Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Drama Bersama Musuh



"Kenapa begitu, Tuan Hao? Apa yang terjadi?" tanya Asisten Dishi penasaran. 


"Sejak pagi tadi, kenapa kamu jadi tidak jelas begini, sih? Apa yang terjadi, Feng!" Chen kembali terpancing emosi. 


"Ck, tenanglah!" bentak Feng. 


Feng mengambil napas dalam-dalam, kemudian mengeluarkan secara perlahan. "Aku melihat Jackson Lim dan juga Ibu tirimu tadi. Sepertinya, dia memulai pergerakan. Aku hanya menduga, jika incarannya saat ini adalah anakmu," jelas Feng. 


"Katakan dengan jelas, atau aku akan memotong lidahmu," desis Cheng. 


"Sebelum kau melakukan itu, aku sudah lebih dulu membuatmu sekarat karena racunku," balas Feng. 


"Tak bisakah kalian lebih waras sebentar? Ini ada apa, lalu kenapa. Jangan lah seperti anak kecil begini lah!" sahut Gwen kesal.


"Masalah Asisten Dishi ke sini kita bahas nanti. Ada apa Ko? Apakah ada sesuatu yang terjadi? Sikapmu hari ini, tidak seperti biasanya. Walaupun kita sudah lama tidak bertemu, tapi aku tau sifatmu itu seperti apa, Ko?" tanya Gwen. 


Sebenarnya, Feng tidak mau orang lain tahu apa rencananya. Namun, hanya separuh dari kenyataan saja Feng mengungkapkannya. Feng mengatakan bahwa perusahaan besar keluarganya telah di retas oleh seseorang yang di selidiki dari kediaman Wang. Seluruh keluarga Hao menuduh keluarga Wang melakukan pengkhianatan. 


Akan tetapi, Feng tidak percaya itu. Ia dan salah satu Pamannya yang baik mencari cara agar dua keluarga itu tidak berselisih kembali. "Karena aku pusing dengan masalah ini, aku mengajak kau dan Jovan untuk merayakan ulang tahunmu bersama Ai. Ya bagaimana lagi, aku tidak ingin juga terlibat dalam masalah itu," tukas Feng masih menutupi kebenaran yang sesungguhnya. 


"Tunggu! Tuan, bukan maksud saya meragukan penyelidikan keluarga Anda. Tapi, tidak semua sistem perusahaan Wang yang memegang Tuan Chen. Di dalam perusahaan yang saat ini bekerja sama dengan perusahaan keluarga Anda, ada saham gabungan juga dari Nyonya pertama dan Tuan besar Natt," jelas Asisten Dishi. 


"Aku tidak tau itu dan tidak mau tau. Aku hanya kesal saja, karena sistem peretas itu adalah nama Chen," ungkap Feng dengan santai. 


"Apa? Bagaimana mungkin? Aku sudah tidak diperusahaan itu selama dua bulan terakhir. Kau tau sendiri, aku sedang menangani perusahaan lain yang saat ini telah di jabut sahamnya oleh kleuarga Tuan Natt," Chen mencoba membela diri. 


"Aku mana tau, itu urusanmu, bukan urusanku!" cetus Feng. 


Asisten Dishi masih terus berpikir, tak mungkin baginya jika perusahaan sebesar itu sampai bisa di retas sistemnya. Sementara Gwen memperingati ketiganya untuk tidak membawa masalah itu di depan Aisyah. 


"Dengar, ini nantinya pasti akan berimbas ke keluarga Lim juga. Mami sedang hamil besar, aku tidak ingin ada apapun yang terjadi padanya dan juga calon adikku," Gwen memperingati kedua kakaknya. 


"Ditambah lagi, Kak Aisyah tidak boleh terlimbat kembali. Sudah cukup dia menerima penusukan, menerima peluru untuk melindungi kita. Dia bukan benteng pertahanan kita,"


"Aku tidak ingin dia terluka lagi. Dia tidak boleh masuk lagi dalam dunia hitam kita yang bengis ini. Jadi, kumohon kalian bertindak diam-diam saja. Jangan sampai kakakku terluka lagi," bahkan Gwen bicara masih dengan gemetar. 


Masih sangat jelas diingatannya. Selalu Aisyah yang terluka jika masalah dunia hitam yang ada dalam keluarga lainnya itu. Aisyah juga sedang fokus belajar, tak ingin Gwen merusak masa depan kakaknya hanya karena masalah keluarga lain. 


Saat mereka sedang bersitegang, Aisyah datang menyapa mereka. "Assallamu'alaikum, kenapa kalian di sini? Ustadz Agam dan Jovan sudah masuk, mengapa kalian masih di sini? Apa yang kalian diskusikan tanpa diriku?" 


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh, Kak Aisyah … aku rindu--" Gwen memeluk Aisyah dengan erat. Betapa ia merindukan kakaknya yang super tegas itu. Sudah lima bulan lebih mereka tidak bertemu. 


Mereka pun melepas rindu, saling mengucapkan bertambahnya umur mereka dan berpelukan erat. "Aku senang kalian bertiga masih bisa berkumpul. Yakinlah, aku melakukan ini demi kebaikanmu Chen. Aku tidak mau Kakek dan Pamanku yang lain sampai menangkapmu dan Jovan, makanya aku bawa kau kemari merayakan ulang tahun bersama dua saudarimu." batin Feng. 


Chen merasa ada yang masih disembunyikan oleh Feng. Ia belum tenang jika Feng tidak menceritakan semuanya. "Asisten Dishi, tolong kau urus se--" ucapan Chen di sela oleh Aisyah. 


"Urusan apa? Dia mau berlibur, jangan ganggu liburannya! Ini pertama kalinya Kak Chen merayakan ulang tahun bersama kami, kenapa masih mau bahas pekerjaan, hah?" sela Aisyah seidikit tak rela jika Asisten Dishi terus diperintah olehnya di waktu liburan. 


"Maaf," ucap Chen singkat. 


"Ayo masuk. Hari ini, kita akan buka kado pertama dari Puspa untuk Kak Chen. Dia mengirim kalain berdua kado ke sini. Kenapa dia tau kalau kalian akan kesini, sedangkan aku tidak, hah? Mengesalkan!" Aisyah menarik tangan Gwen dan Chen masuk ke apartemennya. 


Sementara Asisten Dishi menahan tangan Feng untuk membicarakan hal lain. Namun, Feng menolaknya dengan alasan demi kebaikan semuanya. Merasa memang tak pantas ikut campur sebelum di perintahkan, Asisten Dihsi hanya bisa diam saja. 


"Kamu duluan saja, aku akan menelpon seseorang," perintah Feng. 


"Baik, Tuan," jawab Asisten Dishi. 


"Asisten Dishi," panggil Feng kembali. 


"Iya, Tuan. Ada yang bisa saya lakukan untuk Anda?" tanya Asisten Dishi dengan sigap. 


"Bisakah kamu berjanji padaku?" ujar Feng. 


"Apa itu, Tuan?" 


"Aku akan ditugaskan di perbatasan minggu depan. Bisakah kamu menjaga ketiga adikku yang kembar, yang bandel dan yang paling menyebalkan kecuali Aisyah itu? Selama aku pergi, tolong kamu jaga mereka, laporkan semua masalah kepadaku nantinya. Apakah bisa?" 


Asisten Dishi bingung mau menjawab apa. Jarang sekali seorang dokter seperti Feng ditugaskan di luar daerah, apalagi sampai ke perbatasan. Namun, jika memang itu sudah menyangkut keselamatan Tuan dan wanita yang dicintainya, Asisten Dishi akan melakukan itu tanpa pamrih. 


"Tuan, bisakah Anda katakan kepada saya. Apa yang sebenarnya terjadi?" 


Tak ada orang lain selain Asisten Dishi yang mampu membantunya saat itu. Feng akhirnya mau membuka rahasia apa yang ia sembunyikan dari Chen dan kedua saudari kembarnya. Apa yang terjadi, smeua adalah kelakuan Jackson Lim dan juga Cindy yang tak henti-hentinya ingin membuat keluarga Lim maupun Wang celaka. 


Ketika mereka bicara, rupanya ada dua orang yang mengintai mereka. Feng menyadari itu, ia pun menelpon ornagnya untuk melakukan sesuatu kepada mata-mata yang dikirmkan oleh Cindy. 


"Tangkap mereka, jika mereka masih tidak bisa memberikan informasi apapun, bunuh!" tegas Feng. 


"Tuan, membunuh itu~" ucapan Asisten Dihsi terhenti ketika Feng memintanya untuk diam. 


Setelah menutup telpon, Feng mengaggumi Asisten Dishi yang mampu menjaga keimanannya. Meski dulunya Asisten Dishi juga seorang pembunuh bagi Chen, saat ini dirinya sudah tak lagi mau melakukan itu. Ia lebih memilih untuk mengintrogasinya dengan lembut.