Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Leo Tertangkap



"Aku harus membereskan Leo. Jika tidak, dia akan menjadi penghalang utama untukku!" desis Raza. 


"Tuan, ada perintah untuk kami? Maaf kami sedikit terlambat," ucap seseorang tiba-tiba muncul di belakang Raza. 


"Awasi pria itu!" perintah Raza. "Jangan sampai dia mengetahui siapa kita yang sebenarnya," lanjutnya dengan sikapnya yang dingin. 


Di kampus, Aisyah terus kepikiran dengan bagaimana Raza bisa menjadi anak angkat Jackson Lim. Sebab, harus ke keluarga Raza jauh dari dunia seperti itu. Yang Aisyah tahu, Ibunya Raza sangat baik, terlihat lemah lembut dan penyayang. 


"Ck, kenapa juga aku mulai kepikiran. Bagaimana bisa dia menjadi anaknya Jackson Lim, yang sebenarnya Jackson ini adalah adik angkat Ibuku juga?" gumam Aisyah. 


Di saat sedang memikirkan Raza, orang-nya menelpon dirinya saat itu. Aisyah hanya ingin hidup damai, ia tak ingin membuat masalah dengan orang lain selagi hidupnya tak pernah di usik. Aisyah belum tahu saja, jika Raza mempersiapkan rencana yang akan membuatnya merugi. 


"Maaf, aku sedang di kampus, Kak. Kakak bisa hubungi aku lagi nanti." -, pesan yang Aisyah kirim kepada Raza. 


"Baiklah, selamat belajar dan semangat!" -, balas Raza dengan emoticon engkol. 


Selama Aisyah mengetahui siapa Raza sebenarnya, ia sedikit menjauh dari Raza. Setiap kali Raza mengajaknya pergi atau ingin menemaninya pergi, Aisyah selalu mengatakan jika dirinya akan bersama dengan Asisten Dishi. 


Sama yang Aisyah katakan sore itu. Ia menolak ajakan Raza makan malam bertiga bersama Ilkay. "Maaf, Kak. Aku tidak bisa, malam ini aku harus menemani Asisten Dishi ke rumah Ayden Oppa," jawab Aisyah dengan lembut. 


"Kenapa? Sepertinya, kamu mulai menjauhi diriku sejak Asisten kakak kamu itu datang. Ada apa, Aisyah?" tanya Raza lagi. 


"MasyaAllah, tidak seperti itu, Kak. Memang malam nanti, aku ada janji saja. Janji ini sudah aku buat dari tiga hari yang lalu," terang Aisyah sungguh-sungguh. 


"Um, baiklah. Lain kali saja kita makan malam bersama. Aku permisi, assalamu'alaikum," pamit Rasa dengan kekecewaan tentunya. 


"Maaf, Kak." kembali Aisyah mengucapkan permintaan maaf kepada Raza. Ia merasa tak enak hati, tapi apa daya memang dirinya hendak mulai menjauh dari seseorang yang pernah dekat itu. 


Mereka berpisah di lorong apartemen. Dengan kesal, Raza menelpon orangnya untuk memberikan pelajaran kepada Asisten Dishi untuk menjauhi Aisyah secepatnya. 


"Jika dia masih saja keras kepala, maka bunuh dia!" perintahnya, hati Raza dikuasai oleh aura jahat dari Jackson Lim sangat Ayah angkat. 


"Aku mau Asisten Dishi lenyap dari hadapan Aisyah. Aisyah hanya milikku, dua tidak boleh dimiliki orang lain termasuk Asisten rendahan itu, mengerti!" ketus Raza melalui telponnya. 


Tak disangka, Leo mendengar ucapan Raza yang hendak menyingkirkan Asisten Dishi. Ia terkejut dengan kenyataan yang ternyata Raza seorang penjahat. Sayang, ketika Leo mulai menyingkir, Raza mengetahui itu dari pantulan layar ponselnya. 


Raza menoleh, secepatnya Leo berlari agar Raza tidak menangkapnya. Leo tidak memiliki dasar ilmu bela diri, maka sia-sia saja jika ia melawan Raza. Satu-satunya cara, adalah lari dan pergi memberitahu semuanya kepada Aisyah dan keluarga lainnya di sana. 


"Bedebah! Dia mengejarku! Aku harus segera lari dan menelpon Aisyah!" 


Lama menunggu lift datang, akhirnya Leo memasuki tangga darurat dan segera turun dengan tangannya yang sibuk mencari kontaknya Aisyah. "Astaga dimana kontak Aisyah. Biasanya langsung ketemu," gumamnya mulai panik. 


"Kurang ajar! Jangan biarkan dia lolos, dia masuk ke tangga darurat. Hadang dia dari bawah! Salah satu dari kalian, jangan biarkan cctv menyala, cepat!" perintah Raza kepada orang kepercayaannya. 


Leo ini seseorang yang phobia akan darah dan apapun cairan berwarna merah darah. Meski phobia darah, ia tetap berusaha berlari, memanggil security atau orang lain supaya membantunya.


"Aku harus memberi tau Ai, kalau Asistennya kakaknya itu sedang dalam bahaya. Ayo Leo, kau pasti bisa melawan phobia-mu ini,"


Upaya Leo melakukan kebaikan dan mengungkap kejahatan Raza tak dapat terpenuhi. Ia pingsan karena banyaknya darah yang keluar dari kakinya. Membuatnya lemas dan tak kuat lagi berjalan. 


Raza dan orang kepercayaannya telah sampai di tempat dimana Leo lemas. Terpaksa, Leo pura-pura pingsan agar bisa mengumpulkan tenaga bisa melawan Raza dan anak buahnya nanti. 


"Darahnya banyak sekali. Kalian berdua bereskan orang ini. Bawa dia ke markas, kurung dan jaga dia, jangan sampai lepas," perintah Raza. 


"Sisanya, bersihkan darah yang berceceran ini. Jangan sampai meninggalkan jejak apapun di apartemen ini. Atau kita akan dalam bahaya, paham?" lanjutnya dengan tegas. 


Raza menyeringai. Lawannya tanpa di hadang telah datang dengan sendirinya. Tak tahu apa yang hendak Rasa lakukan kepada Leo, ia hanya membutuhkan bukti itu hilang. 


"Bagus, Leo. Kamu membuatku semakin lancar mendapatkan Aisyah. Cih, bocah!" ujar Raza kembali ke atas. 


Perasaan Aisyah terakhir bertemu dengan Raza membuatnya gusar. Takut, gelisah dan juga kecewa menjadi satu. Dirinya masih bertanya-tanya bagaimana bisa Raza menjadi anak angkat Pamannya yang kejam itu. 


"Assalamu'alaikum," salam Asisten Dishi memecah keheningan suasana sore itu. 


"Wa'alaikumsallam, dimana Ilkay?" tanya Aisyah panik, langsung menanyakan Ilkay. 


"Um, dia ada di rumah Tuan Lee, kenapa, Mail?" tanya Asisten Dishi kembali. 


"Kebetulan sekali dia tidak ada di rumah. Aku ingin membahas sesuatu tentang Kak Raza yang semakin hari semakin aneh, Ail. Ayo, duduklah!" 


Aisyah mulai menceritakan dimana dirinya merasa jika ada sesuatu yang janggal dengan Raza saat itu. Bagaimana tidak, perlakuan Raza terhadap Aisyah seperti orang tang terlalu agresif, posesif dan juga tatapan matanya membuat Aisyah tidak nyaman. 


"Bagaimana kalau kita beritahu saja tentang hubungan kita kepada Kak Raza? Kalau Kak Leo, aku masih bisa menanganinya sendiri, tapi Kak Raza ...," ucapan Aisyah terhenti. 


Asisten Dishi berpikir sejenak. Apa yang dikatakan Aisyah, baginya ada benarnya juga. Asisten Dishi pun menyetujui usulan dari Aisyah yang ingin mengungkapkan hubungan mereka kepada Raza. 


"Mengenai dia adalah anak angkatnya Jackson Lim, aku sudah menyelidikinya, Mail. Kita tinggal tunggu saja informasinya," ucap Asisten Dishi dengan nada yang lembut. 


"InsyaAllah, semuanya akan baik-baik saja." lanjut Asisten Dishi pergi ke dapur membawakan teh hangat untuk kekasih hatinya itu. 


Ketika Asisten Dishi sibuk di dapur, Aisyah baru saja membuka ponselnya. Ia memang mengganti mode hening jika sedang belajar. Saat itu, karena terburu-buru mau pulang, Aisyah jadi lupa belum mengganti mode dering di ponselnya. 


"Kak Leo? Dia telpon aku sampai 4x? Kenapa, ya?" gumam Aisyah. "Aku telpon balik aja lah!" 


Pertama, telponnya masuk namun tidak diangkat. Telpon kedua, nomor Leo sudah tidak aktif lagi. Membuat Aisyah merasa bingung, karena pada dasarnya, ponsel di Korea di produksi dan di desain tidak bisa di mode hening. Aisyah menduga jika Leo sengaja mematikan ponselnya.