
“Lah, pertanyaan dariku menyinggungnya, ya? Kok, Gwen marah?” gumam Agam bingung sendiri.
Tak ada pilihan lain, Agam menyusulnya masuk ke kamar. Menanyakan apa yang sekiranya terjadi, mengapa Gwen yang biasanya mampu menahan emosi, malam itu malah emosinya meledak-ledak.
“Dek, kamu kenapa, sih? Apakah pertanyaan Mas ini menyinggung kamu?” Tanya Agam dengan lembut, bahkan Agam juga mengusap kepala Gwen dengan lembut.
“Aku lagi marah tau!” tepis Gwen kasar.
“Astaghfirullah hal’adzim. Seharusnya Mas yang marah, karena kamu memiliki rahasia, Dek. Kenapa malah kamu yang marah sama Mas? Mas minta maaf jika Mas salah, tapi alangkah baiknya, kita membahas masalah itu dengan hati dan pikiran yang dingin. Mas kecewa sama kamu, Dek,” Agam pergi begitu saja.
Meski kesal karena Gwen bersikap seperti itu, tetap saja Agam tak bisa marah dengannya. Bahkan, Agam sampai meneteskan air matanya kala spontan mengatakan dirinya kecewa kepada istri yang katanya imut itu. “Astaghfirullah, apa yang sudah aku katakan ini? Jika pun kecewa,tidak seharusnya aku katakana,” sesalnya.
“Tapi, dia sedang kesal. Jika aku masuk lagi, pasti dia akan semakin kesal. Lebih baik aku biarkan saja. Mungkin istriku itu masih membutuhkan waktu untuk menjawab pertanyaanku,” lanjutnya dengan pasti.
Agam pun menulis disebuah kertas kecil, ia meminta izin untuk pergi ke Pesantren untuk membahas acara khatmil Qur’an yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Sayangnya, kertas itu malah terjatuh dan masuk ke bawah sofa. Beberapa saat kemudian, Gwen membuka pintu kamarnya. Berniat untuk meminta maaf dan menjelaskan semuanya.
Akan tetapi, Gwen tidak menemukan dimana suaminya berada. “Yah, Mas Agam sudah pergi, ya? Kok,nggak pamit,sih?” gumamnya. “Apa dia marah sama aku karena uang itu? Harusnya aku bahas ini sejak awal dulu,” lanjutnya kembali ke kamarnya.
Gwen sendiri merasa dirinya menjadi sedikit emosional beberapa hari terakhir. Saking sedihnya sang suami pergi tidak berpamitan, Gwen sampai tertidur di kamar. Begitu juga dengan Agam, selesai mendiskusikan acara penting itu, dirinya malah ketiduran di samping masjid dengan beralaskan tikar saja.
Sampai pada tengah malam, Gwen terbangun dan tidak mendapati suaminya di sampingnya. “Jam berapa ini? Kenapa Mas belum masuk kamar, ya? Apa Mas malah ketiduran di sofa? Sebaiknya aku cek sajalah!” Gwen turun dari ranjangnya dan segera cek ke ruang tamu dan tengah, memastikan suaminya ketiduran atau tidak.
Sudah bolak-balik, Gwen tetap tidak menemukan suaminya dimana berada. Ia pun beranggapan jika suaminya benar-benar marah karena uang itu. Mulai berpikiran negatif tentang suaminya. Mengira sang suami lebih percaya kepada Syifa yang tiba-tiba muncul kembali.
“Hua, Mas kok gitu, sih? Mas belum pernah marah sama aku sampai begini, loh! Kenapa juga Mas lebih percaya omongan si beruk Syifa. Kenapa malah tidak percaya sama aku yang jelas-jelas adalah istrinya_”
Gwen terus menangis dengan pikiran negatifnya. Tanpa pikir panjang lagi, Gwen malah melarikan diri dari rumah dengan membawa semua pakaiannya. “Mas sudah nggak sayang aku lagi! Katanya pernikahan sebelum satu tahun itu masih bisa romantis. Ini belum ada setahun, kelinci!” umpatnya sembari membereskan pakaiannya ke koper.
Jam tiga pagi, Gwen berangkat di jemput oleh orang kepercayaannya dan diantar ke markas terlebih dahulu. Kemudian kembali ke rumah orang tuanya dengan keadaan marah. Gwen pergi ke rumah lama keluarganya yang masih kosong. Sementara Agam malah masih lelap karena kelelahan sampai tertidur di luar mushola.
“Loh, bukannya itu Ustadz Agam, ya?”
“Mana?”
“Itu—“
“Oh iya, kenapa tidur di sana, ya?”
“Jangan-jangan ketiduran lagi! Ayo kita bangunkan beliau. Takutnya istrinya malah cariin,”
Beberapa santri membangunkan Agam. Agam sediri sampai kaget mengapa dirinya sampai tertidur di sana. Ketika melihat jam didinding mushola, ia terkejut. Tanpa mencuci muka, Agam langsung berlari sembari mengucapkan salam dengan mimik wajah yang panik.
“Astaghfirullah hal’adzim. Kenapa aku sampai ketiduran. Istriku pasti akan mengira kalau aku marah padanya. Sebaiknya dia sudah tidur sejak aku keluar tadi,” ucapnya dalam kepanikan.
“Istriku!”
Agam berlari ke kamar. Padahal sudah sangat pelan ia membuka pintu, berharap istrinya masih
tidur dengan tenang di ranjangnya. Namun apa yang ia temukan? Istrinya tak ada
di kamarnya. Pintu almari baju juga terbuka sedikit.
“Tumben pintu almari terbuka? Dimana istriku?”
Pikiran Agam sudah mulai kacau. Ia mendongak keatas almari dan melihat koper milik Gwen sudah tidak ada. Agam menghela napas panjang. Menjernihkan pikirannya dengan terus beristighfar. Ia segera mengambil kunci mobilnya dan mencari istrinya ke rumah mertuanya.
“Gwen Kalina Lim, apa yang kamu lakukan? Kenapa dengan dirimu ini?”
“Aku hanya menanyakan bukti transfer itu. Kamu malah marah tanpa jelas, dan sekarang …?”
“Astaghfirullah hal’adzim,”
Sepanjang perjalanan, Agam terus berdoa sembari menyebut nama istrinya agar bisa membuatnya lunak dan kembali pulang bersamanya ke pesantren. Waktu tempuh membutuhkan sekitar 1 jam lebih 30 menit. Agam sampai di rumah mertuanya, dan mendapati istrinya sedang tertidur di teras.
“Ya Allah, cintaku …,”
“Sayang—bangun. Ayo pulang, jangan tidur di sini, ini dingin, loh!”
“Kamu juga kabur kenapa tidak membawa kunci rumah, sih?”
Begitu sayang dan perhatiannya Agam kepada istrinya. Sembari menggendong sang istri, Agam membuka gembok rumah dan segera membawa istrinya masuk. Agam tetap tidak marah kepada Gwen karena kabur. Agam malah merasa bersalah sendiri, tetap memperlakukan Gwen dengan lembut.
“Sudah jam setengah lima. Sebentar lagi tiba saatnya salat subuh, aku bersiap dulu untuk salat,” gumam Agam, meninggalkan istrinya di kamar.
Mendengar suara adzan subuh, Gwen terbangun dalam keadaan bingung. Ia masih ingat beberapa jam lalu, meninggalkan rumah dengan keadaan emosi, sampai kunci rumah tidak terbawa. “Aku sudah di kamar? Siapa yang membawaku masuk?” gumamnya masih terus menatap kamar lamanya itu.
Klek!
Suara gangga pintu di buka, Gwen menjadi waspada mengira bahwa itu adalah orang yang jahat. “Heh, ada seseorang di kamar mandi?”
“Siapa dia? Orang jahat? Aku masih utuh, tapi kenapa di—“
Otak Gwen seketika nge-lang. Ia terdiam sepi kala melihat suaminya baru saja selesai mandi. “Sudah bangun? Ayo, kita salat subuh berjama’ah,” ajak Agam.
Menyembunyikan rasa malu, Gwen menjadi salah tingkah sendiri. Ia menutupi wajahnya menggunakan selimut dan segera lari ke kamar mandi. Rasa ingin teriak pasti ada dalam diri Gwen. Ia terlalu malu untuk memasang wajah di depan suaminya. Sudah niat kabur karena kesal, malah pulang lupa membawa kunci, dan alhasil dirinya tidak bisa masuk, terpaksa tidur di teras.