Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Ketulusan Hati Dishi



"Aisyah, kamu tidak ikut sarapan dengan kami?" tanya Chen.


"Oh, pagi, Kak Chen, Ayah angkat, Asisten Dishi. Aku mau … makan di kamar, bisakah Asisten Dishi menemaniku?" 


Chen kesal kepada Aisyah karena lebih memilih Asisten Dishi menemaninya, bukan dirinya. Hal itu membuat Tuan Wang tertawa dan meminta untuk mengabulkan permintaan adiknya itu.


"Chen, biarlah. Kenapa kau harus marah?" sahut Tuan Wang.


"Dia adikku, kenapa dia tidak memintaku menemaninya makan?" sulut Chen. "Aku kesal padanya!" dengusnya.


"Hey, kau kesal dengan putriku? Apa kau ingin aku pukul? Jangan sekali-kali kau membuat putriku kesal, Chen!" tegas Tuan Wang.


Chen mengumpat karena kini Ayah angkatnya juga sangat menyayangi Aisyah. Meski begitu, itu hanya kekesalan saja karena Aisyah tak ingin berbagi kisah dengannya malah memilih orang lain seperti Asisten Dishi untuk menemaninya.


Di kamar, Aisyah menunjukkan Ilkay kepada Asisten Dishi. Aisyah mengungkapkan apa yang semalam terjadi. Bagaimana cara mengancam Cindy, dan bagaimana cara membawa Ilkay keluar dari penjara bawah tanah.


"Aisyah, kenapa kamu membawa aku ke kamar? Di mana makananmu, kenapa cuma membawa satu piring saja? Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan makanan lain untukmu," ujar Asisten Dishi dengan tenang.


"Tetaplah disini dan tolong dengarkan apa yang aku katakan, Dishi!" seru Aisyah meletakkan piringnya ke atas ranjang. "Woy, lah. Nandi bocah mau Iki? Tak kon stay di kene, kok, malah ngilang?" gumam Aisyah mencari Ilkay.


Melihat Aisyah yang terlihat seperti orang yang sedang kebingungan mencari sesuatu, Asisten Dishi pun bertanya, "Kamu sedang mencari apa, Asiyah. Apa kau butuh bantuan?" 


"Tunggu sebentar!" ucap Aisyah mengangkat tangannya seolah meminta Asisten Dishi untuk tetap ditempat.


Ketika Aisyah tengah mencari Ilkay, di saat bersamaan pula Aisyah dan Asisten Dishi mendengar suara imut Ilkay memanggil Aisyah, "Mama," 


Aisyah menoleh ke sumber suara. Melihat Ilkay bermain dengan alat make up miliknya, dengan wajah coret-coret lipstik membuat Aisyah terkejut. Bahkan Asisten Dishi saja ikut terkejut melihatnya.


"Ilkay …," 


"Kamu, mainan make up, Mama?" 


Awalnya, Aisyah ingin sekali marah. Namun, amarahnya meredam setelah melihat wajah polos Ilkay. Aisyah tertawa melihat Ilkay dengan wajah imutnya itu. 


"Ya Allah, kamu lucu sekali. Sini, biar Mama bersihkan," ucap Aisyah mengelap wajah Ilkay yang penuh dengan lipstik menggunakan tisu basah.


Asisten Dishi masih ternganga ketika melihat anak kecil ada di kamar Aisyah. Melihat anak itu, membuatnya teringat dengan foto masa kecil Aisyah yang ada di album masa kecilnya.


"Anak ini … kenapa dia, memanggilmu dengan sebutan, Mama?" tanya Asisten Dishi heran.


"Aku beri nama Ilkay, yang artinya bulan purnama. Dia anaknya Kak Chen dengan gadis yang meninggal setelah melahirkan anak ini," jawab Aisyah santai.


"Apa?" segera mungkin, Asisten Dishi menutup pintu kamar rapat-rapat. 


Terlihat Chen mengintip di samping tangga. Ia suudzonan kepada Asisten Dishi yang menutup pintu kamar adiknya. "Itu tangan Asisten Dishi, kenapa harus tutup pintu, sih!" sulut Chen.


"Aku harus menguping!" 


Chen diam-diam melangkah mendekat kamar Aisyah. Sayang, aksinya digagalkan oleh Nyonya kedua Wang yang memintanya pergi bersama Tuan Wang ke markas.


"Sial! Aku akan minta penjelasan kepada mereka nanti!" gerutunya dalam hati.


Di kamar, perlahan Aisyah menjelaskan bagaimana Ilkay bisa ia bebaskan. Sebelum itu, Aisyah ingin Asisten Dishi membawa dirinya beserta Ilkay ke tempat Feng.


"Lah, salah kah? Dia kan kakakku, hanya dia yang bisa membantu kita," jawab Aisyah.


"Entah kenapa, aku kurang suka saja jika kamu terus bersama Tuan Muda Hao. Bukankah kalian juga hanya sepupu? Itu pun jauh," ketus Asisten Dishi.


"Hah? Kau ini kenapa, Dishi? Jika kau tidak mau menolongku, jangan menolongku!" kesal Aisyah.


Aisyah baru saja beranjak, Asisten Dishi sudah mencegahnya dengan menghadang Aisyah menggunakan tangannya. "Baiklah, aku akan mengantarmu. Tapi ini demi kamu dan anak ini, ya!" 


"Kat mau ngono, loh! Kakean reko," gumam Aisyah dengan senyum sumringah.


"Bagaimana?" tanya Asisten Dishi tidak mengerti apa yang dikatakan Aisyah.


Aisyah hanya tersenyum saja. Melihat Aisyah menyuapi Ilkay dengan sabar, membuat Asisten Dishi semakin jatuh hati. Akan tetapi, Aisyah masih saja belum peka jika Asisten Dishi mencintainya. 


Usai menyuapi dan memandikan Ilkay, Aisyah dan Asisten Dishi diam-diam membawa Ilkay keluar dari kamar. Tanpa sepengetahuan orang rumah, mereka berdua berhasil membawa Ilkay keluar.


"Huh, Alhamdulillah. Untung saja semua orang sedang sibuk pagi ini," ucap Aisyah bersyukur dirinya bisa membawa keponakannya keluar dengan aman.


"Tolong, kamu tunjukkan kepadaku surat kelahirannya. Aku akan mengurusnya untukmu. Aku akan ke Australia siang ini juga. Kamu bisa umumkan dia nanti di pernikahan, Nona Gwen," ucap Asisten Dishi.


"Serius? MasyaAllah, kamu beneran mau melakukan hal seperti ini?" tanya Aisyah kagum.


"Untukmu, aku melakukan semua ini untukmu, dan untuk Tuan Chen yang sudah baik kepadaku. Anak ini, sangat berharga untuk Tuan Chen tentunya," ucap Asisten Dishi dengan tatapan yang sangat dalam.


Asiyah tak tahu harus berkata apa lagi. Dia sampai nangis ketika Asisten Dishi akan berjuang membuat identitas Ilkay menjadi jelas. Meski nama Ayahnya nanti hujan Chen, namun Asisten Dishi berjanji akan tetap membuat pernikahan Gwen istimewa dengan kehadiran Ilkay.


"Pernikahan itu hanya tinggal tiga hari. Apa kamu bisa melakukan itu selama tiga hari sendirian, Dishi?" tanya Aisyah khawatir.


"Percayalah padaku, aku akan mengurus semuanya. Tapi, aku mohon kamu jangan bawa dia terbang dulu. Sebab, tak mungkin baginya untuk menyebrang," tutur Asisten Dishi mengusap kepala Ilkay.


"Aku akan meminta Ko Feng menjaganya. Dia akan aman di sana," ujar Aisyah.


"Itu jauh lebih baik. Tiga jam sebelum pernikahan, aku pastikan Ilkay sudah bisa terbang ke Jawa," janji Asisten Dishi.


"Tapi, aku tidak ingin mengacaukan pernikahan Gwen. Dia nyawa keduaku setelah Ibu dan Ayahku. Tolong, jangan sampai semua ini gagal, Dishi," pinta Aisyah dengan mata berkaca-kaca.


"Untukmu, aku akan melakukannya untukmu. Doakan aku saja, agar misiku berjalan dengan lancar,"


Meski sudah mengatakan semua itu hanya untuk Aisyah, tetap saja Aisyah tidak peka. Asisten Dishi hanya tak bisa mengatakan perasaannya, karena terdapat dinding besar diantara keduanya. Yakni, keyakinan!


"Aisyah, jika nyawaku bisa membuatmu hidup lebih baik … dengan senang hati, aku akan pertaruhannya untukmu," gumam Asisten Dishi dalam hati.


Diperjalanan, Aisyah kembali mempertanyakan tentang keluarga Asisten Dishi. Aisyah hanya tidak percaya saja jika wanita yang dipenjara bawah tanah itu adalah adik dari Asisten pribadi kakaknya. 


"Dishi," panggil Aisyah dengan lembut.


"Hm?"


"Apakah aku boleh bertanya?" Aisyah sampai mengepalkan tangannya karena canggung.


Aisyah hanya berharap, wanita itu bukanlah adiknya Asisten Dishi. Sebab, Aisyah menilai dari apa yang ia lihat, jika wanita itu bukanlah wanita baik-baik. Seperti halnya dengan Cindy, Ilkay juga akan merasa ketakutan ketika Aisyah menanyakan tentang wanita itu pada Ilkay.