Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Uuuuuu Chen......



Hari berlalu dengan cepat. Tiba dimana Gwen dan Agam hendak menikah. Pernikahan itu di gelar di Pesantren sesuai dengan permintaan Yusuf dan Rebecca. Hanya keluarga besar, beberapa tetangga inti dan juga undangan para sahabat keluarga besar pesantren saja. 


Orang yang paling sibuk dalam acara itu adalah Aisyah dan Chen. Keduanya sudah sepakat yang akan meng-handle semua acara. Tentu saja dibantu oleh beberapa saudara yang ada di sana. 


"Kenapa Ko Feng belum datang juga, apa Dishi tidak berhasil mendapatkan hak asuh secepatnya?" gumam Aisyah. 


"Mbak, ini ditaruh dimana, ya?" tanya seorang santri yang ikut serta membantunya. 


"Em, kamu tahu di depan aja dan nanti kamu tolong panggilin Bibi Aminah ,ya, aku mau ngomong soalnya sama dia. Kamu tau Bibi Aminah yang mana, 'kan?" Aisyah sudah sangat sibuk. 


"Tau, kok, Mbak. Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh,"


Kegelisahan Aisyah bukan pada pernikahan Gwen, melainkan kepada Feng yang belum juga datang membawa Ilkay datang. Aisyah terus berusaha menelpon Dishi. Akan tetapi, nomor Dishi masih belum aktif. 


"Tiga hari mana cukup. Aku mengurus paspor aja, butuh waktu 1 bulan baru clear semua. Ya Allah, gagal dong aku beri seluruh keluarga kejutan," ucap Aisyah dalam hati. 


Di waktu lain, Chen sedang memantau baju yang akan dipakai saat resepsi nanti di ruang ganti. Datang lah Puspa yang saat itu juga membawa gaun ke dua yang akan pasangan pengantin pakai setelah akad. 


"Aduh, ini tatanannya harus warna gold dulu sebelum hitam. Gwen ini, kenapa juga harus warna hitam, sih!" gerutu Puspa. 


"Aduh!" jerit Puspa menabrak bagian belakang tubuh Chen.


Chen marah, ia sedang menghitung jumlah pakaian tersebut, malah Puspa datang menabraknya dan membuatnya harus menghitung ulang jumlahnya. Ditambah lagi, Puspa juga menjatuhkan pakaian yang akan dipakai pasangan pengantin di siang dan malam nanti. 


"Astaga, kau ini kenapa? Apa matamu kau tinggal di rumah sebelum datang ke mari?" sulut Chen. 


"Astaghfirullah, maaf, Mas. Saya tidak ta ... em, maksud saya Tuan Chen, saya tidak tau jika Tuan juga ada di sini dan sedang berdiri tepat di depan pintu," ucap Puspa dengan nada halus.


"Ya seharusnya ... tunggu! Maksud kamu apa dengan mengatakan saya berdiri di depan pintu? Maksud kamu, aku ini menghalangi jalanmu, gitu?" kesal Chen. 


"Ya Sallam, bukan seperti itu, Tuan. Saya benar-benar tidak tau kalau Tuan ada di sini," jelas Puspa. 


Chen tetap saja menyalahkan Puspa karena telah menabraknya. Terjadilah perdebatan diantara mereka. Puspa masih bisa bersikap baik dan lembut dengan menjelaskan kejadiannya. Namun, tetap saja Chen berkelit dan seolah itu adalah masalah besar. 


"Tuan, kenapa Anda harus mempermasalahkan ini? Sedangkan ini hanya ... Allahu Akbar, ia saya salah bersalah dan saya minta maaf. Saya janji hal seperti ini tidak akan terulang lagi," akhirnya Puspa-lah yang mengalah. 


"Good! Memang kamu yang salah, jadi kamu harus ngaku!" ketus Chen. 


Puspa menghela napas untuk menenangkan diri, kemudian menaruh pakaian yang akan dipakai Gwen dan Agam nanti. Namanya juga Chen kesal dengan Puspa, apapun yang dilakukan Puspa akan selalu salah dimatanya. 


"Hey, dimana kau akan meletakkan itu, ulat ijo!" sentak Chen. 


"Wahai Tuan Chen yang budiman, ini gaun milik pengantin yang akan dipakai resepsi siang dan malam nanti acara syukuran. Kenapa tidak boleh saya letakkan di sini?" Puspa kembali menanggapi Chen dengan sabar. 


"Apa? Katakan sekali lagi, apa yang kamu letakkan itu!" entah apa yang terjadi, Chen selalu saja menciptakan perdebatan dengan Puspa. 


"Tak bisakah mengontrol hatimu ini bersabar dan meredam ketika emosi sesaat, Tuan Chen?" tanya Puspa dengan suaranya yang lembut itu. 


Selama Chen hidup, tak ada wanita lain yang berani menyentuh tubuhnya tanpa seizinnya. Tentu saja sentuhan itu membuat Chen marah. Alih-alih melotot dan hendak menepis tangan Puspa, Chen malah terjebak dalam tatapan mata Puspa yang tajam sedang menatapnya. 


Keduanya saling berpandangan dengan tangan Puspa masih menempel di dada Chen. Chen yang saat itu masih mengenakan hoodie terdiam, terpaku dan beku dalam pandangan mata indah Puspa. Begitu juga dengan Puspa yang terpesona dengan mata biru indah yang dimiliki Chen.  


Sampai pada akhirnya si pengacau datang. Aisyah. Melihat pemandangan itu, membuatnya canggung sendiri. Apalagi, Aisyah melihat mata kakaknya tak berhenti memandang mata sahabatnya kala itu. 


"Ehem," Aisyah mendeham. Pandangan mata indah itu pudar dan dengan sigap Puspa menarik tangannya. 


"Aku pikir, setelah pernikahan Gwen akan ada pernikahan lagi. Lanjutkan saja, monggo. Aku hanya mau mengambil gaunku saja, kok. Jika kalian sudah berpandangannya, tolong segera ke ruang make up, oke?" 


"Dan satu lagi, jangan lama-lama berdua. Nanti setannya datang, hati-hati, Assallamu'alaikum, kaboor ...." Aisyah pergi begitu saja seperti anak kecil yang baru saja mencuri rambutan milik tetangga. 


Suasana menjadi canggung. Keduanya bahkan sampai salah jalan ketika ingin saling menghindar. "Ck, kau ini mau lewat mana?" kesal Chen dengan pipi memerah. 


"K-kanan, saya akan lewat kanan," jawab Puspa gugup. 


Keduanya berpisah di ruang baju, yang sebelumnya adalah ruang baca milik Syakir. 


Semua sedang bersiap pagi itu. Tidak ada yang senggang karena memang semuanya ikut turun tangan. Yusuf dan Adam juga sibuk berbincang dengan tamu undangan pagi itu. Ada tamu istimewa yang hadir mengisi tausiyah dalam pernikahan Gwen dan Agam. 


Ustadz Husain, Kyai Abid yang masih dibilang muda, serta sang adik yang baru saja kembali dari Ibu Kota, bernama Qianzy. Mereka menemui tuan rumah, Yusuf, Adam dan juga Raihan selaku keluarga pihak Gwen. 


"Assallamu'alaikum," salam Kyai Abid. 


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabbarokatuh. Walah, Mas Abid dan Ustad Husain ternyata. Monggo, masuk, silahkan ...." sambut Yusuf dengan ramah. 


"Ini siapa, Mas?" tanya Raihan menunjuk gadis berbalut gamis putih di samping Kyai Abid. 


"Oh, perkenalkan. Ini adik saya yang pernah saya ceritakan itu, loh, Mas. Baru saja kembali dari Kota, namanya Qianzy," jawab Kyai Abid dengan mantap. 


"Walah, masih sekolah, Dek?" tanya raihan. 


"Em, mau kuliah, Om, eh ..." jawab gadis itu masih kaku. 


"Hahaha, Om juga ndak papa, lebih modern to?" tawa Raihan. 


Perbincangan itu semakin seru saja. Di lain tempat, Qianzy tengah sibuk di dandani. Gaun untuk akad yang dipakai Gwen gaun sederhana berwarna putih dengan riasan yang sederhana juga. Pengantin pesantren kali ini memakai gaun syar'i yang jilbabnya menutupi sebagian tubuh atasnya. 


Semua keluarga melihat Gwen merasakan pangling meski riasannya sederhana. Namun, gaun yang dipakai nya membuat semua keluarga menjadi terharu melihatnya. 


Bab selanjutnya Gwen dan Agama wedding. 


Ada bintang tamu, Kyai Abid, Qianzy dan juga Ustadz Husain dari karyaku berjudul, "Hubbak Ghali, Ya Habibu Qolbi" mampir!