
"Rifky?"
"Kenapa kamu memberiku nama itu?" tanya Gwen.
"Ini nama kakekku, aku suka ketika ayah menceritakan tentang kakekku. Dia lelaki yang sangat baik, tulus mencintai nenekku, dan setia sampai kakekku meninggal tidak menikah lagi,"
"Aku ingin sekali menikah dengan orang seperti kakek ini," celetuk Aisyah.
"Huek, kau masih kecil sudah memikirkan cinta? Dunia orang dewasa itu sangat meresahkan, aku lebih suka menjadi anak-anak seperti ini!" papar Gwen.
"Sok tau kamu!" seru Aisyah.
Aisyah mengajak Gwen ke rumahnya. Mereka berjalan kaki, karena uang yang seharusnya ia pakai untuk ongkos pulang sudah ia belanjakan makanan untuk dirinya dan Gwen.
"Ini rumahku, ayo masuk. Biasanya ayah belum pulang, nanti aku akan ajak kamu ke tempat kerja ayahku," ujar Aisyah.
"Assalamu'alaikum,"
Aisyah menyuruh Gwen untuk mengikuti masuk kerja rumahnya. Ketika pertama kali membuka pintu, yang ia lihat adalah foto dirinya ketika bersama dengan orang tua mereka saat dirinya masih bayi.
"Jadi, selama ini … ayah selalu ingat kita? Ayah majang foto Mami dan aku saat bayi di ruang tamu dengan bungai sebesar ini?" batin Gwen.
"Ini Mami yang nyebelin. Dia sama sekali tidak pernah bercerita tentang ayah maupun saudariku," imbuhnya. "Lihat saja bagaimana aku akan membuat perhitungan dengannya!"
Gwen terus saja memandang foto tersebut. Merasa jika ia tak pernah dilupakan oleh ayah dan saudari tirinya.
"Oh, itu foto saudariku dan ibuku. Mereka sekarang tinggal di Australia. Tapi, kita tidak pernah bertemu," jelas Aisyah.
"Mengapa?" tanya Gwen.
"Sebenarnya, ini masalah orang tua yang seharusnya kita tidak perlu ikut campuri, Wanto, eh Rifky,"
"Tapi, aku juga tidak tau mengapa ibuku tidak pernah melihatku, bahkan menanyakan tentangku kepada ayah,"
"Padahal, kami selalu merindukan mereka. Sudahlah, ayo sebaiknya kamu mandi dulu. Asem tau!" tukas Aisyah.
Tangan Gwen mengepal, ia kesal dengan ibunya yang seakan menutup kisah aja dan saudari kembarnya. Selama ini, yang selalu menceritakan tentang Yusuf dan Aisyah hanyalah Willy.
Willy sendiri hanya tidak ingin jika Gwen merasa jauh dengan ayah kandungnya.
"Mami, ada apa denganmu?" batinnya.
"Kenapa kau memisahkan kami? Kenapa kalian mengakhiri hubungan suami istri ini? aghhhrr aku kesal sekali," imbuhnya.
"Mami, ini semua karena keegoisan yang kamu miliki!" umpatnya dalam hati.
Di sisi lain, Rebecca sampai juga di Tiongkok, apa yang ia harapkan rupanya tidak menjadi kenyataan. Rebecca memang menemukan alamat rumah Cindy dengan suaminya. Namun, ketika ia sampai di sana, Cindy dan suaminya sudah pindah rumah.
Rebecca tak sadar jika suami Cindy adalah mantan rekan kerja kakeknya dulu. Ada perselisihan diantara mereka, kemudian kedua klan itu memutuskan hubungan kerja.
"Maaf, anda mencari siapa, Nyonya?" tanya seorang wanita paruh baya.
"Dimana pemilik rumah ini?" tanya Rebecca kembali.
"Anda tidak akan pernah menemukan dimana pemilik rumah ini berada, Nyona," jawabnya.
"Saya tidak mengerti apa yang anda katakan, Nyonya?"
Wanita paruh baya terebut menceritakan jika Tuan Wang pindah dari rumah tersebut setelah mempersunting seorang wanita beranak satu. Mereka pernah tinggal selama setahun sebelum memutuskan untuk pindah.
"Wanita beranak satu? Itu putraku!" batinnya. "Apa anda tahu, dimana mereka tinggal sekarang?" lanjut Rebecca.
"Maaf Nyonya, kalau itu … saya tidak mengetahuinya, permisi." wanita itu pergi begitu saja.
"Sial! Aku susah payah sampai ke sini, tapi mereka sudah pindah? Aku harus cari ke mana lagi?" umpat Rebecca.
"Aku sudah bertanya di setiap daerah, tetap saja mereka tidak dapat ditemukan. Siapa suami dari Cindy ini? Aku hanya ingin putraku kembali,"
"Ya Allah, hamba ingin sekali bertemu dengan putra hamba. Pasti dia sudah besar, bagaimana pendidikannya, lalu … bagaimana dengan agamanya? Aku tahu jika Cindy kristian, tapi … putraku terlahir sebagai muslim,"
"Astagfirullah hal'adzim, keparnoanku ini sangat membunuhku!"
Ketika Rebecca mengkhawatirkan soal putranya, di sekolahnya Feng dan Chen terlibat dalam suatu pertengkaran. Mereka berkelahi dan hendak menyakiti satu sama lain.
Di sekolah tersebut, ada seorang gadis cilik seusianya beragama muslim. Ada salah satu siswa yang menjahilinya. Niatnya, Feng dan Chen ingin membantu gadis tersebut. Namun apa yang terjadi?
"Tolong, jangan tarik jilbabku!" teriak gadis itu. "Tolong, jangan ganggu aku!"
"Haha, kamu jelek sekali!" ledek anak nakal tersebut.
"Lihatlah, dia sangat jelek. Makanya dia menutupi kepalanya menggunakan kain," cercanya.
"Aku mohon, tolong jangan ganggu aku! Jangan lepas jilbabku!" gadis itu terus berteriak.
Mendengar gadis itu terus saja minta tolong, Feng dan Chen tak tahan mendengarnya. Mereka langsung menghampiri gadis itu. "Kau baik-baik saja?" tanya Feng mengulurkan tangannya kepada gadis itu.
"Apa kalian gila? Mengapa kalian mengganggu anak perempuan seperti ini? Dasar pecundang!" sulut Chen.
Gadis itu memakai jilbabnya lagi dengan ditutupi tubuh Feng. Anak perempuan itu lebih muda satu tahun darinya. Jadi, tubuhnya masih kecil dan sangat mungil .
"Sudah? Jika sudah, kamu bisa masuk ke kelasmu," ucap Feng.
"Terima kasih, kamu sudah baik kepadamu, Kakak Feng, Kakak Chen. Permisi …." anak perempuan itu kembali ke kelasnya.
"Oho, lihatlah kawan-kawan. Mereka berdua, adalah anak orang kaya semua. Namanya Tuan Muda Hao dan Tuan Muda Wang," sorak anak nakal tersebut.
"Bagaimana kabar kalian, Tuan-tuan Muda?" imbuhnya.
Tanpa pikir panjang, Feng menarik lengan si anak nakal, kemudian melemparnya kepada Chen.
"Dia bagianmu!"
Feng kemudian memukuli perundingan anak perempuan kecil tersebut. Begitu juga dengan Chen yang memukul anak nakal itu tiada ampun.
"Kau benar-benar pecundang Tuan Muda Hao, memilih bertarung dengan anak buahnya daripada dengan ketuanya," desis Chen.
"Ini tak lebih buruk dari orang yang hanya bisa memukul saja," sindir Feng.
"Feng!" teriak
"Apa? Kenapa? Mau marah? Pecundang!" hina Feng kepada Chen.
Malah akhirnya meraka menjadi berkelahi sendiri. Datanglah guru dan kelapa sekolah di sana, semua siswa yang terlibat dalam sebuah perkelahian harus menerima hukuman.
Hukuman masih dalam tahap wajar, kelima siswa termasuk Feng dan Chen di hukum dengan bakti sosial selama satu minggu, di sekolah, dijalan maupun di tempat umum lainnya.
Ketika mereka pulang ….
"Lihatlah, kedua Tuan Muda besar ini sedang dihukum. Pasti mereka juga akan dihukum di rumahnya," ledek si anak nakal.
"Aku akan membunuhmu jika kau berani bicara lagi tentangku. Paham?" gertak Chen.
"Menakutkan sekali, tapi aku tidak takut. Kalian hanyalah sekumpulan anak manja yang menikmati hasil kekayaan dan kekuasaan leluhur kalian," cela si anak nakal.
"Belum lagi, keluarga kalian adalah keluarga pembunuh! Sangat meresahkan!"
Baik Feng dan Chen masih sama-sama bisa menahan diri. Sebab, memang semua itu adalah kenyataan. Meski mereka tak ingin disamakan dengan leluhur di masa lalu.