Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Tama bosan Dengan Misi



"Kalian hanya boleh melihat makanan ini saja. Cepat ambil menggunakan sapu tangan, dan masukkan ke dalam tas. Jangan sedikitpun ada yang kalian makan, paham?" Feng memberikan peringatan. 


"Memangnya ada apa dengan makanan ini?" tanya Tama berbisik. Sebab, ia bingung karena Feng sebelumnya menyuruhnya makan apa yang dihidangkan. 


Xia mengambilnya dan mencium aroma makanan itu. Hanya menciumnya masih dari jarak jauh, Xia sudah menebak jika di dalam makanan yang wanita itu hidangkan, mengandung racun.


"Jika kau mau tidur dalam waktu yang lama, kau makan saja. Huft, menyusahkan!" ketus Xia, meletakkan makanannya kembali. 


"Kau--" Tama sampai tak bisa berkata apapun karena Xia terus mengajaknya berdebat. 


"Apa!" tantang Xia. 


"Kalian bisa diam tidak? Mau sampai kapan kalian terus berdebat tidak berisi seperti ini? Seriuslah, kita sedang dalam masalah besar!" tegas Feng. 


Tama dan Xia pun diam. Mereka juga masih mengeluh karena di sana tidak mendapatkan jaringan. Ditambah lagi, hari juga sudah mulai siang, perkiraan bisa keluar desa siang itu, maka akan sampai kota malam hari.


Di sisi lain, wanita yang belum diketahui identitasnya itu sedang bicara bersama Dishi di lain ruangan. Wanita itu rupanya menginginkan Dishi tetap ada bersamanya. "Apa kau ingin pergi bersama mereka?" tanya wanita itu dengan ketus. 


"Mereka keluargaku, ada bukti jika aku adalah kakak dari gadis itu. Untuk apa lagi kau menahanku di sini?" Dishi berbalik tanya. 


Wanita itu menghela napas panjang, kemudian memasang senyum liciknya dengan berkacak pinggang. Seolah, sudah terjawab jika memang dirinya tidak ingin Dishi pergi. 


"Lepaskan aku, aku masih memiliki keluarga. Apakah kamu tega membiarkan adikku menangis seperti itu? Bukankah, kau dulu juga memiliki seorang adik, katamu?" lanjut Dishi.


Wanita itu dulu memiliki adik laki-laki yang begitu ia sanyangi. Sayangnya, adik lelakinya itu mengalami kecelakaan tragis dan meninggal di depan matanya, kala hendak menyebrang dari gapura desa mereka, sebelum menjadi gapura yang sangat buruk.


"Tapi kau tidak mengingat mereka. Lantas, Untuk apa kamu kembali kepada orang tidak pernah ada dalam ingatanmu?" ujar wanita itu dengan tenang. 


"Haih, tidak ingat matamu. Aku sangat merindukan istriku yang cantik. Bagaimana mungkin aku bisa betah di sini. Istriku yang paling cantik di dunia itu, pasti sudah menungguku dengan kekhawatirannya." batin Dishi. 


"Kenapa kamu diam? Kamu bahkan tidak bisa mengingat apapun, 'kan? Jadi untuk apa kamu kembali kepada keluargamu?" lanjut wanita itu. 


Dishi memang diam karena tidak ingin sampai wanita itu dan penduduk desa tahu jika dirinya pura-pura amnesia hanya untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Hanya dengan sandiwara hilang ingatan, apakah dirinya akan aman dari segala tindak orang di desa tersebut. 


"Tapi dengan kembali bersama mereka, Aku pasti bisa mengingat sesuatu tentang diriku," jawab Dishi. 


"Tapi kamu milikku. Aku berhak atas dirimu karena akulah yang menyelamatkan nyawamu. Apa kau lupa … Bagaimana cara aku menyelamatkan dirimu?" Wanita itu sampai berteriak. 


"Yang menyelamatkanku adalah seorang tabib. Kau hanya membantu mendorong kursi roda, membantuku menyiapkan makanan, baju kembang untuk menyiapkan air ketika aku hendak mandi. Sama sekali kau tidak pernah membantu kesembuhanku, karena yang melakukan itu adalah seorang tabib," tutur Dishi dengan wajah juteknya. 


"Huft, itu memang tidak salah. Tapi bagaimanapun juga aku yang merawatmu, kalau kamu kembali ke keluargamu, yang baru selama ini menemukan dirimu?" Wanita itu masih kekeh mempertahankan Dishi supaya tetap bersamanya. 


"Apa katamu? Manis? Apakah aku tak cukup manis bagimu? Mengapa kamu menginginkan sekali adikmu itu dibandingkan aku?" Kesal wanita itu seperti anak kecil.


"Bagiku yang paling manis, cantik, menggemaskan hanyalah istriku. Kalian tidak sebanding dengan istriku!" Dishi tidak pernah melupakan istrinya meski hanya sedetik saja. Menyebut namanya dalam hati, adalah hal yang ia bisa lakukan saat itu. 


Perasaan wanita itu kesal karena Dishi tidak pernah bersikap manis kepadanya. Sejak awal Dishi siuman dari pingsannya, Dishi tidak pernah tersenyum sama sekali. Dia menjadi diam dan tidak banyak bicara. Jangankan bicara, menjawab pertanyaan dari orang-orang di sana saja hanya pertanyaan terpilih yang diberikan jawaban olehnya. 


"Maaf kami ha--" mata wanita itu terbelalak ketika melihat semua hidangan yang ada di atas meja hanya tersisa beberapa makanan saja. 


"Apa mereka sungguhan memakan, makanan yang aku hidangkan? Bagaimana mungkin ... Tunggu! Bagaimana bisa mereka masih baik-baik saja?" Batin wanita tersebut. 


"Kakak, makanan yang kakak berikan kepada kami ini sangat lezat. Aku jadi kenyang, terima kasih," celetuk Xia. 


Sisa makanan yang ada di bibir Xia, membuat wanita itu percaya jika memang mereka telah makan semua makanan tersebut. "Persetanan dengan kalian. Aku tidak peduli kalian ini keluarga dari dia atau tidak. Aku hanya ingin dia ada di sini bersamaku. Matilah kalian bertiga!" 


Ide Tama untuk meninggalkan bekas makanan di pinggir pipi Xia memang tidak sia-sia. Berkat drama kolosal yang ia tonton, Tama menjadi sedikit berguna bagi Feng di sana. 


Beberapa menit lalu, sebelum Dishi dan wanita itu keluar, Tama memberikan usul konyolnya itu kepada Feng. Awalnya, Feng tidak menyetujuinya karena itu pasti akan langsung ketahuan. Namun, karena ketiganya sudah sepakat untuk menggunakan akal daripada otot, jadi memang harus di coba. 


"Kalian mengobrol saja dulu, aku akan membantu beberapa pelayan menyiapkan tempat istirahat kalian," wanita itu kembali lagi ke dalam. 


Setelah wanita itu berlalu, kembali Tama meyakinkannya Dishi untuk mengingat dirinya. Tapi, sungguh malang. Dishi masih belum mau mengakhiri sandiwaranya karena tidak ingin membahayakan nyawa yang lain. 


"Haih, dia sudah tidak ingat dengan kita. Bagaimana ini? Padahal jika dia tahu bagaimana kondisi kak Aisyah, pasti akan merasa sedih," celetuk Xia. 


BRUAK!


Feng menendang kaki Xia. "Sakit, kak!" ketusnya. 


Tangan Dishi mencengkram kala mendengar nama istrinya. Selama ia hilang, Dishi selalu kepikiran dengan keselamatan jiwa dan raga istrinya. Setiap malam, dirinya selalu memimpikan wajah cantik istrinya dan tidak ingin bangun lagi. 


"Kamu jangan ngomong sembarangan. Bagaimana jika ada yang mendengar? Kita sudah sepakat untuk kau menjadi adik, aku dan Tama menjadi saudara sepupu baginya, bukan? Jangan mengacaukan rencana kita, Xia!" tegas Feng. 


"Aku hanya ingin dia ingat kita saja. Meski aku tidak dekat dengan kak Aisyah. Tapi kak Chen adalah kakaknya, aku juga tidak tega melihat kak Aisyah bersedih," lanjut Xia. 


"Hish, mulutmu itu lumpia!" saking gemasnya, Tama mencomot bibir Xia. Feng dan Tama memang belum ingin menceritakan apapun kepada Dishi sebelum Dishi bertemu dengan Aisyah. 


Kepergian Chen, Gwen, Rebecca, Lin Aurora, Puspa dan keluarga Wang yang lain, tidak harus diketahui Dishi secepat itu. Mengingat mereka juga sedang dalam perjuangan kembali ke kota. 


Feng dan Tama juga tidak ingin seperti Gwen dan Chen yang melakukan tindakan dengan kekerasan saja. Mereka lebih suka berpikir halus, dan bicara manis supaya lawan terlena. Kemudian, barulah mereka akan kabur membawa Dishi bersamanya.