
"Saat ini, yang bisa kita andalkan hanya Asisten pribadimu itu, Tuan muda Wang. Ayolah, ini juga demi keselamatan putramu sendiri!" tegas Feng kembali memperingati Chen.
"Ada aku untuk menjaga Ai dan Ilkay. Kenapa kalian repot sekali? Aku akan selalu ada untuknya jika sedang tidak ada pekerjaan," sahut Ayden.
"Kenapa tidak kau saja, Feng?" tanya Chen.
"Jika aku bisa, aku akan lakukan itu, Tuan muda Wang. Hanya saja, minggu depan aku dipindahkan ke perbatasan. Entah konspirasi apa lagi ini, tapi aku tidak boleh mangkir," jelas Feng.
"Panggil aku Chen!" desis Chen.
Feng memberi kode mata, yang mengisyaratkan bahwa ada mata-mata musuh yang mengawasi mereka. Jadi, ia ingin terlihat bahwa dirinya dan Chen sedang tidak baik-baik saja.
"Hash, sial! Jika saja bukan karena keluarga kandungku, aku sudah membuat mereka jadi mayat hari ini," umpat Chen dalam hati.
"Chen, Asistenmu datang," sahut Jovan menunjuk Asisten Dishi yang baru saja datang dengan membawa tas jinjingnya.
"Selamat siang semuanya, maaf saya terlambat. Sebelum datang kemari, saya mengantar Ilkay dan Ibunya berangkat belajar terlebih dahulu," kata Asisten Dishi.
"Santai saja, suasana hati Tuan-mu ini sedang baik. Jadi, kamu jangan minta maaf terus. Bukan begitu, Chen?" Ayden mencoba mencairkan suasana, supaya bisa leluasa membahas bisnis bersama mereka.
"Haih, aku ini ahli gizi. Kenapa juga terlibat dalam dunia bisnis begini. Bikin nambah pikiran saja!" lanjutnya sembari meminta Asisten pengelola kantor membawakan minuman untuk Asisten Dishi.
Ayden ini Oppa-Oppa lucu yang tidak banyak tingkah. Sebagai putri dari Mayshita yang lah lembut, dirinya lebih memilih untuk tidak ikut campur masalah lain, jika bukan masalah yang bersangkutan dengan profesinya saja.
"Nona Kang, tolong kamu tutup ruangan ini rapat-rapat. Minta keamanan untuk mengawasi cctv, ada beberapa orang asing yang berusaha masuk ke perusahaan ini tanpa di undang," perintah Ayden kepada sekertaris Ayahnya.
"Baik, Tuan."
Mereka mulai membahas tentang bisnis sebelum membicarakan masalah kejahatan Jackson Lim dan juga Cindy. Anggota keluarga ada yang baru datang, mereka juga membahas masalah adik kecil mereka yang baru berusia tiga hari itu.
Jovan sendiri mengkhawatirkan tentang masalah yang menimpa dua keluarga besar antara keluarga Wang dan Hao. Ia merasa khawatir jika masalah itu bisa berimbas pada masa depan Chen suatu hari nanti.
"Masalah Ilkay, kita sudah bereskan. Dengan membuat statusnya bukan anak dari Chen, tapi bagaimana dengan permasalahan antara dua keluarga ini? Aku hanya takut, jika Ibu tiri Chen akan memanfaatkan situasi ini," kata Jovan dengan serius.
"Jujur, perusahaan yang baru aku dan Chen kerjakan ini, adalah perusahaan yang separuh sahamnya dicabut oleh Tuan besar Natt, mantan calon mertuanya Chen," lanjutnya dengan penuh kecemasan.
"Masa depanku dan Chen ada perusahaan ini. Tuan Hao, apakah tidak ada masalah lain, kecuali peretas itu? Misalnya, mengapa Anda membawa kami ke sini?" Jovan sudah mulai curiga.
Hidup di keluarga yang keras, tidak menjadikannya Jovan dan Chen bodoh akan kebohongan. Mereka tahu, jika Feng sengaja mengajak Chen dan Jovan datang ke Korea, bukan hanya ingin merayakan ulang tahunnya bersama dengan kedua saudarinya.
"Feng, katakan saja apa yang terjadi. Lebih baik jujur, daripada nanti mereka tahu dari orang lain, malah susah," bisik Ayden mendesak Feng untuk bicara.
Tapi, tetap saja Feng tidak menceritakan dengan detail. Hanya intinya saja mengapa dirinya membawa Chen dan Jovan ke Korea, supaya tidak menjadi target utama kakek dan para pamannya yang masih menyimpan dendam kepada keluarga Wang.
Masalah selesai, Ayden merasa senang sepupunya kembali akur. Selanjutnya, mereka akan mendiskusikan masalah Asisten Dishi yang harus tetap tinggal di sisi Aisyah dan Ilkay.
"Iya, aku akan membeli apartemen kosong sebelah itu untuk tempat tinggal Asisten Dishi nantinya. Kamu bisa tempati itu sore nanti, aku baru saja membayarnya lewat Ayden," ungkap Chen dengan sedikit kesal.
"Tuan, ini serius? Saya tetap di sini? Tapi visa saya bagaimana?" tanya Asisten Dishi mulai bingung.
"Ya kamu urus sendiri lah! Buat apa nanya aku? Aku cemburu tau! Kamu bisa dekat dengan Ai-ku," sulut Chen.
"Kau bilang kau cemburu? Aku iri melihat Aisyah dan Gwen lebih menyayangimu dari pada aku!" sahut Feng dengan memutar matanya.
"Heh, Aisyah juga tadi nggak mau aku antar gegara dia. Huft, aku juga cemburu tau!" Ayden juga tidak mau kalah.
"Hmph, drama mei-mei (adik perempuan) belum usai," desis Jovan muak degan para Tuan Muda yang kelakuannya seperti anak-anak usia dini.
Segera Asisten Dishi membatalkan perintahnya kepada anak buahnya untuk membeli apartemen sebelah itu. Ia tak ingin Chen mengetahui rencana dirinya dengan Feng yang sebelumnya ingin melindungi Ilkay dan Aisyah tanpa sepengetahuan Chen dan yang lainnya.
Diskusi para Oppa, Koko dan Kakak telah usai. Pembicaraan mereka diakhiri dengan makan siang bersama di restoran miliki keluarga. Tak sengaja, saat Feng ke kamar mandi, ia bertemu dengan Ayah dan Ibunya yang juga baru datang untuk makan siang.
"Feng, kamu di sini?" tanya Yue. (Ibunya)
"Sesibuk itukah kalian, sampai tidak tahu kalau aku di sini sudah tiga hari? Bahkan nanti sore aku sudah mau pulang," jawab Feng dengan ketus.
"Feng, jawaban apa ini? Kenapa kamu bicara seperti itu dengan Ibumu? Tidak sopan!" tegas Hamdan.
"Shh, sudahlah! Aku malas meladeni kalian. Aku pergi dulu, Chen dan yang lain ada di sana, jadi bersikaplah biasa saja!" ketus Feng meninggalkan kedua orang tuanya.
Feng menang sedikit kesal dengan kedua orang tuanya. Sedari kecil, ia selalu ditinggal oleh Yue mengembangkan bisnis keluarga di luar negri. Lalu, pernikahan tertunda antara Hamdan dan juga Yue membuatnya selalu di bully oleh teman sekolahnya.
Bukan maksud kurang ajar dengan kedua kedua orang tuanya. Hanya saja, luka hati Feng masih membekas ketika masa kecilnya dihabiskan hanya di rumah sang kakek dengan selalu didik keras oleh kakek dan paman-pamannya gang galak.
"Ayah, Ibu. Maafkan aku, tapi entah kenapa, hatiku terasa sakit jika berada di dekat kalian. Aku menyayangi kalian, hanya saja … batinku tidak mampu untuk terus berada di dekat kalian." batin Feng kembali ke meja-nya.
Sesuai dengan ketentuan Feng, Hamdan dan Yue akan bersikap sewajarnya saat ada di depan sepupu Feng dan temannya. Berusaha menutupi jika mereka tidak baik-baik sana.
Hati Feng ini sangat sensitif. Hanya Aisyah dan Gwen yang selalu mengisi hatinya di saat dirinya sedang merasa sedih. Itu sebabnya, ia merasa iri jika Chen bisa menjadi kakak kandung bagi kedua saudari kembar tak identik itu.