Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
"Iya"



"Apa kau yakin dengan keputusanmu ini, Dishi? Aisyah pasti bingung dengan posisinya. Dia baru saja sebulan magang, masih membutuhkan 11 bulan untuk menyelesaikan magangnya," ucap Feng. 


"Aku yakin. Perusahan sedang dalam masalah. Perusahaan ini dibangun oleh Tuan Wang dan Tuan Chen dengan kerja kerasnya. Jika berpindah tangan ke Tuan Hao begitu saja, aku tidak rela," jawab Dishi. 


"Kau … Kau mengorbankan cintamu, cinta adikku, hanya demi harta?" lanjut Feng. 


"Hahaha, kau lebih tau tentang keputusan yang aku ambil ini, Tuan Hao. Mari, kita ke rumah sakit untuk cek kesehatanku." Dishi terkekeh menanggapi nasibnya.


Padahal, dalam hatinya juga sangat merindukan sang istri. Tak ada cara lain, memang itu yang harus ia lakukan supaya Aisyah bisa fokus dengan pendidikannya. Meski terkesan egois, karena keduanya sudah menikah, tapi tidak membuat Dishi mengurungkan niatnya. 


"Mungkin nanti aku ingin kau atau Tama mengantarku ke Korea setiap dua bulan sekali untuk menemuinya. Apa kau bisa?" lanjut Dishi. 


"Kau benar-benar gila. Lebih gila daripada Chen. Kau mengatakan jika dirimu ini hilang ingatan dan cacat. Lantas, untuk apa kau menemui adikku, hah?" ketus Feng. 


"Haduh, Tuan Hao. Sepertinya kau masih belum move on dari Yu Liu. Apa yang terjadi diantara kau dengannya? Aku melihat, kemarin ada bekas merah di lehermu. Apakah kau dan wanita itu--"


"Ndasmu!" teriak Feng tidak terima. 


Yang terjadi antara Feng dan Yu Liu bukan seperti yang terlihat. Memang saat kabur, Feng hanya mengenakan boxer hello Kitty saja, tanpa sehelai pakaian.


Petang itu, Yu Liu berhasil melepaskan semua pakaiannya Feng. Sementara dirinya juga sudah tanpa sehelai benang pun. Bahkan keduanya sempat bercumbu karena hanya satu cara tersebut supaya Feng bisa membuat Yu Liu terlena. 


Setelah Yu Liu terbuai, Feng memasukkan mentimun yang sudah ia selimuti menggunakan alat kontrasepsi yang Tama berikan. Entah darimana Tama mendapatkan alat kontrasepsi tersebut, tapi itu sungguh berguna sekali. 


"Apa? Jadi kamu membuat Yu Liu terbuai dengan mentimun?" tanya Dishi terkejut. 


"Hooh! Bahkan alat kontrasepsi itu ada bulu-bulunya. Tama ini, aku mencurigainya saat ini. Darimana dia mendapatkan alat kontrasepsi itu!" seru Feng asik cerita. 


"Terus?" tanya Dishi lagi. 


Feng meyakinkan diri merasa nikmat dengan permainannya. Yu Liu yang tidak menyadari itu, juga menikmati berkeringat bersama tersebut. Feng meminta penyerangnya di matikan, itu sebabnya pria berusia 23 tahun itu mampu melakukan hal gila tersebut. 


"Wah, kau gila sekali, Tuan Hao," desis Dishi. 


"Haha, kau tau, Dishi. Wanita gila itu, mendesah kenikmatan. Aku sungguh merasa bersalah, tapi aku segera kabur karena memiliki celah. Itu mengapa aku kabur masih menggunakan ****** ***** sialan itu," Feng sampai memukul stir mobilnya. 


Dishi tak henti-hentinya tertawa karena apa yang didengarnya sungguh keterlaluan. Feng memasukkan mentimun ke dalam bagian sensitif Yu Liu, sebagai ganti ke tegakkan miliknya. 


"Tapi, jika heh bertanya jujur, apa dia pernah ingin melakukan itu denganmu?" tanya Feng berbisik. 


Dishi diam seketika. Kemudian mengangguk pelan, mengiyakan pertanyaan Feng.


"Wah, gila! Lalu, bagaimana?" tanya Feng penasaran.


"Ya bagaimana lagi, kan kakiku cacat waktu itu masih pura-pura," jawab Dishi. 


"Ya kan bisa brother, dia di atas main sendiri gitu. Kamu tinggal epleh-epleh menikmati!" seru Feng. 


Mata Dishi terbelalak, bibirnya terbungkam dan terkejut mendengar pernyataan dari Feng. Di mana, Feng yang belum memiliki pengalaman bercinta dengan gadis di atas ranjang, terdengar begitu pro masalah olahraga berkeringat bersama. 


"Oh, lupakan saja. Ayo, kita segera ke kantor." Feng memutus topik pembicaraan. 


Kisah yang diceritakan Feng ketika menghadapi Yu Liu membuatnya tertawa. Ide Tama memang sungguh brilian sampai tidak terpikirkan oleh Dishi sendiri. Tama pendiam, cuek dan juga terlihat tidak peduli, rupanya pemikirannya sangat lain daripada yang lain. 


***


Satu Minggu berlalu. 


Setelah melewati tahap kebimbangan, Aisyah akhirnya memutuskan untuk menunggu Dishi saja kembali ke Korea. Dia sempat menghubungi Agam, hanya untuk bertanya tentang masalah LDR tanpa komunikasi lancar karena Dishi hilang ingatan. 


Salah satu yang ditekankan oleh Agam adalah bila suami meninggalkan istri dalam jangka sekian bulan/tahun (sesuai perjanjian) dan istri tidak rela, maka akan jatuh talak.


"Poin pentingnya adalah kalian berdua itu, rela saling berjauhan. Ikhlas dan ridho tidak, jika kalian tidak bersama untuk sementara waktu, apakah kalian mampu atau tidak?" ucap Agam melalui telpon. 


"Sebenarnya aku merindukan suamiku, Ustadz. Tapi saat ini dia sedang hilang ingatan dan harus menjalani perawatan. Lalu bagaimana hukumnya itu?" Lanjut Aisyah masih bingung. 


"Kamu bisa meminta Mas Feng atau Mas Tama untuk mengingatkan status suamimu saat ini. Perlahan, mereka juga harus bisa membuat ingat dengan ingatan kecil kisah kalian berdua," tutur Agam. 


"Tanyakan pada dirimu sendiri dan juga Mas Feng. Kamu dan suamimu yang menjalani. Kalau semua sudah setuju, berarti boleh saja, tanpa bisa menjadi talak," tambah Agam. 


"Jadi, aku harus bicarakan dulu dengan Ko Geng dan juga Mas Tama? Siapa tahu mereka bisa mengantar suamimu pulang ke Korea dan kita bicara lebih lanjut, gitu?" sahut Aisyah. 


"Benar, dan untuk saat ini. Kamu harus rela, ikhlas dan juga berdoa yang baik-baik supaya segalanya diberikan kemudahan. Kamu bisa fokus kuliah dengan tenang karena suamimu sudah kembali, suamimu juga fokus dengan pekerjaan dan juga pengobatannya. Aku tutup dulu, Ailee menangis, assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh." 


Agam menutup telponnya. "Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh," jawab Aisyah lirih. 


Hela napas panjang Aisyah sudah menjawab jika dirinya sedikit lega meski tidak baik-baik saja. Ada keinginan untuk melepas menjadi dokter, dan beralih profesi dengan meneruskan bisnis Chen dan Gwen. Namun, di sisi lain, seluruh keluarga menginginkan Aisyah tetap kepada keyakinannya sendiri. 


Malam itu, Aisyah mencoba memberanikan diri menelpon ke nomor Dishi. Ia ingin sekali mendengar suaranya, meski baginya Dishi benar-benar masih hilang ingatan. 


"Halo--" 


Mendengar suara pria yang dicintainya, membuat jantung wanita berusia 23 tahun itu berdesir hebat. Berdebat dan merasa seperti tersiram air dingin yang membuatnya hanya mengisi dan diam terpaku. 


"Halo, apa kamu masih di sana? Halo ... Nona Aisyah?" 


"Nona Aisyah?" batin Aisyah. "Kenapa itu terdengar begitu jauh dan asing? Ya Allah, harus kuat, aku harus kuat!" 


Aisyah menjawab setelah menghela napas panjangnya lagi. "Iya," 


Begitu juga dengan Dishi, ketika mendengar suara Aisyah kerinduannya sedikit terobati. Jantungnya berdebar dan dia menjadi salah tingkah di atas ranjangnya. 


"Apa ini? Suaranya begitu merdu dan imut sekali. Ahhhh, aku tidak tahan! Aku ingin memeluknya, mengigitnya dan ... Uh, sabar Dishi! Hanya 6 bulan saja, dan kamu juga bisa menemuinya 2 bulan sekali. Sabar!" Dishi sampai berteriak tanpa suara. 


Melalui telepon, keduanya hanya mendengar napas masing-masing tanpa bicara. Betapa canggungnya itu dan kemudian, mereka memutuskan untuk melanjutkan obrolan lewat pesan.