
Asiyah dan Gwen tinggal bersama setelah Yusuf dan Rebecca rujuk kembali. Sering kali Rebecca pulang pergi ke Australia hanya untuk mengelola usahanya yang ditinggalkan oleh Jimmy, Papanya.
Sementara itu, Aisyah bergelar sebagai Dokter Umum. Cita-cita yang sudah sejak kecil ia impikan, akhirnya terwujud juga. Kini, ia tengah bekerja di salah satu puskesmas di kecamatannya ia tinggal.
Aisyah tumbuh menjadi gadis yang cantik. Berjilbab dan sangat menjunjung tinggi sopan santu, tegas dan pastinya di takuti oleh Gwen. Pikirannya semakin dewasa dan mampu menyelesaikan kuliahnya hanya 2 tahun. Secerdas neneknya dahulu, Asiyah Putri Handika.
Lalu, bagaimana dengan adik kecil yang menggemaskan kita?
Gwen masih betah menjadi pengangguran bebas. Dia belum bisa berhijab tetap. Masih suka buka tutup, meski selalu Yusuf memberikan pengertian.
Gadis pengangguran ini hanya akan mengenakan jilbab ketika ada Aisyah saja. Tumbuh menjadi anak manja, pemalas dan pikirannya hanya uang saja.
Ia masih kuliah di bidang bisnis, dengan keterpaksaan Rebecca. Sebab, Gwen ini tidak pernah memiliki cita-cita selain ingin menjadi orang kaya.
Sejak kecil, ia tidak pernah dimanjakan sama seperti Aisyah. Namun, sifatnya yang keras kepala membuatnya salah paham. Selalu berpikir jika dirinya harus mencari uang sendiri, karena orang tuanya hanya menyayangi saudarinya saja.
Ketika keributan di pagi hari berlangsung.
"Mi, ambilin aku tehnya dong!"
"Oh, sama roti ya, Mi. Aku lapar," pinta Gwen, yang saat itu dirinya saja sudah ada didepan meja.
Byur!
Air satu ember kecil diguyurkan oleh Aisyah kepada Gwen.
"Woy, lah!" teriak Gwen. "Sia ... hehe, kakakku yang cantik. Hem, seger sekali. Kebetulan aku belum mandi, terima kasih cantik," ucap Gwen dengan senyum terpaksa.
Aisyah duduk di depannya. Tatapan mata Aisyah saja sudah sangat dimengerti oleh Gwen. Ia mengambil teh hangat dan rotinya sendiri dengan cengegesan.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh,"
"Gwen, kenapa kamu basah kuyup begini? Ayo, segera ganti baju, nanti kamu sakit, loh!" tegur Yusuf.
"Heh, kesempatan cari muka dengan Ayah!" serunya dalam hati.
"Ayah aku--"
Belum juga Gwen mengadu, Aisyah mengetukkan garpunya ke piring. Sehingga menimbulkan decitan logam yang menyela pengaduan Gwen kepada ayahnya.
"Um, aku belum mandi tadi, Yah. Dan Kak Aisyah membantuku mandi," jawab Gwen melirik ke arah Aisyah.
"Terima kasih, Kakakku sayang." imbuhnya dengan senyum palsunya.
Yusuf memandangi Aisyah, melihat Aisyah bersikap tegas kepada adiknya membuat Yusuf mengingat Ami nya yang sudah ada di alam lain sana.
Ketegasan Aisyah bukan karena tanpa alasan. Ia hanya ingin adiknya disiplin dan tidak bergantung dengan orang tua. Bagaimana tidak gemas, sejak Gwen sekolah dulu, ia selalu membolos sekolah dan membuat masalah bagi keluarganya.
Lebih parahnya lagi, Gwen selalu membuat anak orang menangis karena kejailannya. Hal itu yang membuat Aisyah mengubur impiannya ke kota Tarim, belajar agama lebih dalam ke sana menyusul Anthea dan Gehna, kakak sepupunya dulu.
Hanya demi membantu orang tuanya mendidik Gwen dengan benar, Aisyah memilih kuliah di dalam negri dan menjadi Dokter Umum di desanya. Tetapi, Aisyah tidak pernah menyesal jika tidak jadi ke Kota Tarim, apapun itu ... semuanya karena Gwen adiknya.
"Gwen, usahakan jika memerintah seseorang ... diawali dengan tolong dan diakhiri dengan terima kasih. Sekali lagi aku dengar kau tidak mengucapkan itu kepada Ibu ataupun orang lain, kamu akan berakhir ditanganku!" hardik Aisyah.
Usai sarapan, Aisyah berpamitan untuk berangkat ke puskesmas, ia juga memperingati Gwen untuk berhenti membuat ulah.