
Satu Minggu berlalu. Yang pergi sudah pergi, kini yang ditinggalkan harus bangkit kembali untuk melanjutkan kehidupan. Aisyah harus kembali ke Korea karena masih ada pendidikan yang harus dia tuntaskan.
Hari itu, cuacana memang sedang mendukung untuk melamun. Bayinya Gwen sudah di bawa pulang. Sementara memang akan Agam rawat di rumah Yusuf bersama baby Rifky juga.
Aisyah sedang duduk di tepi jendela menatap suasana luar. Di mana tetangga sedang gotong royong membawa perkakas yang di pakai pengajian semalam tujuh hari meninggalnya Gwen, Chen, Lin Aurora dan Rebecca.
Datanglah Yusuf mengagetkan Aisyah. "Nduk, kamu sedang apa?" tanyanya.
"Astaghfirullah hal'adzim, Ayah. Mengangetkan saja!" seru Aisyah sembari
"Kamu melamun, jadi terkejut. Kenapa melamun di samping jendela seperti itu? Tidak baik tau!" tegur Yusuf.
Aisyah menghela napas panjang. Sudah seminggu lebih dirinya ada di Jogja, tetapi merasa kesepian yang mendalam. Padahal, masih banyak keluarga yang bersamanya. Kesedihan akan kehilangan, membuat Aisyah belum bisa move on. Apalagi, dengan hilangnya sang suami, membuat Aisyah menjadi semakin seperti orang yang putus asa.
"Kamu akan kembali ke Korea?" tanya Yusuf dengan lirih, sembari duduk di sisi putrinya.
Aisyah pun mengangguk. "Benar, Ayah. Aku masih harus menyelesaikan magangku," jawabnya. "Ayah, bagaimana jika Ayah dan Rifky ikut bersamaku saja ke Korea?" usul Aisyah.
Mendengar usulan putrinya, membuat Yusuf mengetuk kening putrinya itu. Dengan pukulan lembut, Yusuf mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin.
"Kenapa tidak mungkin, Ayah? Ayah pernah tinggal di Korea lama sekali. Usaha Ayah pun di sana juga ada. Masa iya tidak mungkin?" lanjut Aisyah.
"Kamu akan sibuk magang, Ayah akan sibuk bekerja. Lalu, Rifky bagaimana? Kamu ini, lain kali jika memiliki usulan, di pikirkan yang matang," terang Yusuf menyentil hidung putrinya.
Pada intinya, Aisyah belum siap untuk sendiri dan meninggalkan Ayahnya sendiri. Namun, memang tidak mungkin bagi Yusuf ikut putrinya ke Korea dengan mengajak putra bungsunya sekaligus. Hal itu membuat Aisyah kembali sedih karena harus berpisah dengan Ayah dan adiknya lagi.
Sore harinya, Aisyah harus mengemas barang-barangnya. Dia akan berangkat dengan penerbangan malam ke Korea bersama dengan Tuan Jin yang menjemputnya dan tiba pagi tadi. Tak hanya bersama dengan Tuan Jin saja. Bahkan Ayden juga ikut menemaninya. Ayden harus bolak-balik ke Tiongkok-Indonesia-Korea hanya demi mengurus perusahaan yang ditinggalkan oleh Chen dan keluarga Wang.
Ditemani oleh Ayyana ketika mengemas barang-barangnya. Ayyana tahu betul perasaan Aisyah yang sama-sama kehilangan suami. Bedanya, Ayyana sudah jelas di tinggal meninggal. Tapi kalau Aisyah, suaminya hilang belum ada kabarnya.
"Apa ini akan kami bawa?" tanya Ayyana menunjukkan koper kuning yang di tinggalkan oleh suaminya.
"Iya, di dalam sana banyak sekali dokumen dan beberapa ... beberapa hal penting pokoknya lah, yang harus aku pelajari," jawab Aisyah dengan tangan yang masih sibuk mengemas.
"Bolehkan aku ikut bersamamu ke Korea? Aku sudah mengurus visa dan keperluan lainnya milikku dan putraku. Jika bisa, malam ini juga aku akan ikut bersamamu," ucap Ayyana lirih.
"Kak, kakak serius?" tanya Aisyah.
"Kakak sudah mengurus semuanya sejak pemakaman selesai seminggu yang lalu. Kakak juga sudah mendapatkan izin dari Ayah dan Mama untuk menemanimu, bagaimana? Apa kamu mengizinkan aku ikut?" jawab Ayyana.
"Kamu setuju?" tanya Ayyana girang.
"Iya, tapi bagaimana dengan usahamu di sini, Kak? Bukankah, semua usahamu juga masih membutuhkan tanganmu?" tanya Aisyah kembali.
"Heleh, ada Anthea yang di sini. Suaminya ada tugas ke Madinah. Anthea tidak mungkin ikut karena dia sedang angkatan hamil lagi, hihihi. Jadi, Mama meminta Anthea untuk tinggal bersamanya," jawab Ayyana semangat.
"Kak Anthea hamil lagi?" tanya Aisyah terkejut. Sebab, setelah melahirkan anak pertamanya, Anthea didiagnosa akan sulit untuk hamil kembali.
Ayyana mengangguk senang. Anthea yang akan mengambil alih semua usahanya dengan dibantu oleh beberapa santri lain nantinya. Mendengar jawaban itu, membuat Aisyah senang karena kakak sepupu dan keponakannya akan ikut bersamanya ke Korea.
"Tapi, bagaimana bahasa putramu? Dia belum bisa bahasa Korea, bukan? Aku takut ketika masuk sekolah, dia ...," ucapan Aisyah terhenti kala Ayyana menyentuh tangannya.
"Tidak masalah, putriku sangat mahir bahasa Inggris. Di sana, nanti bisa mengikuti kelas bahasa. Keponakanmu itu sangat cerdas, dia akan cepat belajar jika bersungguh-sungguh," jawab Ayyana.
Mereka pun saling berpelukan. Meski senang akan memiliki teman di rumahnya, tetap saja Aisyah kepikiran dengan Ayah dan adiknya yang akan tinggal berdua saja di rumah itu. Aisyah pun harus kembali memikirkan masa depannya dengan matang.
***
Di sisi lain, di jauh di Tiongkok sana, Feng membantu Tama menangani masalah perusahaan berlian dan emas milik Gwen yang diberikan oleh Chen. Tama sangat kewelahan sekali karena dirinya juga belum menguasai pekerjaannya. Tak hanya itu saja, bahasa juga membuat Tama sulit untuk berkomunikasi. Tak semua karyawan bisa berbahasa Inggris.
Pagi di Tiongkok, Tama sudah berada di kantor saja. Dia memang sangat rajin dalam menjalani pekerjaannya. Datanglah Feng yang mampir sebelum dia berangkat ke rumah sakit.
"Tama, aku sudah mendaftarkan dirimu ikut les bahasa Mandarin dan semua bahasa yang di gunakan di negara ini. Ini jadwal yang harus kamu ikuti," ucap Feng terburu-buru.
"Hah? Les lagi? Feng, kau sudah mendaftarkan aku di kelas bisnis secara privat dan itu saja sudah membuatku sedikit gila. Lalu ini?" protes Tama.
"Itu sudah tugasmu, brother. Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu. Rumah Tuan Wang, akan di lelang. Lumayan hasilnya di gunakan untuk membayar beberapa orang yang pernah bekerja di geng Tuan Wang," lanjut Feng.
"Soal itu, terserah kamu saja. Tapi, apakah Aisyah tahu jika rumah itu akan di lelang? Di sana juga banyak kenangan Chen, bukan?" tanya Tama lagi.
Feng mengangguk. "Dia tahu dan bahkan Paman Yusuf juga sudah tahu. Jika kita menggunakan uang yang ditinggalkan Chen, bagaimana dengan masa depan Rifky nanti? Jadi, aku berdiskusi dengan Paman Yusuf dan Aisyah untuk menjual rumah itu," jelasnya dengan detail.
Tama sendiri merasa tidak memiliki kuasa lebih tentang mengambil keputusan itu. Jadi, dia hanya mengangguk setuju jika yang bersangkutan saja sudah setuju. Sementara itu, Feng sendiri sudah mampu mengembalikan aset yang di rampas oleh kakeknya dari perusahaan Chen kepada Aisyah. Bahkan, incaran Tuan Natt saja juga sudah mampu Feng bereskan.
Kini, dunia hitam sudah benar-benar lenyap dan Aisyah akan menjalani hidup seperti sedia kala ketika dia masih kecil. Bagaimana dengan kabar Dishi? Masih belum ada informasi mengenai dirinya.