Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Feng dan Tama



Tiba dimana Aisyah harus berangkat ke Korea bersama dengan Ayyana, keponakannya, Tuan Jin dan juga Ayden. Sangat berat bagi Aisyah untuk meninggalkan Ayahnya sendiri lagi.


"Ayah, jika Ayah kerepotan mengurus Rifky, aku bisa membawanya ke Korea. Minta Mas Tama atau Bang Raffa untuk mengurus semua dokumennya. Nanti akan aku jemput," ucap Aisyah tak tega meninggalkan sang Ayah. 


"Pergilah. Masih ada keluarga yang bisa membantu Ayah mengurus adikmu. Selesaikan pendidikanmu, dan jadilah seorang dokter ahli yang amanah," tutur Yusuf. 


Aisyah hanya mengangguk. Perpisahan itu seperti perpisahan saat Aisyah Putri Handika dulu dengan Rifky yang dimana memang ingin mengantar Aisyah ke Korea untuk menyelesaikan pendidikannya dan menjadi seorang dokter di sana. Aisyah Putri Handika, dulu harus meninggalkan kedua anak kembarnya, Airy dan Raihan kepada Leah dan Ruchan yang masih berusia 1 tahunan. 


"Ayah, jika Ayah perlu apapun, katakan kepadaku. Akan aku usahakan untuk segera pulang menemui Ayah," Aisyah masih sulit melepas tangan Ayahnya. 


"Pergilah, Ayah akan baik-baik saja. Kamu jaga diri di sana baik-baik. Akur dengan kakak-kakak kamu, ya…,"


"Tuan Jin, tolong jaga putriku dengan baik. Bimbing dia supaya bisa menjadi orang yang lebih baik lagi. Suaminya, menitipkannya padamu di sana. Jadi, aku juga akan percayakan Aisyahku kepadamu." tukas Yusuf.


"Baik, Tuan. Akan saya usahakan untuk menjaga pesan yang anda dan Tuan Dishi berikan." jawab Tuan Jin dengan tegas. 


Masih memiliki perasaan yang sama terhadap Aisyah. Akan tetapi, Tuan Jin tidak akan pernah mengambil kesempatan dalam kemalangan seseorang. Tuan Jin bahkan sudah sampai ikhlas jika memang dirinya tak dapat memiliki Aisyah. Melihat Aisyah tersenyum, adalah suatu kebahagiaan baginya. 


Berangkatlah mereka sore itu ke Bandara. Sengaja Aisyah hanya berpamitan dengan Ayahnya karena tidak ingin membuat keluarga yang lain khawatir akan dirinya. 


***


Di Tiongkok, Feng dan Tama masih sibuk dengan pekerjaan dan tugasnya mencari informasi tentang Dishi. Sudah seminggu lamanya kejadian itu berjalan, tetap saja pengacara keluarga Feng belum menemui titik terang. 


Meski sibuk dengan urusan perusahaan dan pencarian Dishi, Feng masih tetap lancar menjadi seorang dokter di rumah sakit tempat dia bekerja. Sesekali, ketika waktunya luang atau sedang tidak memeriksa pasien, Feng juga menyempatkan diri untuk menelpon Tama menanyakan kondisi perusahaan. 


"Bagaimana? Apakah meeting hari ini lancar?" tanya Feng. 


"Allahu Akbar. Kamu menelpon seharian sudah hampir 20 kali, Feng. Aku sepupumu, bukan istrimu. Geli tau!" kesal Tama kala menerima telpon dari Feng. 


"Astaga, aku memang sudah waktunya menemukan seorang wanita. Malam ini di club' bintang, apa kau mau ikut?" lanjut Feng dengan semangat.


"Ndasmu!" Tama langsung menutup telponnya.


Feng heran dengan sepupunya itu. Setiap kali di ajak pergi ke club' untuk menjernihkan pikiran, selalu saja menolaknya. 


"Apa dia tidak normal? Bisa-bisanya di ajak ke club' melihat dan bertemu dengan wanita cantik dia tidak mau. Benar-benar harus di kasih bimbingan ini!" gumam Feng sembari membereskan pekerjaannya. 


Tama sendiri mendapatkan pengalaman baru dengan melanjutkan usaha Chen sementara sampai kondisi stabil nantinya. Meski harus masuk les bahasa, tetap saja Tama melakukan itu dengan ikhlas hati. Bagaimanapun juga, almarhum Chen juga sepupunya. 


Ketika hendak mengambil air putih di sampingnya, Tama melihat foto Chen, Gwen dan Aisyah ketika berada di Bangkok. Mereka sama-sama masih lajang saat itu. Terlihat bahagia sekali dalam senyum mereka. 


"Senyum Aisyah yang seperti ini yang dirindukan boleh semua keluarga. Chen, Gwen, kita mungkin tidak seakrab antara aku dan Aisyah. Tapi aku sangat kehilangan kalian berdua. Baru 10 hari meninggalnya kalian, aku merasa hatiku sangat hampa,"


"Tidak banyak kenanganku bersamamu, Chen. Tapi kau tetap saudaraku. Aku janji, aku akan menjaga Aisyah, Rifky dan juga Putri dari Gwen,"


Seketika air mata Tama mengalir. Tama yang jarang sekali bisa menangis, kali itu sampai tidak bersuara tangisnya. Pria berusia 24 tahun itu meras dunia bagai tak adil bagi ketiga saudara kembar itu.


"Kalian sejak kecil terpisah. Saling mencari dan di pertemukan hanya sebentar di usia kalian yang ke 9 tahun. Lalu, setelah sekian lama, kalian bertemu kembali. Hanya 2 tahun kurang, belum ada 2 tahun kalian sudah berpisah kembali,"


"Allah sangat menyayangi kalian berdua. Dimana kalian berdua sudah kembali menjadi seorang muslim dan muslimah, sebagaimana iman kalian yang sudah kalian bawa sejak lahir, Allah memanggil kalian,"


"MasyaAllah. Allah sangat menyayangi kalian, Chen, Gwen. Aku akan selalu mengirim doa kepadamu di dalam setiap sujudku." Tukas Tama mengusap air matanya. 


Waktunya pulang kerja. Seperti biasa, Feng akan menjemput Tama pulang. Dia sudah menunggu di depan perusahaan dengan lambaian tangannya yang dirasa aneh bagi Tama. 


"Astaghfirullah hal'adzim. Dia terlihat begitu konyol. Semakin lama, aku malah semakin takut dengan kepribadiannya itu," pekik Tama. 


Tanpa tersenyum kepada Feng, Tama mendorong Feng yang menghalangi pintu mobil dan segera masuk. "Apa kau sedang marah padaku?" protes Feng. 


Tama pun menurunkan kaca mobilnya. "Kau ... sangat menjanjikan!" umpatnya sembari menutup kaca mobilnya kembali. 


"Eh, dasar jomblo! Buka! Buka pintunya!" teriak Feng. "Tama! Astaga, buka pintunya atau aku akan memecahkan kacanya. Tama, buka!" 


Kembali Tama menurunkan kaca mobilnya dengan raut wajah kesal. "Apa kau bodoh? Kau yang menyetir, kau bisa masuk dari sebelah sana, Feng. Lama-lama, aku akan menerjunkan mu dari lantai 50, mau?" kesalnya. 


Feng cengegesan, dia langsung berlari ke pintu sebelah dan masuk ke mobil. Masih dengan kekonyolannya, Feng malah menatap Tama dengan tatapan manja. 


"Alhamdulillah 'ala kulli haal, robbi innii a'udzubika min haali ahlinnar," ucap Tama. 


"Apa artinya?" tanya Feng penasaran. 


"Segala puji bagi Allah atas setiap hal. Yaa rabb, aku berlindung kepadamu dari tingkah laku ahli neraka," jawab Tama dengan entengnya. 


PLAK!


Satu tamparan reflek dari tangan Feng mendarat di pipi Tama. Membuat Tama semakin geram dengan tingkah Feng yang aneh. 


"FENGYING HAOCHUN! Apa kamu mau mati, hah? Kenapa kau bertingkah seperti kaum ... Hash, astaghfirullah hal'adzim, bahkan aku malas untuk menyebutnya," kekesalan Tama mulai memuncak.


"Maksudnya apa? Kaum pelangi, ha? Aku normal, pria normal. Aku masih suka perempuan. Tama, pikiranmu itu sangat kotor. Sebaiknya kau cuci segera! Ckckck, kau menjadi takut padamu," Feng memutar balikkan fakta. 


"Chen jauh lebih baik darimu meski dia sombong. Menyesal sekali aku datang kemari denganmu. Faaz dan teman Aisyah, lebih laki dirimu, Asep!" Tama masih saja kesal.


"Woy, aku lakik ini, LAKIK!" terima Feng. 


Mereka pun lahirnya bertengkar karena keisengan yang dilakukan oleh Feng. Memang Feng bercanda di waktu yang tidak tepat. Sehingga membuat Tama sedikit kesal, apalagi Tama juga jarang sekali bisa di ajak bercanda sepeti Chen dulu.