar Aisyah jika bersama dengan Asisen Dishi mulai keluar. Ia pun memeriksa kamar mandi samping terlebih dahulu. Aisyah sudah susah payah menempelkan telingannya untuk mendengarkan apakah ada orang dalam sana, namun suara gemercik air pun tak terdengar saat itu.
"Kok, nggak ada suara gemercik air, sih?" gumamnya.
"Apa Ayahnya Ilkay ini mandi di kamar mandi di kamarku?"
"Sebaiknya aku coba dengarkan lagi,"
Ketika Aisyah hendak menempelkan kembali telingannya ke pintu, Asisten Dishi yang tidak tahu jika Aisyah sedang ada dibalik pintu pun membuka pintunya dengan kencang.
"Aaaa ...," teriak Aisyah hampir saja terjatuh.
Beruntung, Aisyah terjatuh di dada sang suami,sehingga dirinya aman. Namun, posisi itu malah membuat keduanya traveling otaknya. Aisyah tidak menyangka jika suaminya memiliki tubuh yang sangat bagus. Hampir saja imanya lemah melihat ada enam ukiran seperti roti.
"Heh, mataku ternodai," gumamnya dalam hati.
"Aku tidak tahu jika Mamanya Ilkay ini mesum sekali? Apa masih belum puas melihat perutku?" pertanyaan Asisten Dishi membuat haluan Aisyah kabur.
"Em, siapa yang mesum? Kamu harusnya pakai baju dong. Nggak baik tau telanjang di depan aku gini," Aisyah mengelak.
"Kita suami istri, Sayang. Meski kita sama-sama telanjang saja, ya nggak ada masalah lah!" seru Asisten Dishi.
Mata Aisyah sampai melotot saat suaminya berkata seperti itu. Pipinya memerah dan tanpa sepatah katapun ia pergi meninggalkan Asisten Dishi ke dapur karena malu. Di dapur saja, Aisayh sampai salah mengambil antara makanan dan bumbu karena salah tingkah.
Malam ini terkam nggak ya, Aisyahnya?