Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Kericuhan



Hari Ujian!


Aisyah berangkat di antar oleh Dishi. Dari sarapan, sampai pakaian yang dipakai oleh Aisyah dipersiapkan olehnya. Dishi juga memutuskan ingin menunggu istrinya sampai keluar dari gedung ujian. 


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Dishi. 


Mereka masih di dalam mobil. Sungguh terlihat seperti orang berada, sebab di Korea, tak banyak orang yang bisa memiliki kendaraan pribadi, rumah sendiri dan juga SIM. 


"Terima kasih," ucap Aisyah. 


"Untuk?" tanya Dishi. 


"Semalam," jawab Aisyah lirih. 


"Kamu istriku, jika kamu sakit … Ya pasti aku akan merawatmu. Sayang, sekarang kamu sudah mendingan, 'kan?" tanya Dishi dengan suaranya yang lembut. 


Aisyah mengangguk. Bukan itu yang dimaksud Aisyah. Semalam, meski saling bertelanjang dada, Dishi tetap tidak goyah imannya untuk mengambil keuntungan. Bukan maksud Aisyah menolak, hanya saja ia belum siap melakukan hubungan badan, apalagi setelah anaknya tiada. 


"Bukan maksud aku," lirih Aisyah. 


"Lalu?" tanya Dishi bingung. 


"Um, malu. Nanti sajalah! Aku masuk dulu, ya. Lihatlah, Bora sudah menungguku di sana," Aisyah menunjuk ke depan. 


Benar, Bora memang sudah berdiri di depan gerbang gedung tempat mereka ujian. Dengan mata yang mengantuk, Bora tetap berusaha berdiri tegak. 


"Baiklah, aku tunggu di sini. Jika nanti kamu kembali aku tidak di dalam mobil, maka aku pergi ke warung makan itu. Warung makan itu, hm?" ujar Dishi mengusap kepala Aisyah. 


Aisyah mengangguk. 


"Fighting! Ai, I Love You," bisik Dishi. 


Aisyah menjadi malu. Ia memberi sebuah hadiah kecil kepada suaminya. Yakni, sebuah kecupan di Dishi. 


Cup! 


"I love you too… Assalamu'alaikum!" Aisyah langsung keluar begitu saja dari mobil. 


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." 


Dishi tersenyum seraya menguap pelan pipinya bekas ciuman istri tercintanya. Ia pun menjadi salah tingkah sampai tak sengaja terbentur kepalanya. 


"Aduh. Kejedot sakit juga. Ternyata tidak mimpi di cium istri sendiri. Rasanya manis sekali," 


Aisyah dan Bora saling bertemu. Bora mengatakan bahwa dirinya senang melihat Aisyah mau datang ujian bersamanya. Ia juga mengeluh mengantuk karena kurang tidur dan makan malam banyak, membuat pipinya menggebu. 


"Apaan? Mana ada makan malam banyak jadi pipi menggebu?" protes Aisyah. 


"Hey, lihat saja! Pipiku makin tembam seperti punyamu. Ah, kau terlihat cantik dengan pipi tembam, tapi aku? Aku malah seperti boneka chucky," keluh Bora. 


"Mana ada seperti itu. Kamu sangat cantik, jangan karena menambah kalori sedikit, jadi harus diet mati-matian. Bahaya! Kamu sudah terlihat cantik seperti ini," puji Aisyah. 


"Ini gara-gara suamimu memberiku makanan yang lezat sekali. Eh, semalam itu makanan dari mana? Bisakah kita ke sana hari ini?"


"Lihatlah, kau ingin kurus, tapi mengingat makanan saja semangat! Bora, Bora--"


Persahabatan keduanya mengingatkan persahabatan antara Aisyah terdahulu dengan Bona. Keduanya saling menerima apa adanya. Bona dan Bora juga tidak melihat keyakinan dari dua Aisyah yang memang di Negaranya terkenal sedikit buruk. 


Bona dan Bora mengutamakan persahabatan dibandingkan dengan permusuhan. Jika mereka ada sedikit perselisihan, diantara keduanya pasti akan mengalah dan segera menyelesaikan masalahnya. Dengan begitu, persahabatan tidak akan pernah pudar karena tertanam sebuah kepercayaan dan ketulusan. 


Meninggalkan Aisyah yang sudah mulai tenang dan ikut ujian, di rumah sakit dimana Chen dan Gwen di rawat sedang terjadi kericuhan. Pasalnya, Cindy datang dan menyamar sebagai seorang perawat, hendak menyuntikkan cairan racun ke infus Chen yang saat itu masih dalam keadaan tidak sadarkan diri. 


"Cairan apa itu?" tanya Lin Aurora mengagetkan Cindy. "Sudah ada jadwal pemeriksaan tadi, kenapa kamu datang lagi?" 


"Ini hanya vitamin saja, supaya pasien segera sadarkan diri," jawab Cindy gugup, langsung menyembunyikan suntikan tersebut. 


"Dasar pembohong! Kau pasti musuh dari Chen. Mana mungkin seorang perawatan di sini bisa berbahasa Mandarin tradisional sepertimu. Siapa kamu!" hardik Lin Aurora meletakkan rantangnya ke ranjang pasien. 


Terjadilah perkelahian diantara mereka. Meski Lin Aurora besar di perbatasan, tidak menjadikannya sebagai wanita yang lemah. Justru dia malah ahli dalam seni bela diri. Datanglah Airy yang baru saja masuk, ia datang bersama dengan Lin Aurora. Saat itu, ia terakhir masuk karena harus parkir motor dulu. 


"Assalamu'alaikum, astaghfirullah hal-adzim. Kalian … Ah, salah! Harusnya aku melerai," ucap Airy mulai melerai perkelahian itu. 


"Bibi, jangan halangi aku. Dia orang jahat! Dia mau meracuni Chen!" teriak Lin Aurora. 


"Astaghfirullah, bisakah kamu bicara dengan bahasa yang aku ketahui? Bahasa Inggris misalnya," Airy masih menahan tangan Lin Aurora. 


Setelah menjelaskan ulang, Airy malah ikut-ikutan melawan Cindy. Ilmu bela diri Cindy lumayan juga, sulit untuk dikalahkan oleh Lin Aurora dan Airy. 


Keluarlah Rebecca dari kamar mandi, syok melihat kakak ipar dan calon mantunya berkelahi dengan seorang perawat. Namun, mata Rebecca lebih jeli dari keduanya. Ia langsung mengenali bahwa perawat itu adalah Cindy. 


Belati yang selalu Rebecca bawa, dilayangkan ke kaki Cindy dan membuat Cindy terjatuh. "Ah! Sial!" umpat Cindy. 


"Nona Lin, pegang dia dengan erat," perintah Rebecca. 


"Baik, Ibu!"


Airy pun bertanya, "Mengapa kamu mengeluarkan belati di rumah sakit? Jika ketahuan, maka kita bisa di proses, loh! Dia perawat pula!"


"Dia bukan perawat, Kak. Tapi dia Cindy, teman sekolah Mas Yusuf, wanita yang pernah mencintai Mas Yusuf, wanita yang jahat dan kejam dimana dia telah menculik bayiku 23 tahun lalu," ungkap Rebecca. 


Tanpa menunggu lagi, Airy langsung membuka maskernya. Ternyata benar, dia adalah Cindy. Airy tidak menyangka jika Cindy masih sejahat itu. Bahkan hendak mencelakai Chen yang masih tidak berdaya terbaring tak sadarkan diri. 


"Cindy, kamu ini kenapa?" tanya Airy dengan baik-baik. 


"Aku benci dengan kalian semua. Aku benci kalian yang bahagia. Aku memang telah menculik Chen, tapi aku juga merawatnya dengan baik, jadi dimana letak kesalahanku!" Cindy masih saja membelot. 


"Dengan menculik itu, kamu sudah salah. Kamu masih bertanya dimana letak kesalahanmu? Kamu waras kan, Cindy?" Airy masih tak habis pikir. 


"Chen telah menjauhkan aku dengan putriku. Hingga putriku sendiri membenciku. Dia begitu kejam, lebih kejam dariku! Bahkan, dia membunuh Ayah kandung dari putriku menggunakan racun, apakah aku tidak boleh dendam padanya, hah!" Cindy mulai mengungkit masa lalu. 


Tak lama kemudian, datanglah Adam dan Yusuf membawa security. Mereka mengetahui adanya Cindy di dalam, beberapa menit lalu dan langsung memanggil pihak keamanan. 


"Istri kita semuanya bar bar. Jika kita tidak meminta bantuan Anda, Pak … Maka masalah baru akan timbul lagi dan bisa mencemari nama baik rumah sakit ini," ucap Yusuf. 


"Jahat sekali kamu menyebut istriku bar bar?" bisik Adam. 


"Mas Adam diam saja!" desis Yusuf. 


"Baiklah, kami akan segera membawa orang gang menimbulkan kericuhan itu ke kantor," ucap salah satu security. 


Ketika di dalam, Yusuf terkejut dengan melihat Cindy di tahan oleh Lin Aurora. "Haha, masa lalumu datang kembali, Yusuf," ledek Adam. 


"Mas--" kesal Yusuf. 


Nekat, meski sudah terkepung, Cindy malah berbalik melukai Lin Aurora. Beruntung, tusukan belati miliknya hanya mengenai paha gadis berusia 22 tahun itu. Tak bisa kabur lagi, ditemani oleh Adam dan Yusuf, Cindy dibawa oleh security. 


Kemudian, Airy dan Rebecca membawa Lin Aurora untuk di tangani. Barulah Chen tersadar dan melihat di sekeliling tidak ada siapapun. (Kuapok, kesuen le semaput koe Chen)


Si kembar Up pagi-siang. Kalau Qianzy malam, ya. Soalnya, siangnya harus up novel lain😊😊 min sehari 2 bab, ingatin kalau author belum up. Yang punya nomorku, bisa ingatin lewat chat WA, Terima kasih.