Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Lembaran Baru Gwen dan Agam



"Ayah, kenapa nangis?" tanya Yue, yang saat itu melintas. 


"Ayah hanya merindukan almarhum Bibi Aisyah. Melihat mereka, mengingatkan kami saat masih anak-anak dulu," Kabir menatap para cucunya yang masih bercengkrama di ruang tamu. 


"Rupanya Ayah merindukan, Bibi Aisyah. Ayo, minum dulu vitaminnya. Sore nanti, kita sudah harus kembali. Ibu katanya sakit lagi, terus Kabir meminta kita untuk segera pulang," tutur Yue dengan sabar merawat Kabir.


Berganti suasana perjalanan Gwen ke rumah suaminya. Gwen yang jarang baik mobil pribadi memilih untuk tidur, karena dirinya selalu mabuk dalam perjalanan. Melihat istrinya terlelap, membuat Agam tersenyum dibuatnya.


"Aku suka mabuk kalau naik mobil. Jadi, aku mending tidur saja, ya. Jika sampai nanti, Mas bangunin aku saja!" celetuk Gwen sebelum berangkat tadi. 


Kata-kata itu masih terngiang dalam pikiran Agam. Bagaimana tidak heran, mobil di rumah orang tua Gwen juga tidak hanya satu. Agam heran mengapa istrinya bisa mabuk ketika naik mobil. 


Perjalanan memakan waktu 1 jam karena memang waktu itu jalanan tengah macet. Mereka berhenti di sebuah pondok pesantren yang lumayan besar, namun tidak sebesar pondok pesantren Darussalam. 


"Dek, bangun,"


"Dek, kita sudah sampai. Ayo bangun," cara Agam membangunkan Gwen terlalu lembut, sehingga membuat Gwen malah semakin nyaman untuk tidur. 


Sudah beberapa kali Agam membangunkan Gwen, tetap saja Gwen enggan untuk bangun. Benar-benar menikmati perjalanan sampai terlelap seperti itu. 


Terpaksa, Agam memberanikan diri mengangkat tangannya untuk menyentuh pipi Gwen. Awalnya, Agam ragu-ragu saat mau membelai pipi kekasih halalnya itu. 


"Dek, bangun yuk. Kisah sudah sampai, loh. Mau sampai kamu tidur di sini?" Agam membelai pipi istrinya dengan lembut. 


"Em, Kak Aisyah. Tumben sekali kamu membangunkan aku dengan lembut. Biasanya ju_" igauan Gwen terhenti. Langsung membuka matanya, terkejut melihat tangan Agam masih menempel di pipinya. 


Merasa canggung, Agam langsung menarik tangannya. "Maaf, Mas tidak bermaksud mengganggumu tidur. Tapi, jika kamu masih mau tidur, Mas bisa kok, gendong kamu sampai ke rumah," ucap Agam tersipu. 


Gwen nyengir, menggaruk kepalanya dan memastikan dirinya sudah benar-benar bangun. 


"Harusnya aku yang minta maaf. Mas, sih, bangunin aku lembut banget gini. 'Kan aku jadi nyaman," celetuk Gwen. 


"Lah, memang seharusnya, 'kan? Kalau membangunkan orang tidur dengan kasar, kasihan dong, pasti terkejut dan akan pusing," tutur Agam. 


"Weh, siapa bilang. Aku dah terbiasa dibangunin seperti grebek maling tau. Kak Aisyah, Mami dan Kak Chen kalau bangunin aku nggak ada lembut-lembutnya," ungkap Gwen. 


"Apalagi Kak Aisyah. Beuh, dia mah sambil nyiram pakai air. Pernah nih, aku sampai tersedak dan dia hanya tertawa saja,"


"Kak Chen, kalau bangunin aku, tubuhku langsung diangkat dan di ceburin dalam bak. Memang aku ini anak nakal, jadi dah terbiasa lah di bangunin sekejam itu." tangkas Gwen menggibaskan tangannya. Tanda bahwa dirinya memang sudah sangat terbiasa. 


Celotehan Gwen malah membuat Agam semakin tertarik dengan istri nakalnya itu. Meski Gwen menceritakan betapa tegasnya keluarganya, tapi dirinya juga menceritakan alasan mengapa semua keluarga menegaskan banyak peraturan padanya. Jawabannya, karena dia nakal, semaunya sendiri, dan susah di atur. 


"Bisa nggak, nanti ceritanya di sambung lagi. Kita harus sudah turun, lihat para santri dan beberapa keluarga pesantren sudah menunggu kita," tunjuk Agam dengan menunjukkan memang sudah banyak orang di luar mobil mereka.


Melihat sudah banyak orang di sekeliling mobilnya membuat Gwen semakin terkejut. "Em, moon maap, Paduka. Mereka ini siapa?" tanya Gwen masih bingung. 


"Tunggu, otakku ngeblank. Ini pesantren milik kamu, Mas?" tanya Gwen. 


"Nanti saja jelasinnya, ya. Ayo, kita turun dulu dan terima sambutan mereka," ajak Agam dengan kelembutan. 


Raut wajah Gwen seketika berubah masam. Bagaimana tidak, dirinya yang ingin jauh dari pesantren, malah menikah dengan pria yang memiliki pesantren juga. Gwen tidak menyangka bahwa yang di katakan Gehna dan juga Ayyana adalah suatu kebenaran. 


Sebelumnya, Aisyah juga pernah mengatakan bahwa Agam bukanlah orang biasa. Tapi Gwen enggan menanggapinya. Semua santri putri menyalami dan menciumi tangannya. Hal yang sama ketika dirinya sampai di pesantren milik keluarganya. 


"Apa ini? Aku di mana? Aku siapa? Aku tersesat dan tak tau arah jalan pulang," gumam Gwen dalam hati. 


Meski bete dengan situasi itu, Gwen tetap menebar senyuman, agar tidak dianggap sombong dan tidak ramah. Sebagai seorang istri ustadz sekaligus pemilik pesantren, membuatnya harus menjaga image. 


"Apa-apaan ini? Kupikir ini hanya candaan kakak-kakak perempuanku saja kalau suamiku seorang ustadz yang tidak biasa. Hadeh, aku harus gimana ini? Bersyukur atau mengeluh ini?" batin Gwen terus memerangi otaknya. 


Setelah banyak penyambutan, akhirnya Gwen bisa duduk manis istirahat di kamar. Ia menghela napas panjang dan menatap dirinya di cermin besar di dinding samping almari. 


"Aku mabok, yakin dah. Hidupku sudah banyak norma-norma dari Kak Aisyah. Ini apa lagi?" gerutu Gwen. "Nggak boleh weh, nggak boleh ngeluh. Di syukuri aja ngapa, Gwen_"


"Assallamu'alaikum," salam Agam sembari mengetuk pintu kamar.


"Wa'alaikumsallam, masuk aja. Aku sudah pasrah dengan keadaan," sambutan Gwen membuat Agam salah paham. Pikiran Agam sudah ke arah biru, biru, muda. 


"Em, itu ... Mas mau pamit ke masjid dulu. Ini sudah masuk waktu salat, kalau kamu mau bareng ke mushola aula putri, Mas akan menunggu," ajak Agam sedikit gugup. 


Awalnya Gwen ingin salat di rumah saja. Tapi, demi nama baik suaminya, akhirnya dirinya mengiyakan usulan suaminya untuk salat di mushola putri. "Wait, aku mau ganti baju dulu, sekalian wudhu!" ucap Gwen. 


"Mas tunggu di depan, ya," Agam masih saja canggung berbicara dengan Gwen. "Em, itu ... tolong jangan lama-lama, sudah mepet waktu soalnya," tutur Agam mengingatkan. 


"Beres!" jawab Gwen mantap. 


Gwen didewasakan oleh keadaan sebagai seorang istri. Segera ia pergi ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya. Berharap menjadi seorang istri yang baik, agar tidak mengecewakan keluarga besarnya. 


Setelah beberapa menit, akhirnya Gwen keluar. Bagaimana tidak terpana seorang Agam. Istrinya begitu anggun memakai gamis biru muda dengan jilbab menutupi dadanya. 


Wajah ala barat Gwen juga menambah ke dan manis dalam pandangan matanya. Dalam hati, Agam mengucapkan syukur akhirnya bisa menikah dengan gadis yang direstui oleh almarhum ibunya. 


"Ayo," ajakan Gwen mengejutkan Agam dalam lamunannya. 


"Mari," 


Keduanya berjalan sedikit berjarak. Pertama bagi Agam maupun Gwen berangkat salat dengan status suami istri. Membuat beberapa santri yang melihatnya, merasa ingin segera menikah.