Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Sampai Di Bandara



"Yah, ini kado untuk Gwen dan Kak Chen. Puspa ini, selalu begini," 


"Eh, untuk Gwen dan Kak Chen kenapa di kirim ke sini? Apa mereka juga akan datang?" Aisyah sempat-sempatnya blank. 


"Aku harus telpon Ko Feng!" 


Nomor yang Anda tuju, sedang tidak aktif atau sedang diluar servis area.


"Astaghfirullah, aku lupa. Pasti pagi ini Ko Feng sudah ada di Kota ini."


Segera Aisyah keluar, ingin memberitahukan kepada Asisten Dishi untuk menjemput Feng di Bandara. Sayangnya, Asisten Dishi sudah keluar lebih dulu mengajak Ilkay bersamanya. Hanya tinggal Ayden yang masih sibuk makan sembari menonton saluran televisi.


"Dishi? Kemana dia?" tanya Aisyah. 


"Oh, dia keluar ajak Ilkay. Kenapa? Baru di tinggal sudah merindu?" 


"Ck, nggak asik!" cetus Aisyah kembali ke kamarnya. 


"Eh, siapa yang nggak asik? Bukannya kamu dulunya ratu kulkas, ya? Siapa yang nggak asik, hih, kesel! Kan … jadi nambah selera makanku!" teriak Ayden sembari nambah lagi nasinya.


Aisyah mencoba menghubungi Pupsa. Namun, tak ada balasan apapun darinya. Aisyah semakin yakin jika saudara dan saudari kembarnya akan datang.


Di sisi lain, Asisten Dishi tengah mengajak Ilkay berbelanja. Tak banyak dari mereka yang dibeli. Sebab, baik Ilkay maupun Asisten Dishi tidak suka berbelanja. 


"Apa yang ingin kamu beli?" tanya Asisten Dishi mengajak Ilkay duduk di pinggir taman. 


"Entah. Jika aku ingin mainan, aku sudah tidak mau main lagi. Jika aku beli buku belajar, di rumah susah ada banyak. Lalu, kalau kita beli makanan, kita juga baru saja makan. Jadi, untuk apa kita keluar, Ayah?"


"Haih, Ayah sendiri juga bingung mau beli apa," lenguh Asisten Dishi menyangga kepalanya. 


Beberapa menit kemudian, Ilkay mengusulkan untuk melamar Ibunya. "Bagaimana kalau Ayah melamar Mama?" usulnya.


"Sudah Ayah lakukan tengah malam tadi," jawab Asisten Dishi. 


"Cincin?" 


"Sudah,"


"Bunga?" 


"Mamamu tidak suka bunga,"


"Hm, cokelat?"


"Sudah,"


"Bagus, Ayahku memang pria yang baik. Lalu, apa lagi? Jika semuanya sudah, kenapa Mama masih mengabaikan Ayah?" Ilkay malah bingung sendiri.


"Entahlah … Eh, Ayah tidak menyinggungnya. Kenapa harus Ayah yang memohon?" sahut Asisten Dishi. 


"Karena Ayah pria yang baik. Makanya, minta maaf terlebih dahulu meski Mama yang salah. Bukan begitu?" sahut Ilkay. 


Asisten Dishi masih berpikir, cara apa yang dapat mencairkan suasana hatinya. Padahal, ia sudah menahan rindu selama lima bulan untuk melaksanakan tugas. Sekali bertemu, malah berselisih paham.


"Ah, Kay ada ide!" seru Ilkay. 


"Apa tuh?" tanya Asisten Dishi penasaran. 


"Bagaimana jika Ayah membuat kue dengan tangan Ayah sendiri. Mama suka makan, kebetulan ada toko kue yang menjadi langganan Mama di sekitar sini. Ayah mau coba? Ini ulang tahun Mama, 'kan?" usul Ilkay. 


Akhirnya, meraka pun berangkat menuju toko kue yang dimaksud oleh Ilkay. Dimana dirinya sering sekali membeli kue untuk Ibunya bersama dengan Ayden. 


"Ilkay, kamu sering datang ke sini?" tanya Asisten Dishi masih tercengang. 


"Iya, Paman Ayden yang mengajakku. Kami selalu membuat kue untuk Mama juga! Kenapa, Ayah?" tanya Ilkay kembali. 


"Lupakan! Ide ini sepertinya tidak terlalu bagus. Kita pikirkan cara lain saja, bagaimana?" Asisten Dishi meminta Ilkay untuk tidak masuk ke toko itu. 


"Apakah Ayah takut masuk … karena penjaga tokonya? Tenang saja, Ayah. Penjaga toko itu adalah seorang Paman, dia memang berpenampilan seperti perempuan. Tapi Paman itu sangat baik, kok!" jelas Ilkay dengan kepolosannya. 


Mau tidak mau, Asisten Dishi tidak mau harus menuruti Ilkay. Meski terus di goda oleh pemilik toko, pendirian Asisten Dishi membuatkan sesuatu untu wanita yang dicintainya tatap dipertahankan. 


---


 Waktu tiba di Bandara hanya selisih waktu sedikit saja. Chen bertemu dengan Gwen saat itu. 


"Kenapa kamu berhenti?" tanya Jovan kepada Chen yang tiba-tiba langkah kakinya terhenti. 


"Kenapa? Mabuk udara?" ejek Feng. 


Chen menyentuh dadanya. Jantungnya merasakan sesuatu, seperti hal sama kala bertemu dengan Gwen ketika di Thailand dulu. 


"Apa kau meminta Ai untuk menjemput kita?" tanya Chen kepada Feng. 


"Tadinya sih iya. Tapi, sepertinya aku tidak ingin merusak kejutanmu. Jadi, aku meminta Ai untuk tidak menjemputku. Ada apa?" jawab Feng kembali bertanya. 


"Jika bukan Ai, lalu … Apakah Gwen juga datang?" lanjut Chen bertanya. "Aku merasakan sesuatu yang tidak asing ketika dulu bertemu kedua saudariku untuk pertama kalinya."


Jovan dan Feng saling menatap. Mereka tidak paham apa yang dikatakan Chen itu. Mereka yang tidak memiliki adik kandung, tak bisa ikut merasakan apa yang dirasakan Chen. 


Sudah lima bulan lamanya, Chen sama sekali tidak memberikan kabar kepada keuda saudarinya. Ia terllau sibuk bekerja untuk mempertahankan kedudukannya di Wang grup demi bisa menikah dengan Puspa. 


Meski begitu, ia tidak pernah lupa sama sekali untuk memberikan kabar kepada kedua ornag tuanya yanga da dibelahan benua lainnya. 


"Shh--" desis Chen menyentuh dadanya kembali. "Gwen ada di sini, kita cari dia!" perintahnya dengan mencari-cari ke sekeliling. 


"Chen, apakah mungkin adikmu datang ke sini?" tanya Jovan. 


"Mereka satu placenta, satu kantong juga. Untuk apa kau mempertanyakan instingnya?" sahut Feng membantu Chen mencari Gwen. 


Tak seperti Jovan dan Chen yang sibuk mencari-cari di tempat lain, Feng bertanya kepada petugas, tentang jadwal penerbangan yang baru saja tiba. 


"Bodoh! Adiknya baru saja tiba, kenapa dia mencari keluar sana? Terkadang aku iri denganmu Chen. Kau bisa memiliki adik perempuan, sedangkan aku? Satu saja tidak punya karena kedua orang tuaku yang egois dengan menikah lebih lambat," gumam Feng dengan mengepalkan tangannya. 


Feng memang selalu begitu. Ia seorang pria dingin, tak pernah memiliki rasa simpati ke siapapun kecuali Aisyah dan Gwen, selaku adik perempuannya. 


"Meski hanya Chen yang diberi adik perempuan, tapi hidupnya juga sudah banyak perjuangan. Sejak kecil dia terpisah dengan keluarga kandungnya. Untuk apa aku iri padanya?" lanjutnya dengan berjalan menuju orang yang ia lihat sama persis sepeti Gwen. 


"Itu dia, dia datang bersama dengan suaminya. Rencanaku akan berjalan dengan baik. Melihat mereka bertiga kembali bertemu, adalah hal yang membahagiakan bagiku. Sebab, setelah ini, aku akan pergi jauh dari kalian semua," ungkap Feng dalam hati. 


Feng berlari ke arah Gwen dan Agam yang saat itu berjalan berdua mendorong koper miliknya. Dengan santai, Feng menyapa mereka. 


"Gwen, Ustadz, kalian sudah sampai?" sapanya. 


"Assalamu'alaikum, alhamdulillah kami baru saja sampai. Tuan sendiri, bagaimana?" tanya Agam. 


"Ko Feng? Koko juga di sini? Mas Agam … kalian janjian?" sahut Gwen penasaran. 


Apa jawaban yang diberikan Agam dan Feng mengenai janjian mereka? Lalu, kemanakah Feng akan pergi? Mengapa dirinya mengatakan, bahwa akan pergi setelah melihat ketiga saudara kembar itu merayakan ulang tahun mereka?