
Tengah malam, Aisyah melihat Chen masih sibuk dengan ponselnya. Ditengah gelapnya cahaya ruangan itu, Chen masih saja bekerja menggunakan ponselnya. Sedangkan Rafa dan Pak Raza sudah terlelap di sudut lain.
"Hai," sapa Aisyah.
"Belum tidur?" bisik Chen. "Atau kamu tidak bisa tidur karena sakit? Jika iya, aku akan menelpon Asisten Dishi untuk segera mengirim kendaraan ke sini dan membawamu ke Kota," imbuhnya.
"Boleh aku duduk disampingmu, kakakku?" izin Aisyah dengan manis.
"Tentu saja, duduklah. Lihat, aku sedang mendesain cincin untukmu." Chen memperlihatkan hasil karya miliknya.
Meski Chen adalah seorang putra yang dibesarkan dalam keluarga Mafia, tetap saja dia memiliki usaha yang jelas halalnya hasilnya. Ia memiliki usaha pembuatan perhiasan dari banyak jenis batu permata lainnya.
"Cantik sekali, apa itu cincin untukku?" tanya Aisyah seraya memuji karya saudaranya.
"Tentu saja. Aku juga memiliki tempat pembuatannya, jadi saat kita pulang dari sini nanti. Aku akan membawamu ke tempat itu," jelas Chen memperlihatkan banyak desain-desain yang ia buat.
"Gloria Gwen?" sebut Aisyah dengan tawa lirihnya yang lucu. "Nama apa itu?" tanyanya.
"Nama tempat pembuatan semua desainku ini. Aku memakai nama saudariku yang super nakal itu untuk nama usahaku. Aku juga mengambil namamu, sebagai nama tempat tinggal anak yatim piatu atau anak terlantar juga di Tiongkok. Dan lagi, di sana, banyak anak-anak yang beragama muslim tau." jelas Chen masih sibuk dengan ponselnya.
"Begitu besarkah kasih sayangmu kepada kami, Kak Chen? Bahkan, nama kami--"
"Stt … kalian adalah adik kandungku. Aku menyayangi kalian meski kita belum pernah bertemu sebelumnya. Aku selalu yakin, pasti kalian juga akan menyayangiku tanpa syarat. Kau dan Gwen, adalah harta paling berhargaku, termasuk orang tua kandung kita juga."
"MasyaAllah. Boleh aku memeluk kakakku ini? Aku merasa, kau mirip sekali dengan Ibu dari fisik, tapi di hatimu … kau mirip sekali dengan Ayah kita yang ngangenin itu." air mata Aisyah berlinang melihat ketulusan yang Chen berikan kepadanya.
Chen meletakkan ponselnya, lalu merentangkan tangannya dan Aisyah memeluknya. Tak ada rasa risih diantara mereka, meski mereka sudah sama-sama dewasa. Yang ada, mereka saling menyayangi satu sama lain dan tak ingin ada hal buruk lagi yang menimpa keluarganya dikemudian hari.
Rupanya, Gwen mendengar apa yang kedua saudaranya katakan. Ia tersentuh melihat Chen dan Aisyah yang begitu menyayangi dirinya. Tak perlu bukti apapun lagi, Gwen sudah cukup mengerti dan cukup puas dengan apa yang diberikan kedua saudaranya.
"Mereka berdua memiliki sesuatu untukku yang luar biasa. Kak Chen menggunakan namaku sebagai tempat pembuatan perhiasan. Lalu Kak Aisyah, dia juga menggunakan namaku sebagai toko yang sengaja dia bangun untukku. Tapi aku …,"
"Aku bahkan tidak memiliki apapun untuk mereka. Apa aku ini benar-benar beban keluarga?" gumamnya dalam hati.
Kembali ke ranjangnya, Gwen mulai memejamkan matanya. Berharap dirinya benar-benar bisa berubah seperti apa yang diharapkan oleh keluarga besar kepadanya. Aisyah dan Yusuf hanya memiliki permintaan kecil untuknya, yakni berhijab dan melaksanakan kewajiban lainnya sebagai seorang muslimah.
Selamanya, Aisyah dan Yusuf tak pernah menginginkan hal lebih dari Gwen. Rebecca juga tak pernah menginginkan apapun. Hanya saja, Gwen yang merasa dirinya ana bungsu, dimana anak bungsu harus selalu dituruti apapun keinginan dan dimanja segala sikap dan perilakunya, meski itu adalah salah besar.
Pagi-pagi sekali, sebelum alarm salat subuh, Gwen sudah bangun lebih dulu. Ia hendak menyiapkan sarapan untuk semua orang sebagai bentuk kasih sayangnya. Ketika menyentuh kentang ….
"Opo iki? Ubi, haha aku pikir kentang. Hampir sama, sih …," desis Gwen.
"Hey, aku baru ingat kalau aku tidak bisa masak. Waduh, gimana dong?"
"Dimana belatiku? Aih, aku lupa lagi. Belatiku yang cantik itu disita Pak Raza. Sebaiknya aku ambil saja sebelum dia bangun."
Namun, ketika Gwen menoleh, ia terkejut karena melihat Pak Raza sudah ada di belakangnya. Saking terkejutnya, ia hampir saja melukai dirinya dengan menjatuhkan pisau yang ada di samping tangannya. Pisau itu tersenggol, dengan sigap Pak Raza langsung menarik tangan Gwen dan Gwen terjatuh ke pelukan Pak Raza.
Tatapan mereka terhenti sejenak. Gadis yang hanya memikirkan uang dan diri sendiri ini, mungkinkah jatuh hati dengan guru pembimbingnya?
"Oh, aku mau nyanyi. Dah tau di dapur, ya mau masaklah!" jawab Gwen tak ada rasa canggungnya sama sekali.
Tak secepat itu Gwen dapat membuka hatinya untuk mencintai seseorang. Dalam pikirannya belum ada kamus mencintai orang lain, kecuali uang dan keuntungan diri sendiri.
"Masak?" tanya Pak Raza heran. "Masak? Kamu kan tidak bisa masak, Gwen. Ingat kejadian beberapa hati lalu?" jleb, seperti suara tusukan yang menancap di hati seorang gadis yang tak banyak memiliki kelebihan seperti gadis pada umumnya itu.
"Dih, sakit tau! Dah ayo bantu aku, dah bangun juga, 'kan? Masak semua ini, dan aku yang mengarahkan, oke?" ujar Gwen memerintah Pak Raza.
"Ini sama saja saya yang masa, dong!" protes Pak Raza.
"Bodo amat! Yang terpenting, ide menunya dari aku, yang masak Pak Raza. Bantu dikit ngapa lah!" desak Gwen.
"Allahu Akbar!" sebut Pak Raza menyentuh keningnya sendiri.
Mau tidak kau, Pak Raza membantu Gwen memasak dengan syarat Gwen harus mau di ajak pulang secepatnya. Pak Raza sudah sangat mengkhawatirkan keadaan Ibunya yang sendirian di rumah.
Gwen membantu mengiris semua sayuran, sementara Pak Raza yang memasukkan bumbunya. Selama memasak, Gwen terus saja menatap wajah Pak Raza yang begitu meneduhkan hatinya.
"Pak Raza ini sebenarnya cakep, tapi sayang … dia galak kek Aisyah. Tapi, boleh juga, sih!" gumam Gwen dalam hati.
"Belum puas?" tanya Pak Raza menyadari jika dirinya sedang diamati oleh gadis nakalnya.
"Eh, kenapa?" Gwen memalingkan pandangannya ke masakan yang masih ada di atas kompor.
"Jangan terlalu berlebihan ketika memandang seseorang. Apalagi, berlawanan jenis kelamin. Bisa jatuh cinta, malah bahaya nantinya!" ujar Pak Raza menyentil hidup Gwen yang mancung itu.
"Seorang Gwen jatuh cinta dengan guru pembimbingnya? Enggak deh! Aku nggak mau! Nanti, yang ada … aku malah di--" celoteh Gwen terhenti ketika Pak Raza menoleh ke arahnya.
"Why?" tanya Gwen ketus.
Pak Raza hendak menggoda Gwen dengan cara mendekati wajahnya. Namun, aksinya terhenti ketika Rafa bangun dan memergoki mereka tengah memasak.
"Ada apa ini?" Rafa melihat ada beberapa gorengan yang sudah di goreng sebelumnya oleh Gwen. "Kalian lagi masak, kah? Sepagi ini, kalian sudah masak?" imbuhnya.
"Hm, iya Mas. S-saya, membantu Gwen memasak untuk semua orang. M-mas Rafa sendiri ... sudah bangun?" Pak Raza gugup.
"Ya ini memang sudah waktunya untuk kita salat, 'kan? Ya memang harus sudah bangun. Kenapa kamu jadi gugup, Pak Raza? Tenang saja, setelah ini kalian juga bersiap, ya. Kita salat berjamaah, assalamu'alaikum!" Rafa menepuk bahu Pak Raza dan meninggalkan keduanya.
Gwen mengamati Pak Raza dengan tatapan mengejek. Niat menggoda itu, rupanya juga diketahui olehnya, Gwen pun kembali meledek Pak Raza dengan mencium pipinya.
Cup,
Suara kecupan itu terdengar jelas di telinga Pak Raza. Bibir tipisnya Gwen juga terasa dengan pasti menempel di pipi Pak Raza. Pak Raza menjauhkan dirinya dari Gwen seketika. Sebab, ia tahu, jika perbuatan Gwen tidak dapat dibenarkan.
"Lihat wajahmu, Pak Raza. Merah seperti udang rebus. Jangan jatuh cinta denganku, atau kau akan sakit sendiri. Aku bawa ini dulu ke meja makan, oke? Tata ...." bisik Gwen membawa keluar gorengan yang ia goreng sebelumnya.