
Sampai di Kota, tepat pukul 1 dini hari. Tak tahu kemana arah tujuannya, Dishi memberhentikan mobilnya tepat di depan gedung yang pernah meledak ketika digunakan untuk acara resepsi pernikahan Chen dan Lin Aurora.
Melihat gedung itu sudah kembali megah, membuat Dishi malah semakin sedih. Teringat 8 minggu lalu, ketika malam sebelum ledakan terjadi, dirinya masih sempat mengobrol bersama dengan Chen.
"Kenapa berhenti. Apa kita sudah sampai?" tanya Feng terbangun.
"Tuan Hao, saya tidak tahu harus membawa kalian kemana. Maka dari itu, saya berhenti di sini," jawab Dishi.
"Kenapa begitu formal menjawabku? Bersikaplah seperti sebelumnya. Kita ini saudara, lagipula kau jauh lebih tua dariku. Panggil saja aku Feng dan jangan lagi bicara formal kepadaku," ujar Feng membenarkan posisi duduknya.
Dishi menunduk. Kembali melihat gedung yang menjadikan dirinya terakhir mengabdi ke keluarga Wang yang telah membuatnya menjadi orang yang hebat. Feng juga menatap gedung tersebut, mengingatkan akan kejadian malam ledakan dan mengingat Aisyah yang histeris malam itu.
"Ada apa? Kenapa mobilnya berhenti? Apa kita sudah sampai rumah?" Tama terbangun.
"Maaf jika mengganggu tidurmu. Aku hanya tidak tahu dimana kalian tinggal saat ini. Jadi, aku berhenti di sini," sahut Dishi.
"Biarkan aku yang menyetir. Aku akan membawa kalian semua pulang," ucap Tama hendak turun dari mobil.
"Tidak perlu. Kalian katakan saja, dimana kalian tinggal. Atau kalian tinggal di kediaman Wang?" tanya Dishi lagi.
Feng pun mengatakan bahwa kediaman dan seisinya sudah ia lelang. Semua uang hasil lelang juga sudah masuk ke rekening pribadi Aisyah. Mendengar itu, Dishi menjadi sedikit terkejut.
"Di lelang? Lalu, bagaimana dengan perusahaan?" tanya Dishi.
"Selama kau hilang, perusahaan yang ada di sini semuanya di tangani oleh Tama dan Ayden. Hish, anak itu harus bolak balik ke sini dan ke Korea hanya membantu menyetabilkan perusahaan," jawab Feng. "Tuan Jin dan Faaz, mereka mengatur ahli waris dari perusahaan dan semua harta milik keluarga besar Wang dan juga Lim, kasihan mereka berempat harus terlibat," lanjutnya.
"Tunggu, keluarga Lim? Seluruh keluarga besar Wang? Maksudnya?" Dishi masih belum paham.
Memang tidak ada yang perlu disembunyikan. Feng mengatakan jika hanya Xia yang masih tersisa di keluarga Wang. Saudara Tuan Wang yang lain pergi ke luar negeri untuk melanjutkan hidup mereka.
"Tuan Jovan? Dia … bagaimana dengannya?" Dishi masih penasaran.
"Dia sudah meninggal, di malam yang sama pasca ledakan itu terjadi," jawab Feng.
"Hah?" Dishi seolah masih tidak percaya jika Jovan juga sudah pergi.
"Setelah mendengar kabar ledakan itu, aku langsung membeli tiket dan datang kemari. Meminta Ai dan Paman Yusuf untuk menunggu saja di kediaman Wang. Karena Paman Yusuf bersikeras, akhirnya Ai pulang bersama dengan Tuan Jin," jelas Feng.
"Saat Ai dan Tuan Jin pulang, mereka melihat Jovan dan Lin Jiang meninggal di atas ranjang yang sama. Dokter forensik mengatakan jika keduanya meninggal karena menenggak racun. Sebab itulah yang mereka temukan ketika menjalankan otopsi." tukas Feng, tak terasa air matanya sedikit merembes.
Tak hanya tentang keluarga Wang saja yang Feng ceritakan. Tama pun juga mengatakan bahwa Gwen juga sudah pergi setelah melahirkan seorang putri yang cantik untuk suaminya.
"Nona Gwen … maksudmu, dia? Bagaimana bisa?" tanya Dishi.
"Dia meninggal sehari setelah ledakan itu terjadi. Aku rasa dia terpukul dengan meninggalnya Ibunya. Kita semua tahu, bukan? Gwen memang sejak bayi dibesarkan oleh Ibunya, Bibi Rere," sahut Feng.
"Jadi, apa kau bisa merasakan yang istrimu rasakan, Dishi? Dia sangat terluka dan pasti sangat sulit menjalani hidup. Ditambah lagi, kau hilang selama 8 minggu," timpal Tama.
"Hash, apakah kalian ingin menyingkirkan aku juga, menyusul keluargaku? Aku terserang hipo! Astaga!" teriak Xia tiba-tiba.
Saat itu memang musim dingin, jadi benar-benar sangat dingin, apalagi Xia hanya mengenakan dalaman saja bagian tubuh atasnya. Segera Dishi membawa laju mobilnya ke apartemen tempat tinggal Tama dan yang lainnya.
Setelah sampai, Feng memberikan kode pin rumahnya kepada Dishi untuk ditempati selama Dishi di Tiongkok. Feng juga harus stay di rumah sakit karena masa cutinya sudah habis.
"Kau menyewa apartemen di sebelahku, tapi kau tidak mengatakan padaku?" desis Tama.
"Siapa kau? Untuk apa aku memberitahumu?" ketus Feng. "Lagipula ini beli, bukan sewa, dodol! Aku tidak semiskin itu, epribadeh!" sambungnya.
"Aku bisa tinggal bersamamu jika kau tinggal di sebelah apartemenku, Feng!" seru Tama mulai nada tinggi.
"Agghhhrrr, sampai kapan kalian ingin bertengkar, hah! Aku ngantuk, lelah dan malas bersama kalian lagi. Bye!" Xia masuk ke rumah lebih dulu.
Mereka bertiga memang heboh jika sudah jadi satu. Meski susana ramai dan sudah aman, tetap saja Dishi merasa sedih atas semuanya yang terjadi. Meninggalnya seluruh keluarga besar yang telah membesarkannya membuatnya begitu kehilangan.
"Apakah aku bisa masuk dulu? Aku juga mau istirahat," ucap Dishi menyela perdebatan Feng dan Tama.
Feng mempersilahkan dan segera pergi ke rumah sakit. Sedangkan Tama, tetap masuk ke rumahnya sendiri karena tidak mau mengganggu waktu Dishi istirahat. Sebenarnya, Feng belum tugas malam itu. Hanya saja, memang ingin memberikan waktu Dishi sendirian.
***
Malam yang sunyi sepi, Dishi masih duduk diam di atas ranjang dengan lampu yang padam. Mengingat akan masa kecilnya ketika di angkat menjadi angkat kedua oleh Tuan Wang setelah Chen berusia 9 tahun kala itu.
Tuan Wang juga memasukkan Dishi ke sekolah international yang sangat bagus. Kakaknya, adik sepupunya, semua juga hidup di bawah naungan Tuan Wang.
"Tuan, maafkan aku. Maafkan aku yang tidak menjaga Tuan Muda dengan baik. Tapi kenapa kalian pergi semua meninggalkan aku?"
"Tuan Chen, kenapa kamu mendorongku saat itu? Padahal kita bisa pergi bersama menghindari ledakan itu,"
Malam itu, tangisan Dishi pecah. Hatinya begitu sakit kehilangan semua orang yang berarti baginya. Bagi Dishi, masih banyak yang belum ia wujudkan untuk keluarga yang telah membesarkannya itu.
Memandangi potret sang istri, semakin membuatnya sakit. Dishi merasakan apa yang istrinya rasakan saat itu. Kehilangan keluarga, dan kini mereka juga berpisah.
"Sayang, maafkan aku. Pasti kamu sangat terpukul dengan musibah ini. Aku tidak ada di saat kamu membutuhkan aku, aku minta maaf__"
Mengusap wajah istrinya meski hanya di layar ponselnya, sudah membuat Dishi jauh lebih baik. Esok hari, dia akan segera mengurus data diri ke kantor kepolisian untuk melapor dan juga sementara mengurus beberapa pekerjaan yang teah Chen dan Jovan tinggalkan.