Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Dedek Dishi



Sesampainya di panti asuhan, Bona mengajak Aisyah untuk berjalan-jalan dan menemui anak-anak di sana.. Sementara Dishi dan Tuan Jin menemui kepala panti. 


"Oppa! Aku bawa Ai keliling, boleh?" Bona meminta izin.


"Tentu, bawa saja," jawab Tuan Jin dengan senyuman.


Dishi merasa dirinya adalah suaminya, malah Tuan Jin yang mengizinkannya. Kesal lah Dishi, dan meninggalkan Tuan Jin dengan alasan ingin menelpon seseorang. Tuan Jin sendiri tahu jika Dishi kesal, ia hanya tersenyum dan melanjutkan langkahnya bertemu dengan kepala yayasan. 


Aisyah dan Bora bermain dengan anak-anak di sana. Mengajarinya bernyanyi dan membaca. Mengingatkan Aisyah, ketika dirinya masih kecil saat hidup hanya berdua dengan Ayahnya. Setiap kali Aisyah menanyakan dimana Ibunya, pasti Yusuf akan menjawab jika Ibunya sedang bekerja di luar negri. 


Bayangan Aisyah pada waktu itu memang ibunya bekerja di luar negeri. Sampai pada akhirnya, ketika diusianya yang ke selama tahun, dia tahu jika kedua orang tuanya telah berpisah. 


"Siapa namamu?" tanya Bora. 


"Hyo Jil," jawabnya. 


"Berapa usiamu?" lanjut Bora kepada anak yang sejak dirinya datang, dia terus saja menyendiri. 


"Sembilan tahun," jawab Hyo Jil. 


"Sudah berapa lama kamu tinggal di Panti Asuhan ini?" tanya Aisyah. 


"Sekitar tahun lalu, aku baru masuk ke mari. Malam itu, malam Natal. Kupikir, malam Natal ku adalah malam Natal paling indah. Sebab, Ayah membawaku makan di restoran mahal dan enak-enak makanannya," ungkap Hyo Jil.


"Tapi ternyata, dia memanjakan aku selama dua jam, hanya karena malam itu adalah malam terakhir baginya menjagaku. Sejak Ibuku pergi, Ayah ternyata hanya mempertahankan aku karena uang saja. Ayahku pergi dengan wanita lain. Dia menjadikan aku hidup tanpa Ayah, untuk menjadi Ayah bagi anak wanita lain. Aku sangat membencinya," tukas Hyo Jil, dengan wajah sendunya. 


Aisyah dan Bora sampai tidak bisa berkata apapun. Masa kecil keduanya juga tidak seindah masa kecil anak-anak beruntung lainnya. Mereka saling menatap dan memberi kode untuk segera pergi. 


"Aku tidak menyangka, jika banyak juga anak-anak yang tidak bahagia di masa kecilnya," ucap Bora. 


"Meski aku memiliki Ibu, tetap saja aku tidak bisa dekat dengan beliau sampai saat ini. Aku malah lebih dekat dengan Bibiku," sahut Aisyah. 


"Heh, bukannya ibumu juga sudah kembali bersama dengan Ayahmu, ya? Lantas, mengapa jamu bisa dekat dengannya?" tanya Bora. 


"Susah, Bora. Aku menyayanginya, tapi entah mengapa … aku memang tidak bisa dekat dengannya. Malah, aku jauh lebih bergantung dengan Ayahku, dari Ibuku," ungkap Aisyah. 


Masa lalu Bora juga tidak seindah yang Aisyah pikirkan. Ia pernah hilang dan baru ditemukan kembali oleh orang tuanya ketika usianya menginjak usia 17 tahun. 


Di saat sibuk mengobrol, Dishi memanggil Aisyah dan berlari ke arahnya. Dishi telah lelah mencari Aisyah ke sana-kemari. 


"Ai!" teriak Dishi. 


"Suamimu tuh! Aku ke sana dulu, ya. Pasti dia merindukanmu deh! Tata--"


Dishi tiba-tiba berubah menjadi Ilkay yang langsung berlari ke Ibunya dan meminta peluk. Tiba-tiba saja Dishi memeluk dan mengeluh di pundak sang istri. 


"Aku rindu," ucapnya. 


"Rindu?" tanya Aisyah. 


Dishi mengangguk. 


"Baru beberapa menit tidak bertemu, sudah rindu?" lanjut Aisyah. 


"Begitukah? Coba aku lihat, bagaimana wajah cemburu dari suamiku ini," Aisyah menyentuh kedua pipi Dishi. 


Wajah Dishi yang manis membuat Aisyah semakin gemas. Meski sudah berusia 27 tahun, wajah Dishi yang awet muda itu mesti jadikannya terlihat seperti anak kecil. Saking gemasnya, Aisyah sampai mengecup bibir sang suami dan membuat suaminya melotot karena terkejut. 


"Um, apa itu tadi?" tanya Dishi. 


"Kenapa masih bertanya? Itu sebagai bujukan, ketika suamiku ini sedang merajuk," jawab Aisyah mencubit pipi Dishi. 


Hal itu membuat Dishi kikuk. Biasanya selalu Dishi yang berinisiatif. Tapi kali itu, Aisyah yang menciumnya terlebih dahulu. 


"Tadi … karena kamu menciumku dengan tiba-tiba, maka aku tak dapat merasakan sesuatu. Bagaimana jika kita ulangi lagi?" tanya Aisyah. 


"Hah?" Aisyah menjadi gugup. "Tadi sepintas aku memikirkannya. Untuk mengulangi lagi, aku … aku malu, Sayang," lanjut Aisyah. 


Mendengar panggilan sayang dari Aisyah, membuat Dishi semakin gemas. Ia melepas jaketnya dan menutupi atas kelapa keduanya. Kemudian, Dishi mencium bibir Aisyah. Aisyah masih saja gugup meski dirinya sudah menciumnya lebih dulu. Namun, kelembutan Dishi mampu membuatnya nyaman dan mulai menikmati permainan suaminya. 


Pacaran setelah menikah itu sungguh indah. Meski Aisyah pernah jatuh cinta dengan pria lain, tapi bersama Dishi-lah ia merasa nyaman dan bahagia. Beruntungnya lagi, Dishi belum pernah mencintai wanita manapun selama hidupnya. Hanya sekedar menyukai, itu wajar. Tapi untuk mencintai, hanya Aisyah lah yang ia cintainya. 


"Bagaimana? Apakah suamimu ini mengecewakanmu, Ratuku?" goda Dishi. 


"Jangan seperti ini. Kita berpelukan di depan publik, bukankah itu tidak boleh? Ini tempat anak-anak juga," Aisyah tersipu. 


"Kita berciuman juga ditutupi, masa iya berpelukan saja harus bersembunyi? Kita juga tidak mengumbar kemesraan, kenapa kamu harus gugup seperti ini, Sayang," ucap Dishi menyentil dagu Aisyah. 


Secinta itu Dishi pada istrinya. "Jika aku tidak bisa membuatmu bahagia, maka aku tidak tau lagi harus berbuat apa," tiba-tiba Dishi menjadi murung. 


"Kamu sudah membuatku bahagia sampai detik ini. Mengapa harus memikirkan hal yang belum terjadi? InsyaAllah, jika kita sama-sama saling melengkapi dan menyayangi, maka hubungan kita pasti a---" 


Belum juga Aisyah melanjutkan katak-katanya, Dishi mencium kembali bibirnya. Membuat Aisyah tak lagi bisa mengatakan hal yang tidak ingin Dishi dengar. Dari kejauhan, Tuan Jin melihat keduanya sedang berciuman. Lalu, mengurungkan niatnya untuk menemui mereka. 


****


***


Malam hari telah tiba. Perjalanan kembali ke kota sangat jauh dan mengharuskan mereka menginap di panti asuhan tersebut. Usai makam malam, Dishi mengajak Aisyah ke kamar untuk istirahat. Bora ingin sekali tidur bersama dengan Aisyah, tapi Tuan Jin mengatakan padanya untuk tidak mengganggu Aisyah dan Dishi untuk bersama. 


"Mereka suami istri. Jika bisa tidur bersama, mengapa harus berpisah dan Nona Aisyah tidur bersamamu? Ayo, ikutlah bersamaku, kau akan aman tidur bersamaku!" ajak Tuan Jin dengan menarik tangan Bora. 


"Ai, masa iya kamu tidak bisa tidur denganku?" Bora masih berharap. 


"Tidak!" tolak Dishi. 


"Hey!" teriak Rona. "Dia sahabatku, kenapa kau merenggutnya dariku?" protes Bora. 


"Aku suaminya. Aku jauh lebih berhak darimu. Pergi sana tidur dengan kakakmu!" usir Dishi. 


"Cih, lihat saja bagaimana aku akan menganggumu nanti!" Bora menyusul Tuan Jin ke kamarnya dengan perasaan kecewa. 


Aisyah menarik telinga suaminya dan memintanya untuk jangan lagi bertengkar dengan Bora. Jika Aisyah marah, mode anak-anak sikap Dishi diaktifkan. Ia bersikap manja di kala istrinya sedang marah. Namun, dapat berubah menjadi pria gagah kala di ranjang bersama Aisyah.