
Direktur Liu mengetahui Lin Aurora masuk ke ruangan Chen. Timbullah prasangka buruk Direktur Liu kepada Lin Aurora. Direktur Liu pun hendak menyusul Lin Aurora, namun saat itu Jovan datang dan menegurnya.
"Direktur Liu, kau datang ke sini mau kemana?" tanya Jovan.
Semua karyawan juga tahu jika rungan direktur dan ruangan Chen berbeda arah. Dengan sedikit gugup, direktur Liu menjawab jika dirinya hanya lewat saja. Kemudian melihat benda yang ditenteng oleh Jovan. "Apa yang Anda bawa, Tuan Jovan?" tanyanya mengalihkan perhatian.
"Heh, ini? Ini makan siang Tuan Muda dan aku. Ada apa? Apa kau juga mau ikut bergabung? Tapi aku hanya membeli dua porsi saja, bagaimana jika nanti kita berbagi?" Jovan mengatakan itu, sebab Jovan tahu jika direktur Liu pasti akan menolaknya.
Benar dugaan Jovan. Direktur Liu menolak dan pamit pergi tampa bertanya lagi. Jovan tahu jika ada yang tidak beres dengan direktur Liu tersebut. Gerak-gerik orang yang menyukai seseorang itu selalu bisa di tebak.
"Apakah Lin Aurora selalu ditindas olehnya jika …? Entah mengapa wanita satu ini memiliki aura yang berbeda. Aku harus menyelidikinya," gumam Jovan berbalik berjalan menuju ruangan Chen.
Di dalam ruangan itu, ternyata baru ada Lin Aurora yang sedari tadi menjadi pendiam di saat suaminya datang mengunjungi perusahaan yang hampir tidak pernah di kunjungi oleh Chen. Lin Aurora duduk termenung dengan tatapan tajam ke papan nama Chen yang ada di meja kerjanya.
"Chen Yuan Wang. Apa maumu sebenarnya? Kamu ini memiliki sifat yang mana? Kenapa selalu berubah-ubah seperti ini padaku?" desis Lin Aurora.
Tok … tok …tok ….
Suara pintu diketuk, segera Lin Aurora membukakannya takut yang datang Chen dan akan marah lagi jika dirinya tidak membukakan pintu untuknya.
"Haih, aku pikir Chen yang datang. Dimana dia?" Lin Aurora lega ketika melihat Jovan datang.
"Paling juga sebentar lagi juga datang. Duduk lah, aku akan menyiapkan makanannya untuk kalian," ucap Jovan meletakkan kantong makanan yang ia bawa.
"Apa Chen menyulitkanmu karena aku?" lanjut Lin Aurora.
"Tidak!"
"Tapi hampir saja rekeningku berkorban karena kecerobohan kita. Kau juga kenapa malah menerima bekerja sebagai office girl di sini? Bukankah aku mengatur pekerjaanmu sebagai Sekertaris atau bendahara di perusahaan ini?" cetus Jovan.
"Maaf," ucap Lin Aurora menyesal.
"Sudahlah, aku sendiri juga bingung dengan sikap Chen. Sejak dulu sama sekali tidak berubah. Selalu saja seenaknya dan tidak mendengarkan nasihat orang lain," Jovan sampai menggerutu tentang sepupunya itu.
Setelah selesai menyiapkan makanan, barulah Chen masuk dengan wajah tanpa rasa bersalahanya dan langsung duduk di samping Lin Aurora. "Ada apa dengan kalian? Kenapa menatapku seperti itu? Apa ada yang salah denganku?" tanyanya dengan wajah datarnya seperti harapan hidup.
"Tidak, aku hanya ingin menampar seseorang saja," sahut Jovan.
"Ingat, buku rekeningmu ada padaku meski kartunya ada padamu. Sewaktu-waktu, aku bisa memblokir rekeningmu itu, Jovan!" ancam Chen.
"Kau lihat, Lin? Suamimu sudah gila! Sebaiknya aku menelpon kekasihku supaya bisa mengobati penyakit gilaku ini, permisi!" Jovan pun meninggalkan mereka berdua dan hendak bertemu dengan Lin Jiang yang sudah menunggunya di luar kantor.
"Makan!" perintah Chen.
Setelah Chen menyantap satu suapan, baru Lin Aurora ikut melahapnya. Mereka makan tanpa bicara dan juga tanpa melihat satu sama lain. Benar-benar sunyi, sampai detik jam saja terdengar jelas dalam ruangan itu.
Usai makan, Lin Aurora membereskan bekas makannya dan ingin membawanya ke dapur. "Tunggu, kau mau kemana?" tanya Chen.
"Ke dapur, Tuan," jawab Lin Aurora.
"Ini kantor, jika aku memanggilmu hanya dengan nama saja … yang ada seluruh perusahaan tahu jika aku dan kamu ada ikatan," jelas Lin Aurora.
"Itu urusan mereka. Kenapa kita yang repot? Hah, sudahlah! Pijit aku, aku lelah sekali hari ini. Ini perusahaan keluarga yang statistik pendapatan dan pengeluarannya paling buruk! Aku pusing sekali!"
Hanya memijat saja, Lin Aurora tidak menolak sama sekali. Chen duduk di belakang mejanya, kemudian Lin Aurora mulai memijat kepalanya. Dengan perlahan dan lembut, Chen mulai nyaman dengan pijatan tangan istrinya.
"Adikku mengadakan acara tujuh bulanan. Aku ingin mengirimkannya hadiah. Apa malam ini kau bisa mengantarku ke toko atau sejenisnya?" ajak Chen memulai pembicaraannya.
"Apa itu tujuh bulanan?" tanya Lin Aurora.
"Kau tak tau?"
Lin Aurora menjawab tidak. Dirinya memang tidak pernah tahu tentang tujuh bulanan di saat orang sedang hamil. di perbatasan, Lin Aurora tidak pernah menemukan acara seperti itu. Bahkan, orang hamil di perbatasan juga sangat sedikit. Angka kelahiran juga sangat rendah di sana. Maka dari itu Lin Aurora tidak mengetahui hal seperti itu.
Istrinya memang belum tahu. Dengan pelan, Chen menjelaskan apa itu tujuh bulanan. Hal itu membuat Lin Aurora ingin sekali merasakan apa itu acara tujuh bulanan. "Bagaimana rasanya melaksanakan acara itu, Tuan?" tanya Lin Aurora.
"Aku sendiri juga tidak tau. Tapi nanti kita akan tau dari Gwen. Meski kita tidak datang ke sana, pasti nanti akan di kirim videonya," jawab Chen.
"Aku jadi ingin hamil deh!" celetuk Lin Aurora tiba-tiba.
Chen pun melepas tangan istrinya yang ada pada keningnya. Kemudian menoleh, menatap istrinya dengan tatapan aneh. "Kau mau hamil?" tanya Chen lirih.
Lin Aurora terdiam. Menatap sang suami dan kemudian bersimpuh tepat di depan kaki Chen. Saat itu Chen duduk di kursinya. Lin Aurora pun mengangguk semangat.
"Hamil juga butuh proses. Dasar bodoh!" Chen menyentil kening istrinya.
"Aw, sakit," rintih Lin Aurora. "Bisakah kita melewati proses itu?" tanya Lin Aurora.
Ajakan Lin Aurora membuat Chen tercengang. Matanya membelak besar menatap Lin Aurora, seolah sedang melihat hantu. Chen memandang wajah Lin Aurora yang manis, kemudian tatapannya turun ke bibir Lin Aurora. Melihat bibir istirnya yang berwarna merah mudah membuatnya mampu menelan ludah.
Tatapannya semaki turun hingga ke bukit salju Lin Aurora dan membuatnya semakin berdebar. Tuing! Chen tersadar, ia pun melangkah mundur. Menjauhkan diri dari istrinya yang saat itu masih berdiri seperti orang bodoh di depannya.
"Ada apa?" tanya Lin Aurora melangkah maju mendekati Chen.
"Jangan mendekat!" tegas Chen.
"Kamu menatapku dan setelah itu bertingkah aneh. Makanya aku tanya, kamu kenapa?" lanjut Lin Aurora semakin mendekat.
"Aku bilang jangan mendekat!" Chen semakin gugup kala istrinya terus melangkah ke arahnya.
"Chen, ada apa? Kamu kenapa? Jangan membuatku takut seperti ini," Lin Aurora semakin bingung melihat suaminya yang gugup. "Kamu berkeringat?" lanjutnya, melihat keringat Chen bercucuran dari dahinya.
Chen semakin mundur dan akhirnya sampai ke sudut laci. Ia terus meminta istrinya untuk tidak mendekatinya. Melihat suaminya yang bertingkah aneh membuat Lin Aurora semakin ingin menggodanya. Sekali sentuhan dari tangan Lin Aurora ke telinga Chen, Chen pun kabur begitu saja.
"Chen!" bisik Lin Aurora takut berteriak. "Chen Tuan Wang, Tuan Muda!"
Setelah itu, Lin Aurora tertawa karena rupanya suaminya tidak bersikap dingin lagi padanya. Ia pun semakin mencintai suaminya dan berjuang untuk menggapai cinta suaminya.