Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Malam Indah Dengan Pagi Mengesalkan



"Mas, jadi gimana? Kita jadi anu?" celetuk Gwen dengan tingkah manja. "Jadi, apa syarat ke dua  kalau mau anu?" tanya Gwen mengusap-usapkan telapak tangan Agam ke pipinya. 


"Seperti ini," Agam mencium pipi Gwen dengan lembut. 


Setelah mencium istrinya, Agam merasa malu dengan menyembunyikan wajahnya dan menundukkan kepala. 


"Lagi," pinta Gwen manja. 


"Hah? Lagi?" tanya Agam. 


Gwen mengangguk, memang niat kedua ingin  berjima dalam islam adalah dengan foreplay. Misalnya dengan cumbuan, rayuan, permainan dan ciuman. Dahulu Nabi SAW juga melakukan hal tersebut. Hal ini juga dapat membedakan manusia dengan hewan yang hanya langsung melakukan hubungan.


Kemudian, Agam membimbing Gwen untuk berdoa lebih dulu. Baik suami atau istri dapat membaca doa dengan mengucapkan, "Dengan nama Allah, Ya Allah jauhkan syetan dari kami dan jauhkan syetan dari apa yang Engkau rezeki kan kepada kami."


Rasulullah SAW bersabda, "Kalau Allah mentakdirkan diantara keduanya anak, syetan tidak akan (dapat) mencelakainya selamanya." (HR Bukhori).


Dan akhirnya, malam itu Agam telah resmi membobol gembok suci yang telah Gwen pertahankan selama 22 tahun. Terasa bagai di awan tinggi, bagai melayang-layang tanpa benang. 


Akhirnya, Gwen dan Agam bisa tidur lelap setelah melakukan olahraga bersama di atas ranjang. Namun, sebelum tidur, Agam membersihkan *********** dan berwudhu terlebih dulu. Mengajak sangat istri untuk mencuci *********** bersama dengan beberapa arahan darinya. 


Meski baru pertama melakukan, tetap saja Agam tahu langkah membasuh ******** dengan benar sesuai yang dianjurkan setelah melakukan hubungan badan.


***


Adzan subuh telah berkumandang. Agam bergegas ke kamar mandi untuk mandi junub. Ia sudah membangunkan Gwen terus-menerus, tapi Gwen belum mau bangun juga. 


"Dek, Mas ke masjid, ya. Kamu mah ikut nggak? Salat jama'ah di aula putri?" Agam mengajak sangat istri berjama'ah di pesantren. 


"Mas pergi saja. Aku mau tidur sebentar saja, masih mau mandi juga, 'kan? Jadi nggak sempet, besok saja subuh di pesantren," jawab Gwen. 


"Baiklah kalau begitu. Mas berangkat ke masjid dulu, ya. Sudah terlambat soalnya, Assalamu'alaikum," pamit Agam. 


"Wa'alaikumsallam, jangan lupa pulang lebih cepat. Ajari aku masak untuk sarapan!"


Agam bergegas ke masjid yang sudah hampir terlambat. Beberapa ustadz bertanya mengapa dirinya sampai terlambat ke masjid. Termasuk ustadz Khalid yang menanyakan. 


"Assalamu'alaikum," salam Agam. 


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh, tumben terlambat?" tanya Ustadz Khalid. 


"Iya, ada pekerjaan yang membuatku harus bekerja keras," jawab Agam. 


Sementara itu, setelah salat subuh, Aisyah dan Asisten Dishi sedang telponan. Ilkay masih bersama Yusuf di masjid, sedangkan Aisyah kembali lebih dulu dari masjid sendirian.


Saat itu, Aisyah jalan sendirian, sambil menelpon Asisten Dishi untuk menemani langkahnya pulang ke rumah. 


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Aisyah. 


"Aku baru saja pulang bekerja, apa kamu masih di jalan? Di sana pasti jam lima pagi, 'kan? Di sini baru jam lima sore, jadi aku baru saja pulang bekerja,"


"Iya, kamu benar. Aku jalan sendiri, Ilkay masih di masjid dengan Ayah. Ibuku salat di rumah karena beliau terus saja mabuk," 


"Aku sangat merindukan kalian berdua. Haih, aku jadi semangat bekerja jika ingat kalian berdua. Aku akan segera menyelesaikan tugasku. Kamu kalau mau berangkat ke Korea, berangkat saja. Sukses, dokterku--" 


Meski keduanya tidak pacaran, tapi memang keduanya memegang komitmen untuk langsung menikah setelah urusan Asisten Dishi dan juga kuliah Aisyah selesai nanti. Mereka sama-sama memiliki waktu 3 tahun untuk berpisah untuk dipertemukan kembali jika berjodoh. 


**  


Pagi yang cerah membuat Gwen harus segera mengeringkan rambutnya. Ia masih ada pekerjaan di dapur. Pagi itu, Gwen ingin membuat sarapan untuk suaminya. 


"Mas Agam kok belum pulang, sih?" 


"Pagi ini kan dia dah janji buat masak bareng sama aku," lirihnya dengan wajah lesu. 


Seseorang mengetuk pintu rumahnya. Suara itu terdengar begitu nyaring di telinga Gwen. Tak asing juga baginya, seorang perempuan telah bertamu sepagi itu. 


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh," 


"Siapa, ya?" Gwen membuka pintu, meski dirinya sudah menebak kalau yang datang adalah seseorang yang menyebalkan baginya. 


"Ini aku, Syifa. Aku datang sepagi ini mau memberikan ini, sarapan!" Syifa bahkan mengetuk-ngetuk wadah makannya dengan riang. 


"Buset, hama datang," batin Gwen. 


Menyambut tamu itu harus dengan senyuman. Begitu menurut Gwen. "Sarapan? Buat siapa?" tanyanya. 


"Aku masuk dulu, ya ...," Syifa main masuk saja sebelum Gwen mempersilahkan untuk masuk. 


"Heh, maling! Aku bahkan belum menyuruhnya masuk. Kok, dia kagak ada akhlak sekali ini ...." umpat Gwen dalam hati. 


Gwen akan terus mengumpat dalam hatinya karena Syifa. Ia tidak mungkin akan mengutarakan umpatannya di depan orangnya secara langsung. 


"Dimana Mas Agam?" tanya Syifa. 


"Nih, di dalam ketekku. Kalau kau mah, kau bisa tengok di dalamnya," jawab Gwen mulai kesal. 


"Ih, kok, kamu gitu jawabnya. Aku kan nanya baik-baik. Keturunan priyayi dan istri seorang Ustadz kok begitu tingkahnya," ujar Syifa meremehkan. 


"Ya terus kalau dibandingkan dengan dirimu apa, hah? Batu kali! Kamu main nyelonong, datang nggak sopan dengan muka menyolot itu. Hih, pengen aku pites juga kau ini!" kesal Gwen dalam hati. 


Gwen mengeluarkan belatinya dan memainkan memutar-mutarnya. Syifa terus memandang belati itu dengan seksama. 


"Apa itu?" tanyanya dengan suara sinis lagi. 


"Ini yo? Kau tak nampak jelas kah ini apa? Ini cangkul, cantik tak cangkulku ni?" celetuk Gwen. 


"Cangkul kok begitu bentuknya. Itu tuh pisau kecil, atau belati," sahut Syifa. 


"Ya kalah kau sudah tau ini belati, untuk apa kau nanya Lastri!" sulut Gwen. 


"Gitu aja kok marah, sih? Istri Ustadz kok pemarah. Ndak pantes kamu tuh jadi istrinya Ustadz Agam," 


"Terus menurutmu, yang pantas jadi istrinya itu siapa? Kamu? Iya, kamu? Mimpi!" cetus Gwen menancapkan belati miliknya dengan keras ke meja kayu di depannya. 


"Astaghfirullah hal'adzim. Kamu ini kasar sekali, Mbak Gwen. Jika Ustadz tau kelakuan kamu yang sebenarnya begini, pasti dia ...,"


"Apa? Pasti dia apa? Dia makin cinta sama aku, buktinya aku yang dinikahi. Bukan kamu yang tiba-tiba kabur dihari ijab qobul kalian. Memalukan sekali!" tangkas Gwen mempalingkan pandangannya. 


Syifa marah jika Gwen mengungkit kaburnya dirinya ketika hendak ijab qobul tiga tahun lalu. Ia pun hampir menampar Gwen dengan sudah mengangkat tangan kanannya. 


"Apa? Mau nampar? Siapa kamu berani menamparku? Tampar kalau berani!" tantang Gwen dengan menyodorkan pipinya. 


Nyali Syifa jadi ciut saat Gwen tidak bisa ia gertak dengan mudah. Ia pun berdalih bahwa dirinya tidak akan sekasar itu kepada orang lain. 


"Assalamu'alaikum," salam seorang pria yang tak lain adalah Agam. 


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh," 


"Ustadz Agam, lihatlah istrimu terus-menerus menggertakku," ucap Syifa dengan manja menghampiri Agam yang saat itu tengah berjalan menuju sofa. 


"Heh, aktingnya buruk sekali. Aku yakin jika dia main film, dia hanya akan jadi figuran kuntilanak yang duduk bengong doang," gerutu Gwen dalam hati. 


Gwen tidak mau kalah dengan Syifa. Ia berlari, bermanja dengan Agam dengan merangkul suaminya seraya mengecup pipi Agam. 


Bagaimana reaksi Syifa?