Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Tawanan Lain?



Usai sarapan, Aisyah duduk termenung sendiri dengan terus berdzikir. Ia berharap bisa menemukan Leo, lalu kembali pulang dan membantu kedua saudaranya menyelamatkan Ilkay dan Rifky. 


"Ayah, Ibu, kalian ada di mana? Semoga, Allah senantiasa memberikan kesehatan kepada kalian, aamiin …,"  Aisyah terus berdoa supaya kedua orang tuanya segera ketemu. 


"Apa kalian tidak ingin putra bungsu kalian selamat? Kenapa kalian masih menghilang? Ayah, Ibu, aku merindukan kalian. Cepatlah pulang, kami menunggu," lanjutnya dengan rasa yang semakin mengantuk.


Sejak bicara dengan dua penjaga itu, Aisyah dapat mengambil hati dari keduanya. Mereka mau membantu Aisyah dengan syarat membebaskan dirinya dari mengakhiri masa kerja bersama dengan Raza. 


"Nona, setelah ini  Tuan akan pergi entah kemana. Dari waktu itu, Nona bisa masuk ke sel tahanan dan mencari teman Nona itu," ungkap Kak Zhong. 


"Hm, baiklah. Lalu, setelah itu bagaimana cara aku lolos dari penjaga selanjutnya?" tanya Aisyah. 


"Tuan akan memiliki waktu keluar selama satu jam saja. Jadi, Nona harus siap siaga dan cepat, apakah bisa?" ujar penjaga yang satunya lagi. 


Aisyah kembali memikirkan sesuatu. "Terus, bagaimana membuat aku meloloskan diri dari tahanan ini? Tidak mungkin kalian akan melepaskan begitu saja? Nanti yang ada kalian uang kena hukuman okeh Tuan  Raza," celetuk pria penjaga itu.


"Aku akan membuat kalian pingsan dengan racikan obatku, bagaimana?" usul Aisyah. 


"Obat ini, hanya akan membuat kalian tertidur pulas. Nanti, pas kalian bangun, kalian hilang kalau aku menyuntikkan obat ini ke kalian. Kak Raza tau aku bisa bela diri, jadi dia pasti akan percaya sama kalian,"


"Aku taruh suntikan di sini. Nih, obat yang ini kalian minum saja. Beberapa menit kemudian, pasti kalian akan tertidur," Aisyah memberikan obat racikannya kepada dua penjaga itu. 


Setelah mereka berdiskusi, Aisyah melancarkan aksinya. Ia sangat berterimakasih telah di kirim oleh Sang Pencipta dua orang yang baik mau membantunya di saat dirinya susah.


"Sebenarnya aku malas menggunakan kekuatan engkolku. Apalagi harus memukul mereka," gumam Aisyah dalam hati. 


Totokan Aisyah membuatmu penjaga ruang tahanan menjadi pingsan. "Haih, gini aja udah pingsan. Bagaimana bisa dijadikan sebagai penjaga?" Aisyah kembali bergumam. 


Ia melanjutkan langkahnya. Matanya terus mencari dimana Leo di tahan. Sampai di sel yang ke delapan, akhirnya ia dapat menemukan Leo yang saat itu tengah mengganti perban di kakinya. 


"Kak Leo!" Aisyah berbisik.


Kejutan lain bagi Aisyah, ternyata Feng juga ada dalam sel itu. Ada luka di bagian tangan Feng yang mungkin baru ia ganti perbannya. "Koko?" gumamnya. 


Aisyah mendekati sel tersebut dan memanggil dua orang yang dekat dalam hidupnya. Masih penuh tanda tanya mengapa Feng ada dalam penjara bersama dengan Leo. 


"Ai? A-apa yang kamu lakukan di sini? Bagaimana kamu bisa masuk ke sini? Apa si brengsek itu menangkapmu?" Feng menyadari kehadiran Aisyah. 


"Aku akan ceritakan ini nanti. Kak Leo, apa kamu baik-baik saja?" Aisyah sangat mengkhawatirkan Leo. Meski Feng juga tidak memiliki kemampuan bela diri yang baik seperti Leo, tapi Feng adalah seorang dokter yang tahu bagaimana cara menangani lukanya sendiri. 


"Aisyah, kenapa kamu datang ditempat seperti ini? Cepatlah pergi, atau si jahat itu akan datang dan menangkapmu juga," ucap Leo dengan wajahnya yang masih pucat. 


"Aku harus mengeluarkan kalian berdua, kita tidak memiliki waktu banyak. Dalam tiga puluh menit lagi, pasti Kak Raza akan datang dan kita akan sulit melarikan diri," kata Aisyah berusaha mencari cara supaya bisa membuka gemboknya. 


"Haduh, bagaimana cara membuka gemboknya?" tanya Aisyah. 


Feng masih bisa bersikap tenang. Ketika dirinya tertangkap, ia yakin jika suatu saat ada keluarganya yang menolongnya. Hanya saja, ia tidak menyangka jika Aisyah yang datang. 


"Hey, bukankah waktu kecil kau paling ahli dalam menghancurkan gembok? Kemana kemampuan nakal mu itu hilang?" ledek Feng. 


"Kampret, bisa-bisanya kau bilang begitu di saat situasi seperti ini, Ko. Aku membencimu!" cetus Aisyah. 


Tak butuh waktu lama, Aisyah bisa membobol gembok tersebut hanya menggunakan jarum pentul yang ada pada jilbabnya. Kisah masa kecil Aisyah memang sangat lincah sebelum ia bertemu kembali dengan Ibu dan saudari kembarnya. Sebelum sifat Aisyah menjadi dingin dan acuh tak acuh pada orang lain. 


"Apa? Kau bisa membuka gemboknya?" tanya Leo heran. 


"Hish, itu mudah baginya. Dia terlihat sangat polos dan naif. Tapi kenyataannya, dia gadis yang … sudahlah, aku malas membahasmu. Segera kita pergi, jika Leo tidak segera dibawa ke rumah sakit, aku tidak bisa menjamin keselamatannya," ujar Feng mengulurkan tangannya kepada Leo. 


Dengan kaki pincangnya, Leo melangkah di papah oleh Feng. Kemudian, Aisyah lah yang menunjukkan arahnya sesuai menurut peta yang digambar oleh dua orang penjaga baik hati itu. 


"MasyaAllah, aku tidak menyangka jika kita di kurung di dalam gunung seperti ini. Jadi, apa kita harus turun gunung?" tanya Aisyah. Ia tidak menyangka jika Raza memiliki bangunan se-rahasia di gunung. 


"Semua aliran hitam memiliki tempat persembunyian yang dinamakan markas. Bahkan, ada yang memiliki pulau pribadi seperti yang dimiliki oleh kakak laki-lakimu Chen, khusus menahan tawanannya," jelas Feng. 


"Ah, iya begitu. Jadi, dunia Mafia seperti di komik, novel dan drama itu memang beneran ada? Dan kita sedang terlibat?" sahut Leo masih tidak percaya. 


"Aku merasa, orang seperti Kak Raza dan Jackson Lim tidak bisa disebut dengan Mafia, Kak Leo. Mereka ini hanyalah sekumpulan pecundang yang hanya memikirkan dendam pribadinya saja. Lain dengan Ibuku dan juga keluarga Kak Chen yang benar-benar kejam merampas segalanya," jelas Aisyah. 


Mereka mengobrol sembari terus berjalan menuruni gunung. Feng juga menceritakan mengapa dirinya sampai tertangkap oleh anak buah Raza. Saat di perbatasan, Feng mendapat kabar jika Ilkay di culik. Feng berusaha kabur dari cengkraman kakeknya untuk bisa membantu keponakannya itu. 


"Lalu?" tanya Aisyah. 


"Aku melihat ada sebuah mobil yang macet di kaki gunung. Aku mendekati mereka dan melihat Leo. Ketika aku menanyakan mengapa Leo ada di dalam mobil itu, dari belakang Raza telah membiusku," jelas Feng. "Aku malas balas dendam, setelah ini semua selesai … aku akan melanjutkan pendidikanku di Jogja saja, tinggal bersama keluarga pesantren malah membuatku nyaman, Ai," sambungnya. 


"Kenapa Koko belum bisa menerima Ayah Hamdan dan juga Ibu Yue? Bukankah mereka akan membantumu lepas dari tekanan keluarga Hao? Kenapa Koko masih angkuh seperti ini? Bagaimanapun juga, mereka adalah orang tua kandungmu, Ko__" tutur Aisyah. 


"Hatiku masih sakit saja jika melihat mereka. Mereka ter--" ungkapan Feng terhenti. 


Dor! Dor! Dor! 


Suara tembakan terdengar sangat kencang di telinga ketiganya. Mereka menduga jika itu adalah Raza dan beberapa orangnya. Mereka telah menyadari bahwa Aisyah membawa kabur dua tawanannya.