Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Pengganggu



"Ilkay, tapi Mama tidak bisa jauh darimu. Bagaimana bisa Mama meninggalkan kamu di pesantren, Nak?"


"Kay tidak mau bertemu dengan Guru Chaterine lagi. Kay nggak mau menyakiti hati Mama, Kay juga tidak ingin menyakiti hati Ibu Kay yang telah mengandung dan melahirkan Kay. Kay tidak ingin membuat air mata dua surga Kay sampai menetes," 


Setelah mengungkapkan isi hatinya, Ilkay kembali ke kamarnya. Suasana menjadi hening kembali. Aisyah dan Dishi tak percaya jika anak seusia Ilkay bisa berpikir sedewasa itu. 


"Sayang, makan. Kita pikirkan soal Ilkay nanti, ya. Ayo, makanlah!" pinta Dishi, mengusap tangan Aisyah. 


Malam berlalu, usai salat subuh, Aisyah sibuk sendiri di dapur. Sementara Dishi masih mengaji bersama Ilkay di kamar sebelah. Aisyah memasak dengan hati yang lebih tenang.


"Assalamu'alaikum, selamat pagi, istriku," sapa Dishi dengan kecupan di pipi Aisyah. Memeluknya dari belakang dan sedikit menggodanya. 


"Wa'akaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh, selamat pagi juga, suami hehe," jawab Aisyah malu-malu. "Dimana Ilkay?" tanyanya.


"Masih siap-siap. Katanya malu kalau dibantu pakai seragam," jawab Dishi. 


Aisyah mendekat ke arah suaminya. Ia mengatakan bahwa dirinya memilih berhenti belajar, supaya bisa membawa Ilkay kembali ke Jogja.


"Kamu bilang apa, Ai? Berhenti belajar, setelah sekian lama ini? Hanya karena orang lain, Chaterine? Aku tidak izinkan!" tegas Dishi. 


"Tapi ini demi kebaikan Ilkay, Dishi," sahut Aisyah. 


"Tidak ada demi kebaikan apapun, jika salah satu diantaranya akan dirugikan, Ai. Kamu tetap akan belajar. Ilkay tetap sekolah dan les seperti biasa, jangan dibahas lagi, oke? Pembahasan selesai!" tukas Dishi. 


Tak disangka, Ilkay mendengar percakapan kedua orang tuanya. Ilkay menjadi sedih, ia merasakan jika dirinyalah yang membuat kedua orang tuanya berdebat. Ilkay memilih untuk diam, takut jika setiap ucapannya akan membuat masalah lagi. 


"Mama, Ilkay mau sarapan," ucapnya dengan wajah murung. 


Dishi tahu jika Ilkay mendengar percakapannya dengan Aisyah. Dishi tak ingin Ilkay tumbuh dengan buruk karena tidak paham akan masalah orang dewasa karena salah tanggal juga. Akhirnya, Dishi mulai membahas hal yang dibahas dengan Aisyah pada Ilkay.


"Nak, kamu dengar apa yang kami bicarakan, 'kan?" tanya Dishi. 


Ilkay masih diam. Ia hanya tidak ingin ada kesalahpahaman lagi diantara kedua orang tuanya. 


"Tidak apa-apa, katakan saja. Ayah dan Mama, tidak akan marah, kok," lanjut Dishi. 


Ilkay menatap Aisyah. Kemudian Aisyah tersenyum dan mengangguk pelan. Menandakan bahwa Aisyah tidak keberatan Ilkay mengatakan sesuatu. 


"Iya, Ayah. Kay dengar semuanya," jawab Ilkay. 


Dishi menghela napas panjang. Lalu, Dishi memberikan secangkir teh kepada Aisyah dan Ilkay. Menunduk sebentar, mengucap basmallah, menangkan pikiran dan mengatur hatinya. 


"Ilkay, anak baik, 'kan?" 


"Dengar, Nak. Ayah, tidak akan pernah melarang kamu untuk maju. Keinginan kamu kembali ke pesantren, itu sudah sangat mulia,"


"Tapi, Ayah kecewa dengan keputusan Ilkay dan Mama yang terkesan tidak pikir panjang dulu. Ingat, waktu semalam bukanlah waktu yang tepat untuk memutuskan suatu keputusan yang besar,"


"Mama, Ilkay sudah mulai akrab dengan suasana di Korea. Jadi, biarkan dia menyelesaikan sekolahnya sampai nanti masuk sekolah dasar,"


"Dan Ilkay, Mama pernah menunda pendidikan karena kecelakaan tempo lalu, apa Ilkay juga tidak kasihan jika harus melihat Mama mengulang kembali pendidikannya?"


Dishi mengatakan itu dengan kelembutan yang ia miliki. Berusaha semaksimal mungkin, supaya bisa mendapatkan kepercayaan dari istri dan anaknya, bahwa dirinya pantas dijadikan  seorang imam dalam rumah tangga. 


"Di sini ada Ayah. Sudah tugas Ayah melindungi Mama dan Ilkay. Jadi, kalian cukup perlu fokus belajar dan menjalani porsi kalian masing-masing. Ayah yang akan membereskan semua ini, hm?"


"Mama dan Ilkay, bisa percaya dengan Ayah, 'kan? Pembahasan selesai, dan sekarang sarapan." tukas Dishi menyajikan nasi goreng yang di masak oleh Aisyah. 


Aisyah dan Ilkay saling memandang. Mereka cukup diam dan mendengarkan apa yang Dishi tuturkan. Aisyah merasa beruntung memiliki suami yang bertanggung jawab seperti Dishi. 


Pagi itu, Ilkay dijemput oleh Ayden. Setiap malam minggu, Ilkay pasti akan menginap di rumah Ayden untuk belajar agama bersama dengan Mayshita, Ibunya Ayden. 


"Oppa!"


"Tenang saja, kalian nikmati waktu berdua saja. Aku sudah tidak sabar menunggu satu keponakan lagi dari kalian, bukan begitu, Ilkay?" ujar Ayden menggoda Aisyah. 


Ilkay tersenyum lebar. "Ya, Kay ingin mei-mei (adik perempuan). Dengan bibir yang mungil, dan mata yang kecil seperti Ayah!" seru Ilkay. 


"Ilkay!" pipi Aisyah menjadi merona. 


Ilkay segera pamitan kepada kedua orang tuanya. Ayden memang berpengaruh besar bagi kehidupan Ilkay, disaat Dishi tidak ada bersamanya. 


"Assalamu'alaikum, Ayah, Mama. Sampai jumpa di hari senin sore," pamit Ilkay. 


"Wa'akaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh,"


"Sampai jumpa, Ilkay!" 


Lambaian tangan Aisyah mengisyaratkan jika dirinya seperti tak rela jika Ilkay dibawa pergi lama oleh Ayden. Dishi pun mulai menghiburnya. 


Dishi tiba-tiba menggendongnya dan membawanya Aisyah ke sofa tanpa menutup pintu terlebih dahulu. 


"Ahh!"


"Apa yang ingin kamu lakukan?" pipi Aisyah semakin memerah. 


"Tentu saja ingin bermanja dengan istriku. Apa lagi?" jawab Dishi seraya berbisik. "Tidak ada belajar kan, hari ini?" tanyanya. 


Aisyah menahan senyum. Kemudian mengangguk dengan perlahan. "Tidak ada," jawabnya. 


"Em, bagaimana kalau hari ini, kita--" ucapan Dishi terhenti kala melihat wajah istrinya yang selalu membuat jantungnya berdebar. 


Jari tangan Dishi mulai menyentuh bibir Aisyah. Napas keduanya mulai memburu, jantungnya mulai berdebar hebat. Mata Dishi seakan meminta izin kepada Aisyah hendak mencium bibirnya. Dan mata Aisyah pun seolah menjawabnya dengan kata 'iya'. 


Di saat bibir mereka mulai menempel, Leo datang tanpa mengetuk pintu dan membuat keduanya canggung, saling berjauhan dan gugup. 


"Aisyah aku ... Ups, sorry!" segera Leo memalingkan tubuhnya. 


"Apa kau tidak tahu cara mengetuk, Kak Leo?" tanya Aisyah menutupi wajahnya menggunakan tangannya. 


"Um, aku hanya ... hanya, itu," jawab Leo gugup.


"Aigoo! Ini semua karena aku belum terbiasa dengan pernikahan kalian.  Lagipula, kenapa pintu tidak kalian tutup, hah?" sulut Leo, membalikkan badannya kembali. 


Aisyah dan Dishi meminta maaf akan kecerobohannya. Mereka pun mempersilahkan Leo untuk duduk. Kemudian, menanyakan tujuan Leo datang ke rumah. 


"Ah ini, ibuku memasak lebih untuk kalian nikmati. Ibu dan Ayahku juga meminta kalian mampir ke restoran hari ini," ungkap Leo memberikan rantang yang ia bawa. 


"Terima kasih, ini sangat merepotkan pastinya," jawab Aisyah menerima rantang tersebut. 


"Ah tidak. Orang tuaku tau suamimu datang. Jadi mereka penasaran dengannya. Aku katakan kalau suamimu orang yang aneh, mereka malah tidak percaya!" ujar Leo menatap sinis Dishi. 


Plak! 


Aisyah memukul bahu Leo. 


"Yang kau bicarakan aneh itu adalah suamiku!" kesal Aisyah. 


"Iya, maafkan aku. Aku hanya bercanda, ih. Suamimu memang tampan, tapi sayang, dia tak setampan diriku. Kasihan sekali kamu menikahi pria seperti ini!" 


Meski begitu, Dishi  tidak pernah menganggap ucapan Leo dengan serius. Hanya saja, ia masih sedikit kesal karena kemesraannya telah diganggu oleh Leo.