
"Tuan, mari rebahan dulu. Kami akan memeriksa Anda hari ini," pinta perawat itu dengan lembut.
"Untuk apa saya berbaring? Jangan-jangan kamu mau mengambil keuntungan dariku pula. Pergilah dari hadapanku!" usir Chen.
Chen terus menolak saat ketika perawat itu memintanya untuk berbaring dan kembali pasang infus. Rupanya, Chen takut akan jarum suntik. Lagi-lagi, Rebecca dan Lin Aurora di kejutkan dengan kenyataan Chen yang unik.
"Chen, kau takut jarum suntik?" tanya Lin Aurora.
"Si-siapa bilang? Aku sudah sembuh, untuk apa harus di suntik?" elak Chen.
"Tuan, tolong bekerja samalah. Anda masih belum sembuh, loh!" ucap perawat itu.
"Tidak! Aku bilang tidak, ya berarti tidak! Maksa banget,s ih!" cetus Chen.
Tatapan datar Rebecca menandakan jika Chen terlihat jelas seperti Ayahnya yang takut dengan jarum suntik. "Lama!" keburu Rebecca totok dan akhirnya Chen pingsan lagi.
Daya tahan tubuh Chen memang kurang bagus. Jadi, sedikit saja menerima pukulan, Chen akan pingsan dengan mudah. "Wong masih loyo begini kok susah dibilangin. Ayo, suster! Segera tangani anak laki satu ini!" perintah Rebecca.
"Baik,"
Lin Aurora tertawa. Tak menduga jika calon mertuanya bisa melakukan itu kepada anaknya. Kehebohan di rumah sakit karena Chen membuat semua orang lelah. Airy memberikan kabar jika jenazah Ilkay akan datang sore nanti. Masih ada waktu bagi Chen dan Gwen mengantar Ilkay ke peristirahatan terakhirnya.
Sementara itu, di Korea, Aisyah selesai menjalani ujian. Setelah ujian, akan ada liburan sebentar dan setelah masuk, Aisyah sudah harus pelatihan/magang. Aisyah keluar dengan wajah sedikit sumringah. Dalam keadaan berduka, Aisyah mampu menjalani ujian dengan baik.
"Jadi makan bersama?" tanya Bora, merangkulnya dari belakang.
Aisyah berpikir. Malam itu, ia ingin menggunakan waktu berdua dengan suaminya. Jadi, Aisyah pun menolaknya. "Maaf, aku tidak bisa. Kau tau, aku masih--" ucapan Aisyah terputus.
"Aaaa … aku tau. Jika begitu, aku akan pulang lebih dulu. Selamat jumpa di lain waktu, Ai. Sebentar lagi kita pasti akan magang. Pasti kita juga berhasil dalam ujian itu. Tata Aisyah …."
Mereka pun berpisah tepat di depan gedung tinggi itu. Segera Aisyah suaminya. Melihat mobilnya kosong, Aisyah pun menelpon Dishi, karena ia sudah berkeliling ke rumah makan sekitar, tidak menemukan Dishi sama sekali.
"Assallamu'alaikum. Kamu di mana, sih? Aku sudah keliling di sini, di mobil juga kamu tidak ada. Sebenarnya kamu dimana?" tanya Aisyah.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabaraktuh, cantik. Berbalik lah … aku sudah ada di belakangmu," jawab Dishi dengan suara yang berbisik.
Aisyah pun menoleh. Ia melihat Dishi memang sudah berdiri di belakangnya dengan membawa sebuket bunga dan sekotak cokelat untuknya. Langkahnya perlahan melangkah menuju suami tercintanya. Aisyah pun bertanya, "Apa ini?"
"Untuk wanita satu-satunya yang aku miliki, satu-satunya wanita yang aku cintai, dan satu-satunya manusia yang membuatku semangat lagi untuk menjalani hidup ini," ucap Dishi.
"Ai. Sebelumnya, terima kasih telah menuntunku mengenal Allah, mengajarkan aku tentang agama yang selama ini tidak aku ketahui. Terima kasih, meski dalam hitungan sebentar … kamu telah memberiku kesempatan menjadi seorang Ayah,"
"Ilkay memang telah tiada. Tapi, kita tidak seharusnya selalu bersedih. Ilkay tidak akan pernah tergantikan, sayangku. Apakah … Ilkay masih bisa menjadi seorang kakak setelah ini?" tukas Dishi penuh harap.
Aisyah pun tertawa mendengar ucapan Dishi yang terkahir. "Ada apa? Apa aku salah bicara?" tanya Dishi.
"Suamiku, awalnya aku sangat terharu dengan semua ini. Tapi, bagian terakhir .. mengapa jadi membagongkan sekali? Jika kamu mau minta malam pertama, katakan saja!" seru Aisyah dengan senyum di bibirnya.
"Setelah tujuh harian Ilkay, bagaimana? Kita memang tidak bisa pulang. Tapi, alangkah baiknya untuk sekarang jangan dulu," jawab Aisyah.
"Tapi, kamu memang mau?" tanya Dishi memastikan.
Aisyah mengangguk. "Asha!" sorak Dishi girang.
Dishi sampai menggendong Aisyah dan terus mengucapkan terima kasih. "Apa aku boleh memelukmu?" tanyanya.
"Ini di depan umum. Sebaiknya kita pulang jika mau peluk cium seperti itu!" jawab Aisyah.
Aisyah pun telah memberi lampu hijau untuk Dishi lebih jauh lagi. Mereka merencanakan jalan-jalan sebentar sebelum pulang. Menikmati kencan setelah pernikahan, meski memang baru saja kehilangan sosok malaikat kecil yang selalu mewarnai hidupnya selama satu tahun terakhir.
---------------------
Seminggu berlalu. Kepergian Ilkay memang menunda semua acara. Pernikahan siri Chen dan Lin Aurora di undur selama itu. Lalu, Gwen dan juga Agam harus membawa Rifky pulang ke rumah mereka. Rebecca mulai terganggu kesehatannya akibat luka yang pernah ia alami saat hilang selama satu bulan. Begitu juga dengan Aisyah yang mengisi liburannya hanya duduk diam di rumah.
Sesuai dengan janji yang Aisyah berikan, Dishi pun menagihnya. Sore itu, Dishi meminta tolong kepada Bora untuk mengajak Aisyah keluar sebentar. Sebab, ada sesuatu yang ingin Dishi lakukan untuk Aisyah malam nanti.
"Kenapa kamu mengajakku keluar sore ini? Aku malas jalan-jalan tau!"
"Astaga, apakah aku sudah tidak lagi penting bagimu? Aku ini sahabatmu, bukan musuhmu, helo!" sulut Bora.
"Ih, biasa saja, dong! Ada apa? Cepat katakan, kenapa kau mengajakku ke toko buku?" lanjut Aisyah.
Bora mengecek suhu tubuh Aisyah lewat keningnya. Bora sangat pandai dalam berakting, ia menggunakan masalah magang untuk membantu Dishi.
"Aisyah Adelia Putri, sebentar lagi kita akan magang. Jadi, kita harus persiapkan diri, dong! Kita baca-baca, cari ilmu lain juga. Bukankah, dalam seminggu ini kita juga tidak belajar?" alasan Bora.
"Masuk akal juga. Baiklah, ayo kita masuk!" Aisyah merangkul Bora. Aisyah ini jauh lebih tinggi dari Bora, jadi setiap kali merangkulnya, membuat Bora semakin jelas lebih pendek darinya.
Tak sengaja, mereka pun bertemu dengan Tuan Jin yang juga ada di toko tersebut. Bora mengajak Aisyah untuk menyapa kakak sepupunya itu. "Oppa!" panggilnya.
"Oppa, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Bora.
"Apa kau buta? Orang jika berada di toko buku, memangnya mau apa lagi?" ketus Tuan Jin.
"Hish!" desis Bora.
"Selamat sore, Tuan Jin. Anda … membeli buku anak-anak? Untuk di sumbangkan atau ….," sapa Aisyah.
"Oh ini. Iya, saya sedang mencari buku anak-anak. Kebetulan, saya akan mengunjungi panti asuhan dimana saya pernah tinggal dulu. Jadi, membawakan anak-anak itu hadiah, adalah cara terbaik untuk membuatnya tersenyum," jelas Tuan Jin.
"Oh, anda pernah tinggal di panti asuhan. Tidak heran jika Tuan bisa seperhatian itu dengan mendiang Ilkay. Saya terima kasih sekali dengan itu."
Mereka pun mengobrol di cafe sebelah toko buku. Tuan Jin mengajak Aisyah untuk pergi bersamanya mengunjungi panti asuhan tersebut. Tentu saja, Tuan Jin meminta Aisyah untuk mengajak Dishi bersamanya.