
Pagi hari tiba. Sebelum ke kantor, Tama menyiapkan makanan juga untuk Dishi. Tama bergitu perhatian kepada surga adiknya itu. Sibuk di dapur, sampai Xia memanggil saja Tama tidak mendengarnya.
"Kak Tama!" teriak Xia sembari membenarkan seragam sekolahnya.
"Allahu Akbar!" Tama sampai senam jantung karena terkejut. "Apa kau bisa lebih sopan lagi? Tak bisakah sehari saja kau menjadi anak yang baik?" tegur Tama.
"Aku sudah memanggilmu berkali-kali sejak tadi. Tapi kau tidak mendengar panggilanku. Jadi, apakah salah jika aku memanggilmu dari dekat?" lirih Xia. "Aku minta maaf jika aku salah--" sambungnya.
"Haih, alasan saja." desis Tama.
Ting Tong…
Suara bel berbunyi. Tama meminta Xia untuk membukakan pintunya. Tangannya masih kotor dengan melumuri ayam menggunakan bumbu marinasi.
Tak selang lama, datanglah Sachi membawakan sarapan untuk semua orang. Sebelumnya, Sachi sudah ditelpon oleh Feng untuk menyiapkan makanan lebih satu porsi karena Dishi sudah kembali.
"Siapa yang datang?" tanya Tama.
"Saya, Tuan," jawab Sachi dengan senyuman.
Segera Tama mencuci tangannya dan menyambut kedatangan Sachi dengan senyum hangatnya juga. "Oh, kamu. Silahkan masuk. Apa yang kamu bawa itu?" sambutnya.
"Tuan Feng larut malam kemarin menelponku untuk menyiapkan sarapan untuk kalian semua dengan tambah satu porsi. Jadi … ini saya bawakan apa yang Tuan Feng perintahkan," jawab Sachi menunjukkan kotak makan yang ia bawa.
Perlakuan Tama kepada Sachi dinilai berbeda oleh Xia. Melihat itu, Xia menjadi tidak senang. Tama selalu bersikap acuh padanya, namun tidak dengan Sachi.
"Kenapa Kak Tama beda perlakuannya antara aku dan Kak Sachi? Apa kak Tama menyukai kak Sachi?" gumam Sachi, pergi menjauh dan masuk ke kamarnya.
Duduk di depan meja belajarnya dan segera mengemas perlengkapan sekolahnya. Ketika mengambil buku gambar, tak sengaja Xia menjatuhkan sebuah bingkai foto.
Dak!
Begitulah bunyinya.
Diambil bingkai tersebut. Fotonya bersama sang ibu dan ayahnya ketika dirinya berusia 5 tahunan. Saat itu, Chen berusia 14 tahun dan baru kembali dari Amerika untuk liburan musim panas.
"Andai saja, andai saja Ibu tidak melakukan kesalahan sebesar itu. Pasti kita masih berkumpul sampai sekarang. Aku jadi tidak sendirian lagi," ucapnya lirih.
"Kak Chen, aku sangat merindukanmu. Aku benar-benar sendirian. Tidak ada yang mau menerimaku dengan tulus. Pria yang saat bersamaku, telah menemukan wanitanya. Jika mereka bersama, lalu aku harus apa?"
"Katakan, aku harus apa?"
"Fokus sekolah saja? Aku bukan robot yang harus pintar dalam segala hal. Aku juga punya perasaan__"
Xia yang jarang sekali menangis, kembali berlinang air mata untuk ke sekian kali setelah kepergian keluarga besarnya.
"Xia, ayo kita sarapan. Dishi dan Feng juga sudah datang, kau mau ikut sarapan atau tidak!"
"Um, iya, kak! Tunggu sebentar!" sahut Xia.
Xia keluar dengan wajahnya yang murung. Di sana sudah ada Feng dan Dishi juga yang sudah siap sarapan. Meski mengalami down hebat semalam, Dishi masih bisa menjaga penampilannya. Hanya saja, saat itu dia tidak banyak bicara dan masih duduk di kursi roda.
"Pagi, Xia. Hari ini aku akan mengantarmu ke sekolah," ucap Sachi ramah.
"Em," jawab Xia.
"Jawaban apa itu, Xia? Kenapa kamu tidak sopan dengan orang yang lebih tua darimu? Di mana sopan santunmu?" tegur Feng.
"Iya, terima kasih mau mengantarku ke sekolah," ucap Xia setelah di tegur oleh Feng.
Meski begitu, Tama terlihat cuek saja di sampingnya. Mengingat kejadian kemarin, membuat Xia kesal sendiri karena Tama tidak mau memberikan apa yang ia mau ketika dirinya sedang ketakutan akan dibunuh.
"Sebenarnya pria ini memiliki hati atau tidak? Cuek sekali padaku." gumam Xia dalam hati.
Xia pun menatap Dishi. "Asisten Dishi, kau duduk di kursi roda lagi? Bukankah kau kemarin bahkan sudah sampai menyetir?" tanya Xia heran.
Dishi meletakkan sendoknya, menghela napas dan kemudian menatap Xia. "Tolong diantara kalian jangan ada yang mengabari istriku, bagaimana keadaanku yang sebenarnya, bisa?" ujar Dishi.
"Maksudnya apa?" tanya Feng, Tama dan juga Xia bersamaan.
"Aku masih belum bisa pulang ke Korea. Masih ada berkas yang hendak aku laporkan ke pihak berwajib dan meminta mereka menghentikan pencarianku. Lalu, semalam aku melihat beberapa laporan mingguan dari perusahaan glory world dan perusahaan lain mengalami kemerosotan hasil. Setelah semuanya sudah beres, aku akan kembali ke Korea dengan Dishi yang hilang ingatan dan kaki yang cacat seperti ini," ungkap Dishi.
"Apa maksudmu ini? Apa kau ingin mempermainkan adikku? Dia sudah mengalami mental down hebat dan kau--" ucapan Feng tersela.
"Aku belum selesai bicara, Tuan Hao," potong Dishi. "Kalian bisa mengabari istriku hari ini, jika aku sudah kembali dan mengalami hilang ingatan. Dengan seperti itu, aku bisa fokus memperbaiki statistik perusahaan dan istriku bisa merawatku. Aku hanya ingin menghabiskan waktu dengannya sebentar, tanpa aku melakukan apapun," Dishi pun tersenyum menatap potret sang istri di ponselnya.
Tidak ada maksud lain dari ucapan Dishi. Dia hanya ingin memberikan kesempatan Aisyah untuk merawatnya saja. Pagi itu juga, Feng memberikan kabar kepada Aisyah jika Dishi sudah kembali dan mengatakan bahwa ingatannya yang tersisa hanya dirinya sebagai Asisten pribadi Chen saja.
"Aku tidak bisa menelponnya. Mungkin di tidur atau sibuk, aku tidak tahu selisih waktu di sini dan di sana. Tapi aku sudah memberikan kabar sesuai dengan yang kau mau. Kau puas?" ketus Feng. "Awas jika kau permainkan hati adikku!"
"Terima kasih." ucap Dishi, tak sabar ingin bertemu dengan istrinya.
Mengulang semuanya dari awal, memang bisa melupakan sedikit kesedihan kepergian Chen, Gwen dan keluarga lainnya. Selang 7 menit, Tama selesai makan dan pamit hendak ke kantornya.
"Aku selesai. Dishi, aku akan tunggu kau di kantor secepatnya. Maaf hari ini aku tidak bisa mengantarmu melapor," ucap Tama.
"Kau bekerjalah, terima kasih sudah membantu sampai sejauh ini. Tuan Chen pasti bangga memiliki sepupu sepertimu, Tama," sahut Dishi.
Tama tersenyum. "Nona Sachi, aku sudah transfer bonusnya untukmu. Antar dia sampai ke sekolah dengan baik," sambung Tama kepada Sachi.
"Baik, Tuan Tama,"
"Feng, aku pergi dulu." tukas Tama menyentuh bahu Tama dan pergi.
Feng dan Dishi tidak mau ikut campur urusan pribadi Tama. Apalagi, insiden kabur kemarin memang membuat suasana menjadi canggung. Siapa yang tidak gugup, Tama sampai melihat belahan dada gadis berusia 15 tahun yang memiliki bentuk tidak sesuai dengan usainya. Lalu dengan senang hati menawarkan diri untuk melakukan hubungan yang tidak mungkin dilakukan sebelum ada sebuah ikatan pernikahan. Tama membutuhkan waktu berdamai setelah kejadian itu.