
Sekian lama tawar menawar, akhirnya Yusuf akan membayar waktu Gwen untuk belajar satu jam 50 ribu rupiah. Gwen senang sekali mendengar uang ditelinganya. Ia memberikan rekeningnya kepada Yusuf tanpa ragu lagi.
Buku rekening tersebut, bisa membuat Gwen ketahuan identitas aslinya. Setelah memberikan buku tabungannya, Gwen masuk ke kamar dengan santai.
"Sudahlah, aku akan kembali ke kamar baruku. Selamat malam Ayah baruku," celetuk Gwen merentangkan tangannya, kemudian masuk ke kamar.
Yusuf tersenyum melihat tingkah konyol Gwen. Tak sadar jika nama di buku tabungan tersebut adalah nama putri keduanya. Yusuf malah tidak membukanya dan langsung memasukkan kedalam tas kecil miliknya.
Di kamar, Gwen baru tersadar jika tabungan asli miliknya ada pada Yusuf saat ini. Ia beranjak dari kasurnya dan akan mecari cara untuk mengambil kembali buku tabungan tersebut.
"Ash, sial!" umpat Gwen.
"Buku tabungan itu kan asli namaku. Jika Ayah tahu siapa aku sebenarnya, bisa gawat ini!"
"Aku harus segera mengambilnya sebelum Ayah membukanya!"
Gwen terus berperang dengan batinnya. Keluar dengan mengendap-endap dan mencari tahu dimana buku tabungan tersebut. Sayang, semua laci dan kotak yang ada di rumah itu tak ada buku tabungannya tersebut.
"Aku harus cari dimana lagi? Apakah aku harus cari di kamar Ayah?" gumam Gwen.
Seluruh ruangan kecuali dapur sudah gelap. Perlahan nan pasti Gwen tetap akan mencari buku tabungan itu. Gwen melangkah ke kamar Yusuf dan membuka pintu dengan pelan.
"Slow but sure. Come on Gwen, you can!" gumam Gwen sudah memegang ganggang pintu.
"Rifky, kamu kah itu?'
Suara Aisyah mengubah semuanya. Tatapan wajahnya Gwen yang sebelumnya tegang, kini mejadi datar dan kusut seperti rok tutu yang seminggu tidak di lipat.
"Kenapa kamu di sana, Rifky? Kamu ingin bertemu Ayah lagi, atau baru keluar dari kamar Ayah?" lanjut pertanyaan Aisyah.
Gwen menoleh ke arah Aisyah dan meringis dengan wajah tanpa dosa. Gwen mengatakan kepada Aisyah jika dirinya mencari sesuatu barang miliknya yang hilang disekitar kamar Ayah mereka.
"Oh, cari barang hilang. Aku akan panggilkan Ayah juga untuk membantumu," ujar Aisyah hendak membuka pintu kamar Yusuf.
"Eh, jangan, dong! Yang ada malah kita mengganggu Ayah. Biarkan aku saja yang mencarinya," jawab Gwen gugup.
Aisyah memang tidak suka mencampuri urusan orang lain. IA mengulurkan niatnya juga untuk membantu Gwen mencari barangnya yang hilang setelah mendapat penolakan.
"Ya sudah. Aku akan ke dapur dulu, aku haus," ujar Aisyah meninggalkan Gwen di depan kamar Yusuf.
Gwen menarik nafas lega. Mengingat itu bukan rumah yang selalu ia tempati, maka Gwen masih merasa asing dirumahnya sendiri. Ia kembali ke kamarnya dan akan menyusun rencana untuk mendapatkan buku tabungannya kembali.
Di kamar, usai sholat sunah Yusuf mulai membersihkan tas kecil miliknya. Ketika mengeluarkan semua isi tasnya, buku tabungan Gwen terjatuh dan terbuka. Awalnya Yusuf tidak mau melihatnya, tapi ….
"Kenapa aku merasa janggal dengan anak ini? Sebaiknya aku lihat siapa nama asli anak ini," gumam Yusuf membuka halaman pertama dari buku tabungan tersbut.
Bagaimana?
Tentu saja Yusuf terkejut membaca nama asli dan lengkapnya anak perempuan yang dikira anak laki-laki tersebut. Kemudian, tertulis jelas di sana, jika nama orang tua dari Rifky palsu itu juga nama yang ia kenal.
Mulailah, timbul rasa curiga dalam hati Yusuf.
"Gwen Kalina Lim? Putri dari orang tua bernama Rebecca A. Lim dan Willy?"
"Rif, em … Gwen? Gwen Kalina Lim ini kan nama--"
Yusuf langsung mencaritahu akta fotokopi kartu keluarga lama. Kemudian mencocokkan nama dan tanggal lahir Gwen dengan Rifky palsunya.
"Gwen?"
"Dia, anakku?"
"Gwen, bagaimana bisa dia--"
[Assallamu'alaikum. Tolong angkat teleponku, penting. Maaf jika aku mengganggumu malam-malam seperti ini, Rere]
Namun, pesan tersebut tak kunjung Rebecca balas. Rebecca sudah tidur waktu itu. Namun, Yusuf tetap tidak menyerah. Ia terus mencoba menelpon Rebecca sembari berjalan menuju kamar Gwen.
Ketika Yusuf hendak menyentuh ganggang pintu, ia mendengar Gwen sedang mengumpat dan bicara dengan dirinya sendiri. Yusuf memutuskan untuk tetap berada diluar kamar dan mendengar apa yang akan dikatakan oleh putri keduanya tersebut.
"Sial, sial, sial!"
"Jika Ayah tahu siapa aku sebenarnya, pasti dia akan mengusirku. Mampus kau Gwen, apa yang harus aku lakukan?"
"Apakah aku harus mengendap-endap seperti pencuri?"
"Atau aku harus bicara terus terang dan meminta buku tabungan itu kembali?"
"Oh, no! I can not get caught. Agrhh, lalu aku harus bagaimana?"
Gwen terus menyalahkan dirinya sendiri atas kecerobohannya sendiri.
"Dia sudah tahu jika aku adalah Ayahnya. Tapi kenapa dia tidak mau mengungkap identitas aslinya? Kenapa, Nak? Gwen, ini kamu? Kamu sudah besar dan mirip sekali dengan Ibumu,"
"Ayah rindu sekali denganmu, Nak." batin Yusuf.
Yusuf mengulurkan niatnya untuk membuka pintu kamar Gwen. Ia lebih memilih mengikuti alur sandiwara Gwen daripada menuruti egonya yang merindukan putri keduanya.
"Aku tidak ingin perjuangan putriku menjadi sia-sia. Aku akan ikuti apa yang akan dia lakukan saat ini." batin Yusuf.
Yusuf kembali ke kamarnya, membaca kembali nama orang tua yang tertulis pada buku tabungan tersebut.
~Jika cinta memang tak ditakdirkan untukku. Mengapa Engkau memberikan rasa cemburu ini kepadaku. Rasa sakit ini ketika Rere pergi masih membekas, apalagi sampai melihat wanita yang aku cintai sudah menjadi milik lelaki lain. Jika dia jodohku, maka dekatkanlah kami kembali, namun jika tidak .. aku akan terus berusaha untuk memilikinya kembali. Maafkan jika aku terlalu egois, ya Allah~ Yusuf Ali.
****
Alarm subuh membangunkan Rebecca dari tidur lelapnya. Ia sengaja minum obat tidur agar bisa istirahat dengan baik. Itu sebabnya ia tidak mendengar ada telpon maupun pesan masuk dari siapapun juga.
Meski sudah resmi bercerai dengan Yusuf, tetap saja Rebecca selalu menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslimah. Sholat dan puasa juga selalu ia lakukan. Meski tidak bersama Willy. Mereka juga tidak pernah melakukan hubungan badan kecuali keduanya sedang tidak sadar dan pernah terjadi sekali ketika Willy mabuk berat.
"Apa ini?"
"Hah?"
"Mas Yusuf? Yang bener aja? Dia telpon sampai 78 kali, pesan juga buanyak banget, ada apa?" gumam Rebecca.
Satu persatu pesannya ia baca. Rebecca heran kenapa Yusuf tiba-tiba menanyakan soal Gwen kepadanya. Sebelumnya memang sudah menjadi kesepakatan jika putra mereka belum bertemu, tidak ada komunikasi diantara mereka.
"Kenapa dia menanyakan, Gwen?"
"Apa Mas Yusuf punya firasat buruk?"
"Sebaiknya aku telpon Willy atau Chris saja."
Sudah beberapa kali mereka ditelpon oleh Rebecca, tetap saja tidak ada satupun diantara mereka yang mengangkat telponnya.
"Mereka dimana, sih? Kenapa tak ada yang mengangkat teleponku?" kesal Rebecca.
"Orang rumah!"
Rebecca kepikiran untuk menelpon asisten rumah tangganya. Beruntung sang asisten rumah tangga menjawab telponnya. Rebecca menanyakan keberadaan Gwen dan kondisi kamarnya.
"Nyonya, kamar Nona Lim kosong. Nona Lim pergi ke Jogja sekitar beberapa hari lalu. Tuan Willy yang mengantarnya, dan sampai saat ini belum kembali, hanya Tuan Willy yang kembali, tapi tidak dengan Nona Lim."
Tut … tut … tut ….