Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Penjelasan Raza



Meninggalkan kisah berani Gwen dan kisah patah hatinya Chen, Aisyah sudah sampai di markas yang dipimpin oleh Raza. Di sana, Aisyah diperlakukan baik oleh anak buah Raza dan melayaninya dengan tulus. 


"Alhamdulillah, akhirnya aku sampai juga. Aku mabuk laut, kenapa juga mereka milih naik kapal," gumam Aisyah menahan diri untuk tidak mabuk.


Tapi, pada akhirnya …. 


Huek, huek … Aisyah tak mampu menampung isi perutnya lagi yang hendak mau keluar. Akhirnya semua yang ada di perut Aisyah keluar tanpa sisa. 


Raza yang khawatir langsung menemui Aisyah dan memberinya segelas air hangat dan minyak angin. "Aisyah, kamu tidak apa-apa, 'kan?" tanya Raza memberikan minyak angin itu.


"Kak Raza mau membunuhku secara perlahan, kah? Aku mabuk laut tau!" kesal Aisyah. "Ya Allah, Astaghfirullah hal'adzim," sebutnya memijat pundaknya sendiri. 


"Maaf, aku tidak tau kalau kamu mabuk laut. Seharusnya kamu bilang kalau kamu mabuk laut, Aisyah," ujar Raza. 


"Memangnya Kak Raza beri aku kesempatan untuk nego? Tidak, 'kan? Sudahlah, dimana anak dan adikku sekarang?" ketus Aisyah. 


"Kita masuk dulu," Raza masih saja menyembunyikan fakta, jika Ilkay dan Rifky ada di kediaman lama keluarga Lim, bukan ada padanya. 


Saat Raza membawa Aisyah masuk, salah satu dari orangnya mengatakan bahwa Gwen telah datang ke kediaman lama keluarga Lim. Itu membuat Raza semakin ingin membuat Aisyah lebih lama untuk bersamanya. 


"Kamu istirahat dulu. Biarkan aku menyiapkan sarapan untukmu. Tunggu di sini, jangan berusaha kabur karena hal itu mustahil. Anak buahku akan berjaga di depan pintu kamar ini," kata Raza, lalau pergi dengan terburu-buru. 


Waktu juga sudah menunjukkan lagi hari. Aisyah semakin tidak mengerti apa yang diingkan oleh Raza. Tapi, dirinya tetap berusaha tenang, agar bisa memikirkan cara untuk segera menemukan Leo. Sebab, dirinya yakin jika Ilkay dan Rifky tidak ada di markas. 


"Apakah Ilkay dan Rifky ada di tempat lain? Aku tidak merasakan perasaan apapun tentang mereka di sini," gumam Aisyah dalam hati. 


"Aku harus pikirkan bagaimana cara menemukan Kak Leo. Dia tidak bersalah, aku takut lukanya tidak di rawat dengan baik dan membuatnya infeksi," Aisyah terus mengkhawatirkan Leo. Meski Aisyah selalu risih dengan sikap Leo, tapi baginya Leo adalah pria yang baik dan sayang keluarga. Tak mungkin jika Leo menyinggung Raza. 


Aisyah berusaha mendapat informasi dari salah satu penjaga di sana tentang Leo. Dengan bodohnya, penjaga itu mengatakan bahwa Leo ada diruang tahanan bawah tanah. 


"Astaga, kenapa kau memberitahunya? Jika Tuan tahu, kau pasti akan di bunuh!" geram salah satu penjaga di sampingnya. 


"Aku mana tahu, bagaimana ini, Kak Zhong?" penjaga yang sebelumnya mengungkap keberadaan Leo menjadi panik sendiri. 


"Aku tidak bisa membantumu jika Tuan menghukummu. Lain kali, jangan pernah sembarangan bicara dengan tawanan, mengerti?" tutur orang yang bernama Kak Zhong. 


"Tenanglah, aku tidak akan membongkar diapa yang telah membocorkan rahasia tawanan diruang bawah tanah itu. Santai saja!" sahut Aisyah dengan santai. 


"Apa? Kau bisa bahasa kami?" tanya Kak Zhong. 


Aisyah mengangguk, kemudian kembali ke ranjang yang sudah Raza sediakan untuknya. Aisyah cukup memikirkan cara menemukan Leo saja. Ia mempercayai Dishi, jika dirinya dalam bahaya, maka Dishi pasti akan datang. 


"Ya Allah, semuanya aku serahkan kepada-Mu. Tolong berikut kekuatan dan keberanian memerangi kejahatan yang dilakukan Kak Raza dan komplotannya ini, aamiin." Aisyah terus beroda, siapa rencananya berjalan dengan lancar. 


Tak lama kemudian, Raza datang membawa beberapa makanan dan juga baju ganti untuk Aisyah. "Assalamu'alaikum, maaf lama. Semoga saja kamu tidak kelaparan, ya…," ucapnya dengan senyuman. 


Aisyah membalas senyuman Rasa dengan terpaksa. "Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh. Tidak, kok. Tadi baru saja muntah, jadi tidak lapar banget. Ini apa?" jawab Aisyah.


"Aku harus makan. Jangan sungkan, Aisyah. Kau akan berjuang, jadi butuh amunisi tubuh. Lagipula, makanan sudah ada di depan mata, jangan menolak makanan!" seru Aisyah dalam hati. 


"Kamu tidak makan?" tanya Aisyah. 


"Aku akan makan setelah kamu menghabiskan semuanya. Ayo, makan," perintah Raza dengan kelembutannya. 


Tanpa ragu lagi, Aisyah memakan makanan tersebut. Sembari makan, Aisyah mempertanyakan mengapa dirinya bisa menjadi anak dari Jackson Lim yang penuh dengan dendam itu. 


"Bagaimana kamu tau, kalau aku adalah anak angkat?" tanya Raza. 


"Jackson Lim adalah Pamanku. Dia tidak menikah, dan tidak memiliki anak. Jadi, kesimpulannya, kamu pasti anak angkatnya," Aisyah hampir saja keceplosan. 


Jika Raza tahu, bahwa dirinya dan Asisten Dishi menyelidikinya, maka rencananya akan gagal. Beruntung Raza tidak mencurigainya, ia mulai menceritakan bagaimana dirinya bisa menjadi anak angkat Jackson Lim. 


Sudut pandang Raza


••• Waktu itu, aku berusia 7 tahun ketika bertemu dengan Jackson Lim. Di kala itu, Ayah kandungku pernah di tolong oleh Jackson Lim sesaat Ayahku melakukan tindakan kejahatan. Sejak saat itu, Ayahku bekerja dibawah naungannya. Dua tahun setelah Ayahku bekerja dengan Jackson Lim di pelabuhan untuk menangani penyeludupan barang gelapnya, Ayahku meninggal karena dibunuh oleh rekan kerjanya sendiri.


Di sana, Jackson Lim melihat diriku yang katanya bisa menjadi orang hebat di suatu saat. Lalu, dia mengangkatku menjadi anaknya. Dia menyekolahkan aku di sekolahan yang bagus. Membiayai kebutuhunku dan juga Ibuku. 


Kupikir semuanya dilakukan tulus olehnya. Ternyata, dia meminta imbalan dengan cara aku harus mendekati keluarga kalian dan menjadi informan untuknya. 


Saat di Thailand, kalian mendapat masalah, itu aku yang mengirim informasi. Kemudian tentang anak itu, aku juga yang ada di balik semuanya. Pernikahan Gwen, dan terlukanya dirimu serta Asisten kakakmu, itu juga aku yang memberi informasi.


"Maafkan aku, Aisyah."


Begitulah caraku bisa menjadi anak dari Jackson Lim. Semua di mulai sesaat Ayahku yang menjadi orangnya dan Jackson Lim juga yang membuat Ibuku sakit-sakitan akhirnya meninggal.


•••


Mendengar kisah yang Raza ceritakan, membuat perasaan Aisyah campur aduk. Ia kesal karena ternyata, dirinya selalu terluka juga akibat dirinya mengerikan informasi keberadaan Chen dan Gwen dimana ia pergi. 


Dendam Jackson Lim kepada Rebecca sangat dalam sampai-sampai ingin membunuh anak-anaknya juga.. Di tambah lagi, ia bekerja sama dengan Cindy yang juga memiliki dendam dengan Yusuf karena cintanya selalu di tolak. 


"Maafkan aku membuatmu kecewa, Aisyah. Tapi aku janji, aku akan berubah jika kamu mau menikah denganku. Ayo Aisyah kita menikah. Aku janji, aku akan membantumu mengambil Ilkay dan adikmu dari kediaman kama keluarga Lim," Raza masih saja berdalih. 


"Menikah? Menikah juga harus membutuhkan wali, Kak Raza. Kedua wali nikah aku masih hidup. Ayahku tidak tahu keberadaannya sekarang ada di mana, lalu kakakku? Dia tidak mungkin mau menjadi wali nikah, jika aku menikah denganmu," jelas Aisyah dengan kelembutan. 


"Aisyah, kita bisa membeli wali. Mau ya menikah denganku. Apa yang kamu harapkan dari Asisten rendahan itu?" ujar Raza dengan nata penuh harap. 


"Asisten yang kamu sebut rendahan itu adalah orang yang selalu menguatkan aku dan tidak pernah mengecewakan aku, Kak Raza. Tapi kamu telah mengecewakan aku, kenapa kamu berubah seperti ini?" Aisyah mulai melawannya. 


Raza membuang wajahnya. Cintanya benar tulus, tapi caranya salah. Aisyah juga tak bisa menerima cinta pria lain lagi, karena dalam hatinya sudah ada Dishi yang mengisinya.


Lalu, bagaimana dengan Mas Agam yang baru bangun?