Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Xia Setuju Kembali



Tiba dimana Xia sudah keluar dari rumah sakit. Hati itu, Tama dan Dishi menjemputnya dengan ditemani Sachi juga tentunya. Antara Tama dan Xia, kini hanya bisa saling diam dan terasa sekali jarak diantara keduanya.


"Aku mau ke kembali ke Amerika. Tapi tolong secepatnya. Rasanya muak aku lama-lama di sini," ucap Xia lirih.


"Kau yakin?" tanya Dishi. "Apa yang membuatmu menjadi yakin ingin kembali ke Amerika? Apakah Tama menolakmu?" sambungnya.


"Bukan urusanmu!" cetus Xia memalingkan wajahnya.


Dishi tersenyum sinis, "Itu keputusan yang paling bagus. Jangan pernah merubah keputusan lagi. Malam ini juga, kita ambil penerbangan ke Amerika."


Langit cerah kota itu membuat Xia semakin kesal. Xia seakan merasa jika Tuhan bahagia jika dirinya menderita. Sampai dimana, mobil yang ia tumpangi berhenti.


"Kita sudah sampai. Segera turun, istirahat sebentar, setelah itu packing semua barang-barang yang ingin kamu bawa," ucap Dishi membuka pintu mobilnya.


"Tunggu!"


Suara Xia menghentikan tangan Dishi. Tangan yang masih memiliki banyak bekas luka itu berhenti dan diletakkan di atas pahanya. "Ada apa?" tanya Dishi.


"Pengen peluk--" Xia merentangkan tangannya dengan raut wajah sedih. .


Dishi memberikan pelukan hangat untuk Xia. Bagaimanapun juga, Dishi tetap tidak tega mengirim Xia kembali ke Amerika. Xia selalu saja mengalami pembullyan dan bersikap baik meski terkadang menyebalkan. Xia akan menjadi patuh ketika orang yang berada di sisinya memberikan perhatian lebih kepadanya.


"Bagaimana jika kamu ikut bersamaku ke Korea? Tentang sekolahmu, aku bisa carikan sekolah yang aman. Di sana juga ada anaknya kakaknya istriku, kamu akan mendapatkan teman bermain juga, hm?" ucap Dishi memberikan pilihan.


Xia tak menjawab, dia malah menundukkan kepalanya. Meski sampai nanti usianya 18 tahun walinya adalah Tama, Xia tidak ingin sampai merepotkan pria yang disukainya itu. Tak ingin menganggu kebersamaan Dishi bersama Aisyah juga, Xia tetap ikhlas kembali ke Amerika dengan sekolah yang baru.


"Aku tidak masalah jika kamu ikut bersamaku ke Korea. Istriku pasti akan menyetujui itu," lanjut Dishi. "Xia, bagaimanapun juga aku telah menganggapmu seperti adikku sendiri. Jujur, aku tidak tega mengirim ke asramamu yang lama itu,"


"Asisten Dishi, terima kasih. Terima kasih sekali, kamu sudah mau menganggapku sebagai adikmu. Kamu sangat baik, sangat setia kepada keluarga kakakku. Meski aku bukan anak sah dari Ayah Wang, tapi kamu tetap mau merawatku dengan baik sampai saat ini," ungkap Xia.


"Aku sudah siap pergi. Akan aku buktikan, jika aku bisa menjadi di orang yang membanggakan bagi semua orang. Termasuk kamu, asisten Dishi," sambung Xia dengan keyakinan penuh.


Dishi menggenggam erat tangan gadis kecilnya Tama itu. Dengan sejuta harapan, Dishi ingin Xia menjadi orang yang berjaya dimasa depan. Jauh dari dunia hitam, dan hidup dengan normal layaknya orang biasa lainnya.


Di sana, Xia juga memberikan sebuah janji jika dirinya akan patuh kepada Dishi, Feng dan juga Tama karena sudah menyempatkan waktu, memberikan sedikit kasih sayang mereka kepadanya. Perasaan yang dirasakan oleh Xia, akan ia hilangkan dengan perlahan. Berharap, Xia juga bisa fokus belajar tanpa kepikiran siapa walinya. Pada dasarnya, Xia menempuh pendidikan juga uang warisan dari Chen yang sudah disiapkan jauh-jauh hari oleh Chen Yuan Wang.


Malam telah datang, Dishi, Feng dan juga Sachi bersiap untuk mengantar Xia ke Bandara. Namun, Dishi akan ikut ke Amerika karena saat itu, Tama tidak bisa datang ke sekolah Xia di sana karena masalah visa.


Sebelum berangkat, Feng dan Tama bertengkar dulu karena masalah Tama yang tidak mau ikut serta mengantar Xia ke Bandara. Feng hanya ingin Xia belajar dengan fokus, tanpa ada masalah hanya gara-gara Tama yang tidak berlaku adil kepadanya.


"Emang masalahnya apa jika aku tidak ikut pergi? Kau, Dishi dan Nona Sachi sudah ada untuk mengantarnya nanti. Jadi untuk apa aku ikut serta?" kata Tama dengan ketus.


"Cih, kenapa kau sangat menyebalkan hari ini. Jika kau memang tidak rela Xia pergi ke Amerika, cegah!" tegas Feng. "Cegah dia pergi, bawa ke Jogja. Bisa kau rawat dan kau pantau jauh lebih mudah di sana," lanjutnya.


"Aku tidak pernah memikirkan hal seperti itu, Feng," tepis Tama.


"PERNAH! Kau pernah memikirkan ini sejak Dishi mengatakan ingin mengantar Xia kembali. Kenapa kau tidak jujur pada dirimu sendiri, hah!" Feng mulai emosi.


"Kisah Kakek nenekku, memang tidak seharunya ada kisah yang ke-2. Tapi kau ini wali dari Xia, bukan kakak angkatnya!" tegas Feng.


Tama hanya diam. Dia memalingkan muka dan membelakangi Feng. Kemudian, mengatakan jika dirinya tak ingin terbebani dengan merawat gadis lain yang bukan keluarga sendiri.


"Kau bisa mengatakan itu karena kau suka padanya, bukan? Kau hanya takut jika kau mencintainya, benar, 'kan? Kenapa kau seperti ini, Tama!" Feng mulai bergejolak.


"Aku tidak seperti yang kau pikirkan, Feng. Kenapa kau terus berteriak seperti ini? Aku tidak ingin mengantarnya, bukan karena aku tidak rela melepaskan dia pergi," jawab Tama.


"Lalu apa? Apa artinya ini? Kau mengusirnya dari pikiranmu, kau menyakiti hatinya dengan mengusirnya ke Amerika. Padahal dia berharap dibawa pulang olehmu ke Jogja. Dia menemukan pelanginya setelah badai yang terus-menerus menerjangnya selama beberapa tahun terakhir ini," ungkap Feng.


"Kau adalah pelangi baginya. Apakah kamu tega membuat terus murung seperti itu?"


"Tama, dia hanya membutuhkan dukunganmu. Aku menyayanginya juga seperti adikku sendiri, tapi dia lebih percaya padamu. Jika kamu tidak bisa membawanya pulang ke Jogja, setidaknya kamu mengantarnya ke Bandara agar perjalanannya tidak terganggu karena memikirkanmu,"


"Hei, aku percaya kau adalah pria yang baik. Kau selalu memuliakan ibu, selalu menyayangi saudara perempuan di keluarga kita. Semoga penilainku kepadamu ini tidak salah. Bicaralah sebentar dengannya, peluk dia dan beri dia semangat untuk belajar, Tama." Feng menepuk-nepuk bahu Tama sebelum dia pergi meninggalkannya sendiri.


Keegoisan hati Tama bukan hanya beralasan sederhana. Dirinya hanya takut kisah nenek dan juga kakeknya Feng terulang kembali. Menjadi anak tinggal, dirinya juga tidak ingin memikirkan hal lain kecuali membahagiakan kedua orang tuanya. Jika membawa pulang Xia nanti akan menjadi pengaruh besar kepada keluarganya, maka dari itu Tama tidak akan pernah membawa Xia bertemu dengan kedua orang tuanya.


Tama bimbang, dia duduk termenung di sudut kasur menatap ke bawah. Beristighfar dan terus menyebut nama ibunya setelah istighfar ke tujuh. Sekitar beberapa menit, ia sudah tidak mendengar ada keributan lagi di luar kamarnya.


Semuanya sudah berangkat ke Bandara untuk mengantar Xia kembali. Tama pun menghela nafas panjang dan merebahkan dirinya keranjang yang empuk itu. Teringat dengan senyum gadis kecilnya yang begitu manis, membuat perasaannya tidak nyaman.