Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Kebahagiaan Keluarga kecil



Alarm subuh berdering.Sebelum Aisyah bangun, Dishi bangun lebih dulu. Tangannya mencari-cari dimana ia meletakkan ponselnya. Tangan Aisyah masih merangkul tubuhnya. Hampir saja terkejut karena ketika bangun, Aisyah sudah ada di sampingnya.


"Astaghfirullah hal'adzim, hampir saja aku mau dorong istriku ini. Belum terbiasa membuatku kaget, takut aku melecehkannya," gumam Dishi.


Sebelum beranjak, Dishi mendang wajah Aisyah. Wajah kecilnya itu mampu meneduhkan hatinya. Gadis yang ia suka selama setahun lebih, akhirnya mampu ia miliki. Ketika Dishi memandang wajah Aisyah dari dekat, Aisyah malah membuka matanya.


"Sudah bangun?" bisik Dishi.


Awalnya Aisyah juga terkejut Dishi ada di sampingnya. Namun, ia langsung teringat jika Dishi memang sudah menjadi suaminya selama sebulan yang lalu. "Assallamu'alaikum, selamat pagi, suami," sapa Aisyah.


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh,"


"Beginikah rasanya bangun tidur disapa istri? Aku mencintaimu, Sayangku," ucap Dishi mencium kening Aisyah.


"Ayo bangun, nanti waktu salatnya habis. Kita masih harus bangunin Ilkay. Dia belum tau kamu pulang malam tadi," bisik Aisyah.


"Kenapa harus berbisik? Bukankah kita hanya berdua di rumah? Ilkay tentu saja tidak mendengar ucapan kita, bukan?" Dishi mulai menggoda Aisyah. "Ai, bolehkan aku menciummu? Semalam ... tertunda karena Ilkay menangis," lanjut Dishi.


Aisyah mengangguk malu-malu. Meski tidak melakukan apapun, Dishi meraih selimutnya kembali dan menyelimuti seluruh tubuhnya. Perlahan, tangannya membelai pipi Aisyah dengan lembut. Kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri, menautkan bibirnya ke bibir Aisyah secara perlahan.


Akhirnya, meski hanya sebuah kecupan, Dishi dan Aisyah tak lagi gugup kala berkontak kulit secara langsung. Mereka belum mau sejauh itu, masih membutuhkan waktu untuk mempersiapkan diri. Usai bersih-bersih, Dishi menyiapkan tempat salat, Aisyah membangunkan Ilkay.


"Nak, Ilkay. Bangun, yuk. Salat subuh, sebelum waktunya habis," ucap Aisyah sembari mengecup kening putranya.


"Um?" Ilkay langsung terbangun. (kalau anakku, di suruh bangun, ya kerasukan reog dulu)


"Berdoa dulu, Nak. Setelah itu kamu pipis, terus wudhu. Mandinya nanti kalau mau ke sekolah, oke? Mama tunggu di kamar sebelah, ya__"


Kamar sebelah memang suka Aisyah pakai untuk salat. Ia jarang menerima tamu menginap. Jadi, kamar tidur hanya ada dua. Yakni kamar miliknya dan kamar yang ditempati oleh Ilkay. Ilkay juga anak yang cerdas, tanpa drama lagi, langsung melaksanakan apa yang Aisyah katakan.


"Di mana dia?" tanya Dishi.


"Di kamar mandi. Sebentar lagi pasti keluar," jawab Aisyah.


Meski sudah cuci muka dan berwudhu, Ilkay masih setengah sadar, masih mengumpulkan nyawa agar bisa berdiri dengan tegak. "Ilkay, sudah bangun? Ayo,segera kita laksanakan salat subuh sebelum waktunya habis," ajak Dishi.


"Baik, Ayah," jawab Ilkay, belum menyadari jika yang mengajaknya itu adalah Ayahnya.


"Nak, itu sajadah kamu. Lebih kedepan lagi dari Mama. Subuh ini, Ayah yang akan menjadi imam kita," sahut Aisyah.


Hari itu, untuk pertama kalinya Aisyah salat di imami oleh pria yang telah menjadi suaminya. Sampai-sampai, Aisyah meneteskan air matanya. Bahagia telah berkumpul dengan suaminya. Namun, ia juga merasa sedih karena teringat Ayahnya.


Selama salat, Ilkay juga belum sadar jika seseorang yang menjadi imam salatnya adalah Ayahnya. Sampai ketika salam tiba, Ilkay kembali memastikan jika itu benar adalah Ayahnya, yang selalu ia rindukan.


"Ayah?"


"Benarkah, Ayah?"  ucapnya seakan tak percaya jika itu adalah Ayahnya. Ilkay melihat Mamanya, menyakinkan diri jika pria yang di depannya benar adalah Ayahnya, "Mama?" tanyanya.


Aisyah pun mengangguk, kemudian Dishi menoleh karah Ilkay dan memanggil namanya lagi. "Ilkay, Ayah sudah pulang," ucapnya dengan merentangkan tangannya.


"Ayah!" teriak Ilkay girang.


Pelukan Dishi mampu membuat Ilkay merasa aman. Ayahnya ada di dekapannya. Ilkay tahu, Dishi memang bukan Ayah kandungnya, namun Ilkay tahu Dishi lah yang selalu memperjuangkan hidup dan kebahagiaannya.


"Ayah, ini benar Ayah?" tanya Ilkay lagi.


"Tentu saja, siapa lagi Ayahmu jika bukan Ayah?" jawab Dishi mencium kening putranya itu.


Keharuan pagi itu membuat susana rumah semakin hangat. Ketiganya kini dapat berkumpul kembali. Dishi mendapat cuti selama tiga bulan dari Chen dengan tanpa di potong gajinya. Sementara Dishi juga sudah membuka perusahaan baru kala di Amerika. Membuatnya tidak risau akan masa depan rumah tanggannya nanti.


Dishi benar-benar memikirkan semua itu demi wanita yang ia cintai dan anak yang ia kasihi meski bukan darah dagingnya sendiri. Biasanya, Ilkay akan lanjut tidur setelah salat subuh. Akan tetapi, tidak untk pagi itu. Ia malah main game bersama Ayahnya di ruang tengah.


"Kalian masih mau main game, atau ikut Mama ke rumah Paman Ayden?" ajak Aisyah.


"Ilkay ikut Ayah aja! Ayah, oke, Ilkay juga oke!" seru Ilkay.


"Ayah--" panggil Aisyah.


"Ayah ingin ajak kalian berlibur. Tapi, sepertinya Mama sibuk sendiri. Jadi, Ayah akan gunakan untuk istirahat di rumah saja hari ini bersama Ilkay," jawab Dishi menggerakkan alisnya naik turun.


"Baiklah, tidak ada yang mau ikut Mama. Maka Ilkay sekolahnya di antar dan dijemput oleh Ayah hari ini. Jangan repotkan Mama, Assallamu'alaikum!"


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh,"


"Hati-hati di jalan Mama...," ucap Dishi dan Ilkay bersamaan.


Setelah beberapa menit, Aisyah kembali lagi. Ada yang terlupakan kala keluar, yakni belum mecium tangan suaminya. Mendapat sebuah kecupan di tangannya, Dishi merasa tenang. Sampai bingung mau aku apakan ini keluarga.