Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Gwen Versi Ilkay



"Bibi Gege!"


Bruak! 


Ilkay membanting pintu. 


"Allahumma … Anak siapa ini! Usil banget pakai banting pintu segala!" kesal Gwen dalam hati. Gwen tak sadar diri jika dirinya jauh lebih parah dari kelakuan Ilkay.


Gwen berjongkok, menanyakan mengapa Ilkay datang mencarinya. "Wahai keponakan satu-satunya yang aku miliki, ada apa kau mencariku?" tanyanya. 


"Kay ingin berbisnis dengan Bibi Gege," celetuk Ilkay polos. 


Gwen tercengang, tak tahu keponakannya itu meniru gaya siapa sudah bisa mengajak orang dewasa berbisnis. "Kamu … memangnya kamu tau berbisnis?" tanya Gwen berbisik. 


"Haih," Ilkay menepuk keningnya. "Bukannya kemarin Bibi yang mengajari Kay untuk berbisnis? Mendapatkan banyak uang dan membuat Mama Kay bangga?" jelas Ilkay mencoba mengingatkan ucapan Gwen ketika pertama kali bertemu dengannya. 


Kala itu, ketika semua sedang sibuk menanyakan Aisyah, Gwen sempat berbisik kepada Ilkay ingin mengajarinya berbisnis dan bisa membuat Aisyah bahagia keliling dunia bersamanya. Gwen tidak menyangka jika hal itu dijadikan hal serius oleh Ilkay. 


"Kamu masih kecil, berbisnisnya nanti saja, ya. Saat ini, kamu hanya perlu belajar dengan giat menjadi anak yang cerdas, itu akan jauh lebih membuat Mamamu bangga," tutur Gwen. 


"Tapi, kemarin Bibi mengajari Kay berbisnis. Kay akan bilang kepada Nenek karena Bibi telah menipu, Kay!" seru Ilkay kesal. 


"Et dah! Dari mananya Bibi menipumu, ganteng?" Gwen mengerutkan dahinya. "Bibi kan baik, mana ada menipumu?" lanjutnya mengelak dituduh menipu Ilkay. 


"Jelas-jelas itu menipu, Kay. Bibi ingin mengajariku berbisnis, dan malah sekarang bilang kalau Kay bisa membahagiakan Mama dengan belajar. Bagaimana, sih? Kay merasa dirugikan, bayar kompensasinya!" Ilkay menadahkan tangannya kepada Gwen. 


"Aku tukang palak, di palak? Apa ini karma? Tapi anak ini--" Gwen menggerutu dalam hati. 


"Ayo bayar, Kay. Apa harus Kay bilang juga ke paman baik itu?" ancam Ilkay. 


"Heh, lihatlah. Aku sedang bercermin saat ini. Bedanya hanya gender saat ini. Baiklah, tunggu Bibi akan ambilkan uang untukmu," Gwen terkalahkan oleh anak kecil berusia lima tahun lebih. 


No, beberapa bulan lagi, Ilkay akan berusia 6 tahun. Selama itu, ia hanya pura-pura tidak bisa bicara karena itu adalah bentuk pertahanannya agar tidak disakiti lebih dalam oleh Cindy dan wanita yang mengaku sebagai adiknya Asisten Dishi di penjara. 


"Ini, awas kalau Nenek masih tau soal ini nanti. Kau--" 


"Apa? Bibi mau menghukum Kay? Hm, tanpa Bibi ketahui, Kay sudah meresap semua ilmu berbisnis Bibi. Ternyata Bibi Kay ini masih amatir. Masih kalah dengan Ayah, Kay!" ejek Ilkay. 


"Ayah siapa maksudmu?" sulut Gwen. 


"Ayah Dishi, siapa lagi? Ayah Kay kan cuma dia. Terima kasih, kompensasinya Kay terima, assallamu'alaikum, Bibi Kay yang cantik dan murah senyum," Ilkay pergi begitu saja dengan uang ratusan ribu dua lembar. 


"Bibi Kay yang murah senyum, ya. Lihat saja nanti, aku akan merujakmu, dasar anaknya, Kak Chen!" kesal Gwen sampai menghantam tembok. "Aw, sakit," rintihnya dengan mengusap kepalan tangannya. 


Gwen segera membawa barang-barangnya ke luar. Ia tetap tak bisa marah dengan Ilkay, karena memang Ilkay tidak melakukan perbuatan yang fatal. Di tambah lagi, melihat wajah Ilkay yang lugu menghanyutkan susah untuk Gwen marah lebih dalam pada anak berusia lima tahun itu. 


"Dek, Ilkay tadi ngapain mencarimu?" tanya Agam. 


Agam mengajak Gwen berpamitan dengan seluruh keluarga. Saat ini, Gwen memang benar-benar akan pergi bersama suaminya. Tanggung jawab orang tuanya sudah tidak sepenuhnya kepada Gwen. Kini, tanggung jawab itu akan di tanggung oleh Agam, sebagai suaminya. 


"Mami, Ayah. Aku pamit, apa kalian jadi akan berangkat ke Australia?" Gwen berat meninggalkan orang tuanya, meski dirinya tukang kabur dari rumah. 


"Kami akan pergi setelah Aisyah mendapatkan visa untuk Ilkay ke Korea," jawab Yusuf. 


"Apa? Kak Aisyah mau ke Korea, aku pe--" ucapan Gwen terhenti. Tak mungkin baginya mengekor kakaknya lagi. "Kakak semangat belajarnya, ya. Kembali dengan nilai yang bagus, jangan lupa segera menikah dengan Ayahnya Ilkay yang sekarang juga."


Aisyah tahu jika adiknya ingin sekali ikut dengannya. Dengan senyuman, Aisyah melebarkan tangannya, berharap Gwen datang dan memeluknya. "Jadilah istri yang baik, hormati suamimu, jangan buat di marah, dewasalah menangani masalah rumah tangga, oke?" tutur Aisyah. 


"Aku akan menjadi sepertimu, seorang wanita tangguh dan bertanggung jawab dengan keluarga!" seru Gwen mengangkat engkolnya. 


"Kamu tidak perlu menjadi siapapun. Cukup menjadi Gwen, istri seorang ustadz Agam. Aku akan menanti keponakan lagi darimu," Aisyah mencubit pipi Gwen dan menariknya. 


"Aw, sakit," rengek Gwen manja. "Bagi duit!" serunya dengan menadahkan tangannya. 


Ekspresi semua orang menjadi datar karena ucapan Gwen. Masih saja tidak bisa jauh-jauh dengan uang Aisyah. Meski begitu, Aisyah tetap memberikan uang saku kepada saudarinya itu. 


"Ini, nanti setiap bulan aku akan kirimkan pembagian hasil usaha keluarga kepadamu," ucap Aisyah memberikan lima lembar ratusan ribu. 


Gwen sengaja menggibaskan, memperlihatkan uang itu kepada Ilkay dengan raut wajah yang menyebalkan. Seolah pamer, jika dirinya tidak rugi, malah untung tiga ratus ribu. 


"Mama, kenapa Mama memberikannya uang? Bibi Gege udah besar dan punya Paman baik, Mama tidak boleh memberinya, atau kalau tidak Paman baik tak akan memiliki harga diri!" celetuk Ilkay, langsung dibungkam oleh Aisyah. 


"Hehe, maafkan anak saya, Ustadz. Maklum, baru bisa bahasa Indonesia. Suka ngawur," ucap Aisyah masih membungkam mulut Ilkay. 


"Tau nih, tak pites mau!" sulut Gwen.


"Sudahlah, namanya juga anak kecil. Tapi yang dikatakan ada benarnya, kok. Seorang istri, sudah tidak baik lagi jika masih meminta uang kepada keluarganya, bukan begitu, Ilkay?" Agam selalu sabar menghadapi semua orang. 


"Paman memang baik, tidak salah Kay memanggilmu dengan sebutan, paman baik," Ilkay berlari menuju pesantren untuk bermain dengan santri kecil lainnya. 


Setelah Ilkay pergi, Rebecca menanyakan sampai kapan Aisyah akan menyembunyikan identitas Ilkay dari Ilkay sendiri. 


"Ck, dia anakku. Butuh pengakuan siapa lagi orang tua Ilkay? Dia hanya perlu tau, akulah Ibunya. Ustadz Agam, bawa Gwen secepatnya, aku muak melihatnya!" kesal Aisyah menunjuk wajah saudarinya itu. 


"Kak Aisyah!" teriak Gwen.


"Kabor! Assalamu'alaikum!" Aisyah segera berlari. Gwen hanya pergi ke rumah suaminya, masih satu kota dan tetap bisa bertemu. 


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh,"


Di mata Yusuf dan Rebecca, Aisyah dan Gwen tetaplah masih anak-anak. Apalagi, dengan usianya yang masih 22 tahun, membuat keduanya sering sekali bertingkah seperti anak kecil. Tapi, Aisyah tetap akan pergi ke Korea untuk menyambung pendidikannya yang pernah terhenti beberapa waktu lalu.