
Sarapan di mulai. Lin Aurora menyampaikan pesan Ibu mertuanya kepada Chen dengan baik. Tama menolak untuk ikut, ia juga tidak mau mengganggu kebersamaan Chen dengan istrinya. "Aku akan menjenguk nanti setelah selesai dari pabrik," ucapnya masih lahap menyantap sarapannya.
"Hm," jawab Chen.
"Heh, kamu sariawan, kah? Sejak tadi loh, jawabnya hm, hm, hm mulu. Radang?" tanya Tama heran.
"Matamu!" Chen mengumpat.
"Hish, ngeri. Ngeri, ngeri, Chen_"
Di rumah sakit, Chen masih diam saja. Ia tak berekspresi apapun tentang kondisi Gwen dan kepada orang tuanya. Chen masih kesal dengan Tuan Natt atas keserakahannya.
"Gwen, glory world akan aku beli 30%. Hari ini juga, aku akan membayarnya. Jika kurang, usaha lain akan aku berikan padamu," ucap Chen tiba-tiba.
"Hah?"
Semua orang menjadi menatap Chen dengan heran. Mereka tak paham mengapa tiba-tiba saja Chen ingin membeli glory world yang sudah ia berikan kepada Gwen sebagai hadiah pernikahan.
"Untuk apa? Usahamu banyak, mengapa masih ingin membeli glory world dengan menanam saham di sana?" tanya Gwen.
Chen diam saja. Ia tak ingin menyakiti perasaan wanita manapun. Tapi memang itu sudah ia putuskan, untuk mengikuti alur Tuan Natt dan diam-diam mengambil keuntungan lainnya.
"Semua ini karena aku membawa Lin Aurora ke mari. Tuan Natt meminta kompensasi kepadaku. Awalnya dia meminta 30% dari perusahaan di Amerika. Hanya saja, itu sudah menjadi milik Dishi. Lalu, ada baiknya jika aku akan membeli perusahaanmu itu, Gwen," jelas Chen tanpa di saring kata-katanya. Ia mengatakan begitu saja kepada Lin Aurora tentang Ayahnya.
"Apa? Aku akan bicara dengan Ayahku--" ucapan Lin Aurora terhenti kala Chen menatapnya. Kemudian, Lin Aurora tertunduk.
Gwen meminta semua orang keluar kecuali suaminya dan pasangan baru itu. Tuan Wang dan Rebecca yang sebelumnya bersikeras ingin mendengar, di beri pengertian oleh Yusuf dan Jovan. Akhirnya mereka mau juga patuh. Setelah orang tua mereka keluar, Gwen menatap Chen, kemudian menatap Lin Aurora secara bergantian.
Tak, tok, tak, tok
Seolah ada suara detik jam kuno yang membacksound situasi itu. Tangan Gwen masih sakit, jadi ia tidak bisa memukul kakaknya. Dengan lemparan belatinya, tak sengaja mengenai lengan Chen dan membuatnya tersayat sampai bajunya sobek.
"Hish--" Chen mendesis.
Belati itu terjatuh dengan darah Chen yang menodainya.
"Hah! Kalian tidak menghargai usahaku menyiapkan makanan, dekorasi tempat dan lain-lainnya demi akad kalian. Apakah ini cara kalian berterima kasih?" kesal Gwen seperti anak kecil yang menggoyangkan kakinya.
"Glory world bisa kalian ambil kembali! Aku tidak butuh itu. Aku sudah kaya dan usahaku banyak ke sana-kemari. Kalian berdua pulang! Aku malas melihat kalain berdua ada di sini!" Gwen terus mengomel sampai dirinya lemas.
Agam segera menyiapkan makanan yang sudah Lin Aurora bawa. Chen kembali ingin bernegosiasi dengan Gwen. Tapi, Gwen tetap menolaknya dan meminta Chen segera pulang ke Tiongkok untuk membereskan masalahnya sendiri. Pasalnya, Gwen juga sudah pusing mendengar Tuan Wang dan Rebecca terus berdebat.
"Di luar ada Mami dan Ayah angkat yang terus bertengkar. Lalu, kalian datang membawa masalah kalian kepadaku hanya demi membicarakan Glory World. Kalian bisa ambil perusahaan perhiasan itu. Aku tidak butuh! Makan lele dari peternakan Mas Agam sudah enak mantul … huh, aku jadi pengen pecel lele," celetuk Gwen terlihat frustasi.
"Gwen, aku hanya membutuhkan 30% saja. Sisanya itu milikmu," lanjut Chen.
"Ambillah, berkas perusahaan nanti aku kirim melalui asistenku," ucap Gwen dengan wajah frustasinya. "Memang hanya Kak Aisyah yang selalu mengerti diriku. Dia tidak pernah merepotkan pikiranku maupun ragaku," imbuhnya dengan melahap ayam gorengnya.
Agam mengajak Chen untuk bicara berdua sebentar di pojokan sana. Lalu, Lin Aurora duduk di samping Gwen dan memberinya minum. "Ada apa? Kau korban Ayahmu, 'kan? Itu sekarang tugas kamu. Bertahan dengan perjuangan, atau menyerah dengan luka," tutur Gwen kepada Lin Aurora.
"Apa artinya?" tanya Lin Aurora.
"Kak Chen itu labil. Hatinya sejak kecil selalu dipermainkan oleh orang di sekitarnya. Dia selalu merasa tidak bahagia, jadi dia selalu bertingkah kekanak-kanakan seperti ini kalau sudah menyinggung perasaan. Kamu, yang seharusnya mampu membuatnya menjadi memiliki kepercayaan diri dalam mencintai seseorang. Dalam arti, kakakku sangat haus akan kasih sayang, dia hanya butuh kasih sayang tidak dengan lainnya. Jika dia mampu mencintaimu, maka dia pasti mampu melepas hartanya demi dirimu," bisik Gwen.
"Jadi, aku harus meyakinkan hatinya dan membuatnya jatuh cinta padaku?" tanya Lin Aurora lagi.
"Tentu!"
"Tapi, mengejar cinta orang yang arogan dan dingin seperti dia …," ucapan Lin Aurora terhenti kala mengingat jika Ayahnya memiliki tujuan buruk padanya.
"Heh, dia sangat menyayangi adiknya yang lain. Kau bisa gunakan nama kakakku yang lain itu untuk membuatnya patuh padamu. Akan aku kirim nomornya kepadamu, kau bisa bertanya segalanya tentang pria dungu itu pada kakak perempuanku," lanjut Gwen memberikan wejangan.
"Baik, suhu. Aku akan lakukan apa yang kamu katakan ini. Aku telah menikah dengannya, dan aku tidak mau menikah hanya untuk pembalasan atau yang lainnya," ungkap Lin Aurora masih bisik-bisik dengan Gwen.
"Mantap, Nak. Lanjutkan!" tegas Gwen menepuk-nepuk bahu Lin Aurora. "Asatghfirullah, sakit banget bahuku," rintihnya.
Sementara itu, Agam meminta Chen untuk bersabar. Ia memberikan beberapa amalan untuk Chen supaya mampu meredamkan emosinya.
"Masalahnya … Ayahnya dia itu ingin membuat keluarga Wang dan Lim hancur. Kau mana tau itu!" ketus Chen.
"Saya memang tidak tau. Tapi, alangkah baiknya, kamu mulai membuat rencana dan bekerja sama dengan istrimu. Bukankah, dia sekutumu saat ini. Manfaatkan dia untuk mengalahkan mertuamu yang jahat itu," usul Agam.
"Wah, caiyo! Ternyata kau bisa berpikiran picik. Tidak menyangka! Pasti kau tertular virusnya Gwen, 'kan? Kasihan kamu," sahut Chen.
"Astaghfirullah hal'adzim, kenapa gitu, ya? Apakah saya akan berdosa? Sudahlah, pokoknya kamu jangan pernah mempermainkan pernikahan. Hukum karma itu nyata, jangan pernah menyikiti istrimu, air matanya akan mengutuk setiap langkahmu nanti," tutur Agam.
Chen memang tidak pernah membenci Lin Aurora. Hanya saja, jika mengingat Ayahnya, ingin sekali Chen melampiaskan amarahnya itu kepada Lin Aurora. Di sisi lain, Lin Aurora sudah bertekad untuk membuat Chen melihat keserusan hatinya. Sebab, Lin Aurora benar-benar tlah mencintai Chen setelah 12 hari bersamanya.